?

Log in

[Fanfic] My Shadow -Part 3-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, OC
[Part 3]
                Siang itu kehebohan terjadi di kelas 2-D, kelas Takaki Yuya. Kehebohan itu bukan disebabkan oleh si troublemaker. Oke, mungkin memang ada hubungannya dengan Yuya. Tapi bukan laki-laki itu dalang utama kehebohan tersebut. Seluruh anak di kelas menjadi ricuh, berbagai bisikan terdengar dimana-mana. Bahkan anak-anak kelas sebelah juga ikut keluar untuk melihat.
                Ditengah-tengah kerumunan orang, gadis dengan rambut hitam panjang acak-acakan berdiri menunduk di depan kelas si troublemaker. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin, dia tidak suka dikelilingi banyak orang karena itu mengingatkannya pada orang-orang yang memakinya di masa lalu. Tapi Hime berusaha keras untuk bertahan karena dia ingin menemui Yuya.
                “Ada apa, Nishiyama?” tanya Yuya dengan suara khas dan sikapnya yang cool pada Hime saat dia sudah berdiri tepat di depan gadis itu. Hal itu membuat sebuah pekikan terkejut yang tertahan. Semua mata memandang mereka dengan tatapan tak percaya. Aneh, seorang Takaki Yuya yang tidak pernah mau tahu nama seseorang—bahkan nama teman sekelasnya sendiri—bisa tahu nama anak yang begitu aneh, tidak populer, dan menyeramkan seperti Nishiyama Hime. Yuya tampaknya tidak peduli dengan semua kehebohan teman-temannya.
                Ryosuke yang lebih dulu menyadari kalau tubuh kekasihnya gemetaran dengan wajah yang sudah memucat. Dia segera ingat sesuatu. “Yuya, Hime punya trauma dikelilingi banyak orang! Cepat bawa dia pergi dari sini sebelum dia pingsan!” kata Ryosuke panik sambil melayang-layang di belakang Yuya.
                Tanpa pikir panjang Yuya langsung menyabet tangan kanan Hime. “Ikut aku!” ujar Yuya langsung menarik Hime pergi.
Kerumunan kembali heboh. Yuya tidak terkejut dengan hal itu, dia sudah menduga teman-temannya akan menunjukkan reaksi seperti itu. Ada hal yang membuat Yuya lebih terkejut lagi. Tangan gadis yang ia genggam sangat lemah, gemetaran hebat, dan dipenuhi keringat dingin. Yuya akhirnya paham kenapa Ryosuke sepanik itu. Gadis itu benar-benar memaksakan diri.
                Tidak lama kemudian, sampailah mereka di atap sekolah yang sepi. “Apa yang kamu lakukan di kelasku?” Yuya melepas tangan Hime dan mulai mengomel.
                Tepat setelah tangan Hime lepas dari tangan Yuya, tubuhnya ambruk, jatuh terduduk. Dia melihat lurus kedepan dengan tatapan kosong. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya masih gemetar hebat.
                “Oi! Bertahanlah! Kau tidak apa-apa?” Yuya berjongkok di depan Hime, memegang kedua bahu gadis itu dan sedikit mengguncang-guncangnya. Hime tidak menjawab pertanyaan Yuya. Matanya berkaca-kaca.
                “Gawat! Dia masih tidak bisa mengontrol dirinya. Yuya, Hime akan histeris dan jatuh pingsan seperti kemarin,” Ryosuke kembali panik.
                “Hah?! Lalu apa yang harus kita lakukan?”
                “Lakukan apapun untuk menenangkannya!” teriak Ryosuke.
Ryosuke segera berkonsentrasi untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa menyentuh Hime. Tapi kegiatannya langsung terhenti saat Yuya dengan cepat menarik tubuh Hime dalam dekapannya. Yuya memeluk gadis itu dengan erat namun lembut. Dibelainya rambut acak-acakan Hime, “Hime, aku bersamamu. Kamu akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang melukaimu karena aku di sini, bersamamu,” dengan suara berat nan lembutnya, Yuya berusaha menenangkan Hime.
Napas Hime lama-kelamaan mulai teratur. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Tapi tiba-tiba tangisnya meledak. Hime menangis tersedu-sedu dan balas memeluk Yuya dengan erat. Laki-laki itu membiarkan Hime membasahi seragamnya dengan airmata sambil mengelus lembut punggung gadis itu.
            Ryosuke melongo melihat pemandangan di depannya. Baru pertama kali ini dia melihat Hime menangis seperti itu. Bukan tangis histeris dengan ekspresi ketakutan seperti yang dia tunjukkan saat traumanya kembali menyerang, namun tangisan seperti seorang anak hilang yang baru saja menemukan tempat tinggalnya. Tanpa sadar Ryosuke mengembangkan senyuman lebar. Ekspresi lega terlihat jelas di wajahnya. Sepertinya tidak lama lagi, dia bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.
                Setelah Hime tenang dan tangisannya berhenti, Yuya melepas pelukannya. Lalu menatap wajah Hime, memastikan kalau gadis itu bisa diajak bicara, “Kenapa tadi kamu ke kelasku?”
                “A... Aku mencarimu,” jawab Hime dengan suara parau.
                “Hah?!” Yuya terkejut. Gadis yang selama ini bersikeras menghindarinya, hari ini malah memaksakan diri hingga hampir pingsan demi mencarinya.
                Hime mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Sebuah origami tulip putih. Benda itu ia sodorkan pada Yuya, “Aku ingin memberi ini.”
                Yuya mengernyitkan dahi, “Kamu meminta maaf padaku?” Tangan kanannya menerima origami bunga yang merupakan tanda permintaan maaf itu.
                “Un,” Hime mengangguk, lalu dia lebih menundukkan wajahnya lagi hingga benar-benar tak bisa dilihat oleh Yuya. “Maaf karena tidak percaya padamu dan seenaknya berkata kasar padahal akulah yang tidak tahu apa-apa tentangmu.”
                Yuya diam dalam beberapa saat, mencerna perkataan Hime. Lalu sebuah senyuman tanpa sadar mengembang di wajahnya. “Aku maafkan,” ujar Yuya membuat Hime mendongakkan kepala untuk menatapnya.
“Tapi lain kali jangan memaksakan dirimu untuk melakukan hal yang tidak kamu sukai lagi. Kalau mau menemuiku, cukup datang saja ke tempat ini. Aku selalu ke sini,” ujarnya. Satu tangannya bergerak menepuk lembut puncak kepala Hime.
Hime mengangguk mengerti dan untuk pertama kalinya sebuah senyuman mengembang di wajah pucatnya. Walaupun senyuman itu terlihat lemah tapi tampak begitu tulus. Mata Yuya membelalak melihat gadis aneh di depannya itu bisa tersenyum begitu tulus. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
                Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Kedua orang itu seakan masih dalam dunia mereka sendiri. Akhirnya mau tidak mau Ryosuke yang bertindak. Ryosuke melayang ke samping Hime, “Eehm... sudah masuk. Kau harus cepat kembali ke kelas, Hime.” Ryosuke tetap saja bicara pada Hime walaupun dia tahu suaranya tidak akan sampai ke telinga gadis itu. Tapi Ryosuke juga tahu kalau Yuya yang mendengar dan melihatnya.
                Yuya segera tersadar dari lamunannya. Dia dengan kelabakan menjelaskan apa yang Ryosuke ucapkan pada Hime, “Yamada bilang kamu harus segera kembali ke kelas karena sudah saatnya masuk.”
“Anoo... Ryosuke,” panggil Hime sambil melihat sekelilingnya.
                “Dia di sebelah kananmu,” kata Yuya.
                Hime menoleh ke samping kanannya, dia lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Ryosuke, maafkan aku karena selalu menyusahkanmu dan membuatmu khawatir.”
                “Tidak, Hime. Kamu tidak menyusahkanku,” ujar Ryosuke. Tentu saja, ucapan Ryosuke diucapkan kembali oleh Yuya. Hime menundukkan kepalanya dalam diam.
                “Nishiyama, cepat kembali ke kelasmu!” perintah Yuya.
Nadanya sedikit memaksa, Yuya juga bingung kenapa dia bicara seperti itu. Rasa sesak di dadanya mendorongnya untuk segera menyuruh Hime pergi sebelum jantungnya benar-benar meledak. Yuya lalu merebahkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai alas.
                “Anoo, kamu tidak masuk kelas?” tanya Hime.
                “Aku masih mau di sini. Lagi pula aku tidak suka belajar, daripada aku bosan di kelas, lebih baik aku di sini,” ujarnya santai. Benar-benar berandalan.
                Hime dengan ragu berdiri dan mulai berjalan pelan menuju pintu. Tapi belum sempat dia membuka pintu itu, dia langsung berjalan cepat kembali ke tempat Yuya. “Anoo, Takaki-kun,” panggil Hime.
Yuya terkejut saat menoleh ke gadis yang sudah duduk manis menghadap ke arahnya itu. Baru pertama kali ini gadis itu memanggil namanya. Yuya bangkit dari posisi berbaringnya. “Ada apa?” tanya Yuya yang entah kenapa terdengar gugup.
                Hime menghembuskan napas panjang sebelum bicara, “Aku ingin berubah. Tolong bantu aku!” teriaknya sambil membungkukkan badannya dengan posisi duduk.
                Untuk beberapa detik Yuya hanya diam dan menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya. Lalu tiba-tiba seulas senyuman berkembang di wajahnya, “Baiklah.”
                Setelah Yuya menyetujui permintaannya, gadis itu tersenyum simpul. Kali ini Yuya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena Hime tersenyum sambil tetap menunduk. Hime lalu segera beranjak pergi dari tempat itu dan meninggalkan Yuya yang masih terheran-heran. Hari itu tak henti-hentinya Yuya dibuat terkejut oleh Hime.
                “Aku tidak menyangka dia bisa tersenyum seperti itu,” ujar Yuya dengan mata yang masih terus melihat pintu yang sudah tertutup.
                Ryosuke melipat kedua kakinya sambil melayang-layang di sebelah kiri Yuya. Senyuman bangga terpampang jelas di wajahnya.
                “Oh iya...” Yuya mengubah arah pandangannya dari pintu itu ke Ryosuke setelah mengingat sesuatu. “Maaf aku tadi memanggil kekasihmu langsung dengan nama kecilnya,” laki-laki yang terlihat garang itu lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebuah semburat merah entah sejak kapan sudah menghiasi pipinya. Dia merasa malu mengingat apa yang sudah ia lakukan.
                 Tawa Ryosuke meledak seketika. Pihak yang ditertawakan pun sudah melempar tatapan tajam pada roh aneh itu.               “Wajahmu lucu sekali!” ledek Ryosuke.
                “Apa...“
                “Terima kasih,” Ryosuke memotong kalimat protes Yuya, tiba-tiba menghentikan tawanya, dan menggantinya dengan senyuman.
                “Hah?” Yuya heran. Ryosuke memang sama anehnya dengan Hime. Yuya sedikit bergidik ngeri membayangkan seberapa serasinya mereka berdua.
                “Terima kasih sudah menenangkan Hime,” lanjutnya.
                Otot wajah Yuya yang awalnya ditekuk perlahan mengendur, berganti dengan sebuah senyum simpul, “Un.”
Dua laki-laki berbeda alam itu berbaring sambil melihat langit biru yang cerah dan menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus.

***

                “Harus berubah. Harus berubah,” Hime berjalan cepat ke kelasnya sambil terus menggumamkan kalimat itu.
                Sesampainya di depan kelas ternyata Okada-sensei sudah masuk. Pintu kelasnya sudah tertutup rapat. Hime dengan takut-takut mengintip dari dari jendela, teman-teman sekelasnya tampak sedang memperhatikan dengan serius Okada-sensei yang sedang menggambar sistem pencernaan di papan tulis. Hime terlambat. Baru saja Hime akan melangkahkan kakinya meninggalkan kelas seperti yang biasa dia lakukan jika terlambat masuk. Dia akan pergi ke atap sekolah dan baru kembali ke kelas setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi—toh, Yuya juga ada di sana.
                “Harus berubah....”
                Tapi sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di kepalanya menghentikan gerak kakinya. Benar, dia tidak mau melarikan diri lagi. Hime menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu dengan gerak perlahan tapi pasti dia menggeser pintu kelasnya.
                Pintu itu terbuka setengah, sudah cukup untuk dilewati tubuh kurus Hime. Tanpa aba-aba seluruh kelas langsung menatap ke arahnya. Ada yang menunjukkan ekspresi terganggu, ada yang penasaran siapa yang barusan datang, dan ada juga yang hanya sekilas meliriknya lalu dengan jengah kembali menulis di buku tulisnya. Ini bagian yang paling tidak disukai Hime. Diperhatikan oleh banyak orang. Tangannya mulai gemetar, diremas kuat tangannya sendiri. Ingin rasanya dia berlari pergi saja dari tempat itu. Tapi di sisi lain ada sesuatu yang menahannya. Dia tidak mau menjadi pengecut terus.
                “Nishiyama-san, cepat duduk!” perintah Okada-sensei. Untung Okada-sensei bukan guru killer. Jadi Hime bisa sedikit lega karena tidak dimarahi dan dihukum keluar kelas. Tanpa menjawab, Hime langsung duduk di tempat duduknya. Kepalanya menunduk dalam-dalam, berusaha tidak melihat mata teman-teman sekelasnya yang menatap tajam ke arahnya.
                “Fyuuh...,” Hime menghembuskan napas lega setelah menghempaskan tubuhnya di kursi. Yosh, dia berhasil maju satu langkah.

***

                “Ne, Yuya apa rencanamu sekarang?” tanya Ryosuke yang melayang-layang di samping Yuya yang sedang berjalan santai.
                “Heeem.... entahlah,” jawab Yuya asal. Satu tangannya menenteng tas sekolahnya di pundak. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya hingga dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
                Yuya menghentikan langkahnya saat tiba di barisan rak sepatu paling kanan, di samping rak tempat dia meletakkan sepatunya. “Apa yang kau lakukan di sana, Arioka?” tanyanya dengan nada terganggu. Sore itu, untung tempat itu sedang sepi, hanya ada dia sendiri dan dua makhluk astral saja.
                “Oh! Yuyan, ohisashiburi!” sapa roh itu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Roh itu sedang makan sekotak bento dengan lahapnya di atas rak sepatu Yuya.
                “Un,” gumam Yuya menanggapi roh yang dipanggilnya Arioka itu.
                “Kamu membantu roh lagi?” tanya Arioka saat melihat Ryosuke.
                “Ah, Yamada Ryosuke desu,” Ryosuke melayang mendekati Arioka.
                “Arioka Daiki desu. Aku roh penunggu ruang musik. Dulu aku murid sekolah ini dan aku meninggal karena kecelakaan waktu pulang dari kontes aransemen lagu,” ujar Arioka. “Aku suka berkeliling sekolah, jadi aku selalu tahu kejadian di sekolah ini, kamu bisa mencariku jika mau berjalan-jalan keliling sekolah. Aku siap menjadi guide,” tambahnya dengan penuh senyuman.
                Yuya tidak begitu memperhatikan percakapan kedua roh itu. Dia sedari tadi masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa jantungnya berdebar saat memikirkan gadis aneh, Nishiyama Hime itu? Sejak kapan perasaan aneh itu menghinggapinya? Dia jadi tidak bisa fokus memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk membantu gadis itu.
                “Padahal dia sudah mau berubah...,” desis Yuya kesal.
                “Eh?” Arioka dan Ryosuke berbarengan menoleh pada Yuya.
                “Tidak, bukan apa-apa,”
                Arioka diam sambil memperhatikan sesuatu pada diri Yuya, “Yuyan, rambutmu sudah terlalu panjang. Tidak dirapikan?” tanyanya. “Aku tahu kamu memang membuat image berandal tapi menurutku rambutmu sudah tidak rapi.”
                Yuya membelalakkan mata, sesuatu tiba-tiba mencuat di otaknya. Sesuatu yang hampir saja dia lupakan. “Arioka!” panggil Yuya menghentikan omelan Arioka tentang model rambut. Roh itu memang banyak omong. “Kamu tahu gadis bernama Nishiyama Hime? Apa dia sudah pulang?”
                “Nishiyama Hime? Gadis yang beberapa kali aku lihat bersamamu itu? Gadis aneh dengan rambut......”
                “Iya!” potong Yuya. “Apa dia sudah pulang?” Yuya sekali lagi bertanya dan menatap Arioka lebih tajam.
                Arioka bergidik ngeri ditatap seperti itu. Dia segera menghentikan ceramahnya sebelum Yuya mengamuk. Bisa-bisa dia dilenyapkan oleh Yuya nanti, “Dia masih di kelasnya.”
                “Sankyu! Kamu informan terbaik!” ujar Yuya sambil melesat pergi dan tentu saja menyeret Ryosuke juga.
Sesampainya di depan sebuah kelas yang dia tuju, Yuya melihat gadis yang dicarinya. Arioka memang sangat berguna di saat seperti ini. Yuya langsung membuka pintu kelas itu.
              “Nishiyama!” panggilnya pada gadis yang sedang membereskan origami tulip di pojok ruangan.
              Gadis yang dia panggil terkejut melihat Yuya berjalan tergesa ke arahnya. Belum sempat merespon apapun, tangan kanan Yuya langsung menarik tangan kanan Hime hingga gadis itu berdiri dari duduknya.
              “Ikut aku!” ujarnya singkat.
              Tanpa banyak bicara lagi, Yuya langsung menarik Hime keluar kelas. Untung Hime sempat membawa semua barangnya. Kali ini Hime tidak melawan, dia mengikuti Yuya walaupun gadis itu tidak tahu kemana si berandalan akan membawanya.
               Yuya dan Hime sampai di depan sebuah toko kecil bercat putih dengan design Eropa. Di atas pintu toko itu ada sebuah plakat kayu dengan gambar sisir dan gunting, sekaligus tercantum sebuah tulisan “Yaotome’s” yang berwarna kontras dengan warna plakatnya. Lonceng yang juga terpasang di atas pintu berbunyi saat Yuya membukanya. Seketika itu seorang laki-laki tinggi dengan berbagai peralatannya yang tertata rapi dalam tas kecil yang terikat apik di pinggangnya keluar dari dalam toko atau yang biasa disebut salon itu.
              “Yo, Yuya!” sapanya. Laki-laki itu agak bingung melihat Yuya yang masih mengatur napasnya dan tangannya masih menggandeng tangan seorang gadis.
              “Hikaru-kun, tolong potong rambutnya,” Yuya sedikit mendorong bahu Hime.
              “Hah?” pekik dua orang itu berbarengan sambil menatap Yuya. Laki-laki bernama Hikaru itu maupun Hime sama-sama terkejut dengan permintaan Yuya.
              Yuya menatap lurus pada Hime, “Kalau kamu mau berubah, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengubah penampilanmu. Tidak akan ada orang yang mau berteman dengan gadis berpenampilan mengerikan.” Yuya meyakinkan Hime sebelum gadis itu mengeluarkan pernyataan protesnya.
              Hime lalu menunduk memperhatikan ujung rambutnya yang bercabang, hingga batang-batang rambutnya yang memang sangat tidak rapi. Gadis itu akhirnya mengangguk, menuruti Yuya.
              Hikaru tersenyum penuh arti, “Serahkan semua pada Yaotome Hikaru-sama. Tidak hanya memotong rambutmu, aku akan membuatmu terlihat lebih cantik.”
               Hikaru lalu mempersilahkan Hime duduk di sebuah kursi hitam yang menghadap ke sebuah kaca lebar dengan beberapa lampu di ujung-ujung atasnya.
              “Yuya, keluar!” perintah Hikaru.
              “Hah? Kenapa?”
              “Sudaaah! Turuti saja ucapanku. Pergilah ke taman atau kemanapun, yang penting jangan sampai kau masuk ke tempat ini sebelum aku memanggilmu,” Hikaru mendorong Yuya agar keluar dari salonnya.
              Sesudah mengusir Yuya, Hikaru kembali ke pelanggannya. “Santai saja, aku tidak akan berbuat jahat,” ujarnya menepuk kedua bahu Hime yang tampak sangat tegang. “Sekarang pejamkan matamu sampai kusuruh membukanya,” perintah Hikaru. Entah apa yang orang itu rencanakan, Hime pun menurut saja.

***

              “Ne, lama sekali. Apa Hime benar-benar baik-baik saja?” tanya Ryosuke khawatir.
              Yuya dengan santainya masih memakan takoyaki yang dia beli. Taman sore itu terlihat ramai orang yang berlalu-lalang untuk pulang ke rumah masing-masing. Daun-daun pohon yang menjadi sandaran Yuya beberapa kali bergoyang karena terkena hembusan angin sore. Yuya sangat menikmati sore di tempat itu.
                “Yuya, apa tidak sebaiknya kita segera kembali?” desak Ryosuke.
                Yuya menghembuskan napasnya sejenak—merasa terganggu dengan berbagai kekhawatiran Ryosuke yang berlebihan. Dia lalu menatap Ryosuke tajam, “Aku tidak tahu apa yang direncanakan Hikaru-kun, tapi aku percaya kekasihmu itu tidak akan celaka di tangannya. Tenanglah,” ujarnya. Satu bola takoyaki yang terakhir, masuk ke mulutnya.
                Sekarang ganti Ryosuke yang menghembuskan napasnya, lelah. Dia berusaha diam dan tenang seperti ucapan Yuya. Angin sore itu membelai lembut rambut kedua makhluk berbeda dunia itu. Udara sedikit demi sedikit berubah menjadi dingin seiiring tenggelamnya sang pemberi kehangatan di ufuk Barat.
                Sebuah getaran kecil di saku seragamnya, membuat Yuya dengan cepat memasukkan tangan kanannya untuk mengambil benda itu. “Moshi-moshi,” ucapnya setelah menerima telepon yang ternyata dari Hikaru. “Oke,” kata Yuya lagi. Percakapan telepon itu berakhir dengan begitu singkat. Yuya lalu berdiri, mengantongi handphonenya lagi, tanpa bicara apapun dia berjalan kembali ke salon Hikaru. Ryosuke yang langsung paham dengan situasi itu, mengikutinya dengan rasa senang bercampur penasaran. Yuya pun berjalan cepat seiiring cepat detak jantungnya. Dia ingin segera sampai.
                Langkah Yuya berhenti di depan salon Hikaru. Laki-laki pemilik salon itu berdiri di depan salonnya, menyambut Yuya.
                “Bagaimana?” tanya Yuya masih dengan napas terengah-engah karena akhirnya dia sedikit berlari untuk menuju ke salon itu.
                Hikaru tak mengucapkan apapun, dia hanya tersenyum dan tangan kanannya lalu menekan knop pintu salonnya, mempersilakan Yuya masuk. Saat pintu itu terbuka, perlahan Yuya bisa melihat seorang gadis berambut lurus sebahu duduk di tengah ruangan itu menghadap ke arahnya. Hime mengangkat wajahnya saat pintu salon itu terbuka. Poninya yang melengkung ke kanan sedikit bergerak karena sentakan kepalanya yang tiba-tiba. Melihat Yuya yang melongo di ambang pintu, Hime langsung menundukkan kepalanya lagi. Malu rasanya ditatap seperti itu.
                Yuya masih bergeming di ambang pintu. Mulutnya sedikit terbuka menandakan dia sangat terkejut. Gadis mengerikan yang tadi dibawanya sekarang telah berubah menjadi lebih baik. Bahkan mungkin bisa dikatakan melampaui kata lebih baik. Rambut panjang yang awalnya sangat tidak rapi sekarang sudah dipotong lebih pendek. Poninya yang dulu menutupi setengah wajahnya kini sudah dipotong tepat sealis, membuat kedua mata yang ujungnya meruncing ke atas seperti mata kucing itu terlihat jelas. Make up tipis nan sederhana itu sudah cukup membuat wajahnya yang semula pucat jadi terlihat lebih segar. Lipstick pink mewarnai bibirnya. Ditambah rona merah di pipi gadis itu. Bukan dari make up, melainkan muncul dengan sendirinya. Pasti gadis itu malu, pikir Yuya.
                “Hime,” gumam Ryosuke yang sama terkejutnya dengan Yuya. “Sudah lama aku tidak melihat dia secantik ini.”
                “Un, aku tidak menyangka dia bisa secantik ini,” ujar Yuya pelan tanpa sadar tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran semua eksistensi di ruangan itu. Hime semakin menundukkan kepalanya dan menutup mukanya dengan kedua tangan. Hikaru tersenyum bangga. Ryosuke tersenyum penuh arti melihat Yuya.
                Hikaru mendekati Hime dan menurunkan kedua tangan gadis itu. “Percaya dirilah sedikit. Kamu tidak harus menutupi mukamu karena tidak ada yang jelek dari mukamu. Kamu sangat cantik, sama sekali tidak jelek, kok,” laki-laki itu tersenyum lembut.
                “A... arigatou gozaimasu,” ujar Hime sedikit membungkukkan badan.
                Hikaru mengangguk dengan senyuman tetap mengembang di wajahnya. Dia tidak pernah merasa sangat puas dan sesenang ini. Mungkin ini perasaan yang dialami seorang seniman setelah membuat sebuah mahakarya.
                “Ano..., jadi berapa semua biayanya?” Hime mengalihkan topik agar orang-orang itu tidak terus-terusan menatapnya.
                Hikaru menepuk pundak Hime pelan, “Tidak usah. Kamu adalah pelanggan spesial jadi tidak perlu bayar.”
                “Eh? Hontou?” tanya Hime kaget. Hikaru mengangguk mantap.
                “Arigatou gozaimasu!” ujar Hime lantang sambil membungkuk cepat. Hikaru tertawa melihatnya. Satu tangannya menepuk lembut kepala Hime.
                “Sankyu, Hikaru-kun,” ujar Yuya.
                “Un,” jawab Hikaru. “Sudah semakin malam, sebaiknya kalian segera pulang,” ujarnya setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
                Yuya dan Hime pun pamit pulang. Ryosuke juga membungkukkan badannya untuk pamit dan berterima kasih walaupun Hikaru sudah pasti tidak bisa melihatnya.
                “Kamu punya teman orang yang baik, ya?” ujar Ryosuke setelah keluar dari salon Hikaru.
                “Un,”
                “Eh?” Hime yang berjalan di sebelahnya menoleh karena mengira Yuya sedang bicara padanya.
                “Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya menanggapi omongan Yamada. Oh iya, sekarang dia berada di sebelah kananmu, diantara kita,” jelas Yuya. Entah mengapa hal itu seperti sudah menjadi kebiasaannya memberitahukan keberadaan Ryosuke pada gadis itu.
                Hime pun menoleh ke sebelah kanannya. Lalu dia tersenyum sangat lebar. Dia terlihat sangat senang. Senyumannya kali ini terlihat lebih hidup dan ceria. Tidak seperti biasanya yang terlihat lemah dengan wajahnya yang pucat. Yuya melihat senyuman itu melalui ujung matanya. Baru pertama kali ini dia melihat senyuman Hime dengan sangat jelas seperti itu. Jantungnya kembali berdebar kencang padahal dia tahu kalau senyuman itu bukan untuknya. Yuya mengutuk dirinya sendiri. Dia berusaha menenangkan diri dengan melihat lurus ke depan.
                “Boleh aku bertanya? Apa yang dilakukan Ryosuke sekarang?” pertanyaan Hime membuyarkan lamunan Yuya.
                “Eh?” Yuya gelagapan. Dia lalu menoleh cepat pada Ryosuke yang melayang di sebelah kirinya. “Dia hanya melayang-layang sambil terus menatapmu,” jawab Yuya.
                “Ah... Souka,” Hime kembali menunduk dengan malu. “Ano, aku benar-benar berterima kasih padamu, Takaki-kun. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua bantuanmu ini,” ujar Hime tulus.
                Yuya diam sejenak. Dia menghentikan langkahnya. Hime akhirnya juga ikut menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Yuya dengan bingung. “Berkenalan,” kata Yuya singkat.
                “Eh?” Hime semakin tidak paham.
                “Kita belum berkenalan dengan benar sejak pertama kali bertemu,” jelasnya.
                “Oh, sou desune,”
                “Takaki Yuya desu. Kelas 2-D. Senang berkenalan denganmu,” ujar Yuya mengawali.
                Dengan senyum simpul Hime pun memperkenalkan dirinya, “ Nishiyama Hime desu. Kelas 2-B. Senang berkenalan denganmu juga, Takaki-kun.” Senyum simpul itu lalu berubah menjadi lebih lebar, persis seperti yang dia berikan pada Ryosuke tadi.
                Yuya diam, lalu sebuah senyuman juga mengembang di wajahnya. Kali ini senyuman gadis itu hanya untuk dirinya, kan? Jadi tidak masalah kalau dia merasa sangat senang, kan?

***TO BE CONTINUED***

[Fanfic] My Shadow -Part 2-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, OC

[Part 2]
                 Bel pulang berdering di seluruh penjuru ruangan. Dengan sigap Hime membereskan barang bawaannya dan segera beranjak dari kelas. Dia berjalan cepat melewati lorong sekolah sambil mendekap tas kertas berisi puluhan tangkai bunga tulip kertas. Yuya dan—tentu saja—Ryosuke, membuntutinya dari belakang.
                “Kenapa dia terlihat tergesa-gesa? Dia mau kemana?” tanya Yuya.
                “Ke makamku,” jawab Ryosuke singkat.
                Keduanya terus membuntuti Hime hingga mereka sampai di bawah sebuah bukit kecil. Jalan setapak terjal mereka lewati hingga mencapai puncaknya, sebuah kompleks pemakaman. Ryosuke menunjukkan letak makamnya pada Yuya. Mereka lalu melihat Hime dari kejauhan. Gadis itu sedang menata bunga-bunga kertasnya, lalu mengikatnya dengan sebuah pita putih. Setelah meletakkan seikat bunga tulip kertas dengan jumlah lebih bayak dari biasanya di atas makam Ryosuke itu, Hime mengatupkan kedua tangannya, berdoa. Beberapa menit kemudian, pundaknya berguncang menandakan dia sedang menangis.
                “Gomennasai... gomennasai... Ryosuke gomennasai...,” ucapnya berkali-kali sambil menangis.
                “Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia membuat bunga origami itu dan meletakkannya di makammu?” Yuya bingung.
                “Hari ini, hari kematianku. Itu origami tulip putih. Tulip putih melambangkan permintaan maaf,” jelas Ryosuke. Dia lalu terbang melayang mendekati Hime. Yuya mau tidak mau dipaksa berjalan mendekat, mengikuti Ryosuke.
                “Jangan menangis, Hime. Ini semua bukan salahmu,” Ryosuke berkali-kali meraih tubuh Hime hendak memeluknya. Tapi tangannya selalu menembus badan Hime. Dia tidak bisa lagi memeluk gadis yang ia sayangi itu.
                Yuya menghela napas panjang melihat adegan di depannya, “Oi! Airmatamu itu hanya membuat roh orang yang kau tangisi bersedih,” ujarnya dengan nada dingin.
                Hime terkesiap, dia terkejut melihat Yuya ternyata berdiri di sebelahnya. Hari ini sudah kedua kalinya hal ini terjadi padanya, “A... apa yang kamu lakukan disini?” tanya Hime dengan terbata-bata.
                “Namamu Nishiyama Hime, kan?” tanya Yuya
                Hime mengangguk, merasa dirinya terancam bahaya Hime pun segera mengambil tasnya dan melangkah pergi, “Maaf, aku harus pergi.”
                Yuya berjalan beberapa langkah mengikuti Hime, “Kamu sebaiknya menghentikan ini semua. Lupakan masa lalu dan mulailah hidup yang baru.”
                “Kamu tidak ada hubungannya denganku. Berhenti mencampuri urusanku,” Hime menjawab dengan nada biasa. Tapi karena auranya yang mengerikan bicaranya pun jadi terdengar tidak biasa. Hime kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Yuya.
                “Yamada Ryosuke,” Yuya menyebut sebuah nama dan berhasil membuat Hime menghentikan langkahnya. “Kekasihmu itu yang membuatku harus mencampuri urusanmu.”
                “Apa hubunganmu dengan Ryosuke?!” suaranya meninggi. Hime membalik badan, menatap Yuya tajam. Sinar matahari senja menyinari wajahnya langsung, membuat Yuya dapat melihat ekspresi gadis itu untuk pertama kalinya.
                “Tidak ada,” jawab yuya. “Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Yang aku tahu hanyalah dia ingin melindungimu.”
                “Kalau kamu tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu diam dan tidak mencampuri urusanku!” Hime kembali berjalan pergi.
                “Aaah... Kasihan sekali si Yamada itu. Aku bingung kenapa dia ingin melindungi gadis menyedihkan sepertimu?” ledek Yuya.
                Hime tidak menghiraukan Yuya lagi dan pergi meninggalkan kompleks pemakaman itu. Satu lagi pertemuan yang tidak menyenangkan berlalu.
                “Apa yang kau lakukan?!” bentak Ryosuke.
                “Tidak ada. Aku hanya bicara padanya,” Yuya menjawab enteng.
                “Kau seharusnya tidak mengatakan hal itu. Kau membuat Hime semakin sedih!” Ryosuke jadi sangat marah.
                “Jadi aku salah?” tanya Yuya. Pertanyaan itu berhasil membuat Ryosuke diam. Sebenarnya apa yang dikatakan Yuya benar. Hanya saja Ryosuke tidak setuju dengan caranya. “Aku hanya menyampaikan apa yang tidak bisa kau sampaikan padanya. Kalau hal itu salah, jadi apa yang harus aku lakukan?” Yuya memasukkan kedua tangannya di saku celana lalu melangkahkan kaki meninggalkan kompleks pemakaman itu. “Lagipula bagaimana aku bisa membantumu jika aku saja tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua.”
                Ryosuke masih diam. Yuya benar, dia belum tahu apa yang terjadi. “Baiklah, akan aku ceritakan semuanya.”

***

                Keesokan harinya, di sekolah. Dua orang anak laki-laki yang sedang membawa tumpukan tugas berjalan sempoyongan hendak menuruni tangga. Saat mereka baru sampai di bibir tangga, mereka terkejut karena Yuya tiba-tiba mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi ke tembok dan menghalangi jalan mereka.
                “Ma..maaf, kami mau lewat,” ujar salah satu anak yang memakai kacamata memberanikan diri. Mereka harus lewat tangga itu karena tangga itu yang paling dekat dengan kelas mereka.
                “Apa kalian tidak melihat aku sedang bersantai di sini? Lewat tangga Utara!” perintah Yuya.
                Barang bawaan mereka sangat berat jadi akan sangat melelahkan kalau mereka harus lewat tangga Utara. Satu anak lagi seperti hendak protes tapi tidak jadi karena tatapan membunuh yang diberikan Yuya.
                “Kalau kalian mau lewat tangga ini, aku akan membuat kalian babak belur lebih dulu,” gertak Yuya.
                Seperti yang diinginkan Yuya, kedua anak laki-laki itu pun ketakutan dan pergi menuju tangga Utara sesuai perintah.
                “Yuya! Lagi-lagi kau menghalangiku! Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mendapatkan teman,” sesosok anak laki-laki dengan baju seragam sekolah yang sama dengan yang dipakai Yuya itu tiba-tiba muncul dari bawah anak tangga.
                “Inoo, sudah kubilang ratusan kali. Sampai kau berani mencelakai murid sekolah ini. Aku tidak segan-segan melenyapkanmu,” Yuya sudah siap menghantamkan tinjunya ke arah Inoo, tapi Inoo segera melayang menjauh.
                “Aah... Padahal aku hanya ingin bersenang-senang sedikit di hari kematianku ini,” gerutu makhluk yang memiliki wajah lumayan seperti perempuan itu. Matanya lalu mengarah pada sesosok roh yang melayang di belakang Yuya, “Eh? Kamu menolong roh lagi? Heeem... anak yang baik,”
                “Urusai!” bentak Yuya. Tapi tak digubris oleh Inoo. Dia malah melayang mendekati Ryosuke.
                “Ah... Yamada Ryosuke desu,” Ryosuke memperkenalkan diri.
                “Inoo Kei desu. Kamu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan berandal ini. Nanti kamu bisa dilenyapkan olehnya,” Inoo lalu tertawa. Ryosuke hanya bisa ikut tertawa hampa.
                “Aku hanya melenyapkan roh menyebalkan sepertimu!” Yuya melemparkan tinju ke arah Inoo, tapi Inoo berhasil menghindar.
                “Aish, dasar manusia berhati dingin! Apa boleh buat. Aku akan bersenang-senang di tempat lain saja. Jaa ne!” makhluk itu melayang pergi, kabur.
                “Dia itu siapa?” tanya Ryosuke setelah Inoo pergi.
                Yuya menghela napas dan berjalan pelan menuju atap sekolah, “Dia dulu murid sekolah ini. Sepuluh tahun yang lalu dia meninggal karena jatuh dari tangga ini saat sedang membawa buku-buku tugas. Dia berusaha mencelakai murid sekolah ini agar dia punya teman.”
                Ryosuke mengikuti di belakangnya, “Heeem.. Jadi begitu. Kamu membentak dua anak tadi supaya mereka tidak celaka karena ulah Inoo? Kamu ternyata orang yang baik, ya.” Ryosuke menarik kesimpulan yang tepat.
                “Tidak juga,” Yuya menjawab singkat.
                “Awalnya aku ragu, kenapa kamu tiba-tiba mau menolongku. Tapi ternyata kamu memang orang baik,” Ryosuke tersenyum lebar. Dia merasa lega karena bertemu dengan Yuya.
                Yuya terus berjalan, membiarkan Ryosuke yang sedang heboh sendiri. Saat sampai di atap sekolah, dia langsung merebahkan tubuhnya dan membiarkan angin menerpa wajahnya dengan lembut.
                Jeda hening beberapa saat di antara mereka. Ryosuke sekarang ikut duduk melayang-layang di udara sambil menatap langit dan menikmati angin sepoi-sepoi, “Jadi kamu mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan gadis itu?” tanya Yuya memecah keheningan.
                “Iya,” Ryosuke masih tersenyum lebar. Senyuman lembut yang membuat Yuya terdiam, tak habis pikir dengan roh satu ini. Dia malah bersedia mati.
                “Bodoh!”
                “Apa kau bilang?!” senyuman Ryosuke langsung memudar.
                “Kamu bodoh mau mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan seorang gadis seperti itu,” jelas Yuya.
                Ryosuke geram dibuatnya. Tekukan di dahinya semakin dalam. Raut wajahnya mengeras. Percuma rasanya dia memuji Yuya tadi. Ingin rasanya dia menarik kembali omongannya.
                Yuya tertawa. Ryosuke menatapnya bingung, “Apa yang lucu?!”
                “Walaupun bodoh, tapi menurutku kamu keren juga. Baru pertama kali aku bertemu dengan roh sepertimu,” ujar Yuya.
                Ryosuke diam sejenak. Lalu senyuman di wajahnya kembali mengembang. “Ngomong-ngomong, aku masih penasaran. Kenapa kamu mau menolongku? Aku ingin mendengar alasannya langsung darimu.”
                Yuya menatap Ryosuke, lalu tersenyum. “Ceritanya agak panjang. Tidak apa-apa?” tanya Yuya yang langsung dijawab oleh anggukan antusias Ryosuke.
                Yuya memandang langit. Menerawang kenangannya di masa lalu, “Aku memiliki kekuatan ini sejak kecil, sejak aku lahir. Waktu aku kecil dulu, aku berkali-kali ingin menolong orang saat mereka akan diganggu oleh roh-roh jahat. Tapi saat aku memberitahu mereka, tentu saja, mereka tidak ada yang mempercayai perkataan seorang anak ingusan. Mereka pun masuk dalam jebakan roh-roh jahat itu dan terkena musibah. Orang-orang mulai menganggapku sebagai pembawa musibah dan mereka mengucilkanku.” Yuya merubah posisinya dari tidur menjadi duduk.
                “Awalnya aku membenci kekuatanku ini, tapi saat awal masuk SMP ada sebuah kejadian yang membuatku sadar,” Yamada memperhatikan cerita Yuya dengan seksama. Melihat ekspresi Yuya dia seperti ditarik ke dalam ingatan sedih milik pemuda jangkung itu.
                “Waktu itu, aku melihat ada roh jahat penunggu lampu lalu lintas yang ingin mencelakai seorang anak kecil. Saat itu aku mati-matian mengacuhkannya dan akhirnya roh jahat itu berhasil. Anak laki-laki itu, tertabrak mobil dan meninggal di tempat. Melihat kejadian itu aku merasa bersalah tapi aku tidak bisa menolongnya lagi. Aku sangat ketakutan. Saat itu yang terpikir olehku hanya ingin segera pergi dari tempat itu. Aku langsung berlari pulang ke rumah. Sepanjang malam aku tidak tidur karena terus memikirkan kejadian itu. Besoknya aku kembali ke tempat kejadian dan menemukan roh anak itu menangis di bawah lampu lalu lintas. Aku menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi padanya, seolah tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Anak itu bilang dia tersesat, dia tidak tahu jalan pulang ke rumahnya. Ternyata saat kejadian itu, dia terpisah dengan ibunya. Dia berusaha mencari ibunya tapi tidak ketemu dan malah meninggal karena kecelakaan. Karena aku ingin menebus kesalahanku, aku berkata akan mengantarnya pulang. Tiba-tiba saja roh anak itu tertarik oleh bayanganku dan tidak bisa lepas. Seperti kamu sekarang ini,” Yuya menatap bayangannya yang tersambung dengan kaki Ryosuke.
                “Setelah berkeliling hampir ke seluruh penjuru kota. Aku berhasil mengantarnya pulang ke rumah. Anak itu terlihat sangat senang. Dia tersenyum dan berterima kasih padaku, lalu dalam sekejap dia menghilang. Sejak saat itu, aku mulai menerima kekuatan ini. Aku yakin, pasti ada alasannya kenapa aku terlahir dengan kekuatan seperti ini. Mulai kejadian itu, entah bagaimana, hampir setiap hari roh-roh penasaran mulai datang menemuiku dan meminta bantuan. Mereka langsung terikat oleh bayanganku, jadi mau tidak mau aku harus menolong mereka agar mereka tidak membuntutiku lagi. Memang melelahkan, tapi terkadang itu jadi sangat seru.” Yuya tertawa diakhir ceritanya.
                Yuya menatap Ryosuke. Pemuda itu sudah berkaca-kaca mau menangis, “Terima kasih, Yuya. Terima kasih banyak. Kamu memang benar-benar orang yang baik, maaf aku pernah meragukan kebaikanmu,” Ryosuke terharu mendengar cerita Yuya.
Yuya tertawa keras melihat Ryosuke, “Jangan menangis! Tampangmu bodoh kalau menangis! Menjijikkan, tahu!” Keduanya lalu tertawa bersama.
                Tiba-tiba pintu atap sekolah terbuka menghentikan tawa Yuya dan Ryosuke. Mereka berdua langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Gadis berambut panjang dengan poni yang menutup sebagian wajahnya berdiri di ambang pintu. Ya... Hime. Dia memeluk tas kertas berisi kertas origaminya dan membawa sebuah kotak makan yang dibungkus kain merah motif garis-garis. Dia langsung duduk di dekat pintu. Sepertinya lagi-lagi Hime tidak menyadari kalau ada Yuya di sana.
                “Dia tidak menyadari kalau ada aku di sini atau bagaimana?” Yuya berbisik pada Ryosuke.
                “Lagi-lagi dia melamun. Ah, padahal dulu Hime adalah gadis yang sangat ceria. Sekarang dia berubah menjadi seperti ini. Ini semua salahku,” keluh Ryosuke.
                “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Itu memuakkan,” cerca Yuya. “Kamu ingin melindungi gadis itu, tapi karena kamu sudah meninggal jadi menyentuhnya saja tidak bisa,” bukan sebuah pertanyaan. Lebih tepatnya sebuah kesimpulan yang dapat ditarik oleh Yuya setelah mendengar semua cerita Ryosuke.
                Ryosuke mengangguk, “Karena aku tidak bisa melindunginya dengan tanganku sendiri, aku ingin mencari orang yang bisa melindunginya. Karena itu, sejak hari kematianku aku selalu mengikutinya. Tapi semakin hari, keadaan jadi semakin buruk. Tidak ada hal baik yang terjadi pada Hime. Aku jadi merasa bersalah.”
                “Jika dia berpenampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang mau mendekatinya. Pertama, kita harus membuatnya mau mengubah penampilannya menjadi gadis biasa seperti dulu,” jelas Yuya yang langsung disetujui oleh Ryosuke.
                Yuya berdiri menghampiri Hime, lalu tanpa pemberitahuan lebih dulu dia langsung menghempaskan tubuhnya, duduk di sebelah Hime. Otomatis Hime langsung melonjak kaget karena ulah Yuya.
                “Yo! Hari ini cerah, ya?” ujar Yuya basa-basi. Yuya yang biasanya dingin pada orang lain, sekarang sedang mati-matian mengembangkan senyuman lebar. Berharap dengan begitu Hime mau mendengarkannya. Tapi respon yang diterimanya berbeda, Hime tidak menggubrisnya dan malah membereskan barang bawaannya. Saat Hime berdiri, Yuya segera menarik pergelangan tangan Hime, menghentikan langkah gadis itu. “Maaf, atas kejadian kemarin. Aku tiba-tiba bicara seperti itu padamu,” suara Yuya yang besar membuat kalimat itu terdengar tegas namun lembut.
                Hime menghentakkan tangannya agar lepas dari genggaman Yuya. Setelah itu dengan cepat dia berlari pergi.
                Yuya hanya bisa melongo melihat gadis itu pergi, “Ada apa dengan anak itu?!” umpat Yuya. Dia menghentakkan kakinya kesal. “Setidaknya katakan sesuatu. Aku sudah susah payah bersikap baik dan mengajaknya ngobrol tapi dia malah tidak menghiraukan aku. Gadis itu seratus kali lebih menyebalkan dari yang aku kira.”
                Ryosuke yang melayang-layang di sebelahnya, tertawa terbahak-bahak. Yuya dibuat semakin geram. “Jangan tertawa!!” bentaknya.
                “Aku tidak mengira kamu bisa membuat ekspresi seperti itu. Kamu terlihat seperti orang bodoh! Hime benar-benar hebat,” ejek Ryosuke masih dengan tawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan.
                “Berisik! Aku berbuat seperti itu untuk membantumu!” Yuya terus menggerutu. “Ini semua gara-gara kekasihmu itu tidak mau mendengarkanku sama sekali.”
                “Hai... hai, tenanglah, kita coba lagi sepulang sekolah nanti,” ujar Ryosuke.

***

                Jam menunjukkan pukul empat sore. Langit sudah mulai memerah. Hime meletakkan tulip kertas terakhirnya di dalam tas kertas. Setelah itu dia beranjak pergi. Dia tidak sabar menanti esok hari. Besok adalah hari Sabtu, dia seharian akan berada di makam Ryosuke seperti yang dia lakukan setiap minggunya. Itu adalah salah satu kebiasaan Hime. Hime akan melipat tulip-tulip kertas di depan makam kekasihnya itu sambil bercerita tentang kegiatannya selama seminggu, walaupun memang kegiatannya sepanjang minggu hanyalah melipat origami sendirian. Dia juga akan bercerita tentang banyak hal, tentang gurunya, teman-teman sekelasnya yang dia perhatikan setiap harinya, dan lain-lain. Hime merasa lebih tenang bila berada di makam Ryosuke dan menceritakan segala hal. Serasa beban dan masalah yang selama ini dia alami, perlahan menghilang.
                “Nishiyama Hime!” panggilan dari seseorang itu membuyarkan lamunan indah Hime. Dia menoleh ke sumber suara dan raut wajahnya pun langsung berubah muram.
                Yuya berjalan mendekat dan berhenti di jarak sekitar lima langkah dari Hime. “Sampai kapan kamu mau begini terus?” tanya Yuya tanpa basa-basi.
                Hime terlihat tidak paham dengan apa yang dibicarakan laki-laki itu. Hime lalu membalik badannya dan berjalan pergi. Yuya mengikutinya dari belakang.
                “Kalau kamu tidak merubah penampilanmu dan menghilangkan kebiasaan anehmu. Kamu selamanya akan dijauhi. Kamu selamanya akan sendirian!” Yuya terus bicara. Tapi Hime semakin mempercepat langkahnya. Yuya tak mau kalah. Dia juga mempercepat langkahnya. “Sampai kapan kamu mau melarikan diri, Pengecut?!” teriak Yuya.
                Hime pun menghentikan langkahnya. Mereka sampai di lapangan sekolah. Tidak ada orang lain di lapangan itu kecuali mereka berdua—dan tentu saja Ryosuke—karena semua murid sudah pulang. “Selamanya akan sendirian, selamanya akan dijauhi,” Hime mengulangi kata-kata Yuya. “Memangnya apa urusannya denganmu? Kamu tidak berhak menuturiku seperti itu. Lihat dirimu! Kamu juga sama, kan? Tidak ada yang mau berteman dengan berandalan sepertimu. Semua orang takut padamu. Tidak ada yang mau dekat dengan orang sepertimu. Dasar orang tidak punya hati!” Gadis itu menatap Yuya dengan tatapan tajam penuh amarah.
                Yuya malah menunjukkan seringainya, “Terserah kamu mau memakiku dengan sebutan apa. Yang penting, aku bukan pengecut yang selalu melarikan diri dari kenyataan sepertimu! Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, jadi diamlah dan dengarkan perkataanku.”
                Hime semakin marah dibuatnya, “Untuk apa aku mendengarkan orang sepertimu. Kamu juga sama sekali tidak tahu menahu tentangku. Jadi jangan ganggu kehidupanku lagi!” Hime kembali melangkahkan kakinya.
                “Aku tahu,” kata Yuya. Hime tidak menghentikan langkahnya. “Aku tahu semua tentang masa lalumu.”
                Hime menghentikan langkah, “Uso!” katanya tanpa membalik badan.
“Nishiyama Hime. Kamu memiliki kekasih bernama Yamada Ryosuke. Kalian adalah teman sejak kecil dan kalian mulai berpacaran sejak kelas satu SMP,” tanpa ba-bi-bu Yuya memulai ceritanya. Dia melangkah mendekati Hime. Sedangkan Hime masih tetap bergeming.
                “Kamu dulu gadis yang selalu ceria dan sangat positif, tidak seperti sekarang. Tapi kejadian malam itu mengubahmu. Yamada meninggal akibat tertabrak truk demi menyelamatkanmu. Orang tua Yamada menyalahkanmu atas kematian anaknya. Mereka menganggapmu telah membunuh anaknya. Lama kelamaan kamu mulai dikucilkan oleh tetangga dan orang di sekitarmu karena dianggap sudah gila. Bahkan orang tuamu juga menjadi tidak peduli denganmu. Kamu akhirnya keluar dari rumah dan hidup sendiri. Lalu kamu menjadi pengecut seperti sekarang,” Yuya mengakhiri ceritanya.
                Kedua tangan Hime menggengam tali tasnya dengan sangat erat. Tangan-tangan kurusnya gemetaran. Tidak hanya tangan, hampir seluruh tubuhnya gemetaran. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Dia dipaksa mengingat lagi kenangan buruk yang sangat ingin dia lupakan. “Selain berandalan, kamu juga penguntit, ya?” suaranya bergetar. Tapi Hime masih berusaha bicara ketus pada Yuya.
                “Untuk apa aku menguntit gadis menyedihkan sepertimu,” ledek Yuya. “Kekasihmu yang memberitahu semuanya padaku.”
                “Uso!” teriak Hime. “Tidak mungkin Ryosuke yang menceritakannya padamu. Karena dia...”
                “Sudah meninggal,” sambung Yuya. “Memang benar dia sudah meninggal dan tidak mungkin orang yang sudah meninggal menceritakan hal itu padaku. Tapi bagaimana kalau aku tahu semua itu dari roh Yamada.”
                Hime membelalak, “Tidak mungkin.”
                “Bagimu memang tidak mungkin, tapi bagiku mungkin. Karena aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain,” jelas Yuya.
                “Bohong!”
                “Aku tidak bohong,” jawab Yuya dengan tenang.
                “Aku tidak percaya pada bualanmu,”
                “Ini bukan bualan. Aku bisa membuktikan kalau aku tidak berbohong,” Yuya mendekati Hime dan dengan cepat mencengkeram kedua lengan gadis itu. “Yamada baru saja memberitahukan sesuatu. Katanya hanya kau dan dia saja yang mengetahui hal ini,” Yuya menyeringai puas. “Pesan terakhir Yamada sebelum dia meninggal,” Yuya membuat keringat dingin Hime semakin banyak.
                Hime berusaha melepaskan diri tapi dia tidak bisa menandingi Yuya. Hime menelan ludah saat Yuya mendekatkan wajahnya ke samping wajah Hime, tepat di dekat telinga Hime.
                “Daisuki,” ucap Yuya. Yuya membisikkan kata itu di telinga Hime persis seperti yang dilakukukan Ryosuke saat menyelamatkannya dari terjangan truk.
                Suara Yuya langsung masuk dan ditangkap oleh gendang telinga Hime. Suara itu seperti bergema di kepalanya dan menggugah kembali kenangan masa lalu. Dia kembali teringat kejadian saat Ryosuke membisikkan kata itu ke telinganya. Dia teringat kembali bagaimana senyuman terakhir Ryosuke yang dilihatnya, bagaimana dia selamat dari terjangan truk itu, aliran darah Ryosuke yang larut dalam air hujan, sampai tubuh Ryosuke yang terkapar tak bernyawa bersimbah darah di hadapannya. Hime seperti ditarik kembali ke masa lalu dan kembali melihat kejadian malam itu.
                “Ya... Yada! Yadaaa!! Ryosuke... Ryosuke... Yadaaa! Gomennasai... Ryosuke gomennasai!” teriakan histeris keluar dari mulut Hime. Lututnya lemas, dia pun jatuh terduduk. Hime Menutup telinganya. Airmatanya deras mengalir. Tubuhnya gemetar hebat. Dia berkali-kali mengucapkan maaf dan memanggil-manggil nama kekasihnya.
                Yuya terkejut. Dia tidak menyangka keadaannya jadi seperti ini. Yuya berusaha menenangkan Hime yang histeris. Tiba-tiba tubuh Hime tumbang, dia pingsan. Untung Yuya segera mengangkapnya.
                “Hoi! Nishiyama! Kamu baik-baik saja? Nishiyama!” teriak Yuya.
                “Yuya, cepat bawa dia ke apartemennya. Akan aku tunjukkan jalannya,” ujar Ryosuke panik.
                Tanpa pikir panjang, Yuya segera menggendong Hime dan berlari secepat yang dia bisa mengikuti Ryosuke.

***

                Sinar bulan masuk dari celah-celah tirai putih di ruangan itu. Sinar itu menyinari wajah Hime yang sedang memejamkan matanya. Lama kelamaan gadis itu pun terbangun. Hime melihat sekelilingnya, melihat ruangan gelap gulita hanya disinari bulan itu. Dia menghela napas lega, ternyata dia berada di apartemennya sendiri. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Dia masih merasa sedikit pusing.
                “Kau sudah sadar?” sebuah suara berat membuatnya melonjak terkejut. Yuya menekan tombol lampu di sebelahnya dan seketika seluruh ruangan itu menjadi terang. Ruangan kecil dengan ratusan bahkan ribuan origami tulip putih yang berserakan dimana-mana.
                “A... apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Hime ketakutan. Dia baru ingat, orang itu yang membuatnya pingsan tadi.
                “Begitukah caramu berterima kasih pada orang yang telah mengantarmu pulang? Kamu memang tidak begitu berat, tapi menggendongmu yang pingsan dari sekolah sampai tempat ini cukup melelahkan,” Yuya memutar-mutar lengan kanannya.
                Hime terkejut, dia tidak percaya orang ini menggendongnya dari sekolah sampai apartemen ini padahal jaraknya cukup jauh. Butuh tiga puluh menit dengan berjalan kaki. “Bagaimana kamu tahu apartemenku?” tanyanya pelan.
                Yuya menghela napas jengah, lalu berjongkok di depan Hime. “Kekasihmu yang memberitahu tempat ini. Yamada. Aku diberitahu Yamada Ryosuke. Kamu masih belum percaya kalau aku bisa melihat dia?” Yuya berdecak kesal.
                “Ryosuke...” Hime mendekap kedua lututnya erat.
                Roh Ryosuke melayang-layang di depan gadis itu, “Hime, aku ada di sini.”
                “Dia baru saja mengatakan dia ada di sini,” Yuya mengucapkan kembali perkataan Ryosuke.
                “Apakah itu benar?” tanya Hime dan dijawab anggukan mantap oleh Yuya. Sejenak Hime berpikir, bisakah dia mempercayai Yuya? “Ryosuke ada dimana?” Hime mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
                “Dia berada tepat di depanmu,” jawab Yuya sambil melihat ke arah Ryosuke.
                “Hime, aku ada di sini. Di depanmu,” Ryosuke berusaha mengelus pipi Hime tapi tidak bisa.
                “Yamada, kumpulkan kekuatanmu. Kamu akan bisa menggapainya,” ujar Yuya pada udara kosong di depan Hime. Hime yang tidak bisa melihat apa yang dilihat Yuya hanya bisa diam dengan mata yang bergulir kesana kemari mencari keberadaan sosok kekasihnya.
                Ryosuke mencoba melakukan apa yang diperintahkan Yuya. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuhnya perlahan diselimuti cahaya putih. Ryosuke menoleh pada Yuya, Yuya memberinya sebuah anggukan. Roh pemuda itu lalu mendekati tumpukan origami tulip yang berada di samping Hime. Dengan yakin dia menyentuh salah satu origami itu. Tidak butuh waktu yang lama, origami itu sudah berada di tangannya. Hime terperangah melihat sebuah origami tulipnya melayang-layang di udara. Ryosuke menggerakkan tulip kertas itu dan menempelkannya ke pipi Hime.
Hime merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan yang sangat dia rindukan. Kedua tangan Hime bergerak menggenggam origami itu. Airmatanya mulai mengalir, “Gomennasai, Ryosuke. Karena aku... Semua ini karena aku. Semua ini salahku.”
                “Tidak, ini semua bukan salahmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Kalau kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, aku akan sangat bersedih. Tolong mulailah hidupmu lagi dan berbahagialah,” ujar Ryosuke. Kalimat-kalimat itu kembali diucapkan Yuya agar bisa tersampaikan pada Hime.
                “Dia mengatakan itu,” imbuh Yuya. Hime masih menangis sambil menggenggam origami di pipinya. Tapi di pengelihatan Yuya, Hime menggenggam tangan Ryosuke dengan erat. Seakan tidak mau melepaskannya lagi.
Beberapa saat kemudian kekuatan Ryosuke mulai melemah, dia mulai tidak bisa merasakan origami itu maupun genggaman tangan Hime. Saat kekuatannya benar-benar habis, Ryosuke kembali tidak bisa menyentuh Hime. Gadis itu juga sama, dia merasakan sentuhan lembut di pipinya mulai menghilang. Tangisannya semakin keras.
                Yuya mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan untuk pergi dari sini. Ryosuke pun menurut. Yuya telah banyak membantunya hari ini. Sebenarnya dia masih ingin bersama Hime, tapi karena dia terikat dengan bayangan Yuya, dia tidak bisa tinggal. Yuya berdiri dan melangkahkan kaki pergi. Sesaat sebelum keluar dari apartemen Hime, Yuya menoleh melihat Hime, memastikan gadis itu akan baik-baik saja. Setelah itu dia dan Ryosuke pun berjalan pulang.
                “Yuya, terima kasih,” ujar Ryosuke.
                “Un...,” Yuya mengangguk dan tersenyum.

***TO BE CONTINUED***

[Fanfic] My Shadow -Part 1-

Hallo minna. Setelah sekian lama, malam ini aku tiba-tiba dapet ide gila.
Saa.. Happy reading!

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, OC (sementara itu dulu. Nanti juga ketahuan ada sapa aja xD)

[Part 1]
-Part 1-

                Cerita ini berawal dari kejadian tragis dua tahun yang lalu. Tepat di hari kelulusannya, Hime kehilangan orang yang sangat dia sayangi.
                Malam itu setelah pesta perpisahan sekolah menengah pertamanya, Hime dan Ryosuke pulang bersama. Malam bahagia itu tidak didukung oleh cuaca. Hujan turun dengan derasnya. Tapi hujan deras tetap tidak menganggu sepasang kekasih itu. Di bawah sebuah payung berukuran sedang, Hime dan Ryosuke bergandengan tangan. Monumen jam yang berada di tengah taman kota itu menunjukkan pukul delapan malam saat mereka melewatinya. Tiba-tiba Hime mendengar sebuah suara dibalik semak, dibawah monumen jam. Dia langsung mengajak Ryosuke melihat ada apa dibalik semak itu.
                  Hime menemukan sebuah kardus dengan seekor kucing kecil berwarna hitam yang terus mengeong. Tubuh kucing itu menggigil kedinginan. Hime lalu melepas jaketnya dan menyelimutkan pada si kucing. Ryosuke menawarkan untuk merawatnya. Hime pun langsung mengangguk dengan sangat antusias. Dia tidak bisa membawa kucing malang itu pulang karena orang tuanya melarangnya memelihara hewan. Jika kucing itu bersama Ryosuke, pemuda itu pasti akan menjaga kucing itu dengan baik karena Ryosuke memang penyuka hewan. Hime juga bisa mengunjungi kucing itu kapanpun dia mau.
                Hime menggendongnya, berusaha membuat tubuh kucing itu hangat. Sampai di sebuah zebracross Ryosuke menekan tombol yang berada di bawah lampu lalu lintas. Mereka harus menunggu sekitar dua puluh detik untuk menyeberang jalan. Kedua orang itu mengobrolkan hal-hal lucu yang terjadi di masa-masa sekolah menengah mereka. Tawa mereka meledak saat mengingat tentang teman sekelasnya, Nakajima-kun, yang gagal membolos pelajaran matematika dan akhirnya dihukum membersihkan seluruh kamar mandi di sekolah.
                Tawa mereka seketika berhenti ketika kucing kecil itu melompat dari gendongan Hime saat ada mobil yang baru saja lewat membunyikan klakson dengan kerasnya. Tanpa pikir panjang Hime segera melompat ke jalan untuk menangkap kucing itu. Dia bahkan tidak tahu kalau ada sebuah truk yang melaju kencang ke arahnya. Hime menutup matanya, mendekap erat kucing kecil yang ada digendongannya. Detik kemudian, dia mendengar sebuah suara lembut berbisik di telinganya. Detik selanjutnya, dia melihat senyuman manis dari seorang yang ia sayangi. Lalu puluhan detik berikutnya berlalu begitu saja. Ribuan tetes air terus jatuh dari langit menghujani jalanan itu. Hime membuka matanya, terkejut melihat dirinya berada di pinggir jalan dan masih baik-baik saja. Kucing kecil itu juga baik-baik saja dan masih berada dipelukannya.
                Aliran kecil air berwarna merah mengalir pelan di sebelahnya. Matanya terbelalak. Suaranya tercekat. Udara serasa tidak bisa keluar maupun masuk dengan baik melalui saluran pernapasannya. Kelenjar air matanya bekerja aktif memproduksi air yang sedetik kemudian meluap tanpa bisa dibendung. Diiringi tangisan histeris Hime, di tengah guyuran hujan malam itu. Yamada Ryosuke, telah tiada.

***

                Dua tahun telah berlalu sejak hari itu. Kini gadis bernama Nishiyama Hime sudah berada di kelas dua SMA. Gadis itu duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela. Rambut panjang sepunggung yang terlihat seperti tidak pernah terkena belaian benda bernama sisir itu dibiarkan tergerai. Poninya sudah terlalu panjang hingga menutupi setengah wajah sebelah kanan.
Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tentu saja tidak ada orang yang berada di sekolah sepagi itu kecuali dirinya. Tangan Hime bergerak melipat kertas lipat kecil. Dalam sekejap selembar kertas putih persegi itu sudah menjadi origami berbentuk kuncup bunga tulip. Bunga tulip pertama hari ini. Origami itu lalu dia letakkan di pojok mejanya. Hime kemudian mengambil kertas lipat putih lagi dan membuat bentuk yang sama. Dia terus membuat tulip putih itu dan menjajarnya di meja hingga seluruh meja kecil itu penuh dengan origami tulip putih. Setelah tidak ada tempat lagi untuk meletakkan origaminya, dengan cepat Hime mengambil tas kertas kecil dari dalam tasnya. Hime memasukkan satu persatu origami itu ke dalam tas kertas. Setelah semua masuk, dia kembali membuat origami yang sama dan meletakkannya di meja seperti sebelumnya. Kegiatan itu dia lakukan sepanjang hari dan setiap hari. Sejak kejadian itu.
                Dengan penampilan yang sangat mengerikan dan kebiasaan anehnya itu tentu saja tidak ada orang yang mau berteman dengannya. Mendekat saja enggan apalagi berteman. Karena itu Hime selalu sendirian. Hari itu Hime menghabiskan waktu istirahat siangnya untuk menyendiri di atap sekolah. Setelah memakan bekalnya, dia kembali melipat kertas lipat untuk membuat tulip putih. Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hime lebih banyak membuat origami. Setelah kertas putih yang dibawanya habis, dia lalu mengambil kertas berwarna hijau. Hime lalu menggunting kertas hijau itu. Potongan kertas itu sedemikian rupa ia bentuk menjadi tangkai untuk origami tulipnya.
                Hime tidak menyadari kegiatannya dari tadi diperhatikan oleh seorang pemuda yang ternyata sudah lebih awal menghuni atap sekolah. Hime tidak melihat ada orang lain selain dirinya karena terlalu fokus dengan origami-origaminya.

                “Oi! Kamu sedang apa?” tanya pemuda itu yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Hime.

                Hime terkejut melihat pemuda dengan penampilan berandal itu. Dia tahu siapa pemuda itu dan sangat berbahaya kalau berada di dekatnya. Takaki Yuya, pemuda paling ditakuti seluruh warga sekolah. Dia adalah anak pemberi donasi terbesar sekolah itu. Dia terkenal sangat kejam dan siapapun yang terlibat dengannya akan tertimpa ketidakberuntungan.
Hime segera membereskan kertas-kertasnya dan hendak meninggalkan tempat itu.

                “Hei! Kamu meninggalkan ini,” pemuda itu menepuk pundak Hime, menghentikan langkah gadis itu.
Hime membalik badannya dan mengambil kotak bekalnya yang disodorkan oleh Yuya. Lalu Hime pun berlari pergi.

                “Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Yuya. Setelah Hime pergi berarti tidak ada orang selain Yuya di atap sekolah itu. Menurut orang biasa memang seperti itu, tapi menurut Yuya berbeda. Ada makhluk lain selain dirinya di atap sekolah itu.

                Yuya berdecak kesal sambil membalik badannya menatap makhluk itu, “Apa maumu?”

                “Eh? Kamu bisa melihatku?” tanya sesosok pemuda yang memakai gakuran hitam. Dia terlihat seperti anak laki-laki biasa. Tapi sebenarnya dia bukan penghuni dunia ini, atau lebih tepatnya sudah bukan penghuni dunia ini.

                Yuya mengangguk singkat, “Kenapa kamu terus membuntuti gadis itu? Kamu berniat jahat pada gadis itu?”

                “Tidak.. Tentu saja tidak!” pemuda itu langsung menyangkal. “Aku tidak mungkin berniat buruk pada Hime. Aku hanya ingin melindunginya.”

                “Hah? Bagaimana kau bisa melindunginya kalau kau saja tidak bisa menyentuhnya. Dunia kalian berbeda. Cepat kembali ke duniamu!” tegas Yuya. Yuya lalu berjalan meninggalkan atap sekolah dan kembali ke kelasnya.

                “Aku mau kembali ke kelas. Jangan mengikutiku! Cepatlah pergi dari dunia ini. Ini bukan tempatmu lagi!” ujar Yuya tetap dengan nada malasnya.

                “Aku tidak bermaksud mengikutimu. Tapi aku tidak bisa lepas dari bayanganmu,” ujar makhluk itu.

                “Hah?! Jangan bercanda!” bentak Yuya.

                “Aku tidak bercanda. Lihat ini,” makhluk itu lalu mencoba terbang menjauh tapi bayangan Yuya kembali menariknya. Bayangan itu seperti rantai yang tidak bisa dilepas.

                “Uso!!” teriak Yuya tidak terima. “Argh kenapa jadi begini?!”

                Makhluk itu sedikit mundur menjauh, dia tidak mengira akan terikat dengan orang menakutkan seperti Yuya. “A..Aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini,” ujarnya lalu diiringi dengan tawa hampa. “Em... Sepertinya mulai sekarang kita akan selalu bersama. Namamu Takaki Yuya, kan? Perkenalkan aku Yamada Ryosuke.”

                Yuya yang tadinya berjongkok, menunduk meratapi hal yang terjadi padanya, tiba-tiba berdiri menatap roh Ryosuke lurus-lurus, “Kau harus menuntaskan hal yang membuatmu terikat di dunia ini agar kamu bisa lepas dariku dan kembali ke duniamu.” Yuya menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Sebenarnya aku paling membenci hal ini. Tapi apa boleh buat karena kau tidak bisa lepas dariku. Aku akan membantumu.”

                Ryosuke yang awalnya memampang wajah penuh tanya segera mengembangkan senyumannya, “Benarkah? Terima kasih banyak, Yuya!”

                “Jangan salah paham! Aku hanya ingin kau cepat pergi dari dunia ini dan tidak mengangguku lagi,” ujar Yuya dingin. Yuya, diikuti roh Ryosuke, berjalan meninggalkan atap sekolah itu.

Dan cerita mereka baru saja dimulai.

***TO BE CONTINUED***
            

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Extra Story-

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Extra Story]
Extra story
                Bel pulang berdentang di seluruh sekolah, sudah saatnya para siswa mengakhiri aktivitas belajar mereka pada hari itu. satu persatu siswa sekolah tersebut berjalan keluar gerbang sembari bercengkrama dengan teman-temannya. Rasa lelah setelah seharian menyerap berbagai pelajaran hari ini seakan hilang tertutupi oleh senyuman mereka. Hari ini adalah hari terakhir musim semi dan artinya hari ini adalah hari terakhir mereka masuk sekolah. Semua siswa bergegas pulang untuk mempersiapkan liburan musim panas mereka. Semua tersenyum bahagia menyambut libur musim panas tahun ini, kecuali satu orang.
                Seorang gadis sedang duduk diam di bangkunya. Tangan kanannya menyangga kepalanya yang menoleh keluar jendela kelas yang sudah kosong tersebut. Ditatapnya langit sore yang kemerahan itu. Entah apa yang dia pikirkan, sesekali dia menghembuskan napasnya sambil memejamkan mata dan saat dia buka matanya kembali, tampak sekali sebuah penyesalan di wajahnya tapi segera disembunyikannya lagi. Gadis itu terus menatap langit sore seakan tak ada satu pun niatan untuk pulang dan meninggalkan pemandangan itu. Gadis itu sibuk menatap langit hingga tak menyadari ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Seorang laki-laki bermata elang sedang berdiri di depan pintu kelas sambil melihat lekat-lekat ke arah gadis itu. Disandarkannya tubuhnya dipintu kelas tersebut. Dari wajah tampannya tersirat rasa iba saat melihat gadis itu.

-flash back-
~1 bulan yang lalu~
                Hujan turun sangat deras, Yui berjalan gontai di bawah hujan yang terus menerus mengguyur tubuhnya. Dia berjalan tanpa tahu arah tujuan. Dia terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi itu. Akhirnya, sampailah dia di sebuah taman bermain. Di taman bermain itu, dia pernah bermain layaknya anak kecil bersama seorang pemuda yang sangat penting baginya. Yui melangkahkan kakinya menuju sebuah ayunan. Didudukkannya badannya yang basah kuyup di ayunan itu, digerakkannya perlahan kedua kakinya hingga ayunan itu bergerak maju dan mundur. “kriet. Kriet. Kriet” bunyi ayunan itu bercampur dengan suara hujan yang terus turun. Cukup lama dia berayun kecil di sana. Tiba-tiba dihentikannya ayunan itu, dia menundukkan kepalanya menahan rasa panas di mata yang tiba-tiba dirasakannya. Rasa panas itu seakan ingin menyeruak keluar membawa butiran-butiran bening. Tangannya menggenggam erat besi-besi kecil yang menjadi tali ayunan itu, menahan agar butiran-butiran bening itu tidak keluar lagi. Tapi usahanya sia-sia, rasa penyesalan mengalahkannya dan akhirnya, Yui pun menangis. Dia menangis lagi menyesali kebodohannya. Keadaannya saat ini benar-benar kacau, orang yang melihatnya pasti akan merasa kasihan. Tapi Yui tak mengiharaukannya, dia tetap menangis di bawah guyuran air hujan itu. Tiba-tiba dua tangan melingkari bahunya dan memeluk tubuh Yui dari belakang. Yui tertegun, dia pun menoleh ke orang tersebut.
“Keito..” ucapnya.
“Aku mencarimu kemana-mana. Jangan membuat orang khawatir. Sekarang ayo kita pulang!” Keito pun melepas pelukannya dan berjalan ke depan Yui.
“Keito, aku sangat mencintainya. Tapi..” suara Yui pun mulai bergetar. Dan akhirnya Yui pun menangis lagi. Melihat itu, Keito segera menarik Yui hingga Yui berdiri dan memeluknya lagi.
“ini bukan salahmu. Kau tak perlu menyesalinya. Dia pasti kembali, Yuto pasti akan pulang! Aku yakin itu!” ucap Keito berusaha menenangkan Yui. Hujan pun mulai reda, Keito masih memeluk erat tubuh Yui. Yui pun mulai berhenti menangis.
“ayo kita pulang! Ibumu pasti sangat khawatir” ajak Keito. Keito melepas pelukannya dan membungkukkan badannya sedikit. Disekanya airmata di pipi Yui.
“sudah, jangan menangis lagi. ayo pulang!” ucap Keito tersenyum berusaha menyemangati Yui. Yui menganggukkan kepalanya. Keito pun mengambil payungnya yang sedari tadi dibiarkan terjatuh di tanah lalu menarik pergelangan tangan Yui untuk pulang. Keito berjalan sambil tersenyum berharap senyumannya dapat memberi semangat pada kekasih sahabatnya itu. Tapi usahanya sia-sia, Yui berjalan mengikuti langkah Keito dengan terus menundukkan kepalanya tak melihat senyuman yang berusaha disunggingkan oleh Keito. Melihat itu, senyum lebar Keito pun perlahan berubah menjadi senyuman tipis. Dia menghela napasnya dan melihat ke depan seakan menguatkan dirinya sendiri.
-flash back end-

“Sampai kapan kau mau duduk di situ terus?” laki-laki itu pun mulai mengeluarkan suaranya. Satu menit.. dua menit.. gadis itu tak kunjung menjawab dan tetap menatap ke luar jendela tanpa menghiraukan pertanyaan dari laki-laki yang notabennya adalah senpainya itu. “ck!” laki-laki itu pun berdecak. Karena tak sabar menunggu jawaban kouhainya itu, dia pun berjalan mendekati gadis itu dan duduk di bangku tepat di depan gadis itu.
“sampai kapan kau terus di sini, Yui? ayo pulang!” Laki-laki itu mengulang ucapannya.
“Keito.. Kira-kira, apa yang sedang dia lakukan sekarang? kapan dia akan pulang?” tanya Yui dengan tetap melihat langit. Keito pun terdiam mendengar pertanyaan Yui.

Keito’s POV
                Sudah 1 bulan sejak Yuto pindah ke London. Sejak saat itu juga, Yui jadi seperti ini. Dia berubah, dia tak lagi menjadi gadis periang yang cerewet seperti dulu. Sekarang senyumannya seakan hilang entah kemana. Yui sekarang lebih sering menghabiskan waktunya untuk diam menatap langit. Melihat keadaannya aku jadi merasa bersalah, aku tak dapat menepati janjiku.

-flash back-
“selama berhari-hari, dia berusaha keras belajar membuat ini untukmu. Dia ingin makan berdua denganmu” jelas Keito seraya memberikan kotak bento itu pada Yuto dan dia pun pergi. Yuto membuka kotak bento di tangannya itu.
“Keito!” Keito menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihat orang yang memanggilnya. Yuto melangkahkan kakinya berjalan mendekati Keito. Dia pun berdiri di depan Keito, tangannya menggenggam erat kotak makan itu. Di tatapnya tajam mata sahabatnya itu.
“aku ingin meminta tolong padamu. Maukah kau membantuku?” tanya Yuto. Keito mengangkat satu alisnya heran mendengar ucapan Yuto.
“ya, ada apa?” jawab Keito dingin.
“aku akan pindah ke London besok. Ayahku dipindah tugaskan ke sana, jadi aku akan meneruskan sekolahku di sana. Maka dari itu, aku mohon padamu tolong jaga Yui” mata Keito terbelalak mendengar apa yang barusan Yuto katakan.
“kau mau pindah ke London?! Apa maksud semua ini? kau memutuskan hubunganmu dengan Yui lalu besok kau mau pergi ke London?! Kau mau meninggalkannya dengan keadaan seperti ini?! dimana rasa tanggung jawabmu?!” Keito yang marah segera menarik kerah baju Yuto. Yuto hanya bisa diam tak berdaya menerima perlakuan Keito.
“gomen.. Aku tidak bisa bilang padanya. Aku tak mau membuatnya kesepian karena aku pergi jauh dan mungkin akan lama di London. Jadi aku pikir, akan lebih baik jika aku mengakhiri hubungan ini dan membiarkannya bersama pria lain yang lebih baik dariku, agar dia bahagia dan tidak merasa kesepian. Saat aku melihat kalian berdua tertawa bersama, hatiku merasa hancur. Tapi, itu jadi semakin menguatkan keputusanku” Yuto mengambil jeda lalu kembali menatap Keito tajam.
“Keito, tolong jaga Yui. Tetaplah berada di sisinya menggantikanku. Aku mohon” ucap Yuto mantap.
“apa yang kau katakan, Baka!” Keito mendorong yuto hingga terjatuh.
“kau pikir dengan begini Yui akan bahagia? Kau pikir Yui tak akan kesepian? Bagi Yui, seorang Nakajima Yuto adalah orang yang tak tergantikan di hatinya. Maka dari itu, aku tak akan mau menggantikan posisimu. Karena kau sahabatku dan orang yang berharga bagi Yui” ucap Keito marah. Yuto diam dengan posisinya terduduk di tanah yang dingin itu.
“kau harus menjaganya sendiri. Kau masih mencintainya kan? kalau kau masih mencintainya, jangan pernah sia-siakan dia dan jagalah perasaannya! Jangan pernah sakiti hatinya dengan cara seperti itu!” tambah Keito. Yuto tetap diam tak menjawab.
Beberapa saat kemudian. “aku mengerti” Yuto pun bangkit.
“kalau begitu sebagai sahabat, tolong jaga Yui untukku. Aku tidak akan memintamu untuk menggantikan posisiku, tapi tolong jaga dia sampai aku kembali. Tolong yakinkan dia, aku pasti kembali untuknya. Jangan biarkan dia menangis dan bersedih. Aku berjanji, setelah sekolahku selesai, aku akan segera kembali ke sisinya. Ku mohon Keito” ucap Yuto. Sekarang giliran Keito yang diam seribu bahasa.
“baiklah, aku berjanji akan menjaga Yui untukmu. Tak akan kubiarkan Yui bersedih” akhirnya Keito pun mengalah dan menuruti permintaan sahabatnya itu.
“arigatou gozaimasu” Yuto membungkukkan badannya.
“douitashimashite” ucap Keito. Yuto pun tersenyum, tersenyum untuk terakhir kali pada sahabatnya itu.
-flash back end-

“Yuto pasti kembali! Entah kapan dia akan kembali, tapi aku yakin, dia akan pulang dan berkumpul bersama kita lagi. percayalah!” jawabku. Semenjak Yuto pergi juga, hanya ini yang bisa kulakukan. Menjaga Yui dan meyakinkannya bahwa Yuto akan pulang seperti janji yang ku buat. Tapi, ada satu janji yang tak bisa kutepati. ‘tak akan membiarkan Yui bersedih’ apapun yang kulakukan, aku tak bisa mengembalikan senyum Yui. Yuto, gomenne. Aku tak bisa membuat Yui tersenyum lagi. Satu-satunya orang yang bisa mengembalikan senyumannya hanyalah kau, Yuto. Jadi, cepatlah pulang dan kembalikan Yui seperti dulu.

Author’s POV
                Yui dan Keito saling terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tiba-tiba, seorang laki-laki memasuki kelas itu.
“dimana Hime?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Yamada itu memecah keheningan di kelas tersebut.
“dia dan Ryuu dihukum sensei membersihkan gudang olah raga karena membuat keributan saat pelajaran tadi” jelas Yui tanpa melihat ke arah orang yang bertanya dan tetap fokus pada langit.
“ck! Dasar mereka itu! sudah kuduga sejak awal, pasti akan terjadi hal buruk kalau mereka 1 kelas” gerutu Yamada.
“apa yang kalian lakukan dari tadi di sini? Apa kalian tidak pulang?” tanya Yamada lagi karena baru menyadari dua makhluk itu belum pulang padahal hari sudah sore.
“ehm, kau pulang duluan saja Yama-chan. Aku akan pulang bersama Yui” jawab Keito.
“eh? Kalian ini kenapa? Kalian jadi aneh setelah Yuto pindah =.= Ehm, kalau begitu, aku akan menyusul Hime dan Ryuu dulu. Nanti aku kembali dan kita pulang bersama-sama , ya!” ucap Yamada tersenyum.
“haaah! Terserah kau sajalah!” ucap Keito pasrah. Sedangkan Yui masih sibuk menatap langit berusaha menyembunyikan kesedihan yang sekilas tersirat dari wajahnya. Yamada hanya cengengesan mendengar jawaban Keito, untungnya dia tak menyadari kesedihan yang sedang dirasakan Yui.
~sementara itu~
                Dari sebuah bangunan yang terletak di belakang sekolah, terdengar suara berisik.
“haaahh.. ini semua gara-gara kau, Ryuu! aku jadi disuruh membersihkan gudang menyeramkan ini!” Hime terus mengomeli Ryuu sambil membersihkan gudang itu. ‘aka ao shiro kiiro saita hana no youni. mae wo mite mune hatte motto yume iro’ tiba-tiba handphone di saku Hime berbunyi. Di lihatnya nama penelepon yang ternyata adalah kakaknya, Kei. Hime pun segera mengangkat teleponnya.
“moshi-moshi, niichan ada apa?” tanya Hime.
“kemana saja kau?! kenapa kau belum pulang?! apa kau lupa janjimu akan membeli bahan-bahan untuk makan malam hari ini, hah?! dasar! Cepat pulang!” Hime menjauhkan handphonenya karena suara niichannya yang sangat memekakkan telinga sampai-sampai Ryuu ikut menoleh ke arahnya karena mendengar suara Kei yang begitu keras.
“hai..hai.. gomenne, niichan.. aku akan segera pulang dan membeli bahan-bahan itu” ucap Hime ketakutan. Tiba-tiba dari seberang terdengar suara berisik.
“moshi-moshi, Hime.. Kau tak usah membeli bahan untuk makan malam. Aku sudah pergi membelinya. Kau langsung saja pulang dan jangan mampir-mampir lagi!” suara di seberang berubah dan Hime tahu siapa yang sedang berbicara sekarang. Senyum lega tersungging di bibirnya.
“hehehe.. arigatou niini. Aku akan segera pulang” ucap Hime senang. Suara berisik terdengar lagi.
“eehh!! Jangan buru-buru senang, ya! Untung saja Kou-nii mau membeli bahan-bahan itu, kau selamat kali ini! sekarang cepat pulang!” Kei kembali mengomeli adiknya. Hime pun memanyunkan bibirnya mendengar omelan kakaknya itu.
“hai..hai.. oniisama~” Hime pun menutup telepon itu dengan kesal.
“kau senang, Ryuu! gara-gara kau mengajak ribut tadi, aku jadi di sini dan dimarahi Kei-nii! huh! Seharusnya aku tadi bisa pulang lebih awal dan tak kena omelan Kei-nii” gerutu Hime. Ryuu hanya diam saja. Ada sesuatu yang aneh dengannya, daritadi Hime mengomelinya tapi tak satu kata pun keluar dari mulut Ryuu untuk membalas omelan Hime. Apa Ryuu sudah bertobat untuk tidak bertengkar dengan Hime lagi setelah dihukum seperti itu? Hime yang heran pun mendekati Ryuu yang masih sibuk berjongkok membersihkan alat-alat olah raga.
“hey! kau kenapa? Kenapa dari tadi kau diam saja? Jangan bilang kau kapok bertengkar denganku? Hahaha, baguslah kalau begitu!” ucap Hime.
“senang sekali, ya. Bisa dekat dengan kakak” gumam Ryuu lirih sampai hampir tak terdengar.
“heh? Apa? kau bilang sesuatu?” Hime membungkukkan badannya karena merasa mendengar sesuatu. Ryuu tiba-tiba berdiri dan membalikkan badannya. Karena terkejut dengan gerakan Ryuu yang tiba-tiba, Hime pun mundur beberapa langkah.
“BRUK!” Ryuu mendorong Hime ke tembok dan memojokkan Hime. Tangan kanannya memukul tembok di belakang Hime membuat Hime semakin takut. Ditatapnya mata Hime dengan tatapan tajam.
“a.. apa yang kau lakukan? Menjauh dariku!” ucap Hime memalingkan wajahnya sambil mendorong tubuh Ryuu. Tapi Ryuu malah memegang dagu Hime, akhirnya Hime terpaksa melihatnya.
“lepaskan! Apa yang kau lakukan?!” Hime melepas tangan Ryuu dari dagunya dan berusaha lari, tapi usahanya kali ini gagal lagi. Ryuu mendorong bahu Hime kembali ke tembok dan tak melepaskannya. Hingga akhirnya, Hime pun tak dapat bergerak lagi. Hime menatap wajah Ryuu dengan tatapan marah.
“apa yang kau mau?!” bentak Hime di depan wajah Ryuu. Tiba-tiba, Ryuu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Hime. Hime terkejut dan berusaha mendorong Ryuu lagi tapi tetap tidak bisa. Hime pun memalingkan wajahnya, ketakutan semakin tampak di wajah Hime. Ryuu berhenti tepat di telinga Hime.
“tak akan kuserahkan Ryou-nii padamu!” bisik Ryuu lirih. Hime tertegun dengan apa yang dia dengar.
“RYUU!!” tiba-tiba dari pintu terdengar suara laki-laki yang berteriak memanggil nama Ryuu dengan marahnya. Ryuu menoleh ke asal suara itu dan “BUUK!” laki-laki itu menonjok wajah Ryuu hingga dia terjatuh ke lantai.
“Yama-chan!” pekik Hime melihat kekasihnya itu.
“apa yang kau lakukan, hah?! Berani-beraninya kau berbuat seperti itu pada Hime!” bentak Yamada sambil menarik kerah adiknya itu. Dia pun siap melayangkan pukulannya lagi ke wajah adiknya.
“CUKUP! Hentikan Yama-chan!” teriak Hime. Yamada pun menghentikan tangannya yang sudah hampir mengenai wajah Ryuu dan melepaskan cengkeramannya dari kerah Ryuu.
“kau! apa maksudmu berbuat seperti itu?” tanya Yamada sekali lagi. Ryuu pun terdiam dan hanya bisa menundukkan kepalanya.
“jawab! Kenapa kau melakukan hal itu, Ryutaro?!” Yamada pun jadi kesal dan mencengkeram kerah baju Ryuu lagi hingga Ryuu mendongakkan kepalanya melihat Yamada. Yamada dan Hime pun terkejut dengan apa yang mereka lihat. Ryutaro menangis, airmatanya sudah membasahi wajahnya. Yamada yang tidak tega melihat adiknya itu pun akhirnya melepaskan cengkeramannya lagi.
“haah! Sebenarnya apa maksudmu?” tanya Yamada sekali lagi dengan dingin sembari melipat kedua tangannya di dada.
“aku..aku.. hiks.. aku ingin.. aku ingin bermain dengan niichan~” ucap Ryuu sambil terus menangis seperti anak kecil. Mendengar alasan Ryuu, Hime dan Yamada pun segera memasang tampang heran seheran-herannya. =___=’
“semenjak berpacaran dengan Hime, niichan jadi tak pernah ada waktu luang bersamaku. Niichan jadi tak mau main denganku” Ryutaro menundukkan wajahnya. Mendengar itu, Yamada jadi merasa bersalah. Sedangkan wajah Hime langsung berubah seperti setan saking kesalnya mendengar alasan Ryuu. Hime segera menarik Ryuu hingga berdiri.
“hanya karena hal seperti itu, kau sampai memojokkanku?! Dasar Ryutaro BAKA!! Kenapa kau tidak bilang saja secara baik-baik pada kami?! tak usah sampai berbuat seperti itu! aku jadi takut tau! dasar BAKA!! RYUTARO BAKA! BAKA!BAKA!BAKA!BAKA~!!!” Hime pun mencekik leher Ryuu dan menguncang-guncang badan Ryuu saking kesalnya. Ryuu berusaha melepas cengkeraman tangan Hime dilehernya. Akhirnya tangan Hime pun terlepas, Ryuu segera menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena dia hampir saja kehabisan napas akibat cekikan Hime.
“itu karena niichan selalu tak punya waktu untuk kuajak bicara. Dia selalu bersamamu!” bentak Ryuu setelah berhasil mengembalikan napasnya ke keadaaan normal.
“jadi kau menyalahkanku?!” emosi Hime pun terpancing lagi dan dia sudah melingkarkan jari-jarinya lagi di leher Ryuu. Ryuu pun jadi sangat ketakutan.
“sudah..sudah.. kalian berdua hentikan!” ucap Yamada sambil melerai mereka, Hime pun berhenti.
“ini semua memang salahku.. mulai saat ini, niichan janji akan meluangkan waktu untuk bermain denganmu” ucap Yamada tersenyum sambil menepuk kepala Ryutaro, meyakinkannya.
“benarkah? Kau berjanji?” tanya Ryuu.
“un! Aku janji!” jawab Yamada mantap sambil tersenyum.
“lalu, bagaimana dengan Hime?” Ryutaro melihat ke arah Hime yang sedang melipat kedua tangannya di depan dada.
“aku bukan anak kecil yang harus di jaga sepanjang waktu, tau! Yama-chan, kau harus menepati janjimu! Mulai sekarang kau harus meluangkan waktumu untuk anak cengeng ini!” ucap Hime sambil menatap tajam Yamada. Yamada hanya tertawa kecil mendengarnya.
“hahaha.. baik.baik.. Hime-sama. Kalau begitu, ayo kita pulang! hari sudah semakin sore” ucap Yamada tersenyum.
“gomenna Ryuu, aku telah memukulmu” ucap Yamada sambil menepuk-nepuk kepala adiknya lagi.
“Un! Aku juga minta maaf.. Hime.. niichan..” ucap Ryuu menyesali perbuatannya.
“Un! Daijoubu! Sekarang ayo kita pulang! aku bisa dimarahi Kei-nii lagi nanti” ujar Hime. Mereka pun berjalan kembali ke kelas, mengajak Keito dan Yui pulang juga. Mereka berlima pun pulang bersama-sama.

Hime’s POV
“tadaima” ucapku pelan, kubuka pintu rumah dan menutupnya secara perlahan agar tidak ketahuan oleh niichan.
“darimana saja kau?” tanya seseorang di belakangku. Aku pun segera membalikkan badanku dan tersenyum pada orang yang tak lain adalah kakak keduaku itu. Kei-nii sudah berdiri sambil melipat tangannya di dada dan memasang wajah kesalnya di depanku. Melihatnya aku jadi ngeri dan hanya bisa cengengesan sambil menggaruk-garuk belakang kepalaku.
“kenapa kau baru pulang jam segini, hah?!” tanya niichan meninggikan suaranya. “mati aku!” pikirku.
“Kei~ Hime~ sudah! Ayo cepat makan!” niini dari ruang makan menyelamatkanku lagi.
“huh! Iya.iya~ baiklah~” jawab niichan.
“dasar! Akan kutunggu jawabanmu setelah makan. Sekarang, cepat ganti baju dan makan malam!” tambah niichan.
“hai..” aku pun hanya bisa menunduk dan menuruti perintah niichanku ini. Aku pun segera pergi ke kamar dan membersihkan diriku lalu turun untuk makan malam.
“hime-chan, makanannya nanti dingin loh, ayo cepat dimakan!” ucap suara yang lembut dari meja makan. Aku pun mendongakkan kepalaku yang dari tadi kutundukkan.
“eehh?? Yuu-nee? Murakami-san? kapan kalian datang??” ucapku terkejut melihat dua orang perempuan yang sudah duduk manis di ruang makan bersama niichan dan niini.
“mereka sudah di sini dari tadi, dasar kau ini!” jawab niini sambil menyeruput secangkir teh.
“EH? Maji? Kenapa aku bisa tidak tau?” tanyaku lagi.
“karena kau berjalan sambil terus menundukkan kepalamu” jawab niini lagi.
“itu karena niichan memarahiku” gerutuku.
“itu karena kau melupakan janjimu dan pulang telat tanpa alasan yang jelas!” celetuk niichan. Aku pun tak tahan lagi terus di salahkan olehnya.
“aku bukan tidak punya alasan yang jelas! Aku pulang telat karena aku tadi dihukum membersihkan gudang olah raga”
“kenapa kau bisa dihukum?! Kau membuat ulah?” tanya niichan lagi-lagi meninggikan suaranya.
“tidak! Itu.. itu.. karena Ryuu yang memulai duluan!” jawabku sambil menundukkan kembali kepalaku.
“sudah!sudah! kalian berdua hentikan! Kenapa kalian malah bertengkar karena hal sepele sih! Kei! Seharusnya kau tak membesar-besarkan masalah ini!” niini pun mulai geram. Aku dan niichan hanya bisa menunduk takut.
“sudah~ sudah.. Kou! jangan marahi mereka! Hime-chan sudah mengatakan alasannya, kan? masalah sudah beres sekarang. Ayo lanjutkan makan kalian! Hime-chan cepat duduk dan makan!” Yuu-nee pun mulai angkat bicara. Dan akhirnya berkat Yuu-nee, semua kembali seperti semula. “arigatou Yuu-nee T.T” ujarku dalam hati sambil melahap masakannya yang enak.
“gomenne, niichan.. niini.. aku membuat kalian marah. Gomenne Yuu-nee.. Murakami-san..” ucapku menyesal
“un! Daijoubu hime-chan!” ucap Murakami-san dengan senyum manisnya seperti biasa.
“ehem.. setelah makan ayo kita ke ruang keluarga. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian” ucap niini yang disambut senyuman dari Yuu-nee. Aku jadi penasaran, apa yang ingin dikatakan niini. Selesai makan kami pun berkumpul di ruang keluarga. Yuu-nee duduk di samping Kou-nii, Murakami-san duduk di samping Kei-nii, sedangkan aku duduk sendirian. Huwaaa~ Yama-chan~ T.T
“ada apa Kou-nii? apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Kei-nii tak sabar mendengar penjelasan Kou-nii.
“ehm.. jadi begini..” Kou-nii menggantungkan kalimatnya, membuat kami semakin penasaran.
“anoo.. bagaimana, ya.. jadi begini..” niini tampak gugup dan menggantungkan kalimatnya lagi, kami pun menatapnya tajam karena jadi sangat penasaran.
“kami akan bertunangan 2 bulan lagi” jelas Yuu-nee karena niini tak kunjung mengucapkannya.
“EEEHH???” aku dan niichan pun terkejut mendengar ucapan Yuu-nee, sedangkan Murakami-san terkejut karena mendengar pekikkan kami.
“urusai! Kalian ini kenapa, sih? Hari ini kalian berdua berisik sekali!” gerutu Kou-nii dengan muka yang mulai memerah.
“bukankah niini pernah bilang, kalian tak akan bertunangan apalagi menikah sebelum Yuu-nee lulus kuliah?” tanyaku sambil mengingat-ingat perkataan Kou-nii dulu.
 “ehm.. itu.. itu akan dulu! lagi pula ini hanya pertunangan, kupikir tidak masalah kalau kami lebih meresmikan hubungan kami secepatnya” jelas Kou-nii gugup berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.
“hihihi.. omedetou Yuu-san ^^” ucap Murakami-san yang di sambut senyuman Yuu-nee.
“arigatou ^^ mulai sekarang kami akan menyiapkan apa-apa yang diperlukan di hari pertunangan nanti, jadi mohon bantuannya ya, minna” ucap Yuu-nee sambil membungkukkan badannya.
“hai! Mochiron desu! Aku akan membantu!” ucapku bersemangat sambil mengepalkan satu tanganku di depan dada.
“aku dan Sakura juga akan membantu! Jadi, rencananya kalian ingin bertunangan dimana?” ucap Kei-nii ikut bersemangat.
“arigatou Kei, Hime. rencananya kami akan mengadakan acara di cafe Takaki-san, tempat Hime bekerja” jelas Kou-nii dengan mengembangkan senyum leganya.
“eh? Memangnya cafe itu bisa untuk acara seperti itu ya? Sejak kapan?” aku bertanya-tanya sambil menggaruk-garuk kepala dan melihat ke atas.
“dasar kau ini! kau yang bekerja di sana malah tidak tahu. Sebenarnya, apa yang kau lakukan selama ini, sih?” Kei-nii mengomeliku lagi. Menyebalkan sekali!
“iya, bisa. Aku sudah bicara pada Takaki-san dan dia menyanggupinya” jelas Kou-nii lagi.
“ah~ souka.. baiklah kalau begitu! aku akan berusaha membantu sebisaku!” ucapku semakin bersemangat. Tak sabar rasanya menunggu hari pertunangan kakakku ini. Aku jadi ikut berdebar-debar.
=========================================================
~2 bulan kemudian~
Author’s POV
                Sejak kemarin cafe itu ramai, bukan ramai pengunjung seperti biasanya tapi ramai orang yang sedang mendekorasi tempat itu untuk acara yang dilangsungkan nanti siang. Semua orang yang bersangkutan pun jadi sibuk karenanya. Tak terkecuali, Hime.
“Yui bisa bantu aku menata gelas-gelas ini di meja sebelah sana?” ucap Hime pada temannya itu sambil menunjuk meja yang dimaksud.
“baiklah” Yui menyanggupi permintaan Hime, dia pun membawa gelas-gelas itu dan menatanya. Tak ada senyuman di wajahnya. Pandangannya seakan kosong, auranya sangat suram.
“Yui-chan.. kenapa kau jadi seperti ini? Sudah 3 bulan sejak Yuto pindah ke London, kau jadi pendiam seperti ini” ujar Hime dalam hati, dia melihat sahabatnya itu dari jauh dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
“Hime, kau kenapa?” tanya Keito yang melihat Hime sedang bengong.
“ah! Iie.. betsuni” jawab Hime buru-buru.
                Semua orang bekerja, bahkan Ryutaro dan Yamada juga ikut membantu. Acara pertunangan  akan dimulai pada pukul 13.00. Semua persiapan hampir selesai.
=========================================================
~sementara itu~
                Seorang laki-laki dengan membawa kopernya berjalan menuju pintu keluar bandara. Sesampainya di luar, di lihatnya jam hitam di tangannya. Dia terlihat gelisah karena jam ditangannya sudah menunjukkan jam 10. Dia pun melihat sebuah kertas persegi panjang yang ada di saku bajunya.
“undangan pertunangan Nishiyama Kota dan Nakata Yuu.. Pukul 13.00” dia membaca tulisan di kertas itu.
“ck! Kenapa anak itu lama sekali?! kalau begini aku bisa terlambat!” gerutunya. Beberapa saat kemudian, mobil sedan hitam berhenti di depannya. Seorang laki-laki yang lebih pendek darinya turun dari mobil itu.
“gomenne, aniki..” ucapnya sambil menempelkan kedua tangan di depan mukanya.
“kemana saja kau?! sudah jam berapa sekarang? undangannya itu jam 1!” orang yang dipanggil aniki itu kesal karena ulah orang yang tidak lain adalah adiknya sendiri.
“gomen.. aku.. ketiduran..” ucap laki-laki itu ketakutan.
“Daiki~ !! dasar, Baka! Kebiasaanmu tak bisa hilang! Untung saja kau hanya disuruh menjemputku, kalau suatu saat nanti kau membuat janji menjemput Nana dan kau ketiduran seperti ini. tak akan ku maafkan kau karena membuat Nana menunggu!” ucap orang itu yang tidak lain adalah kakak Daiki, Yaotome Hikaru.
“hai.. hai.. gomen.. aku akan berusaha menghilangkan kebiasaanku. Sekarang ayo cepat kita pulang, dan bersiap-siap. Nanti aku ada janji menjemput Nana juga” ucap Daiki.
“dasar baka! Kalau begitu cepat, jangan sampai Nana menunggu!” perintah Hikaru. Yang dijawab dengan anggukan patuh adiknya.
“Padahal aku bilang ‘suatu saat nanti’ ternyata kau sudah membuat janji menjemput Nana nanti. Apa Nana baik-baik saja bersamamu selama ini?” tanya Hikaru yang sekarang sudah berada dalam mobil.
“iya~ aniki~ Nana senang bersamaku. Aku kan selalu membuatnya bahagia” ucap Daiki dengan PDnya. Hikaru hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu.
=========================================================
~pukul 13.00 di cafe~
                Sudah jam 13.00, para tamu sudah datang semua. Daiki, Nana, Hikaru, Sakura, Ryutaro, Yamada, Keito dan Yui juga sudah datang dengan pakaian yang membuat mereka bertambah cantik dan tampan, Yuya dan Yuri yang turut diundang pun tak kalah tampannya. Hime berdiri di samping Kei dengan dress berwarna merah muda. Sedangkan Kei memakai jas dan celana putih. Dan tepat di samping Kei, Yuu berdiri bersebelahan dengan Kota. Yuu memakai gaun berwarna biru muda sedangkan Kota memakai jas dan celana putih. Mereka berdua terlihat sangat serasi. Setelah acara pertunangan selesai, satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat pada kedua orang itu.
“omedetou Kou-chan! Akhirnya kau bertunangan juga. Aku jadi terharu. Kalau begitu cepatlah menikah ya!” ucap Hikaru sambil menjabat tangan sahabatnya itu.
“jangan sembarangan, Hikaru!” jawab Kota geram sambil mempererat genggaman tangannya hingga Hikaru kesakitan.
“omedetou, Yuu-san.. kau pasti sangat bahagia” ucap Nana menjabat tangan Yuu.
“iya.. arigatou gozaimasu, Nana-chan. Kapan kalian akan bertunangan juga?” tanya Yuu sambil melihat ke arah Daiki dan Nana bergantian.
“hehehe.. secepatnya! kalau bisa sih, langsung menikah” ucap Daiki jahil sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nana dan di sambut pukulan Nana ke kepala Daiki. Semua orang pun tertawa melihat tingkah pasangan itu.
                Setelah semua acara selesai, para tamu pun pulang. Tinggallah para pelayan yang membersihkan tempat itu dan beberapa teman Hime.
“kenapa aku juga yang harus membersihkan tempat ini, Takaki-san~!” gerutu Hime.
“karena kau berkerja di sini. Sudah jangan mengeluh terus! Cepat bersihkan tempat ini!” perintah Yuya. Hime pun hanya bisa pasrah dan menuruti perintah atasannya itu. Akhirnya dengan saling membantu, Hime dan para pelayan lainnya pun bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan waktu yang cukup singkat. Setelah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing. Hime pulang bersama Yamada dan Ryuu yang juga ikut membantunya bersih-bersih.
                Sekarang di cafe itu hanya tinggal 2 orang. Ya, dua orang pelayan itu adalah Yui dan Keito. 2 orang itu seakan enggan untuk meninggalkan cafe itu. Yui duduk di meja dekat jendela dan melihat keluar ke arah halaman belakang. Di lihatnya halaman itu dengan tatapan kosong seperti biasa. Dan seperti biasanya pula, Keito ikut menemani Yui dengan duduk di depannya.
“kau tidak ingin pulang?” tanya Keito memecah keheningan di antara mereka.
“nanti saja” jawab Yui singkat. Keito menarik napas dalam dan menghembuskannya.
“baiklah kalau begitu, aku akan menemanimu di sini” ujar Keito. Dia pun ikut melihat ke halaman belakang.
“Keito, apa dia baik-baik saja di sana?” tanya Yui. Sekali lagi Keito dibuat diam dengan pertanyaan Yui.
“ya, dia pasti baik-baik saja!” jawab Keito sambil tersenyum tipis.
“andai saja saat itu, aku tak membuatnya marah. Pasti aku dan Yuto tidak akan berpisah dengan keadaan seperti ini” ucap Yui. Raut wajahnya menampakkan kesedihan lagi dan membuat Keito semakin tak tega.
“sudahlah, ini bukan salahmu. Ini bukan salah siapapun. Semua ini hanya salah paham dan aku sudah menjelaskannya pada Yuto sebelum dia pindah” jelas Keito. Yui tertegun mendengar penjelasan Keito. Dia pun langsung menoleh pada orang yang duduk di depannya itu.
“Yuto tidak memberi tahumu tentang kepindahannya karena dia tidak ingin membuatmu sedih dan kesepian karena dia tak ada di sisimu. Jadi, dia berpikir lebih baik kau mencari laki-laki yang lebih baik darinya dan tetap hidup bahagia” Keito menghentikan ceritanya sejenak dan menatap tajam mata Yui yang mulai berkaca-kaca.
“tapi sebenarnya, Yuto masih mencintaimu, Yui. Dia berjanji akan pulang dan berada di sisimu. Maka dari itu, jangan pernah salahkan dirimu lagi” Keito akhirnya menjelaskan semuanya.
“aku.. aku juga mencintainya. mana mungkin kau mencari laki-laki lain. Dasar Yuto baka!” ucap Yui sambil berusaha menyeka air matanya yang sudah turun membasahi pipinya.
“jika Yuto kembali, aku akan meminta maaf padanya dan mengatakan perasaanku yang sebenarnya” tambah Yui. Keito pun menepuk-nepuk kepala Yui sambil tersenyum lega.
“seharusnya aku yang meminta maaf, aku telah seenaknya saja memutuskan hubungan kita. Gomennasai.. Yui” ucap seseorang dari arah pintu masuk. Yui dan Keito pun terkejut dan langsung menoleh ke arah dimana suara itu berasal. Betapa terkejutnya Yui saat melihat laki-laki jangkung sudah berdiri di depannya dengan memakai mantel hitam dan membawa koper.
“Yuto..” panggil Yui lirih sambil menahan airmatanya. Tapi usahanya gagal, airmatanya dengan lancar keluar dan membasahi pipinya lagi. Melihat itu, Yuto pun langsung memeluk Yui. Yuto memeluk Yui dengan erat seakan tak ingin melepasnya lagi.
“Yuto.. se..sak” ucap Yui. Yuto pun segera melepas pelukannya dan memampangkan senyum bodohnya.
“hehehe.. gomenne.. sudah jangan menangis lagi, ya!” ucap Yuto sambil menyeka airmata Yui. Yui pun menganggukkan kepalanya menuruti Yuto.
“sudah kubilang kan. Yuto pasti kembali!” Keito menepuk bahu Yui dan Yuto.
“eh! Ngomong-ngomong kenapa kau kembali secepat ini?” tanya keito heran.
“hehehe.. aku meminta ijin pulang ke Jepang selama 1 minggu untuk berpamitan” ucap Yuto masih dengan senyum bodohnya.
“Baka! Kenapa kau selalu seenaknya sendiri sih!” Keito pun menjitak kepala Yuto. Yuto hanya meringis menahan sakit karena jitakan maut Keito.
“hahaha.. sudah.sudah.. sekarang ayo kita pulang ke rumahku. Kita makan malam bersama merayakan kepulangan Yuto, bagaimana?” ujar Yui bersemangat.
“Okey! Ayo kita berangkat~! aku ingin makan bersama kalian!” ucap Yuto dua kali lebih bersemangat.
“chotto matte! Siapa yang memasak?” tanya Keito menghentikan langkah Yui dan Yuto.
“aku” jawab Yui santai sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya sendiri.
“emm..” Keito pun segera memasang wajah ragu mendengar jawaban Yui.
“apa maksudmu dengan ‘emm’?? kau meremehkanku?!” tanya Yui kesal.
“apa kau benar-benar bisa memasak sekarang?” tanya Keito ragu.
“apa kau bilang?! Kau benar-benar meremehkan kemampuan Takahata Yui ini! awas kau Keito~!” Yui pun mengejar Keito. Sedangkan Yuto hanya tertawa melihat mereka. Setelah itu, mereka pun pergi ke rumah Yui sambil bercanda sepanjang jalan.
                Itulah kisah cinta Yui dan Yuto. Walaupun mereka terpisah jauh, Yui tetap percaya dan setia menunggu Yuto. Begitu pula Yuto, dia selalu memikirkan Yui walau mereka tak berada di negara yang sama. Dia selalu mengirimkan email atau apapun yang bisa tetap menghubungkannya pada kekasihnya itu. Semua hidup bahagia.
2 tahun kemudian, Yuu dan Kota pun menikah. Mereka hidup bahagia dan pindah ke rumah yang baru. Hubungan Kei dan Sakura semakin dekat, mereka pun memutuskan untuk bertunangan. Hikaru akhirnya mendapatkan kekasih di Amerika. Sedangkan Daiki dan Nana tetap sibuk melakukan hal-hal bodoh berdua. Sekarang cafe milik keluarga Takaki semakin laris karena semakin banyak pelayan-pelayan keren yang bekerja disana. Yuri juga selalu membantu kakaknya dan dia menjadi salah satu pelayan populer di cafenya.
Yamada dan Keito sudah lulus SMA dan mereka pun kuliah di universitas yang sama. Sedangkan Hime, selama 2 tahun entah bagaimana dia selalu berada di kelas yang sama dengan Ryutaro. Alhasil, setiap hari mereka selalu bertengkar. Tapi untung saja ada Yui yang siap melerai Hime dan Ryuu kalau mereka sudah memulai pertengkaran bodoh mereka. Yaa~ begitulah~ semua orang selalu memiliki kisah cinta yang berbeda-beda. Bagaimana love storymu? ^^

~EXTRA STORY END~

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 3-

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Part 1]
Story 3 Part 1
Yaaah.. seperti biasa, kegiatan rutin setiap pagi di rumah keluarga Nishiyama pun berlangsung gaduh karena ulah seorang gadis. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Hime.
“nichaann~~ tau buku biologiku tidak? Niichan~ bukuku tak ada dimana-mana, nih. Niichan~! tolong bantu aku mencarinya. Aku bisa terlambat nanti. Niichaaan~~ !!” teriak Hime dari kamarnya. Kei pun segera pergi menghampiri adiknya itu.
PLOOKK!! “berisik! Dasar kau ini! bukumu kau tinggalkan di meja makan nih!” ucap Kei sambil memukulkan buku besar itu ke kepala Hime yang sedang sibuk menggeledah seisi kamarnya.
“hehehe.. arigatou, niichan” ucap Hime cengengesan.
TING..TONG.. bel rumah mereka berbunyi. dan Hime pun segera mengambil tasnya dan turun untuk membukakan pintu. Ya, benar dugaannya Yamada sudah datang menjemputnya. Hime pun segera pamit pada kakaknya dan berangkat bersama Yamada. Mereka berbincang-bincang sepanjang jalan.
“Yo! Hime! Yama-chan!” sapa seorang laki-laki jangkung dari belakang mereka. Hime dan Yamada pun segera menoleh ke arah orang itu.
“Yuto-kun.. Yui-chan”
“ohayou, Hime.. Yamada-kun” sapa Yui yang berjalan di samping Yuto.
“ohayou ^^” balas Hime dan Yamada
“pagi-pagi kalian sudah mesra, ya” goda Yuto pada Yamada
“urusai!” ucap Yamada memukul lengan orang yang lebih tinggi darinya itu.
“sudah-sudah.. ayo berangakat! Sudah hampir bel masuk loh!” ajak Yui. Sedangkan Yamada dan Yuto masih sibuk bergurau sendiri. Yamada dan Yuto memang akrab sekali.
“un! Ayo Yama-chaaann!!” Hime segera menyeret Yamada. Mereka berempat pun berangkat bersama. Sesampainya di sekolah, mereka pergi ke kelasnya masing-masing. Hime pergi bersama Yui yang memang 1 kelas, sedang Yamada dan Yuto pergi ke kelas mereka yang kebetulan bersebelahan. Yuto berada di kelas yang sama dengan Keito yaitu 3-A, sedang Yamada kelas 3-B. Meskipun beda kelas tapi Yuto, Keito dan Yamada selalu akrab jika bersama.
Beberapa saat kemudian, bel tanda pelajaran pertama pun berbunyi. semua murid segera duduk di bangku  mereka masing-masing dan mengikuti pelajaran.
=========================================================
Pelajaran demi pelajaran pun selesai. Dan akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Yui, Yuto, Keito dan Hime segera pergi ke cafe seperti biasa. Sedangkan Yamada mengikuti kegiatan club memanahnya dan akan menemui Hime di cafe seusai kegiatan clubnya.
~~Di cafe~~
“konnichiwa~” ucap mereka berempat memasuki cafe
“konnichiwa~ cepat bersiap, tamu kita sudah menunggu!” perintah Yuya
“baik, Yuya-san!” ucap mereka serentak. Dan mereka pun pergi berganti baju dan setelah itu bekerja sebagai pelayan cafe seperti biasa. Hari ini cafe di penuhi dengan pelanggan wanita. Baik sekelompok ibu-ibu, anak sekolah, kelompok gadis remaj. mereka sengaja datang untuk menikmati hidangan cafe atau sekedar mencuri-curi pandang pada pelayan-pelayan laki-laki di cafe itu.
“Mau pesan apa, nona?” ucap Yui pada seorang pelanggan. Yui segera menyiapkan catatannya untuk menulis pesanan orang itu.
“ehm, aku ingin dilayani oleh Nakajima-kun saja!” jawab gadis yang lumayan manis itu
“maaf, tapi Yuto-kun sedang sibuk” jelas Yui
“eh? Kau siapanya Nakajima-kun? Kenapa kau berani memanggil dia dengan nama kecilnya?! Dasar gadis tak sopan!” gadis itu mulai meninggikan suaranya. Yui pun mulai naik darah mendengarnya tapi dia berusaha sabar karena yang dihadapinya adalah pelanggan cafe. Alhasil hanya senyum tipis yang keluar dari bibir Yui.
“ada apa ini?” Yuto yang mendengar keributan itu segera datang.
“ah! Nakajima-kun.. tolong layani aku ya! Aku tidak mau dilayani gadis tak sopan ini!” ucap gadis itu manja sambil menggandeng tangan Yuto. Melihat itu, Yui pun mengerutkan keningnya. Yuto yang sadar gelagat Yui langsung berusaha melepas tangannya dari gadis itu.
“a.a.. i.iya.. mau pesan apa nona?” tanya Yuto segera menyiapkan catatannya. Yui pun kembali ke dapur meninggalkan mereka dengan wajah yang jelas sekali menampakkan kalau dia terbakar cemburu. Yui pun segera menghempaskan tubuhnya di kursi di dapur.
“hey..hey.. ada apa?” tanya Keito pada Yui yang sedang melipat kedua tangannya sambil cemberut.
“tuh! Lihat saja sendiri!” jawab Yui sambil melihat Yuto. Keito pun ikut melihat ke arah pandangan Yui.
“ooww, jadi kau cemburu, ya?” tanya Keito.
“tidak! Aku hanya sebal pada gadis itu! dia sudah mengejekku! Aku tidak sopan katanya, karena aku memanggil Yuto dengan nama kecilnya. Memangnya aku salah?!” jelas Yui geram
“hahaha.. dia fans Yuto ternyata. Sudahlah, tak usah diambil hati. dia tidak tau kalau kau ini pacarnya Yuto, kan?” Keito berusaha menenangkan Yui.
“haah.. baiklah..” amarah Yui pun mulai reda.
“Keito, ada pelanggan yang ingin dilayani olehmu, tuh!” Hime tiba-tiba datang dengan muka lesu.
“ah! Baiklah! Aku pergi dulu ya, Yui. Jangan marah-marah lagi!” Keito pun segera menemui pelanggannya.
“Haaaaahh~~ nganggur deh!” ucap Hime sambil meneguk segelas es jeruk.
“iya, para pelayan cewek jadi nganggur begini. Semua pelanggan ingin dilayani oleh pelayan cowok, sih. Terutama Yuto dan Keito. Dasar!” gerutu Yui.
“hey, kalian! Daripada nganggur begitu, bisakah membantuku menyiapkan pesanan?” perintah Yuri.
“ya~ baiklah~” ucap Yui dan Hime pasrah. Mereka akhirnya membantu Yuri di dapur. Satu persatu pelanggan mereka pun pulang dengan perasaan senang. Dan waktunya cafe untuk tutup. Para pelayan membersihkan cafe.
“Yui, kau masih marah, ya?” Yuto menghampiri Yui yang sedang mengelap meja.
“tidak!” jawab Yui singkat
“haaah~?? Masa iya, sih? masa kamu marah hanya gara-gara pelanggan itu ingin dilayani olehku?” ucap Yuto duduk di kursi dekat meja yang dilap Yui.
“Tidak! Sudah kubilang kan?! aku tidak marah! Walau gadis itu menggandeng tanganmu! Aku tidak marah!” Yui mulai meninggikan suaranya.
“ah~ okey..okey! akan ku beritahu 1 hal yang pasti. Aku tak akan berpaling dari darimu, apapun yang terjadi!” ucap Yuto mantap sambil beranjak dari duduknya dan merangkul bahu Yui. Wajah Yui pun mulai berubah merah, segera dia singkirkan tangan Yuto dari bahunya dan pergi ke halaman belakang membantu Yuri. Yuto pun tersenyum melihat Yui lalu mengikutinya.
“hey!hey! jangan begitu! aku jadi sedih kalau kau menjauhiku seperti ini” rengek Yuto. Yui pun tetap tak menghiraukan Yuto.
“ah! Yuto! Bisakah kau kesini sebentar!” pinta Yuri melihat Yuto di belakang Yui.
“ada apa Yuri-chan?” Yuto segera menghampiri Yuri.
“ini lihat! Kasihan sekali dia..” ucap Yuri menunjukkan burung merpati yang tergeletak dengan luka di sayapnya.
“eh! Gawat! Kita harus cepat menutup lukanya!”
“Aku akan mengambil perban” Yui pun segera berlari mencari perban. Beberapa saat kemudian, Yui datang sambil membawa kotak obat. Dia segera memberikan kotak obat itu pada Yuto.
“Terima kasih” Yuto pun segera mengobati luka burung merpati itu. dan tak lama kemudian, luka merpati itu sudah terbungkus oleh perban.
“yak, selesai.. tapi burung ini belum bisa dilepas di luar, alam luar terlalu berbahaya bagi merpati yang sedang terluka” jelas Yuto
“jadi, bagaimana sebaiknya?” tanya Yui
“bagaimana kalau kita pelihara di sini saja??” ucap Yuri bersemangat.
“tapi, apa tidak apa-apa kita memelihara merpati ini di cafe untuk sementara waktu?” Yuto memastikan ucapan Yuri.
“un! Tentu saja! Aku akan meminta ijin pada oniichan!” ucap Yuri, dia pun segera menggendong merpati itu ditangannya dan berlari menemui kakaknya.
“hati-hati Yuri-chan! Kau bisa melukai sayapnya!” Yuto memperingatkan.
“iya~baik~” ucap Yuri sambil tetap pergi meninggalkan Yuto dan Yui.
Sementara itu, Yuya sedang mengelap gelas-gelas di dapur.
“Chikagoro genki nai jan Over . Nayami darake de.. tsukare ten dayo OVER” Yuya menyanyikan lagu kesukaannya sambil menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba, Yuri datang sambil berlari.
“ONIICHAAANN~~!!” panggil Yuri pada Yuya yang sedang sibuk sendiri.
“ada apa, Yuri? Ore de ii nara kiku kedo OVER. Itsumo no basho ni shichiji de OVER” Yuya menoleh ke Yuri sebentar dan kembali mengelap gelas-gelasnya sambil terus bernyanyi.
“apa aku boleh memelihara ini di cafe? Dia sedang terluka, kasihan” ucap yuri dengan wajah memelas, memohon pada kakaknya.
“hem? Memelihara apa?” tanya Yuya masih tak menoleh pada Yuri.
“ini” Yuri menujukkan merpati ditangannya pada Yuya. Yuya menghentikan pekerjaannya dan melihat apa yang dibawa adiknya. Sontak matanya terbelalak melihat merpati ditangan adiknya.
“HUAAHH!! Jauhkan merpati itu dari ku!” teriak Yuya sambil berlari menjauhi Yuri.
“eehh?? Oniichan.. kenapa begitu.. jadi boleh tidak aku memeliharanya disini? Boleh,ya.. boleh ya, kak..” pinta Yuri lagi
“tidak! Benar-benar tidak bisa! Tidak boleh!” tegas Yuya dengan wajah yang masih panik.
“lalu merpati ini bagaimana? Dia terluka.. masa oniichan tega kalau merpati ini diserang hewan lain diluar sana?” rengek Yuri pada kakaknya. Yuya pun terdiam mendengar ucapan Yuri.
“oniichan! Ayolah~!”
“baiklah! Tapi, jangan pernah dekatkan merpati itu padaku! dan lepas dia setelah dia sembuh!” Yuya pun akhirnya luluh.
“yeey! Terimakasih, oniichaaann~~” Yuri pun mendekati Yuya hendak memeluknya. Tapi Yuya langsung lari menghindari adiknya. atau lebih tepatnya, lari menghindari burung merpati yang dibawa adiknya.
Merpati itu pun untuk sementara waktu di rawat oleh Yuto, Yuri dan Yui di cafe. Setiap hari, mereka merawat merpati itu, pelayan lainnya juga ikut merawatnya. Dan beberapa hari pun berlalu, luka merpati itu sudah mulai sembuh.
“wah, lihat.. lukanya sudah mengering. Sebentar lagi, dia pasti sembuh!” ucap Yui bersemangat.
“iya, agak sepi juga, ya.. kalau dia sudah dilepas” ucap Yuto sambil membelai bulu merpati itu.
“iya.. juga sih” Yui ikut membelainya.
“haaahh.. sebentar lagi kau sembuh dan bebas, Yui” ucap Yuto sambil tersenyum melihat merpati itu.
“Nani?” tanya Yui yang merasa namanya disebut.
“bukan, kau.. tapi burung ini.. aku pikir, bagaimana kalau kita namai dia sebelum dia di lepas. Jadi, sekarang namanya adalah Yui” jelas Yuto
“eehh?? Kenapa ‘Yui’? Itu kan namaku!” protes Yui
“karena nama itu cocok dengan burung merpati secantik ini” ucap Yuto dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“hahaha, baiklah.. jadi sekarang, namamu Yui! Ganbatte, Yui!” ucap Yui tersenyum pada merpati itu.
Setelah itu, mereka pun kembali ke pekerjaan mereka.

*To Be Continued*


[Part 2]
Story 3 part 2
Hari ini juga lumayan banyak pangunjung wanita yang datang, dan lagi-lagi membuat Hime dan Yui menganggur.
“haaahh.. nggangur lagi deh~!” keluh Yui yang dijawab dengan anggukan mantap Hime.
“Hime, ada kakakmu tuh” tiba-tiba Keito datang dengan piring-piring kotor di tangannya. Hime dengan malas segera pergi menemui kakaknya. Yui pun melihat ke arah kakak Hime.
“Keito! itu kan Kak Kei. sama siapa dia? Pacarnya?” jiwa penyelidik Yui mulai kambuh.
“mana aku tau” jawaban singkat itu keluar dari mulut Keito tanpa melihat pada orang yang bertanya dan fokus membersihkan piring-piring kotor itu.
“haaaahh.. enak sekali kalau bisa makan berdua seperti itu, ya. Cih! Yuto sih! sibuk dengan para pelanggan itu” gerutu Yui sambil memanyunkan bibirnya. Keito pun menghentikan pekerjaannya, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian, sepertinya dia telah mendapatkan sebuah wangsit.
“eehm, bagaimana kalau kau membuatkan bento? Jadi kalian bisa makan berdua. lagi pula bento buatan sendiri itu pasti lebih enak, loh!” usul Keito penuh semangat.
“ah! Itu ide yang bagus!” ucap Yui dengan semangat pula.
“aaahhh~ Tapi.. aku tak pandai memasak” semangatnya itu langsung pudar setelah ingat kalau dia tidak bisa memasak.
“daijoubu! Serahkan saja padaku! akan ku ajari kau membuat bento yang enak!” Keito menepuk bahu Yui sambil tersenyum meyakinkannya.
“un! Baiklah! Tolong ajari aku Keito-sensei!” ucap Yui sambil membungkukkan badannya.
“okey.. berani bayar berapa?” goda Keito yang langsung disusul dengan pukulan Yui. Setelah itu, mereka pun tertawa bersama.
~~Sementara itu~~
Hime menemui kakak keduanya yang ternyata datang dengan seorang gadis. Senyum evil pun segera menghiasi wajahnya.
“Niichan! tumben niichan tidak sendiri ke sini?” tanya Hime dengan senyum jailnya.
“hehehe.. ah! Hime kenalkan, dia Murakami Sakura. Sakura ini Hime” ucap Kei memperkenalkan mereka berdua.
“Murakami Sakura desu” ucap Sakura sopan sambil sedikit membungkuk ditempat duduknya.
“Nishiyama Hime desu. Waaah, Murakami-san memang cantik sekaliii~! SU-TE-KI! hehehe” ucap Hime sambil senyum-senyum gaje.
“arigatou gozaimasu~” kata Sakura tersenyum.
“ohohoho.. douitashimashite~ jadi mau pesan apa?” Hime mulai mencatat pesanan kakaknya dan Sakura. Setelah itu, dia pun pergi ke dapur. Dan beberapa saat kemudian dia kembali membawa pesanan mereka.
“selamat menikmati~” ucap Hime seraya membungkukkan badannya.
“arigatou, Hime” ucap Kei
“ah! Niichan! sini sebentar!” Hime menarik lengan kakaknya dan membawa Kei sedikit menjauh dari Sakura.
“ganbatte niichan! dia gadis yang baik! cantik lagi! kapan-kapan jangan lupa ajak dia ke rumah! Kenalkan pada niini juga pada ayah dan ibu, ya!” bisik Hime dengan semangat.
“dasar kau ini! itu terlalu cepat, baka! Sudah kembali bekerja sana!” ucap Kei sambil mengacak-acak rambut Hime. Hime pun pergi cengengesan sambil membenahi rambutnya. Kei dan Sakura pun kembali menikmati pesanan mereka.
=========================================================
Sudah saatnya cafe tutup. Setelah bersih-bersih, para pegawai pun satu persatu pulang. Seperti biasa, Hime juga sudah pulang dengan Yamada.
“Yui, ayo kita pulang!” ajak Yuto
“ah! Maaf Yuto, kau pulang duluan saja! Masih ada yang harus kukerjakan di sini” jawab Yui
“eh? Baiklah kalau begitu. segeralah pulang kalau sudah selesai! Jangan sampai kemalaman! Hati-hati di jalan!” jiwa penasihat Yuto pun kambuh dan setelah memberi beberapa wejangan pada Yui, akhirnya dia pun pamit pulang duluan.
“un, baiklah! Hati-hati!” ucap Yui tersenyum. Yuto pun pergi, tampak dari raut wajah Yui perasaan was-was setelah Yuto keluar dari cafe. Sesekali dia memastikan apa Yuto benar-benar sudah pulang. Setelah Yui yakin Yuto sudah pulang, dia pun memulai les masaknya. Hari itu mereka belajar sampai malam, karena ternyata Yui benar-benar buta dalam hal memasak makanya Keito harus mengajarinya dari awal. Sejak hari itu, les memasak Keito-sensei pun dimulai.
~~dan keesokan harinya di cafe~~

Yui’s POV
Keadaan cafe hari ini juga seperti kemarin, hingga Hime mulai memikirkan suatu hal yang sangat aneh dan tak berhenti meratapi nasip. Aku pun hanya bisa tertawa mendengar celotehnya.
“Yui, mana Yuto? Para pelanggan mencarinya tuh!” tanya Hime dengan wajah seperti tak punya semangat hidup. “Haaahhh~~ kenapa sih selalu Yuto dan Keito. Aku kan juga pelayan disini. Emang ada bedanya, sih? susahnya jadi pelayan tak populer seperti ini T_T sesekali aku juga ingin populer seperti mereka” gerutu Hime.
“hahaha.. Di sana masih ada pelanggan tuh!” ucapku sambil menunjuk ke arah lelaki yang memang selalu datang setiap sore untuk menikmati kopi.
“EH?? Ogah ah! Kalau orang itu, biar pelayan lain saja! aku tak mau mencatat pesanan om-om berwajah mesum begitu. Hi!” ucap Hime memegangi kedua lengannya sambil bergidik ngeri. Aku jadi geli sendiri melihatnya.
“sudah! Sana cepat cari Yuto!” Hime mendorongku pergi. aku pun akhirnya pergi memanggil Yuto yang pasti ada di halaman belakang, merawat Yui-chan.
“Sudah kuduga kau disini. Para pelanggan mencarimu loh!”
“ah, Yui! lihat ini.. lukanya sudah sembuh!” ucapnya bersemangat, aku pun mendekatinya.
“waahh.. iya sudah sembuh. Yokatta na Yui-chan
“haaahh.. akhirnya saatnya berpisah, ya” Yuto tersenyum tipis sambil tetap membelai bulu Yui . aku hanya mengangguk kecil. Yaa.. tapi sepi juga kalau tak ada Yui-chan.
“baiklah.. ayo kita lepas dia bersama!” ujar Yuto tersenyum.
“Un!” jawabku semangat. kami pun membawa Yui-chan ditangan kami.
“okey.. 1..2..” Yuto mulai memberi aba-aba
“3!” kami melepaskan Yui, burung merpati itu pun terbang bebas ke angkasa.
“Yuto, kenapa kau tak pelihara saja Yui-chan?” tanyaku pada Yuto yang masih melihat Yui-chan terbang menjauh sambil tersenyum.
“kalau aku memeliharanya, kebebasannya akan terenggut. Aku tidak mau merenggut kebebasan Yui” jawabnya sambil menoleh padaku dan tersenyum.
“tapi, apa kau tidak apa-apa kalau berpisah seperti ini?”
“tidak apa-apa. mau bagaimana lagi.. kita harus melepaskan Yui dan membiarkannya terbang bebas agar dia bahagia, kan?” Yuto kembali menatap langit sambil tersenyum.
“hehehe.. iya juga ya” aku pun ikut menatap langit biru itu sambil tersenyum.
“lagi pula.. aku juga sudah punya Yui yang lebih manis” ucap Yuto jail sambil mengedipkan sebelah matanya. Melihatnya, aku jadi berdebar-debar. Pipiku terasa panas, mungkin sekarang wajahku sudah merah sekali.
“hahaha.. mukamu!” Yuto tertawa sambil menunjuk mukaku dan segera berlari menghindar “ayo..ayo~! terbanglah Yui! kejar aku! Ayo kejar~” godanya. Geram juga aku melihatnya, aku pun mengejarnya. Senang sekali rasanya bisa melakukan hal-hal bodoh seperti ini. Asal bisa bersama Yuto, aku tak keberatan sekalipun jadi merpati.
“Yuto! Tolong aku.. fansmu benar-benar merepotkan! Mereka tak mau kalau tidak dilayani olehmu” Keito tiba-tiba datang, kami pun menghentikan kejar-kejaran kami.
“ah~ iya.iya.. baik~” Yuto pun segera masuk cafe. Haaah~ rasanya aku ingin sekali mencegahnya agar tak pergi melayani para pelanggan menyebalkan itu. tapi apa boleh buat, yang ku bisa hanya menghela napas.
“waratte.waratte! sebentar lagi kau pasti bisa pergi bersama sambil makan bento berdua! ganbatte ne!” ucap Keito.
“un! Aku harus bisa buat bento yang enak!” ucapku bersemangat. Ya! Aku harus bisa menbuat bento untuknya. Aku akan berjuang!


Author’s POV
Setelah cafe tutup, Yui dan Keito pun mulai memasak. Sudah 2 hari ini tanpa sepengetahuan Yuto, mereka belajar memasak berdua di dapur cafe seusai bekerja. Untung saja Yuya mengijinkan mereka memakai dapurnya dengan syarat harus selalu membersihkan dan mau pergi membeli bahan-bahan persediaan yang hampir habis.
=========================================================
Keesokan harinya, aktivitas cafe pun berjalan seperti biasa. Tapi hari itu ada sesuatu yang terjadi pada seorang pelayan terpopuler di cafe. Yuto menutup pintu ruangan Yuya dengan wajah menunduk lesu, dan terdiam di depan pintu itu beberapa saat sambil tetap menundukkan kepalanya. Tak biasanya seorang Yuto berwajah seperti itu. Melihat Yuto, Yui pun jadi khawatir.
“ada apa Yuto? Kau baik-baik saja?” tanya Yui
“ah! Iya, aku baik-baik saja” jawabnya tersenyum. tapi, Yui yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Yui.. maaf aku harus pulang duluan hari ini” ujar Yuto sembari mengambil tasnya.
“ah, iya.. tak masalah.. hati-hati, Yuto!” ucap Yui. Yuto pun mengangguk dan pergi.
“kenapa dia?” tanya Hime heran melihat Yuto seperti itu.
“tidak tahu, dia tak memberitahuku” jawab Yui dengan nada khawatir. Mereka pun lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
Tiba-tiba pintu cafe terbuka dan masuklah dua orang yang sudah tak asing lagi dengan wajah yang sama-sama cemberut. Dua orang itu, segera duduk di kursi di meja yang berbeda dan saling membelakangi. Yui dan Hime pun menghampiri dua orang itu dengan hati-hati.
“anoo.. sumimasen.. tapi cafe sudah mau tutup” ucap Yui sedikit takut. Tapi keduanya tetap cemberut tak merespon.
“Daiki-kun~ Nana-san~ !! sebenarnya.. kalian ini kenapa? Kok cemberut begitu?” tanya Hime
“dia! Dia tak mau menemaniku nonton film Armageddon!” ucap Daiki sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Nana.
“film itu kan sudah lama! Bosan tau! Mending liat Harry Potter!” balas Nana membela diri.
“tapi kan kau sudah janji mau menemaniku nonton film!”
“iya! Tapi ga film itu! bosan.bosan! mending liat Harry Potter!”
 “Armageddon! aku sudah punya. Jadi kita liat Armageddon!” Daiki tetap tak mau mengalah.
“Harry Potter! Aku belum liat itu!” Nana juga tetap pada pendiriannya
“Armageddon!”
“Harry Potter!” Mereka berhenti sambil saling menatap tajam dan akhirnya kembali duduk saling membelakangi sambil cemberut. Sedang Hime dan Yui bengong sendiri melihat pertengkaran ga jelas sepasang kekasih itu.
“kalian bertengkar hanya karena hal sepele seperti itu?” tanya Hime dengan wajah heran tingkat Dewa.
“itu bukan masalah sepele!” bentak Daiki dan Nana berbarengan. Mereka saling menatap tajam lagi  dan kembali ke posisi semula.
“haaahh.. berilah pencerahan pada mereka berdua~” ucap Yui sambil menggeleng-gelengkan kepala dan pergi meneruskan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian Yamada pun datang untuk menjemput Hime.
“Konnichiwa! eh? Ada Daiki-kun dan Nana-san? bukannya cafe sudah tutup?” tanya Yamada heran dengan adanya dua makhluk itu. Hime segera menarik Yamada menjauh dan menjelaskan masalah itu. Yamada mengangguk paham, dia pun menghampiri Daiki dan Nana.
“ehm, bagaimana kalau begini.. kalian cari saja film yang kalian berdua sama-sama sukai dan menontonnya bersama. Jadi kalian tak perlu bertengkar seperti ini” ujar Yamada tersenyum meyakinkan. Daiki dan Nana pun masih diam berpikir.
“ehm, baiklah~” ujar Daiki pasrah. Yamada mengalihkan pandangan pada Nana, menunggu jawabannya.
“baiklah! tapi Daiki harus membelikanku takoyaki yang paling enak!” ujar Nana sambil membalikkan badannya melihat Daiki dengan wajah memohon.
“apa??! kenapa aku harus membelikanmu takoyaki?!” Daiki meninggikan suaranya lagi.
“pokoknya harus! Kau harus membelikanku takoyaki!” Nana pun tak mau kalah. Hime dan Yamada langsung menghela napas bersamaan.
“dasar kalian ini~~ !! Nana-san, sudah jangan mulai pertengkaran lagi! Daiki-kun, Apa salahnya sih membeli takoyaki saja!” Yamada pun mulai geram melihat pertengkaran kedua makhluk itu. Daiki dan Nana pun jadi terdiam.
“haaahh~ iya..iya.. akan aku belikan takoyaki!” beberapa saat kemudian Daiki pun mulai mengalah.
“benar ya?” tanya Nana memastikan. Daiki menghela napas lalu mengangguk mantap.
“Yey! Hehehe.. arigatou!” ucap Nana bersemangat sambil memeluk Daiki.
“iya.. iya~ sekarang, ayo kita pergi ke toko kaset!” ajak Daiki. Akhirnya mereka pun pergi bersama dengan gembira. Yamada dan Hime juga lega melihat pasangan baka itu akur lagi.
Akhirnya, pekerjaan Hime selesai dan dia pun pulang bersama Yamada seperti biasa. Dan seperti biasanya juga Yui dan Keito belajar memasak setelah semua pegawai pulang. Setelah beberapa hari berguru pada Keito-sensei, masakan Yui pun semakin bisa dirasakan kelezatannya. Dia pun mencoba membuat bento yang lezat. Dia menata semua makanan dalam tempat makan dengan hati-hati. Setelah berusaha keras, akhirnya Yui pun berhasil membuat bento itu.
“YAATTAA~~ berhasil!!” serunya girang sambil melompat-lompat kecil
“omedetou~~ kau berhasil!” ucap Keito ikut senang sambil bertepuk tangan.
“Arigatou gozaimasu Keito~ !!” Yui pun membungkukkan badannya pada Keito
“hehehe.. douita.. besok semangat ya!”
“un! Aku akan berusaha!” ucap Yui semangat dan mereka pun tertawa.

Yuto’s POV
Aku berjalan menyusuri jalan yang biasa ku lalui saat pergi bekerja. Cafe itu.. apakah tak apa-apa kalau seperti ini? Aku terus berjalan dan sampailah aku di depan cafe tempatku selama ini bekerja bersama teman-teman lain dan juga bersama Yui. Kulihat lampu cafe masih menyala. Aneh sekali, ini kan sudah malam, kenapa cafe masih buka? Rasa penasaran pun mendorongku untuk berjalan mendekat, kubuka pintu cafe itu. Dari dalam dapur terdengar suara Yui, sedang apa Yui malam-malam begini di cafe? Aku pun segera menengok ke dapur. Kulihat Yui dan Keito sedang bercanda berdua di dapur, mereka terlihat senang sekali. Melihat itu, darahku pun mulai naik. Api cemburu mulai membakarku. Segera ku tinggalkan cafe itu sebelum tangan ini melukai orang yang ku anggap sahabatku sendiri. Aku tak habis pikir, jadi selama ini, itu yang dia lakukan setelah pulang kerja. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh.

Author’s POV
Yui yang menyadari suara pintu tertutup pun segera melihat siapa yang datang. tapi dia tak mendapati seorang pun masuk cafe. Dari luar terlihat bayangan lelaki jangkung sedang berjalan meninggalkan cafe. Yui pun segera keluar cafe mengejar orang itu.
“Yuto~!” panggil Yui. Orang yang dipanggil pun menghentikan langkahnya.
“kau sedang apa malam-malam begini? ayo masuk cafe! disini dingin sekali” ucap Yui seraya berjalan mendekati Yuto.
“lebih baik begini saja..”
“eh?” Yui heran dengan ucapan Yuto
“seperti ini saja sudah cukup. Setelah ini kau bisa bebas” Yuto membalikkan badannya dan menatap tajam Yui.
“eh? Apa maksudmu?” Yui masih tak mengerti maksud ucapan Yuto.
“kita akhiri saja sampai disini” jawabnya singkat. Yui terkejut dengan apa yang barusan diucapkan Yuto. Raut wajahnya terlihat sangat syok mendengar pernyataan Yuto, matanya pun mulai berkaca-kaca.
“kalau terus bersamaku, kebebasanmu akan hilang. Aku akan membebaskanmu agar kau bisa bahagia. ‘aku harus melepaskan Yui dan membiarkannya terbang bebas agar dia bahagia’ walau bukan denganku. Jadi sekarang, terbanglah mencari kebahagiaanmu” tambah Yuto. Mendengarnya, airmata Yui pun mulai menggenang dan akhirnya tak bisa dibendung lagi.
“AKU BUKAN BURUNG!!” bentak Yui. dia pun berlari pulang sambil menangis. Keito yang melihat kejadian itu, menghampiri Yuto membawa sebuah kotak makan.
“selama berhari-hari, dia berusaha keras belajar membuat ini untukmu. Dia ingin makan berdua denganmu” jelas Keito seraya memberikan kotak bento itu pada Yuto dan dia pun pergi. Yuto membuka kotak bento di tangannya itu.
=========================================================
~~keesokan harinya~~
Setelah kejadian itu, Yui semalaman mengurung diri di kamar. Ibu Yui jadi khawatir dengan keadaan putrinya itu.
“Yui.. kau baik-baik saja? Buka pintunya, nak! ada surat untukmu” ucap ibu Yui di depan pintu kamar anaknya. Beberapa saat kemudian, Yui pun membukakan pintu kamarnya. Dia pun keluar kamar menemui ibunya dan mengambil suratnya.
“arigatou okaasan” ucap Yui, dia pun kembali masuk kamar, tapi langkahnya terhenti karena ibunya menahan pergelangan tangannya.
“Yui, kau tak apa-apa? matamu bengkak. Kamu kenapa?” tanya ibunya khawatir melihat Yui.
“aku baik-baik saja” jawabnya singkat sambil melepas genggaman tangan ibunya dengan halus kemudian Yui pun segara menutup pintu kamarnya kembali.

Yui’s POV
Kubuka surat itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                Terima kasih untuk bentonya. Maaf  aku selalu menyusahkanmu. Aku akan selalu menyukai Yui. Sayonara.
                                                                                                                                             Nakajima Yuto

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Air mataku pun seketika itu tumpah, aku tak kuasa menahan tangis setelah membaca surat itu. Aku ingin bertemu. Ya! Aku harus bertemu dengan Yuto sekarang. aku tak ingin kehilangan dia! aku segera ganti baju dan bergegas pergi ke rumah Yuto. Aku berusaha berlari secepat mungkin dan sampailah aku di depan sebuah rumah yang cukup besar. Kulangkahkan kakiku menuju rumah itu.
“ano sumimasen, kamu mencari Nakajima-san?” tiba-tiba dari belakang seorang bibi bertanya padaku. sepertinya bibi ini tetangga Yuto.
“iya, saya mencari Nakajima-kun” jawabku
“wah, sayang sekali. keluarga Nakajima baru saja pergi. mereka pindah ke London” jelas bibi itu. Mendengar penjelasannya, mataku langsung terbelalak kaget. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar “bohong” hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Ku balikkan badanku dan pergi. Pikiranku kosong, aku tak tahu harus bagaimana lagi.
“hey, apa kau tidak apa-apa?” tanya bibi itu khawatir. Ku hentikan langkahku dan membalikkan badan seraya membungkukkan badanku lalu tersenyum tipis pada bibi itu. Setelah itu, aku pun berjalan pergi lagi. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang aku tahu sekarang hanyalah, kesempatanku telah terlewat, aku sudah terlambat. Orang yang sangat berharga bagiku telah pergi meninggalkanku. Di jalan sepi ini, akupun menangis sejadi-jadinya menyesali semua kebodohan yang kulakukan. Aku terlambat menjelaskan padanya. Aku terlambat mengatakan padanya bahwa aku juga sangat mencintainya.

~STORY 3 END~

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 2-

Yeeey.. This the second story.
Story yang ini cuma punya 1 part (author lagi malas).
Happy reading (^o^)/

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Story 2]
Story 2
Author’s POV
1 minggu pun berlalu setelah kejadian itu. Hari ini, Hikaru ingin berkunjung ke rumah sahabatnya, Kota, sebelum dia kembali ke Amerika. Kebetulan hari itu hari minggu dan Nana juga berkunjung ke rumahnya. Jadi dia sekalian mengajak Daiki dan Nana juga. Mereka pun pergi ke rumah keluarga Nishiyama.
TING..TONG..
Hikaru menekan bel pintu rumah yang lumayan luas itu. “ya, sebentar” dari dalam terdengar suara laki-laki dan tak lama kemudian laki-laki itu membukakan pintu rumahnya.
“konnichiwa, Kei-kun” sapa Hikaru, Daiki dan Nana
“waahh.. kalian, ada Nana juga, ya.. ayo masuk!” laki-laki itu mempersilakan tamunya untuk masuk.
“silakan duduk, akan kupanggilkan Kou-nii” ucap Kei. Dia pun pergi memanggil kakaknya. Beberapa saat kemudian Kei kembali bersama Kota.
“hisashiburi, Kou-chan” ucap Hikaru menyapa sahabatnya itu.
“hisashiburi.. Ku dengar kau sudah lama pulang, tapi kenapa kau baru muncul sekarang?” tanya Kota, dan yang ditanya hanya cengar-cengir memamerkan gigi gingsulnya.
“eh, siapa dia?” tanya Kota melihat seorang gadis bersama mereka.
“oh, kenalkan, kak. Dia Kuroki Nana” jelas Kei. Nana pun tersenyum memberi salam.
“dia pacarnya Daiki!” tambah Hikaru jail dan langsung disusul pukulan Daiki di lengannya.
“waahh, Daiki-kun ternyata sudah punya pacar semanis ini, ya” Kota pun jadi ikut menggoda Daiki. Daiki dan Nana pun hanya bisa tersenyum pasrah. Tiba-tiba..
BRUKK..BRAKK.. DRAP..DRAP..DRAP.. seorang gadis berpiyama dengan rambut acak-acakkan dan mata setengah melek, berlari panik menuruni tangga sambil membawa guling. Semua orang di ruang tamu itu pun langsung menoleh ke sumber keributan.
“Niini~ tolong antarkan aku. Aku sudah terlambat masuk sekolah, nih!” ucap gadis itu panik. tiba-tiba sebuah sandal rumah melayang ke kepalanya.
“ittaaaii~!” rintih gadis itu sambil memegangi kepalanya.
“HIME! kau mengigau lagi ya?! Sekarang kan hari minggu!” ucap Kei memarahi adiknya.
“eh?” Hime pun segera tersadar, mengucek-ucek matanya dan diam sejenak berpikir.
“jam berapa sekarang?” tanyanya setelah diam cukup lama.
“jam 9” jawab Kota datar
“ow.. ya sudah.. HOAAMM~ aku masih ngantuk” ucap Hime, dia pun menguap sambil pergi ke kamarnya lagi.
“jangan tidur lagi Hime! ini sudah siang!” Kei pun mengomelinya
“iya.iya.. beri aku waktu sebentaaarr saja” ucap Hime. Dia pun tetap kembali ke kamarnya tak menghiraukan Kei.
 “dasar anak itu!” gerutu Kei
“hihihi.. Hime-chan, lucu sekali, ya!” ucap Nana melihat tingkah Hime
“anak itu tidak berubah, ya..” ucap Daiki dan Hikaru bersamaan. Mereka berlima pun saling pertatapan dan kemudian tertawa bersama.
~~~di kamar hime~~~
“huh, apa sih yang mereka tertawa kan?! Dasar! Hooaammm.. ngantuk.. tidur lagi aahh..” hime kembali ke tempat tidurnya yang hangat dan nyaman, dan dia pun tertidur lagi. tapi, tak lama kemudian, handphonenya berbunyi. segera disibaknya selimut yang menutupi wajahnya, meraba sisi tempat tidurnya mencari handphone dan segera mengangkat teleponnya.
“moshi-moshi..” ucap Hime malas sambil kembali menyelimuti badannya.
“moshi-moshi.. seperti biasa, sekarang pasti kau masih berbaring di ranjangmu, iya kan?” orang diseberang telepon itu pun mulai mengomel.
“hehehe..” Hime pun hanya bisa pasrah mendengar omelan pacarnya.
“jangan hanya ‘hehehe’ cepat bangun! hari ini cuacanya cerah sekali loh! Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
“tapi, aku masih ngantuk, Yama-chan. Biarkan aku tidur sedikiiitt~ lagi” pinta Hime
“dasar tukang tidur! Baiklah, kalau begitu aku yang akan ke rumahmu! Aku ke sana jam setengah 10, jadi cepatlah bangun!” perintah Yamada
“baiklaaahh~~” jawab Hime pasrah. Hime pun menutup teleponnya.
“haahhh.. masih jam setengah 10 nanti kan.. gomen, yama-chan. Tapi aku akan tidur sedikit lagi” Hime pun kembali tidur di bawah selimutnya. Tapi tak lama kemudian..
“HAH??!! Setengah 10?? Sekarang jam...” Hime segera sadar dan bangkit dari tidurnya lalu melihat jam.
“huaaahh!! Jam 9.15, 15 menit lagi! yabai.yabai.yabai!” ucapnya panik. Dia pun segera pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap.
~~~15 menit kemudian~~~
TING..TONG.. bel rumah berbunyi.. Kei pun beranjak dari tempat duduknya, hendak membukakan pintu.
“niichan! biar aku saja, itu pasti Yama-chan” cegah Hime. Hime pun segera membukakan pintu.
“konnichiwa~” ucap 2 orang menyapa Hime
“Yuu-nee, Yama-chan?? Kok kalian bisa barengan?” tanya Hime heran
“tadi aku bertemu Yamada-kun saat akan ke sini, karena tujuan kami sama, jadi kami kesini bareng deh. Oh iya, tadi aku sempat belanja, ayo kita buat makan siang bersama!” kata Yuu
“waahh, baiklah.. ayo, silakan masuk. Eh, tunggu. Yama-chan kau tak bersama Ryuu kan?” selidik Hime sambil melihat ke belakang Yamada.
“tidak. Aku tidak mau pusing karena melihat kalian bertengakar” jawab Yamada. Hime pun hanya cengengesan mendengarnya.
“ada tamu?” tanya yamada
“iya, ada temannya niini dan niichan” jawab Hime. Hime, Yuu, dan Yamada pun menuju ruang tamu dan menyapa kelima orang itu.
“konnichiwa~” sapa Yuu dan Yamada
“ah! Yuu, sudah lama tak bertemu” Hikaru menyambutnya
“ada Hikaru-kun dan Daiki-kun rupanya.. iya, lama tak bertemu ya, Hikaru-kun” jawab Yuu sambil tersenyum. Kota pun mempersilakan mereka duduk.
“bagaimana kuliahmu Hikaru-kun?” tanya Yuu
“yaa.. masa liburanku sudah hampir habis, jadi aku akan kembali ke Amerika besok” jawab Hikaru
“oow.. naruhodo. eh, kamu anak fakultas hukum kan?” tanya Yuu pada Nana
“iya, kenalkan. Kuroki Nana desu” ucap Nana sambil memajukan tangannya
“Nakata Yuu desu” jawab Yuu menjabat tangan Nana.
“ehm, Yuu-nee. Bagaimana kalau kita menyiapkan makan siang sekarang?” kata Hime
“un! Baiklah.. Kuroki-san mau ikut memasak?” ajak Yuu
“ehm, baiklah” Hime, Yuu dan Nana pun pergi ke dapur untuk memasak. Sementara itu, kelima lelaki itu meneruskan perbincangan mereka. beberapa saat kemudian, makanan siap. Mereka semua pun makan siang bersama. setelah makan siang, mereka bersantai di halaman belakang. Mereka bercanda bersama, seperti tak pernah terjadi apa-apa. ya, setelah hari itu, Kei sudah benar-benar merelakan Yuu bersama Kota. Kei, Daiki dan Nana juga jadi berteman baik. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati segelas lemon tea.
“ooww.. jadi Kuroki-san dan Daiki-kun berpacaran?” tanya Yuu setelah Kota memberitahunya.
“iya.. hehehe.. panggil aku Nana saja, ya” jawab Nana
“ah, baiklah Nana-chan, kau bisa memanggilku Yuu”
“eeh, ngomong-ngomong.. kapan kalian akan tunangan? Kalian sudah lama pacaran kan?” tanya Daiki tiba-tiba yang dibarengi dengan anggukan kepala Hikaru tanda setuju.
“kami akan tunangan kalau Yuu sudah lulus kuliah” jawab Kota tegas. Yuu pun tersenyum mendukung jawaban Kota.
“eehhh.. kenapa begitu Kou-chan? Itu kan masih lama sekali.. padahal aku ingin segera melihat anakmu” gerutu Hikaru yang langsung kena jitak Kota.
“jangan sembarangan!” gerutu Kota geram. Keenam orang lainnya hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu.
“oh, iya.. bagaimana denganmu Kei-kun? Apa ada wanita beruntung yang di kagumi laki-laki jenius sepertimu?” tanya Hikaru. Tiba-tiba Nana, Daiki, Kota, dan Yuu diam dan saling berpandangan satu sama lain.
“eehmm.. iya, sebenarnya.. aku sedang mendekati seseorang” jawab Kei sambil tersenyum dan menggaruk bagian belakang kepalanya.
“EEEHHH???” serentak semua orang kaget dengan jawaban Kei.
“siapa.siapa? siapa dia, niichan?” tanya Hime penasaran
“ehm.. namanya Murakami Sakura, dia kuliah di Universitas Keio, Fakultas ekonomi. Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja menabraknya saat dia berjalan di taman” Kei pun menceritakan awal pertemuannya dengan perempuan itu dan ketujuh orang lainnya mendengarkan dengan seksama.
“yah, jadi begitu ceritanya” Kei mengakhiri ceritanya.
“wuaaahh.. kapan-kapan ajak main ke rumah ya, niichan!” ucap Hime antusias
“wah.wah.. aku jadi penasaran dengan perempuan itu, Kei. Ganbatte ne!” ucap Kota sambil merangkul bahu adiknya. Sang adik pun tersenyum melihat kakaknya.
Mereka berbincang-bincang sampai sore. Dan akhirnya Hikaru, Daiki, Nana dan Yamada pun pamit pulang. setelah itu, Hikaru, Daiki dan Nana pulang bersama. Sampai lah mereka di persimpangan, dan mereka pun berpisah, pulang ke rumah masing-masing.

Hikaru’s POV
Kami pun berpisah di persimpangan. Okey! Akan kukatakan sekarang..
“ehm, jaa minna.. mata ashita!” pamit Nana
“un! Hati-hati, ya” jawab Daiki sambil tersenyum. haaahh.. aku tahu dia pacar adikku tapi aku ingin mengatakan yang sebenarnya sebelum aku kembali ke Amerika besok. Nana pun berjalan pergi.
“matte! Nana, matte!” ucapku, Nana pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
“ada apa Hikaru-kun?” tanyanya dengan wajah heran.
“anoo.. sebenarnya, aku.. menyukaimu” jawabku. Seketika itu, Daiki dan Nana pun langsung memasang ekspresi tak percaya. Ya.. aku tahu kalau akan jadi begini.
“nandayo Aniki?!” Daiki pun mulai marah
“maaf Daiki. aku menyukai pacarmu. Tapi aku tak bermaksud merebutnya darimu. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya, sebelum aku kembali ke Amerika”  kucoba menjelaskan pada Daiki.
“Hikaru-kun, maaf” ucap Nana
“tidak apa-apa,Nana. aku mengatakan itu tak bermaksud memintamu agar menjadi pacarku. Aku hanya mengungkapkan perasaanku, jadi tak usah dipikirkan. Aku mendukung kalian berdua, kok” Daiki dan Nana masih terdiam.
Kutarik tangan mereka berdua agar mendekat “hehehe, jadi Daiki. jaga Nana baik-baik ya! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Nana, aku tak akan mengampunimu. Kalian pasangan serasi!” mereka berdua pun bertatapan lalu tersenyum.
“arigatou, aniki”
“arigatou, Hikaru-kun” mereka pun tersenyum memandangku. Melihat mereka seperti itu, aku pun jadi gemas. “hihihi.. kalian lucu sekali!” Kuacak-acak rambut mereka berdua. mereka pun hanya menggerutu dan merapikan rambut mereka. setelah itu, Nana pamit lagi dan dia segera pulang. aku dan Daiki juga pulang ke rumah. haaahh.. aku lega sekali telah mengatakannya. Ya, mulai sekarang tugasku adalah mendukung mereka.
=========================================================
Keesokan harinya, di bandara..
“aniki.. kapan kau akan pulang lagi?” tanya Daiki dengan wajah memelas.
“ya~ kalau aku ada waktu, ya..”
“lain kali kalau kau pulang, beri tahu ibu atau ayah dulu ya. Jangan seperti kemarin!” ibu pun menasihatiku
“ya, ibu.. eh, Nana mana? Kenapa dia belum datang?” tanyaku
“iya.. dia kemana, ya..” Daiki balik bertanya padaku. hah, dasar anak ini ditanya malah bertanya ==’.
“haah.. ya sudahlah, titipkan salam ku padanya ya.. ayah, ibu.. aku berangkat” aku pun berpamitan pada kedua orang tuaku.
“Daiki! ingat kata-kataku! Kau harus melindunginya apapun yang terjadi! Jangan pernah tinggalkan dia, mengerti?” aku mulai memberikan nasihat pada Daiki.
“aku akan melakukannya walau tak kau suruh!” gerutunya. Aku pun tersenyum padanya.
“baiklah.. ittekimasu!”
“itterashai~” jawab mereka serentak. Aku pun melangkahkan kaki, berjalan meninggalkan mereka. haaahh.. sayang sekali Nana tidak datang, padahal aku ingin melihatnya sebelum pergi.
“Hikaru-kun~ !!” seseorang memanggilku dari belakang. Aku pun membalikkan badanku dan CHUU! tiba-tiba Nana mencium pipiku. Aku terkejut.
“hehehe.. ciuman dari calon adik ipar! ^.< terimakasih telah menyukaiku, Hikaru-kun” ucap Nana sambil tersenyum.
“dasar kau ini. aku kira kau tidak datang!” karena gemas, kujewer pipinya. Dia hanya merintih kesakitan dan berusaha melepas tanganku. Hahaha.. lucu sekali! ku tengok ke arah belakang Nana, terlihat Daiki sedang memasang tampang menyeramkan. Wajahnya seperti mengatakan “kubunuh kau, aniki~!” aku jadi ngeri sendiri melihatnya. Alhasil aku pun hanya cengengesan melihat Daiki. sepertinya, aku harus segera pergi, sebelum ‘sapi’ itu mengamuk.
“Nana, aku harus segera berangkat. jaga dirimu baik-baik, jangan bertengkar dengan Daiki!” ucapku
“un! Baik! ^^ hati-hati, Hikaru-kun”
“ah! Iya satu lagi.. kau boleh memanggilku niichan ^^. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku”
“baiklah.. hati-hati niichan~ !!” ucapnya bersemangat. Aku pun segera masuk pesawat, dan tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas. Haahh, aku akan kembali dengan kesibukanku. Yah, semoga saja mereka berdua tidak bertengkar gara-gara tadi.

Author’s POV
“Nanaaa~~ !! apa yang kau lakukan?” ujar Daiki geram
“hehehe.. Itu kan ciuman sebagai calon adik, kau tak perlu cemburu seperti itu” jawab Nana sambil tersenyum.
“bagaimana aku tak cemburu. Kau tak pernah menciumku seperti itu!” gerutu Daiki
“hehehe.. maaf..” Nana pun mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Daiki. tapi Daiki menghindarinya. CHU! Daiki balik mencium kening Nana dan memeluknya.
“hehehe..” Daiki dan Nana saling berpandangan dan tertawa bersama.
Setelah itu, mereka pun pulang bersama-sama.

~STORY 2 END~

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 1-

Okeee Doumooo!!
Ini fanfic ber-chapterku yang saaaaaangaaaat panjang.
Semoga nggak bosen bacanya. Douzo! (^o^)9

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Part 1]
Story 1 part 1
Author’s POV
DRAP..DRAP..DRAP..
Seorang gadis menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa-gesa. Sementara itu, seorang laki-laki yang duduk di ruang makan sambil membaca buku sudah mengerutkan keningnya karena terganggu oleh keributan yang dibuat gadis itu.
“Ohayou, niichan~” sapa gadis itu sesampainya di ruang makan
“kenapa kau tak bisa menghilangkan kebiasaan burukmu tiap pagi?! Berisik tau!” ucap laki-laki itu ketus
“hehehe... maaf..maaf.. mana niini?” tanya gadis itu sambil melahap makanan yang sudah siap di depannya
“dia sudah berangkat, katanya ada urusan di kampusnya”
“oww...” gadis itu pun melanjutkan menyantap makanannya
“hey, Hime.. kenapa hanya Kou-nii saja yang selalu kau panggil ‘niini’ sedangkan kau selalu memanggilku ‘niichan’. apa kau lebih sayang Kou-nii daripada aku?” ucapan laki-laki itu berhasil membuat gadis yang bernama Hime itu hampir tersedak karena kaget
“hahahahaha... niichan..niichan... kau cemburu ya... hahaha..” Hime tak bisa menahan tawanya, dan orang yang merasa ditertawakan oleh Hime pun segera memasang wajah cemberutnya
“kalau aku memanggilmu ‘niini’ juga kan jadi bingung.. makanya, Kei-nii aku panggil ‘niichan’ sedangkan Kou-nii aku panggil ‘niini’ biar gak sama. Dan aku sayang kalian semua kok” jelas Hime pada kakaknya itu dan dia pun kembali tertawa
“uh! Dasar kau! sudah cepat selesaikan makanmu!” ucap Kei sambil memukul kepala Hime dengan buku tebalnya
“aaww.. ittaaii~” Hime hanya meringis sambil mengelus kepalanya
TING..TONG.. tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
“ah! Itu pasti Yama-chan!” Hime segera bangkit dari kursinya hendak membukakan pintu tapi Kei mencegahnya
“segera habiskan makananmu! Biar aku saja yang bukakan pintu” ucap Kei segera menuju pintu depan. Hime pun menuruti kata kakaknya, dia segera menghabiskan makanannya. Beberapa saat kemudian, Kei kembali dengan membawa orang yang memang setiap pagi selalu datang ke rumahnya untuk menjemput Hime.
“ohayou gozaimasu” orang itu memberi salam
“aah! Ohayou, Yama-chan” jawab Hime yang sedang meletakkan peralatan makannya di dapur
“ohayou, Hime!” ucap seorang laki-laki yang datang bersama Yama-chan. Melihat laki-laki itu, sontak Hime langsung mengarahkan telunjuknya, menunjuk ke arah orang itu dengan wajah kaget seperti melihat setan.
“Ryuu! Kenapa kau ada di sini?!” tanya Hime pada orang yang berdiri dibelakang pacarnya itu
“memang kenapa? Hari ini aku ingin berangkat bersama oniisanku. Huh! Dasar kau, nenek sihir!” ucap Ryuu sambil mengeluarkan lidahnya, meledek Hime.
“apa kau bilang?! Awas kau Ryuu!!” Hime segera mengejar Ryuu. sedangkan Kei segera mengambil tasnya dan bersiap untuk berangkat
“Yamada-kun, segera kau hentikan mereka berdua sebelum rumah ini hancur. Aku pergi dulu. Jaa~” ucap Kei sambil menepuk bahu Yamada.
“hai.. itterashai!” ucap Yamada tersenyum. setelah Kei pergi, Yamada segera melipat lengan baju seragamnya dan mengambil ancang-ancang untuk menghentikan acara kejar-kejaran itu. dan tak butuh waktu lama, kedua tangan Yamada sudah menjewer telinga Ryuu dan Hime. mereka berdua pun langsung menghentikan ulah mereka.
“sudah kuduga, kalian pasti akan bertengkar lagi kalau bertemu. Sekarang ayo kita berangkat! kita bisa terlambat nanti!” ucap Yamada
“baik~” jawab Hime dan Ryuu pasrah. Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah bersama.

Hime’s POV
Namaku Nishiyama Hime, anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku tinggal bersama kedua kakakku karena orang tua kami sedang ada pekerjaan di luar negeri. Aku baru kelas 1 SMA sedang kedua kakak laki-lakiku sudah kuliah. Kota-nii sekolah di fakultas kedokteran, Universitas Tokyo. sedangkan kei-nii baru saja masuk di Universitas Meiji jurusan arsitektur. Yaahh.. mereka berdua jadi sibuk dengan urusan sekolahnya masing-masing. Untung saja orang di sebelahku ini selalu ada saat aku kesepian karena ditinggal kedua kakakku. Ya, dia Yamada Ryosuke pacar sekaligus senpai ku. Yama-chan kelas 3 di sekolah yang sama denganku. Dan adiknya Yamada Ryutaro, dia adalah teman sekelasku. Bisa dibilang aku dan Ryuu tak pernah akur kalau bertemu. Aku juga tak tau kenapa bisa begitu, tapi Ryuu itu memang menyebalkan sekali >.< aku selalu gemas setiap melihatnya.
Kami bertiga berjalan menuju sekolah, sesampainya di sekolah..
“yakk, kita berpisah disini. Cepat masuk kelas dan jangan bertengkar lagi!” perintah Yama-chan
“Baik, kapten!” aku dan Ryuu menjawab bersamaan sambil menempelkan tangan di dahi, memberi hormat pada Yama-chan. Yama-chan tersenyum melihat tingkah kami. aku dan Ryuu pun pergi ke kelas.
“Hime! aku akan menjemputmu di cafe seusai kegiatan klub nanti” ucap Yama-chan setengah berteriak
“ya~ sampai jumpa nanti, Yama-chan” ucapku sambil melambaikan tangan
“aahhh.. selalu saja! Aku jadi selalu pulang sendiri!” gerutu Ryuu
“sudah.. diam! Ayo cepat masuk!” kudorong Ryuu masuk kelas
“ohayou, Hime.. Ryuu..” sapa seorang perempuan berambut pendek saat melihat kami masuk kelas
“ohayou, yui-chan!” balasku
“ohayou..” balas Ryuu dan dia pun segera pergi ke tempat duduknya
“eh, Hime.. katanya hari ini akan ada tambahan menu di cafe, kan.. waahh, pasti nanti sibuk sekali, ya” ucap Yui sambil menghela napas
“iya, ya.. ah! Tapi ayo semangat! kita pasti bisa melakukannya!” ucapku menyemangati sahabatku. Dia Takahata Yui, sahabatku yang dari SMP. Dia juga bekerja sambilan di tempat yang sama denganku, di cafe kecil di depan taman kota. Saat sedang asyik ngobrol, sensei tiba-tiba masuk. Kami pun kembali ke tempat duduk masing-masing dan pelajaran pertama pun dimulai.
=========================================================

Author’s POV
Pelajaran terakhir pun usai. Hime dan Yui segera berangkat ke cafe. Sesampainya di cafe..
“konnichiwa~ minna!” ucap mereka berdua memasuki cafe kecil itu
“Konnichiwa” ucap semua pegawai cafe itu hampir berbarengan. Apalagi Yuto dan Keito, dua pelayan laki-laki yang terkenal dikalangan pelanggan cafe tersebut. mereka berdua paling semangat menyambut kedua perempuan itu.
“Hime-chan, Yui-chan.. cepat kalian bersiap-siap.. kita sibuk sekali hari ini!” perintah seorang laki-laki yang merupakan pemilik cafe itu.
“baik, Takaki-san” jawab mereka. mereka segera pergi ke ruang ganti untuk bersiap-siap. Setelah itu mereka pun mulai bekerja sebagai pelayan di cafe seperti biasanya.
Cafe tempat mereka bekerja adalah cafe kecil yang menjual cake, kue dan juga berbagai minuman. Pemilik cafe itu adalah kakak beradik keluarga Takaki. Takaki Yuya menjadi manager cafe itu, sedang adiknya, Takaki Yuri ikut membantu kakaknya mengurus cafe. Karena tempatnya yang nyaman dan para pelayan yang keren-keren, cafe itu jadi tak pernah sepi pengunjung.
“haaahh... akhirnya, bisa sedikit santai” ucap Hime sambil menyandarkan badan di kursi di ruang ganti
“ya.. tapi kita masih belum tutup” ujar Yui yang datang membawa 2 gelas orange juice
“haaahh, benar.. baiklah.. ayo kita berjuang lagi!” ucap Hime bersemangat sembari meneguk orange juice yang dibawakan Yui. Setelah habis, Hime pun kembali bekerja. Saat akan melayani pelanggan, pandangannya tertuju melihat sosok orang yang sangat dikenalnya. Dia pun menghampiri orang itu.
“niini, sedang apa di sini?” sapa Hime pada orang yang duduk di bangku dekat jendela itu
“oh, Hime.. hari ini tugas kuliahku sudah selesai jadi aku mengajak Yuu kemari” ucap orang yang tak lain adalah Nishiyama Kota, kakak Hime.
“waahh.. dengan Yuu-nee, ya.. mana dia?” tanya Hime dengan antusias mengetahui kakaknya datang dengan pacarnya. Hime memang dekat dengan pacar kakaknya itu.
“dia sedang ke toilet”
“ah.. itu dia” ucap Kota melihat Yuu sudah kembali
“hey... hisashiburi, hime-chan~ !” sapa Yuu
“hisashiburi.. neechan~!” balas Hime
“hey..hey.. kapan kalian akan bertunangan?” tanya Hime mulai menggoda sepasang kekasih itu
“Sssttt.. sudah.sudah.. cepat kembali bekerja sana!” ucap Yuu sambil mendorong Hime agar kembali bekerja. Hime pun tersenyum dan kembali bekerja.
“dasar anak itu..” gumam Kota datar sembari melihat daftar menu. Yuu tersenyum melihat sikap pacarnya itu
Pintu cafe terbuka dan masuklah seorang pelanggan lagi, lebih tepatnya kakak Hime lagi, Nishiyama Kei. Dia langsung disambut oleh Hime.
“niichan juga.. selamat datang!” ucap Hime tersenyum
“apa maksudmu dengan ‘juga’?” tanya Kei heran
“itu.. niini juga ada, Itu di sana” jawab Hime sambil menunjuk ke tempat duduk kakak pertamanya
“oohh.. dia bersama Yuu” ucap Kei datar, Kei pun segera menghampiri tempat kakaknya
“ternyata kau disini, Yuu. Ini tugasmu tertinggal di kelas tadi” ucap Kei sambil memberikan gulungan kertas pada Yuu
“arigatou, Kei. Untunglah~” ucap Yuu tersenyum, tapi hanya dibalas dengan senyum simpul Kei
“Kei, kenapa kau disini?” tanya Kota
“aku hanya ingin melihat Hime, dan akan mengembalikan tugas Yuu ke rumahnya. Tapi ternyata ketemu disini.. ehm.. ya sudah, aku pulang dulu” jawab Kei. Dia pun segera pergi.

Kei’s POV
Haaah.. kenapa selalu seperti ini. hatiku selalu sakit melihat mereka berdua bersama. aku menyukai Yuu, tapi dia kan pacar kakakku. Aku seharusnya tak boleh menyukainya lagi. kalau saja aku tak mengenalnya sebagai teman se-fakultasku. Pasti aku tak akan memiliki rasa suka seperti ini padanya. Haah.. apa yang harus kulakukan?

Author’s POV
“Daiki! lihat..lihat! Itu dia, anak keren dari fakultas teknik arsitektur yang kumaksud!” ucap seorang perempuan yang duduk dibangku taman bersama teman laki-lakinya yang sedang asyik melahap takoyaki. Perempuan itu dengan antusias menunjuk orang yang dimaksudnya.
“apaaa?? Itu kan Kei” ucap anak laki-laki yang dipanggil Daiki itu setelah melihat orang yang dimaksud temannya sedang berjalan melewati taman tempat mereka duduk.
“eehh.. kau mengenalnya?”
“tentu saja.. kakakku adalah teman dekat kakak Kei. Kami sering main ke rumahnya dulu, sebelum kakakku kuliah di luar negeri” jelas Daiki santai sambil meneruskan makan takoyakinya
“eeehh... kenapa kau tak bilang dari dulu. Kenalkan aku padanya,ya!”
“kenapa kau tak tanya dari dulu? Hey, Nana.. sudahlah menyerah saja! Kei itu tak akan menyukai cewek brutal sepertimu”
“Daiki, BAKA! Kita kan tak boleh menyerah sebelum mencoba!” pukulan Nana pun mendarat di kepala Daiki, membuat Daiki tersedak.
“apa yang kau lakukan!” ucap Daiki sambil menepuk-nepuk dadanya
“makanya.. kenalkan aku padanya, ya” pinta Nana lagi
“haaahh.. baik..baik.. tapi kau harus mentraktirku makan!”
“yatta~~ baiklah! Kalau begitu besok kita menemuinya, ya!” ucap Nana girang sambil menggoncang-goncang tubuh Daiki
“iya..iya..” ucap Daiki pasrah menerima perlakuan temannya itu

*To Be Continued*


[Part 2]
Story 1 part 2
Author’s POV
Keesokan harinya di rumah keluarga Nishiyama, seperti biasa Hime turun dari kamarnya diiringi suara berisik yang sangat mengganggu seisi rumah.
“ohayou.. niichan.. niini” ucapnya pada kedua kakaknya yang duduk di ruang makan
“ohayou hime-chan” sapa seorang perempuan dari dapur yang ternyata adalah Yuu.
“waaahh.. ada neechan.. ohayou gozaimasu~!” balasnya Hime tersenyum. dia pun segera duduk di kursinya. Mereka pun menyantap sarapan mereka.
“niini.. cepatlah kalian bertunangan dan menikah!” ucap hime tiba-tiba dan membuat kedua kakak laki-lakinya hampir memuncratkan makanan mereka karena tersedak.
“dasar anak ini! sudah kubilang, kami tak akan bertunangan apalagi menikah sebelum Yuu lulus kuliah!” ucap Kota memelototi adik perempuannya.
“eehh.. benarkah neechan?” Hime pun mengalihkan pertanyaan pada perempuan di sebelahnya. Orang yang ditanya pun hanya tersenyum dan menganguk menjawab pertanyaan Hime.
“eeehhh.. nandayo~~!!” ucap Hime kecewa
“sudah cepat, selesaikan makanmu, Yamada-kun keburu datang ,loh!” Kei yang sedari tadi diam akhirnya bicara
“ehm, baiklah kalau begitu.. Kei, Yuu.. cepat! akan kuantar kalian” ucap Kota sambil melihat jam di tangannya
“ah, tak usah Kou.. kami bisa berangkat sendiri. Kau kan masih sibuk di kampusmu, jadi berangkatlah dulu” ucap Yuu
“ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu ya.. jaa~” Kota pun pergi dan datanglah Yamada seperti biasanya. Tapi, kali ini dia tak bersama adiknya.
“aku pergi dulu, ya.. neechan.. niichan..” ucap Hime segera mengambil tasnya dan berangkat bersama Yamada.

Kei’s POV
Semua sudah berangkat, sekarang tinggal aku dan Yuu di rumah ini.
“Yuu, apa tugasmu sudah selesai?” tanyaku memecah keheningan diantara kami
“sudah, dong.. hehe” jawabnya sambil tersenyum. suasana pun kembali hening.
“hey.. ayo berangkat!” ajak Yuu sambil menarik tanganku. Kami pun berangkat. karena jarak rumahku dengan Universitas Meiji cukup jauh, kami berangkat dengan naik bus. Kebetulan bus yang kami naiki sudah tak begitu padat penumpang. Kami pun duduk bersebelahan.
“ehm, Yuu.. apa kau benar-benar mencintai Kou-nii?” kuberanikan menanyakan pertanyaan itu padanya
“Un! Tentu saja! Walaupun kadang sikapnya begitu dingin padaku. aku sangat mencintainya” jawabnya mantap. Hatiku bertambah sakit mendengarnya. Aku sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“lalu, bagaimana dengan Kei? Apa kau sudah menemukan pujaan hatimu?” tanyanya sambil tersenyum menatapku
“ehm.. sudah.. ”
“tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan” tambahku sambil membalas senyumannya
“eeeeh.. berjuanglah! Kau harus berjuang mendapatkan cintamu itu, ya!” ucapnya menyemangatiku. Yuu tak tau kalau sebenarnya orang yang aku maksud adalah dirinya. Tapi benar katanya, aku tak akan menyerah. Walau pun dia pacar kakakku aku akan terus mencoba mengambil hatinya. Kuanggukan kepalaku menyetujui perkataannya. Sesampainya di kampus, kami segera pergi ke kelas.
=========================================================
Author’s POV
Sementara itu, Nana dan Daiki berjalan menuju kelas mereka di fakultas hukum sambil mengobrol.
“hey, Daiki.. benar, ya. Nanti kau akan mengenalkanku pada Kei?” tanya Nana memastikan
“iya..iya.. nanti kukenalkan, dasar cerewet!” Daiki mencupit pipi Nana. Nana pun tersenyum sambil mengelus pipinya.
Mereka pun masuk ke kelas. Seusai pelajaran, Nana dan Daiki segera menemui Kei.
“Kei-kun~! Hisashiburi!” sapa Daiki pada Kei yang sedang duduk sambil membaca buku. Nana berjalan mengikuti Daiki.
“hisashiburi, Dai-chan!” balas Kei sambil menutup bukunya
“apa kabar? Apa hikaru-kun sudah pulang?” tambah Kei sambil menggeser duduknya mempersilahkan Daiki dan Nana duduk.
“ah, aku baik-baik saja. Kakak belum pulang. oh iya, perkenalkan dia Kuroki Nana, temanku” Daiki mulai memperkenalkan Nana pada teman lamanya itu.
“hai.. Kuroki Nana desu” ucap Nana sambil memajukan tangan kanannya.
“Nishiyama Kei desu. Senang berkenalan denganmu” ucap Kei menjabat tangan Nana. Nana tersenyum, Daiki pun sedikit menyenggolnya, memberi kode bahwa Nana harus menepati janjinya untuk mentraktir makan. Nana pun hanya membalas dengan senyuman.
“Kei! Mau pulang bareng?” tiba-tiba Yuu datang
“ah.. iya.. Dai-chan, Kuroki-san.. aku pergi dulu, ya.. sampai jumpa!” Kei melambaikan tangannya dan pergi menghampiri Yuu
“hey, Daiki.. apa kau kenal perempuan itu?” tanya Nana penasaran
“ehm.. dia teman Kei kan? dia di fakultas yang sama dengan Kei” jawab Daiki polos
“bukan itu maksudku, BAKA! Apa kau tahu hubungan mereka?” pukulan Nana mendarat di kepala Daiki.
“aaw! Aku tidak tahu!.. mungkin mereka hanya berteman biasa.. sudah ayo kita makan, kau harus menepati janjimu!” Daiki menarik tangan Nana
“eehh.. makan dimana?”
“di cafe milik kenalan kakakku saja. Aku ingin makan kue disana.”
Mereka pun pergi ke cafe yang dimaksud Daiki.
=========================================================
Sementara itu di cafe, seperti biasa tak pernah sepi pengunjung, apalagi pengunjung perempuan dan pasangan kekasih. Sang menager sedang duduk beristirahat di ruangannya. Tiba-tiba datanglah adik laki-lakinya, Yuri. Yuri pun langsung duduk di pangkuan Yuya. Walau Yuri sudah berumur 17 tahun, Yuri tetap manja pada kakaknya. Yuya yang memang sedang lelah, membiarkan adiknya itu duduk dipangkuannya.
“oniichan.. ganbatte! Masih ada banyak pelanggan” ucap Yuri mencoba memberi semangat pada kakaknya. Yuya hanya mengaguk sambil tersenyum.
“akan kubuatkan onigiri agar oniichan semangat lagi, ya!” ucap Yuri menepuk bahu Yuya. Yuri pun segera pergi membuatkan onigiri, tapi tak lama kemudian dia kembali lagi.
“oniichan, ada orang mencarimu. Dia temanmu katanya” ucap Yuri. Yuya pun segera beranjak dari kursinya dan menemui tamunya.
“yo! Yuya!” sapa orang itu
“Hikaru! Bukannya kau kuliah di luar negeri?” tanya Yuya heran melihat temannya yang seharusnya di Amerika, sekarang sudah berdiri dihadapannya.
“hehehe.. aku libur 1 bulan makanya aku pulang” jawab Hikaru
“wah, Hikaru-kun.. kamu sudah pulang, ya” ucap Hime tiba-tiba menghampiri kedua lelaki itu.
“Hime? kau mengenalnya juga?” tanya Yuya
“Un”
“hahaha.. Dia adik temanku” jelas Hikaru. Yuya mengangguk paham.
“mau pesan apa?” Hime menyodorkan daftar menunya.
“aku pesan teh saja” Hikaru memutuskan pesanannya.
“baiklah” Hime pun segera pergi menyiapkan pesanan Hikaru. Yuya dan Hikaru mengobrol lagi. tiba-tiba pintu cafe terbuka, masuklah seorang lelaki yang kelaparan dan seorang perempuan yang berjalan di belakangnya. Tanpa basa-basi 2 orang itu segera duduk di meja sebelah Yuya dan Hikaru. Hikaru yang melihat kedua orang itu langsung manghampiri sang lelaki dan memukul kepalanya.
“Ittaii~~ kenapa kau memukulku?!” Daiki segera memegang kepalanya dan menoleh ke arah orang yang memukulnya. Dia tertegun sejenak melihat orang di hadapannya itu.
“ANIKI??!!” teriak Daiki begitu sadar kalau orang dihadapannya itu adalah kakaknya sendiri. Teriakan Daiki membuat seluruh pengunjung cafe mengalihkan pandangan mereka ke asal keributan itu. Nana yang tak tahu apa-apa hanya bisa melongo melihat kejadian itu.
“ah.. sumimasen minna-san” Daiki membungkukkan badan, meminta maaf menyadari kesalahannya. Semua orang pun kembali ke kegiatan masing-masing.
“kenapa kakak di sini?!” tanya Daiki pada kakaknya
“aku libur 1 bulan jadi aku pulang” jawab Hikaru santai
“kenapa tak bilang dulu?!” ucap Daiki kesal. Hikaru menggaruk kepalanya dan tersenyum polos pada adiknya.
“ehm, siapa dia? Ah! Pacarmu, ya!” Hikaru nyerocos sendiri
“bukan.bukan! namaku Kuroki Nana, kami di fakultas yang sama” sanggah Nana
“oohh.. begitu.. aku Yaotome Hikaru.. kakak Daiki” ucap Hikaru.
Setelah berkenalan Hikaru,Yuya,Daiki dan Nana mengobrol sambil memakan kue yang mereka pesan. Setelah itu Hikaru, Daiki, dan Nana pun pulang bersama.

Hikaru’s POV
Kami pulang bersama dan berpisah di persimpangan dekat rumah kami. Aku dan Daiki pun pulang sambil mengobrol.
“hey.. Nana itu manis juga ya.. apa kau tak suka anak seperti itu?” tanyaku, tapi Daiki hanya diam tak menjawab.
“ehm.. sebenarnya, aku menyukainya.. tapi dia sudah menyukai Kei-kun. Tadi dia memintaku mengenalkannya pada Kei-kun” ucapnya mencoba menjelaskan. Daiki lalu menundukkan kepalanya.
“eehh.. Kei-kun?? Wah.. susah juga, ya. Tapi jangan menyerah Daiki!” kutepuk bahunya, mencoba menyemangatinya. Dia hanya mengangguk lemah.
Wah, ternyata rumit juga, ya. Padahal, kupikir masih ada kesempatan buatku. Yaah.. mau bagaimana lagi, aku harus mendukung adikku ini. kami pun sampai di rumah, dan kedatanganku di sambut gembira oleh kedua orang tuaku.

Kei’s POV
Seharian tadi, aku bersama Yuu tapi kenapa aku tak menyatakan perasaanku saja. Kututup bukuku dan membuka tirai jendela kamarku melihat langit malam yang berbintang.
TOK..TOK..TOK..
tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk “Kei.. apa kau sudah tidur?” ternyata Kou-nii. Aku segera membuka pintu kamarku.
“ada apa, kak?” tanyaku
“bisa bicara sebentar?” aku pun mempersilahkan Kou-nii masuk.
“Kei, sebenarnya apa kau setuju dengan hubunganku dan Yuu?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Kou-nii tanpa basa-basi. Aku langsung terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa.
“tak usah kau sembunyikan lagi. aku tahu, kau menyukai Yuu, kan?” aku 2 kali lebih terkejut mendengar ucapan kakakku itu. aku hanya bisa menunduk, aku tak tahu harus berkata apa. tapi sebenarnya, aku ingin sekali jujur pada Kou-nii.
“ya.. aku menyukainya” kuberanikan menjawab pertanyaannya
“Aku akan merebut hatinya. aku tak akan menyerah, meski lawanku adalah kakakku sendiri!” tambahku mantap, aku memberanikan diri menatap wajah Kou-nii. Kou-nii hanya tersenyum melihatku.
“kalau begitu, kita rival sekarang” ucapnya sambil menepuk bahuku dan berjalan keluar dari kamarku.
Tak kusangka Kou-nii bicara seperti itu. aku langsung terduduk lemas di kursi belajarku setelah Kou-nii pergi. tapi aku benar-benar lega karena sudah bisa jujur pada perasaanku sendiri. Baiklah.. Sudah kuputuskan! besok akan kunyatakan perasaanku pada Yuu.

*To Be Continued*


[Part 3]
Story 1 part 3
Kei’s POV
Sinar matahari menembus jendela kamarku, kulihat jam di kamar sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku segera melompat dari tempat tidurku begitu menyadari aku telat bangun. haaah.. tadi malam aku tak bisa tidur karena memikirkan Kou-nii dan Yuu. Setelah bersiap-siap aku pun segera turun. Ku lihat Kou-nii sudah ada di ruang makan. Walau sejak tadi malam dia menyatakan kalau kami rival, tapi kucoba bersikap seperti biasa di depannya.
“ohayou.. oniisama, mana Hime?” tanyaku pada Kou-nii menyadari gadis yang biasa membuat gaduh tak ada di tempat.
“dia sudah berangkat dengan Yamada-kun” jawab Kou-nii dingin. Untung aku sudah terbiasa dengan sikap kakakku itu. aku segera duduk dan menyantap makananku. Suasana di ruang makan itu jadi hening, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Akhirnya aku pun memutuskan untuk diam saja dan menghabiskan sarapanku. Tiba-tiba handphone Kou-nii berbunyi, dia pun segera mengangkat telepon itu. sepertinya itu telepon dari Yuu.
“maaf hari ini aku sibuk, Yuu. Aku harus segera berangkat” ucap Kou-nii langsung tanpa basa-basi. Kou-nii menutup teleponnya dan mengambil tasnya.
“aku berangkat dulu. Jaa” ucap Kou-nii sambil berjalan pergi.
“oniisama..” panggilku ragu-ragu. Kou-nii pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihatku.
“ehm.. apa kita benar-benar rival?” kuberanikan diri bertanya untuk memastikan. Tapi Kou-nii hanya menjawab dengan anggukan dan dia pun segera pergi.
Aaahhh... kenapa aku jadi ragu begini. Kan sudah kuputuskan untuk menyatakan perasaanku pada Yuu. Lebih baik aku segera menemuinya sekarang. Aku pun berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, kulihat Yuu sedang duduk diam di kelas. Dia terlihat murung, pasti karena Kou-nii tadi.
“hey, Yuu.. kau kenapa?” tanyaku
“hari ini adalah hari jadianku dengan Kou. aku ingin memberinya kejutan, tapi katanya dia sedang sibuk. Bahkan tadi dia mematikan teleponku sebelum aku bilang ingin mengajaknya kencan. Dia benar-benar lupa hari ini” ucapnya lesu. Aku tertegun mendengar ucapannya. Berarti hari ini genap 1 tahun hubungan mereka.
“Kei, kenapa kau melamun?” tanyanya membuyarkan lamunanku
“ah..tidak..tidak apa-apa” jawabku gugup
“hey, Kei.. apa nanti kau mau menemaniku mencari kado untuk Kou? kalau benar dia tidak bisa datang, aku yang akan datang menemuinya!” ucap Yuu mantap.
“ehm.. baiklah.. tak masalah..” aku pun tersenyum simpul.
“aahh.. terima kasih Kei!” ucapnya tersenyum girang.
Kenapa aku jadi mengiyakannya? seharusnya aku segera menyatakan perasaanku, tapi aku malah mau menemaninya mencari kado untuk Kou-nii. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Author’s POV
Sepulang kuliah, Kei dan Yuu pergi berbelanja mencari kado untuk Kota. Mereka berjalan ke sebuah mall, tanpa menyadari ada 2 manusia mengikuti mereka dari belakang.
“hey..hey.. Nana.. apa kita harus melakukan sampai sejauh ini? dari tadi kita sudah membuntuti mereka. aku jadi merasa tak jauh beda dengan stalker” gerutu Daiki
“Sssttt.. sudah kau diam saja! Aku ingin tahu.. sebenarnya apa hubungan gadis itu dengan Kei” ucap Nana sambil terus mengawasi Kei dan Yuu. Mereka pun terus mengikuti Kei dan Yuu. Sampailah mereka di sebuah toko pakaian.
“mau apa mereka di toko pakaian itu?” tanya Nana penuh selidik
“ya.. beli pakaian lahh..” jawab Daiki santai
“aku juga tahu.. BAKA!” pukulan Nana pun mendarat telak di kepala Daiki.
“ittaaaaiii~!! Bisa nggak sih.. kamu tak memukulku?!” gerutu Daiki kesal sambil memegangi kepalanya
“Ssssttt... diam! Nanti kita ketahuan, kalau kau berisik terus! Hey.. Daiki.. bisa tidak kau mendekati mereka dan menguping pembicaraan mereka? kalau kau berhasil, akan kutraktir okonomiyaki!” hasutan Nana langsung disanggupi Daiki yang memang tukang makan itu.
“baiklah! Tapi benar, ya.. kau akan mentraktirku okonomiyaki yang enak!”
“iya..iya.. sudah cepat sana.. awas, jangan sampai ketahuan!” perintah Nana. Daiki pun pergi menyelinap masuk toko dan bersembunyi di balik baju-baju berusaha agar tidak ketahuan.
“Kei, menurutmu kemeja ini bagus tidak?” tanya Yuu. Daiki pun siap memasang telinga untuk mendengar obrolan mereka.
“ehm.. bagus..” jawab Kei singkat
“waahh.. ini juga bagus.. jadi bingung yang mana yang cocok untuk Kou” Yuu kebingungan memilih kemeja untuk pacarnya itu.
“kemeja disini memang bagus-bagus.. Kou-nii juga cocok memakai kemeja apa saja”
“ya, sudah.. aku beli yang ini saja.. waahh.. aku tak sabar bertemu Kou” ucap Yuu memutuskan pilihannya. Mereka pun pergi ke kasir untuk membayar.
“ooww.. ternyata gadis itu pacar Kou-kun” gumam Daiki pelan. Dia pun segera pergi melaporkan hasil penyelidikannya.
“bagaimana?” tanya Nana tak sabar
“ternyata gadis itu pacar Kou-kun, kakaknya Kei.. aku juga baru ingat, kakakku pernah bercerita kalau Kou-kun sudah punya pacar yang seumuran dengan Kei. Mereka tadi membeli kemeja untuk Kou-kun” jelas daiki. Mendengar penjelasan Daiki, Nana pun menghela napas lega.
“Yokaatttaa~~ aku pikir dia pacar Kei. Arigatou, Daiki” ucap Nana tersenyum
“iya.. tapi ingat janjimu mentraktirku!” Daiki mengingatkan Nana
“iya..iyaa.. tapi nanti dulu.. aku ingin tahu seperti apa Kou-kun itu” ujar Nana
“eeehhh.. kau masih mau mengikuti mereka? dasar kau stalker sejati!”
“sudah diam! Mau okonomiyaki, tidak?”
“iya..iya...” Daiki pun menurut. Mereka pun lanjut mengikuti Kei dan Yuu.
=========================================================
Sementara itu di cafe, semua pelayan sedang sibuk. Tapi seorang pelayan hanya duduk sambil senyum-senyum sendiri.
“hey, Yui! Sedang apa kau? tak membantu malah senyum-senyum sendiri!” tegur Hime yang melihat sahabatnya itu tak bekerja padahal semuanya sedang sibuk melayani pelanggan.
“hehehe.. ada aja!” jawab Yui masih senyum-senyum sendiri. Hime yang melihat sikap sahabatnya itu langsung bisa menebak apa yang terjadi pada Yui.
“aahhh.. aku tahu... Yuto menyatakan perasaanya padamu, ya??” tanya Hime pada Yui yang memang menyukai Yuto, salah satu pelayan terpopuler di cafe tempatnya bekerja. Yui langsung berdiri dari kursinya dan membungkam mulut Hime.
“Ssssttt... jangan keras-keras!” ucap Yui panik. Hime melepas tangan Yui dari mulutnya.
“wah..wah.. jadi benar, ya.. kalau begitu selamat, ya.. Yui-chan~ jadi kapan Yuto mengatakannya?” goda Hime sambil menepuk-nepuk bahu Yui.
“ehmm... barusan” jawab Yui singkat dia langsung memalingkan mukanya dari Hime.
“eeehhh... benarkah? Pantas saja Yuto dari tadi menghilang dan baru saja kembali dengan wajah sangat senang. Ternyata..” ucap Hime menggeleng-gelengkan kepala.
“Yui~ bisakah kau pergi ke supermarket? Persediaan lemon kita hampir habis” perintah Yuri tiba-tiba
“ah! Baik~~!” jawab Yui bersemangat. Dia pun segera pergi ke supermarket. Hime hanya tersenyum melihat tingkah Yui.

Yui’s POV
Tak kusangka Yuto akan menyatakan perasaannya duluan padaku, aku senang sekali. aku pergi membeli lemon di supermarket, dan segera kembali setelah mendapatkan lemon yang cukup banyak untuk persediaan di cafe. Aku berjalan dengan susah payah membawa 2 kantong besar lemon.
“eh, Yui.. baru belanja,ya.. boleh kubantu membawanya?” ujar Kak Kota yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku dan mengambil 1 kantong lemon dari tanganku.
“ah.. kak Kota, terima kasih.. maaf merepotkan” ucapku merasa tak enak pada kak Kota.
“tidak apa-apa.. kebetulan aku juga mau membeli bunga di dekat sini”
“eeehhh.. untuk pacar kakak ya?” godaku
“iya, hari ini hari jadian kami. bisakah kau membantuku memilih bunga?”
“waaahh... serahkan saja padaku!” ujarku bersemangat. Aku memang lumayan dekat dengan kakak sahabatku ini. Dulu aku juga sempat menyukainya, tapi ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan karena kak Kota sudah mempunyai pacar. Tapi sekarang aku juga sudah punya Yuto yang pasti akan selalu berada di sampingku. kami pun mampir ke toko bunga itu. kami memilih bunga yang bagus. Penjual bunga itu merangkai bunga-bunga yang kami pilih menjadi sebuah karangan bunga.

Yuu’s POV
Setelah mendapat kado untuk Kou, aku dan Kei pergi membeli kue kesukaan Kou di cafe. Setelah itu, kami berdua pergi ke kampus Kou. saat berjalan melewati sebuah toko bunga, aku melihat orang yang sangat kukenal. Orang yang tadi pagi bilang kalau dia sibuk, sekarang dia malah bersama seorang gadis yang kutahu adalah pelayan di cafe yan baru kudatangi. Mereka terlihat sangat dekat. Kuhampiri kedua orang itu, mataku sudah mulai berkaca-kaca. Kenapa Kou berbohong? dia bilang sedang sibuk, tapi dia malah pergi dengan gadis lain.

Kota’s POV
Karangan bunga itu sudah jadi. Bunga-bunga itu tertata indah sekali. aku tak sabar memberikan karangan bunga yang cantik ini pada Yuu. Aku merasa bersalah padanya, tadi pagi aku menutup teleponnya sebelum dia bilang apa-apa. Ya, apa boleh buat, karena aku ingin segera menyelesaikan semua tugas-tugasku dan merayakan hari ini bersamanya. Kami pun keluar dari toko, Yui membawakan karangan bunga itu sedangkan aku membawakan lemon-lemon yang dibeli Yui.
“Kou..” panggil seseorang dari belakang. Aku pun langsung menoleh ke arah orang itu. dan benar, Yuu sudah berdiri dengan mata berkaca-kaca menatapku. Aku kaget melihatnya ingin menangis, pasti dia berpikir kalau aku menyukai Yui.
“Yuu.. aku..” kucoba menjelaskan padanya, tapi dia langsung berlari pergi meninggalkanku. Tiba-tiba pukulan Kei mendarat di pipiku, membuatku jatuh tersungkur.
“Kenapa kau malah membuatnya menangis di hari jadian kalian?!” bentak Kei, aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa menatap Kei sambil memegangi pipiku.

Author’s POV
Kei yang sudah geram melihat kakaknya pun langung berlari mengejar Yuu tanpa menghiraukan Kota. Sedangkan Nana yang dari tadi bersembunyi, segera berlari mengikuti Kei. Daiki pun menyusul Nana. Kei mengejar Yuu sampai di sebuah sungai. Dan Daiki langsung menarik Nana untuk bersembunyi.
“Yuu..” panggil Kei
“tinggalkan aku sendiri, Kei! Aku terlalu berharap pada Kou, padahal dia tak lagi mencintaiku!” teriak Yuu sambil terus menangis. Tiba-tiba Kei memeluknya dari belakang.
“jangan menangis! Masih ada aku disini! Jangan menangis!” ucap Kei memeluk Yuu erat. Yuu kaget karena Kei tiba-tiba memeluknya.
“tak akan kulepaskan, sampai kau berhenti menangis! Aku mencintaimu, Yuu” Kei pun akhirnya menyatakan perasaannya. Yuu tertegun mendengar ucapan Kei. Dia segera melepas pelukan Kei.
“Kei, tapi aku kan...”
“aku tahu.. kau pacar kakakku, kan? tapi, aku tak bisa menghilangkan rasa sukaku padamu, Yuu. Orang yang kusukai hanya kau” jelas Kei
“tapi Kei..” Mendengar ucapan Yuu, Kei langsung memegang bahu Yuu dan menatap wajahnya.
“Yuu.. apa kau ingin terus-terusan sakit hati? Kou-nii selalu menyakiti hatimu, kan? apa kau tetap ingin bersamanya?” tanya Kei
“hentikan, Kei..” ucap Yuu sambil melepas tangan Kei dari bahunya dan pergi. tapi Kei segera menggenggam tangan Yuu. Mencegah Yuu agar tak pergi.
“lepaskan, Kei! aku tak bisa bersamamu!” Yuu berusaha melepaskan tangannya. Tapi Kei tetap tak melepasnya.
“kenapa, Yuu? Kou-nii kan sudah menyakitimu seperti ini. tapi kenapa kau tetap ingin bersamanya?” Kei tetap bertanya.
“lepaskan dia, Kei!” ucap Kota tiba-tiba datang dan melepas genggaman tangan Kei. Melihat Kota, Yuu pun langsung beranjak pergi, tapi Kota menarik Yuu ke pelukannya.
“lepaskan Kou! kau sudah punya pelayan itu kan! mau apa lagi Kou denganku?!” Yuu mendorong Kota dan pergi
“aku mau tetap bersamamu!” teriak Kota. Yuu pun menghentikan langkahnya.
“kenapa aku harus menuruti perkataan pembohong sepertimu?!” Yuu membalikkan badannya dan menatap tajam Kota.
“maaf, aku mengacuhkanmu tadi pagi. Itu karena aku ingin menyelesaikan semua tugasku agar bisa bertemu denganmu di hari jadi kita ini” jelas Kota. Yuu terdiam mendengar ucapan Kota.
“dan Yui, aku tak mungkin mencintainya karena dia sudah punya pacar. Dia hanya membantuku memilih bunga untukmu” tambah Kota. Yuu pun masih diam tak merespon.
“maaf selama ini aku selalu bersikap dingin padamu, sebenarnya aku sangat mencintaimu. karena itu jangan pergi, tetaplah disisiku. aku bisa gila kalau kau meninggalkanku” Kota mendekati Yuu
“Kota, BAKA! Baka.baka.baka! kenapa kau tak bilang Kou?! aku hampir mati karena melihatmu bersama gadis lain! aku tak bisa berhenti mencintaimu, Kou! BAKA!” Yuu memukuli Kota lalu memeluknya. Kota pun tersenyum dan membalas pelukan Yuu.
“kau menang, kak” ucap Kei yang daritadi diam melihat semua itu. Kota dan Yuu melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah Kei.
“sekarang, aku sadar. Aku hanya ingin melihat Yuu tersenyum bahagia. Tapi, sepertinya dia hanya bisa bahagia bersamamu” tambah Kei
“maafkan aku, Kei” ucap Yuu
“tidak apa-apa.. mulai sekarang jangan menangis lagi! tersenyumlah, Yuu! Aku mendukung kalian sebagai adik” ucap Kei tersenyum sambil menepuk bahu Yuu dan Kota.
“Arigatou, Kei” ucap Yuu dan Kota hampir bersamaan. Kei pun tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua.
=========================================================
“Daiki, kasian sekali Kei. Akan kucoba menghiburnya” ucap Nana yang sedari tadi melihat dari tempat sembunyinya.
“jangan dulu! Biarkan Kei sendiri dulu sekarang!” cegah Daiki. Nana pun menuruti perkataan Daiki. akhirnya Daiki dan Nana pun pulang.
“Daiki, sudah kuputuskan! Aku akan menyatakan perasaanku padanya!” ucap Nana mantap. Daiki tertegun mendengar keputusan Nana.
“Kau harus membantuku, ya! Aku akan mentraktirmu makan, tenang saja~” tambah Nana. Daiki hanya diam menghentikan langkahnya. Nana pun ikut menghentikan langkahnya melihat sikap temannya itu.
“ada apa Daiki?” tanya Nana heran
“Nana.. sebenarnya aku.. menyukaimu!” Ucap Daiki sambil menatap Nana tajam.
“hahaha.. kau bercanda, ya? Memang kau harus menyukaiku karena aku sering mentraktirmu makan” ucap Nana sambil tertawa.
“aku tidak sedang bercanda, Nana! aku menyukaimu dari dulu! Aku tak mau kau berpacaran dengan Kei!” jelas Daiki. Tawa Nana pun berhenti mendengar ucapan Daiki. Nana diam tak bisa berkata apa-apa.
“Daiki.. aku...”
“pokoknya, aku menyukaimu, Nana! kenapa kau tak pernah bisa mengerti perasaanku?” Daiki pun pergi meninggalkan Nana yang masih berdiri diam.

Nana’s POV
Aku kaget mendengar Daiki menyatakan perasaannya padaku. aku tak tahu harus bagaimana. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku menyukai Kei tapi Daiki menyukaiku. aku pun berjalan pulang. aku sangat bingung dengan kejadian yang baru aku alami. Aku masuk kamarku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Lama aku berpikir dan akhirnya, aku pun sudah mengambil pilihan. Ya.. pilihanku sudah tepat!
=========================================================
Keesokan harinya, aku putuskan untuk menemui Kei sendirian.
“Kei-kun, bisa bicara sebentar?” tanyaku pada Kei yang sedang membaca buku seperti biasa. Dia pun menuruti permintaanku. Aku mengajaknya pergi ke belakang gedung fakultas hukum yang cukup sepi.
“ada apa, Nana? kenapa kau mengajakku kemari?” tanyanya
“ano.. Kei.. sebenarnya.. aku..” kucoba mengatakannya tapi dadaku berdebar-debar, aku sangat gugup. kulihat wajah Kei penuh tanda tanya melihat tingkahku. Ku pejamkan mataku mempersiapkan diri.
“aku pernah menyukaimu Kei.. tapi, sekarang aku sudah tahu perasaan sukaku sebenarnya untuk siapa.” aku mengambil jeda di sela-sela perkataanku.
“jadi aku mengajakmu ke sini karena ingin mengatakan perasaanku padamu saja, agar hatiku merasa lega. Maaf kalau aku sudah mengganggu kegiatanmu” ucapku sambil membungkukkan badan pada Kei. Aku pun segera pergi meninggalkan Kei yang masih bengong melihatku.
“Nana!!” panggil Kei, aku pun menoleh padanya.
“berjuanglah,ya!” Kei berteriak sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dan aku pun berlari pergi.
Ingin segera bertemu, aku ingin segera bertemu Daiki. selama ini Daiki selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dia selalu mendukungku dan memberiku semangat. dia selalu melindungiku. Aku sadar, aku suka pada Kei karena dia memang keren. Tapi sekarang aku tahu, sebenarnya aku menyukai Daiki. Ya! Aku sangat menyukai Daiki!
“DAIKI!!!” teriakku melihat dia sedang duduk di kelas sambil melihat ke luar. Dia pun berdiri, kaget melihatku. Kuhampiri dia, dan aku pun langsung memeluknya.
“eehh.. ada apa Nana?” tanyanya heran
“aku menyukaimu! Aku benar-benar menyukai Daiki!” ucapku memeluknya erat. Daiki terdiam.
“aku sadar. Sebenarnya, orang yang aku suka itu hanyalah Daiki”
“Nana.. aku.. aku juga menyukaimu!” Daiki pun balas memelukku.
“tetaplah di sisiku Daiki” pintaku
“walau tak kau suruh, aku akan selalu berada di sisimu, Nana” jawabnya. aku pun melepas pelukanku dan tersenyum padanya.
“OKEEYYY!! Ayo kita rayakan hari ini dengan makan-makan!” ucapku semangat.
“baiklaaahhh~~ !!! ayo kita makan ramen~~ !!” ucapnya tak kalah bersemangat.
“eehh.. chotto! siapa yang bayar?” tanyanya
“Kau!” jawabku singkat sambil menunjuk ke arahnya
“yaaaahhh... baiklah~~ kali ini aku yang bayar! Ayo kita makan sepuasnya~~ !!”
Kami pun pergi ke kedai ramen bersama.

~STORY 1 END~

[Fanfic] DO YOU LOVE ME? (Oneshoot)

Heey~ doumo!
Fanfic ini aku buat ultah yama 3 tahun yang lalu :3
Beneran nggak nyangka aku pernah bikin fanfic kayak gini hahaha XD
Happy reading, minna (^o^)

Tittle : Do You Love Me?
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Inoo Kei, OCs
[Do You Love Me?]
DO YOU LOVE ME?
~~Jam pulang sekolah berbunyi, Pelajaran terakhir pun selesai~~
Hime’s POV
 Haaahh.. untung sudah selesai, aku benar-benar dibuat bingung dengan pelajaran kimia hari ini. kuregangkan sedikit tubuhku yang hampir kaku gara-gara pelajaran sulit itu. Aku segera merapikan buku-bukuku, bersiap untuk pulang. tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di bahuku, dan aku langsung tahu perbuatan siapa itu.
“hey, hime-chan! Apa kau ada acara hari ini? apa kau mau ikut aku dan sora belanja?” tanya haru tersenyum melihatku kesakitan karena pukulannya itu
“itttaaii~~!! Kenapa kau selalu mengagetkanku begitu!” kataku kesal sambil memegangi bahu yang serasa mau copot gara-gara pukulan maut sahabatku itu.
“hahaha.. gomen..gomen.. jadi, kau ikut tidak?” tanyanya lagi
“eehmm.. ya~ baiklah.. aku juga sedang tidak ada acara hari ini” jawabku
“hey..hey.. bukankah, hari ini adalah hari pertamamu kerja sambilan di toko kue Takahashi-san?” kata sora yang tiba-tiba datang dan mengingatkan hal penting yang dengan bodohnya aku lupakan.
“huuaaa~~ yabai! Aku lupa!” jawabku panik
“dasar bodoh! Kenapa penyakit ‘tua’mu selalu datang disaat yang penting?! Cepat pergi sana! Kalau tidak kau bisa terlambat, loh!” ucap haru sambil mendorongku pergi
“iya.iya.. gomen minna.. aku pergi dulu ya.. sora-chan, arigatou gozaimasu telah mengingatkanku!” ucapku sambil pergi meninggalkan kedua sahabatku itu.
Untung sora-chan mengingatkanku, kalau tidak aku bisa dipecat karena tidak datang di hari pertama kerja. Ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 2.30 sore, aku masih punya 30 menit untuk sampai di tempat kerja yang berada cukup jauh dari sekolahku. Karena tidak ingin terlambat di hari pertama bekerja, aku pun mempercepat langkahku dengan masih melihat jam ditangan. Tiba-tiba.. BRUUKK..
“aw.. ittai! Apa yang kau lakukan?!” bentaknya. Aku segera berdiri dan membantunya.
“Eh, gomen.gomen.. aku sedang tergesa-gesa sampai tidak melihat jalan. Gomen, kamu tidak apa-apa kan?” tanyaku mengulurkan tangan hendak membantunya. tiba-tiba, seorang anak laki-laki menghampiri kami.
“nana, kau tidak apa-apa?” tanya anak laki-laki itu segera membantu anak yang baru aku tabrak itu untuk berdiri.
“iya, aku tidak apa-apa” jawab anak bernama nana itu “kalau jalan, liat-liat dong! Apa kau tidak tau siapa aku?!” tambahnya memasang muka kesal padaku
“ah, maaf.. sekali lagi aku minta maaf, aku tidak tau kalau ada kau. maaf” kataku sambil membungkukkan badan meminta maaf
“huh! Dasar ceroboh! Lain kali liat baik-baik jalanmu! Ryo-kun, ayo pergi!” ucapnya kesal sembari pergi meninggalkanku yang masih membungkukkan badan.
“sudah, tegakkan badanmu! Maafkan, perkataannya yang kasar, ya” kata anak bernama ryo itu sambil menepuk bahuku. Akupun menegakkan badanku dan melihat ke arah nana yang berjalan diikuti ryo.
“memangnya siapa dia?! Huh! Sombong sekali!” gerutuku. Ku lihat jam tanganku lagi “yabai! Kurang 20 menit lagi!” akupun segera pergi ke tempat kerja. Sesampainya ditempat kerja, aku pun segera berganti pakaian dan memulai pekerjaanku. untung saja aku tiba tepat waktu, aku memang baru SMA tapi aku ingin membantu kedua orang tuaku. Maka dari itu aku bekerja sambilan di toko kue ini. yaakk.. mulai hari ini aku akan berusaha.

Author’s POV
Hime pun bekerja dengan semangat. Sementara itu di sekolah..
“nana, kau tidak perlu berkata begitu pada anak itu kan? Dia kan sudah minta maaf” kata ryosuke pada nana yang sedang merapikan buku-bukunya
“huh! Anak itu sih membuatku kesal! Memangnya dia tidak tahu siapa aku, ya?! Menyebalkan!” ucap nana kesal
“Terserah kau sajalah! Seharusnya kau tidak bersikap kasar begitu padanya, lagipula dia kan tidak sengaja” kata ryosuke sambil berjalan keluar kelas
“ryo-kun! Kau mau kemana?” tanya nana
“pulang” jawab ryosuke singkat sambil tetap berjalan meninggalkan nana
“eehh... tunggu, ryo-kun! Kenapa kau meninggalkan tunanganmu ini!” kata nana mengejar ryo yang sudah keluar kelas. Nana pun segera menggandeng tangan ryosuke. “ck!” ryosuke berdecak kesal melihat tingkah tunangannya itu
“maaf.maaf.. aku tak akan mengulanginya lagi. Ryo-kun, jangan marah ya..” ucap nana dengan manjanya. Tetapi ryosuke tetap tidak menghiraukan nana dan tetap berjalan. Walaupun begitu, nana tetap tidak melepaskan tangan ryosuke. akhirnya pun pulang bersama.
-----------------------------------------------------------------
~~keesokan harinya di sekolah~~
Hime’s POV
Hari ini, aku lelah sekali.. sejenak ku tidurkan kepalaku di meja.
“heeyyy!! Pagi-pagi sudah lesu! Ayo semangat!semangat!” kata haru sambil mengeluarkan pukulan mautnya seperti biasa. Aku pun dengan malas bangun dan memegangi bahuku.
“aaaahhh... haru~~ apa kau tidak bisa tidak memukulku? Aku capek sekali nih~ badanku sakit semua” ucapku sambil kembali menidurkan kepala di meja.
“eeehhh.. kenapa begitu? apa kemarin di toko sibuk sekali?” tanyanya sambil duduk di sebelahku
“yaa~~ banyak pesanan yang harus segera dibuat.. akhirnya lembur deh” jelasku dengan malas. Aku tak kuat lagi menahan kantuk yang amat sangat ini, aku pun tertidur. kurasakan haru mengguncang-guncang tubuhku agar aku bangun, tapi aku sudah tak bisa lagi membuka mata, aku terlalu mengantuk. Kurasakan haru berhenti mengguncang tubuhku dan sepertinya dia kembali ke tempat duduknya. tiba-tiba seseorang menggebrak mejaku hingga aku terkejut dan bangun.
“Nishiyama-san! berdiri diluar!! SEKARANG!!!” bentak kamenashi-sensei, guru matematika yang terkenal sangat galak. Aku pun hanya bisa diam dan menuruti perintahnya.
“maaf, sensei” ucapku sambil membungkukkan badan meminta maaf dan segera keluar kelas. Aku berdiri dengan malasnya, aku masih sangat mengantuk. Akhirnya, kuputuskan untuk pergi ke atap sekolah. Sesampainya di atap sekolah yang sepi, aku duduk melihat langit ditemani hembusan angin yang  membuatku tambah mengantuk. Aku pun tertidur di tengah hembusan angin yang lembut ini.

Ryosuke’s POV
Aku malas sekali mengikuti pelajaran yang membosankan itu. aku pun meminta ijin untuk ke kamar kecil. Sebenarnya tidak sedang ingin ke kamar kecil, aku hanya ingin keluar mencari udara segar. Aku pun berjalan menuju atap sekolah. Sesampainya di atap, kulihat anak yang kemarin menabrak nana sedang tertidur lelap dengan posisi duduk. aku segera membalikkan badanku dan berjalan mencari tempat lain agar tak menganggunya. Saat akan menuruni tangga, tiba-tiba ponselku berbunyi. ternyata nana meneleponku, segera kuangkat teleponnya dan berbicara pelan agar tak membangunkan anak itu.
“ryo-kun, Kau kemana? Jam pelajarannya sudah selesai. Kenapa kau belum kembali ke kelas?” tanya nana
“maaf.. maaf.. aku akan segera kembali” jawabku, langsung kututup teleponnya dan melihat ke arah anak itu untuk memastikan dia tidak terbangun karena aku tadi. Dan syukurlah dia tidak terbangun, kuhampiri dia, sepertinya dia terlihat lelah sekali.
“takahashi-san, kue yang ini diletakkan dimana?” tiba-tiba anak itu mengigau membuatku terkejut, Dia pun akhirnya bangun.
“eehh.. aku ketiduran” katanya sambil mengucek matanya
“ah.. gomen, aku membangunkanmu” ucapku
“eh.. ah.. tak apa-apa. Ehm, kau anak yang kemarin kan?” tanyanya
“iya.. namaku yamada ryosuke.. salam kenal” jawabku tersenyum
“oh, namaku nishiyama hime, salam kenal” ucapnya tersenyum memperkenalkan diri
“kenapa kau tidur disini? Sekarang kan jam pelajaran” tanyaku
“sebenarnya aku dihukum karena tertidur di kelas tadi. karena terlalu lelah, aku kemari mencari tempat sepi. Lalu aku ketiduran. Hehe.. Kau sendiri sedang apa disini?” jelasnya sambil tertawa kecil
“aku bolos, bosan sekali rasanya mendengarkan guru fisika itu menjelaskan” jawabku mengeluarkan senyum bodohku
“hahaha.. berarti kita sama-sama bolos pelajaran ya.. hahaha” ucapnya sambil tertawa
“iya..” jawabku ikut tertawa melihat ekspresi wajahnya yang lucu sekali. tiba-tiba, ponselku berbunyi lagi. “Ck! Nana” gerutuku sembari mengangkat telepon dari nana.
“ryo-kun, kau dimana?!” tanyanya kesal
“iya..iya~ aku kembali” jawabku dan langsung kututup teleponnya
“nishiyama-san,  aku kembali dulu ya..” ucapku sembari pergi
“eeh, yamada-san! panggil aku hime saja” ucapnya
“baiklah.. kalau begitu, panggil aku ryo saja.. sampai jumpa hime-chan!” ucapku segera kembali ke kelas

Author’s POV
Akhirnya, Hime juga kembali ke kelasnya. Sesampainya di kelas, dia menanyakan tentang anak yang baru di kenalnya tadi pada haru dan sora.
“hime! Darimana saja kau?” tanya sora melihat hime yang baru masuk kelas
“iya! Kamenashi-sensei sampai marah-marah saat tau kau tidak ada dimana pun, kemana saja kau?” tanya haru mendukung sora
“hehehe.. maaf, aku ketiduran di atap sekolah” jawab hime sambil tersenyum bodoh pada kedua sahabatnya itu
“huh! Dasar!” gerutu haru dan sora hampir bersamaan
“hehehe.. oh iya, apa kalian kenal anak yang bernama yamada ryosuke?” tanya hime sembari mengambil duduk
“eehh.. yamada ryosuke??!!” ucap sora dan haru berasamaan
“iya.. yamada ryosuke.. kenapa kalian kaget begitu?” tanya hime heran dengan tingkah haru dan sora
“yamada ryosuke itu tunangan dari cucu pemilik sekolah ini” jelas sora
“iya! Dia tunangan kitagawa nana” tambah haru
“eeeehhh... tunangan?? Cucu pemilik sekolah?? Yabai!” kata hime panik
“memangnya kenapa sih?” tanya haru
“aku.. aku kemarin tak sengaja menabrak anak bernama nana itu.. lalu tadi aku bertemu dan berkenalan dengan yamada ryosuke di atap” jelas hime pada kedua temannya yang sudah memasang wajah tak percaya mendengar ceritanya itu.
“apaaaa??!! Kau tak sengaja menabrak nana dan berkenalan dengan yamada?!” tanya sora dan haru bersamaan
“iya..” jawab hime santai
“eehh.. jangan terlalu dekat dengan yamada kalau kau tak ingin punya masalah” jelas haru
“iya!” ucap sora menimpali
“kenapa begitu? aku kan hanya berkenalan dengan ryo saja” kata hime heran
“ryo?? kau bahkan sudah memanggilnya ryo?” tanya haru
“iya.. dia sendiri yang menyuruhku memanggil begitu” jawab hime
“hime, mulai sekarang berhati-hatilah.. jangan terlalu dekat dengan yamada. Nana paling tidak suka kalau ada perempuan lain mendekati tunangannya. Dia akan membuat setiap anak perempuan yang dekat dengan yamada terkena masalah atau dibenci oleh teman lainnya” jelas sora
“apa?! kenapa begitu?! menyebalkan sekali anak itu! kenapa ryo mau bertunangan dengan anak menyebalkan seperti itu,ya?!” tanya hime kesal
“katanya sih.. sebenarnya, yamada itu tidak mau bertunangan dengan nana. tapi, orang tua yamada terus memaksanya agar mau bertunangan dengan nana yang merupakan anak teman bisnis orang tuanya itu” jelas sora
“oowww.. jadi begitu.. kasian sekali ya, yamada. bertunangan dengan orang yang tak disukainya” kata haru. hime dan sora hanya mengangguk tanda setuju dengan haru.
Bel pun berbunyi, pelajaran berikutnya dimulai. Setelah jam pelajaran usai, haru dan sora pun pulang sedang hime pergi kerja sambilan di toko takahashi-san.
-----------------------------------------------------------------
~~di toko Takahashi-san~~
Hime’s POV
Hari ini di toko tidak sesibuk kemarin, toko pun ditutup lebih awal. semua pegawai membersihkan toko sebelum ditutup. Tiba-tiba pintu toko terbuka, seorang pelanggan masuk. Mungkin dia tidak tahu kalau toko sudah hampir tutup pikirku.
“hime-chan, layani pelanggan itu. itu pelanggan terakhir hari ini” perintah takahashi-san
“baik” jawabku. Aku segera melayani pelanggan itu.
“hime-chan.. ternyata kau bekerja disini?” tanya pelanggan itu yang ternyata adalah ryo
“eehh.. ryo-kun.. iya.. aku kerja sambilan di sini.. hehehe” jawabku
“ooh.. sudah mau tutup, ya?” tanyanya melihat para pegawai bersih-bersih
“iya.. tapi tak apa.. kau mau beli apa?” tanyaku
“oh.. aku mau beli cheese cake” ucapnya sambil menunjuk kue di etalase
“oh.. baik! 1 cheese cake untuk yamada-san” godaku sambil membungkus cheese cakenya
“hahaha.. jangan panggil aku yamada-san” gerutunya
“hehehe.. ini silakan” aku memberikan bungkusan cheese cake padanya
“ya.. terima kasih.. ehm.. mau pulang sama-sama?” tanyanya tiba-tiba
“eehmm.. bagaimana ya.. pekerjaanku masih belum selesai” jawabku ragu
“sudah.. pulanglah.. pekerjaanmu sudah dikerjakan pegawai lain” ucap takahashi-san tiba-tiba menghampiri kami
“ah.. terima kasih banyak, takahashi-san.. kalau begitu aku ganti baju dulu” ucapku sembari pergi ganti baju. Setelah ganti baju, aku pun berpamitan pada takahashi-san dan pulang bersama ryo-kun. kami berjalan pulang sambil mengobrol.
“ehm, ryo-kun.. kenapa kau tak pulang dengan nana? dia kan tunanganmu” tanyaku
“tidak apa-apa.. aku ingin mampir membeli cheese cake untuk ibuku. Ehm, tolong jangan menyebut nana ‘tunangan’ku, aku tak suka dengan sebutan itu” jawabnya
“ooh.. maaf, aku menyinggungmu” ucapku merasa tak enak dengannya
“hahaha.. iya.. tak apa” ucapnya sambil tersenyum. kami pun terus mengobrol sepanjang jalan. Akhirnya kami pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. semenjak itu, kami jadi sering bertemu. Di atap sekolah, di toko, dimana pun. Kami pun semakin dekat. Ryo sering bercerita tentang dirinya dan bercerita tentang nana. aku pun begitu, aku juga sering bercerita tentang kehidupanku. Aku merasa nyaman sekali saat bersama ryo-kun.

Author’s POV
Hime dan ryosuke pun semakin dekat  dan mulai ada suatu perasaan diantara mereka. suatu hari hime dan ryosuke bertemu di atap seperti biasa. nana yang curiga dengan ryosuke yang akhir-akhir ini semakin menjauh darinya, akhirnya nana memutuskan untuk mengikuti ryosuke. nana penasaran, kanapa ryosuke yang selalu pergi ke atap sekolah saat istirahat makan siang. Saat sampai di atap, nana melihat ryosuke sedang asyik mengobrol dengan hime.
“itu kan, anak ceroboh itu. kenapa ryosuke akrab sekali dengan dia? Kurang ajar sekali anak itu!” gerutu nana dalam hati. Dia pun segera menghampiri hime dan ryosuke.
PLAAKKK.. nana menampar ryosuke dengan kerasnya. hime terkejut melihat tamparan nana mendarat di pipi ryosuke.
“ryo-kun! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersama anak ceroboh ini?! kenapa kau menghianatiku?!” ucap nana kesal, air matanya pun mulai membasahi pipinya. Ryosuke diam tak menjawab pertanyaan nana
“bukan..bukan.. begitu, nana” ucap hime mencoba menjelaskan. sebelum hime selesai menjelaskan, nana mengayunkan tangannya hendak menampar hime. Untungnya, ryosuke segera menahan tangan nana.
“hentikan nana!!” bentak ryosuke masih menahan tangan nana
“ryo-kun.. kenapa kau membelanya?? Begitu pentingnya dia daripada aku, tunanganmu ini?!” tanya nana, wajahnya merah padam menahan amarahnya.
“dia lebih penting, dari apapun. Dia lebih penting daripada kau. Karena aku menyukainya” kata itu keluar tiba-tiba keluar dari mulut ryosuke, menjawab semua pertanyaan nana. hime terkejut dengan apa yang barusan dia dengar. Hime tak percaya ryosuke mengatakan itu pada perempuan yang selama ini menjadi tunangannya itu.
“apaa??!! Ryo-kun?! Kita kan sudah bertunangan?!” tanya nana, air matanya mengalir semakin deras
“kita, memang bertunangan. Tapi aku tak pernah mau bertunangan denganmu. Aku tak pernah menyukaimu,nana” jawab ryosuke. Seketika itu, nana pun terdiam dan langsung pergi meninggalkan hime dan ryosuke sambil menangis. Hime masih diam tak percaya dengan kejadian barusan.
“hime.. kau dengar sendiri kan tadi” kata ryosuke tiba-tiba, membuat hime tersadar dari lamunannya. “hime, aku menyukaimu.. apa kau mau menjadi kekasihku?” tambah ryosuke. Hime masih terdiam tidak bisa berkata apa-apa. Ryosuke mendekati hime yang masih terdiam.
“a.. ryo-kun.. kenapa kau..” belum sempat hime menyelesaikan perkataannya, ryosuke menempelkan jarinya di bibir hime, membuat hime langsung terdiam.
“aku hanya ingin menyampaikan perasaan ku yang sebenarnya. Apa kau mau menjadi kekasihku?” tanya ryosuke sambil tersenyum
“tapi.. kita bisa terkena masalah, nana kan cucu pemilik sekolah ini. aku takut kalau sampai terkena masalah karena nana mengadu pada kakeknya” kata hime, tak menjawab pertanyaan ryosuke.
“tidak akan! Kakek nana tak akan berbuat begitu. sebenarnya, kakek nana juga tak menyetujui pertunanganku dengan nana, karena tahu kalau aku sebenarnya memang tak menyukai cucunya” jelas ryosuke. “jadi apa jawabanmu?” tanya ryosuke sekali lagi
“un” hime menganggukkan kepalanya dan langsung menundukkan kepala menutupi wajahnya yang mulai memerah
“hey..hey..hey! wajahmu seperti tomat. Hahaha.. lucu sekali” kata ryosuke tertawa sambil menepuk-nepukkan jarinya ke pipi hime, membuat pipi hime makin memerah.
“hentikan ryo-kun!” ucap hime membalikkan badannya karena malu
“hahahaha.. kau lucu sekali” ucap ryosuke memeluk hime dari belakang. “aku janji, akan selalu kujaga nona tomat ku ini” goda ryosuke
“ryo-kun~~!!” ucap hime kesal mencubit lengan ryosuke yang melingkari lehernya
“itttaaaaiiiii!!!” jerit ryosuke
“hahahaha... rasakan itu!” ucap hime sambil berlari menghindari ryosuke
“awaaass kau himeee~~!!” ucap ryosuke mengejar hime
Mereka pun akhirnya menjadi sepasang kekasih. Ryosuke menyukai hime, begitu juga sebaliknya. Makin hari, mereka makin tak terpisahkan. Hampir setiap hari ryosuke mampir ke toko takahashi-san untuk menjeput hime. hari demi hari mereka lewati bersama layaknya sepasang kekasih pada umumnya. menjalani hari-hari penuh kebahagiaan bersama.
-----------------------------------------------------------------
~~8 Mei 2011~~
Ryosuke’s POV
“Akhirnya kursus hari ini selesai, waktunya menjemput hime” pikirku sambil berjalan keluar dari tempat kursusku. aku pulang lebih sore dari biasanya karena ada tambahan di tempat kursus. Aku mempercepat langkahku agar tak terlambat. Sesampainya di depan toko takahashi-san, aku melihat hime sedang asyik mengobrol dengan seorang laki-laki yang tak kukenal. Mereka terlihat begitu akrab, aku hanya melihat mereka dari luar. Tiba-tiba, hime yang melihatku berdiri diam di depan toko pun segera keluar.
“ryo-kun.. kenapa kau berdiri di situ? Ayo masuk!” ucapnya sambil menarik tanganku
“hime, aku pulang duluan ya” pamit anak laki-laki itu
“ah.. iya.. hati-hati” ucap hime tersenyum padanya. Anak laki-laki itu pun pergi.
“hime siapa anak laki-laki itu?” tanyaku
“ah! Aku ganti baju dulu, ya.. tunggu sebentar” ucapnya tak menjawab pertanyaanku dan langsung pergi untuk berganti baju. “Siapa anak laki-laki itu? kenapa dia akrab sekali dengan hime?” pertanyaan terlintas dipikiranku. Hime pun sudah selesai, kami pun akhirnya pulang bersama.
“hime-chan, kau belum menjawab pertanyaanu tadi.. siapa anak laki-laki itu?” tanyaku
“dia kei-chan.. hehehe.. ah! Ryo-kun.. sudah dulu ya.. sampai jumpa besok!”  jawabnya tersenyum, dia pun berjalan pulang. “hime, aneh sekali.. ah! Sudahlah.. mungkin anak laki-laki itu hanya pelanggan” ujarku sambil berjalan pulang.

Author’s POV
Keesokan harinya tidak seperti biasanya, hari ini hime dan ryosuke tidak bertemu sama sekali. ryosuke mencoba menemui hime di kelasnya, tapi hime tak ada. Ryosuke mencari ke seluruh sekolah tapi tetap tak ketemu. Akhirnya, ryosuke pun memutuskan untuk menemui hime di toko seusai kursus seperti biasanya.

Ryosuke’s POV
Aku berjalan menuju toko takahashi-san seperti biasa. Aku ingin cepat-cepat sampai dan bertemu hime karena seharian ini aku tak bertemu dengannya, mungkin karena dia sedang sedang sibuk tadi. Sesampainya di toko, dengan bersemangat aku segera masuk untuk menemui hime. Pandanganku menyapu seluruh bagian toko mencari hime.
“eh, ryo-kun.. kamu mencari hime ya?” tanya takahashi-san mengagetkanku
“iya.. dia ada?” ucapku
“ah.. dia baru saja pergi dengan kei-kun” ucap takahashi-san. darahku berdesir mendengar ucapan takahashi-san.
“ apa anda tahu mereka pergi kemana?” tanyaku penasaran
“emm.. tidak.. hime tak mengatakan apapun padaku. Maaf ryo-kun” jelas takahashi-san
“oh, tidak apa.. kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih takahashi-san” ucapku sembari meninggalkan toko takahashi-san. aku berjalan pulang sendirian. Pikiranku dipenuhi dengan seribu pertanyaan yang tak terjawab. Sebenarnya, siapa kei-kun itu? apa hubungan hime dengan kei-kun? Apa hime menyukai kei-kun? Apa hime tak mencintaiku lagi? Hime.. sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? seluruh pertanyaan itu membayang-bayangiku sepanjang jalan pulang. jalanan yang biasa kami lewati berdua dengan canda tawa, serasa berubah menjadi jalanan yang sangat sepi.
-----------------------------------------------------------------
Author’s POV
“bagaimana, apa kau sudah siap?” tanya seorang perempuan yang sedang duduk di bangku taman sambil menelepon
“ya.. sudah siap.. sekarang giliranmu” jawab seorang laki-laki diseberang telepon
“baiklah, akan kubuat dia kembali ke pelukanku” ucap perempuan itu sembari menutup teleponnya.
Ryosuke’s POV
Aku terus berjalan dengan malas. Aku menjadi seperti orang linglung, kutundukkan kepalaku sepanjang jalan. Yang terpikir olehku hanyalah hime. Aku menyebrang jalan yang kurasa sudah sepi, tapi tiba-tiba.. TIIINNNNN!!!! Suara klakson sebuah mobil yang sedang melaju cepat tak jauh dariku membuatku tersadar dari lamunanku. Aku melihat mobil itu. “mungkin ini akhir hidupku, kalau aku mati. Aku tak akan merasa sakit hati seperti ini lagi” pikirku. Kupejamkan mataku, menyerahkan tubuhku agar ditabrak oleh mobil itu. BRUUKKKK!!! kurasakan seseorang menarik lenganku dengan kuat ke tepi jalan hingga tubuhku jatuh menimpanya. Ku coba membuka mataku, melihat orang yang sudah menyelamatkanku dari maut. betapa terkejutnya aku saat mengetahui kalau orang yang menyelamatkanku adalah nana, dan dia dalam keadaan tak sadarkan diri akibat kejadian barusan.
“nana!nana! sadarlah! Nana!” aku mengguncang-guncang tubuh nana, berharap dia segera sadar
“ryo..kun..” ucapnya lirih
“nana.. kau baik-baik saja??” tanya ku panik
“un.. aku senang kau selamat” ucapnya tersenyum sambil berusaha mendudukkan badannya. Aku pun membantunya.
“kenapa kau begitu ceroboh, ryo-kun” ucapnya sambil mengerutkan keningnya. Aku hanya diam mendengar ucapan nana. “ah! Kakiku.. sepertinya terkilir!” pekik nana sambil memegangi kakinya
“ah! Kalau begitu kita rawat dirumahku saja. Ayo” ucapku sembari mengambil posisi jongkok untuk menggendongnya di punggungku. Aku menggendong nana dan berjalan pulang.
“nana, terima kasih kau telah menyelamatkanku” ucapku
“iya.. ryo-kun. Aku sangat merindukanmu” ucapnya sambil melingkarkan tangannya di leherku. Aku hanya diam tak merespon.
“haaahh.. tapi kau sudah bersama hime” tambah nana, hatiku serasa teriris mendengar ucapan nana.
“walaupun awalnya aku tak suka melihatmu dengannya, tapi aku akhirnya bisa merelakanmu. aku menyadari, aku ingin melihatmu bahagia dan aku ingin selalu melihat senyumanmu, walaupun kau tak tersenyum bersamaku” ujar nana sambil menyandarkan kepalanya di bahuku, tapi aku tak bisa berkata apa-apa. aku hanya diam sepanjang jalan dan hanya memikirkan hime. Hime, kenap kau mengkhianatiku?
“nana, kita sudah sampai” ucapku
“wahh~ sudah lama aku tak ke rumah ryo-kun. Turunkan aku ryo-kun, aku sudah tak apa-apa” ucapnya girang. Aku menurunkan nana dan membantunya untuk berjalan. aku membuka pintu dan kami pun masuk. tapi kenapa aneh sekali, kenapa gelap dan sepi sekali? kemana semua orang? Aku heran melihat keadaan rumah yang sudah seperti rumah hantu karena gelapnya. Aku pun menyalakan lampu dan betapa terkejutnya aku melihat semua keluargaku sudah berkumpul disana dan menyanyikan lagu ulang tahun bersamaan dengan hidupnya lampu di ruangan itu. aku tersenyum tak bisa berkata apa-apa. ternyata kejutannya bukan itu saja, tiba-tiba hime dan kei-kun pun keluar dari dapur dengan membawa cake berhias strawberry kesukaanku lengkap dengan lilin di atasnya. Hime menyodorkan kue itu agar aku meniup lilinnya.
“yeeeyyy!!” teriak nana sambil tepuk tangan dan melompat-lompat kecil
“loh, nana.. bukannya kakimu sakit?” tanyaku heran
“hehehe.. itu hanya pura-pura.. iya kan kei-kun?” ucap nana sembari menghampiri kei-kun
“eehh?? Apa maksudnya ini?” tanyaku heran
“hahaha.. iya.. rencana kita berhasil. Padahal awalnya aku takut kalau sampai benar-benar menabrak ryosuke tadi” ucap kei-kun merangkul bahu nana
“iya.. tapi nyatanya.. kita berhasilkan” ucap nana tersenyum
“hahaha.. aku ingat saat melihat ekspresi ryo-kun yang cemburu melihat ku bersama inoo-nii. Lucu sekali!” ucap hime “iya, lucu sekali!” tambah kei-kun, semua orang pun tertawa
“apa?? nii? Jadi Kei-kun itu..”
“niichanku” jawab hime sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku
“apaaa?! Ja..Jadi saat itu di toko dan tadi kau meninggalkanku itu semua adalah rencana?” tanyaku
“iya!” jawab hime dengan santai
Seketika itu, kupeluk hime “yokattaa~ apa kau mencintaiku, hime?” ucapku sambil memeluknya erat.
“hehehe.. iya, ryo-kun~ dan tenang saja, aku tak akan pernah mengkhianatimu kok. Aku sangat mencintaimu” ucapnya membalas pelukanku
“sudah.sudah.. kalian ini ya! ayo kita rayakan pestanya” ucap okaachan sambil menyiapkan piring
“baik” ucap kami semua serentak
Kami pun merayakan pesta ulang tahunku yang ke 18. Pesta ulang tahun terbaik bagiku.
++++++++++++++THE END++++++++++++++

[Fanfic] SPRING LOVE (Oneshoot)

Ini fanfic yang pertaaaaaamaaaa kali aku buat. Jadi bahasanya masih acakadul (walaupun sampe sekarang juga masih acakadul sih. hehe). So happy reading, minna (^0^)

Tittle : Spring Love
Author : Nishiyama Hime
Genre : Friendship, Romance
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Arioka Daiki, Yabu Kouta, Yaotome Hikaru, Nishiuchi Mariya, Shida Mirai

[Spring Love]
SPRING LOVE
Suatu pagi di musim semi..
 “Ohayou minna!” sapa seorang anak perempuan cantik berambut panjang kepada 2 anak laki-laki, teman sejak kecilnya.
“ohh.. Mariya.. Ohayou!” jawab anak laki-laki yang bertubuh tinggi yang juga sepupu Mariya.
“Ohayou..” jawab anak laki-laki satunya dengan senyum yang menawan.
 Mereka pun berangkat sekolah bersama-sama. Sesampainya di sekolah, mereka pun menuju kelas masing-masing. Yuto dan Ryosuke kelas A sedang Mariya B, walaupun tidak 1 kelas mereka selalu berangkat dan pulang bersama. Mereka sangat akrab, yaahh.. tentu saja karena mereka sudah menjadi sahabat sejak TK.
“eh.. yuto-kun,ryo-kun.. aku dengar kalian akan ada pertandingan sepak bola minggu depan, Dan kalian harus berlatih sepulang sekolah. ini aku buat kan makan siang untuk kalian” kata mariya sambil memberikan kantong berisi kotak makan dan sebuah botol air minum pada mereka.
“arigatou gozaimasu!” kata ryosuke dan yuto dengan mengembangkan senyum mereka.
“Un.. Ganbatte ne! Aku akan melihat kalian berlatih setelah rapat OSIS nanti” kata mariya sambil pergi menuju kelasnya.
Bel masuk pun berbunyi, para siswa ke kelas masing-masing dan pelajaran pun dimulai.
----------------------------------------------------------
                Pelajaran terakhir pun berakhir, para siswa segera pulang. Beberapa masih di sekolah karena ada kegiatan klub. Mariya pun pergi ke ruang OSIS dengan temannya, Mirai.
“Mariya, kali ini rapatnya membahas tentang festival sekolah kan? Apa kau sudah membawa daftar tema yang akan di pakai setiap kelas?” tanya Mirai
“ya, sudah.. kalau aku tidak membawanya. Aku bisa dimarahi habis-habisan sama kak yabu” jawab Mariya
“fyuh.. syukurlah.. ayo cepat! Rapatnya akan segera di mulai”
                Rapat pun di mulai, yabu bersama wakilnya hikaru memimpin rapat mengenai festival sekolah tersebut. Para anggota pun mengutarakan pendapat masing-masing. Dan sebagai sekretaris mariya mencatat pendapat-pendapat tersebut. Rapat pun usai, mariya dan mirai keluar dari ruangan.
“haaaaahhhh..... banyak sekali tugasku...” keluh Mariya
“iya... sama...” kata Mirai.
“sudah.. jangan mengeluh terus.. nanti malah tidak selesai tugasnya.. kita membutuhkan proposalnya segera, jadi tolong cepat selesaikan, ya” kata yabu menepuk bahu mariya sambil tersenyum.
“ya... benar.. festivalnya akan di adakan 2 minggu lagi kan..” tambah hikaru.
“yaaa.... kami akan berjuang....” kata mereka berdua dengan wajah yang merasa semakin terbebani mendengar kata-kata ketua dan wakil yang menjadi idola anak-anak perempuan di sekolah itu.
“kami duluan ya.. cepatlah pulang dan mengerjakan tugas kalian..” kata yabu dan hikaru sambil berjalan pulang.
“huuuhhh... menyebalkan sekali mereka itu.. kenapa harus kita yang mengerjakan ini semua.. kenapa tidak menyuruh kak inoo dan kak takaki mengerjakannya juga.. mereka kan juga sekretaris dan bendahara..” kata mariya kesal
“haaahhh... kalau itu sih pasti alasannya karena kita masih kelas 2 dan harus lebih banyak mendapatkan pengalaman agar nantinya bisa memimpin oSIS” kata mirai sambil menirukan gaya kak yabu dengan senyum mematikannya.
“Aaaahh.. menyebalkan! Haahhh... ya sudahlah, ayo kita pulang..” kata mariya
“eehhh.. bukannya katamu.. kamu mau melihat ryosuke dan yuto latihan?” kata mirai
“Aaaahhhh... yabai!! aku lupa! Mirai, apa kau mau ikut?” Kata mariya
“ehm.. baiklah.. aku juga mau lihat kak daiki, ah” kata mirai
                Mereka pun pergi ke lapangan sekolah.
“aahh.. itu mereka.. kyaaaaa... kak daiki keren sekali...” kata mirai
“eehhmm... mirai-chan... kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu pada kak daiki?” tanya mariya
Spontan wajah mirai memerah “eehhh.... aku... aku tidak berani mengatakannya”
“eeeehhhhh??? Kenapa begitu... kalau kau tidak cepat bisa keduluan perempuan lain loh..” kata mariya
“eehhhmmm... benar juga.. tapi.. oh iya.. bagaimana denganmu?” tanya mirai
“eeehhhhmmmm..” wajah mariya memerah “aahhh.. waktunya mereka istirahat.. ayo kesana!” kata mariya mengalihkan pembicaraan sambil berjalan menghampiri ryosuke dan yuto
“huh, dasar!” kata mirai sambil berjalan mengikuti mariya
“waahhh..permainan kalian bagus sekali..” kata mariya pada kedua sahabatnya yang sedang mengelap keriat mereka dengan handuk kecil
“yaaaahhhh... karena aku dan ryo akan menjadi bintang sepak bola dunia di masa depan.. ya kan ryo?” kata yuto sambil merangkul bahu ryosuke
“yaakkk.. betul sekali!” kata ryosuke dengan semangat
“oke!! Aku akan mendukung kalian.. berjuanglah!!” kata mariya ikut bersemangat
“hahahaha... kalian akrab sekali ya..” kata daiki sambil berjalan menghampiri mereka berempat
“eehh.. kak daiki..” kata mirai dengan wajahnya yang memerah
“kak daiki.. permainan kakak tadi juga bagus” kata mariya
“arigatou gozaimasu” kata daiki sambil tersenyum yang membuat wajah mirai memerah melihatnya
“aaahhh.... yabai! Bukuku ada yang ketinggalan di kelas.. ehm.. ryo-kun,yuto-kun tolong antarkan aku mengambilnya.. kak, aku pinjam mereka dulu ya..” kata mariya sambil menarik tangan kedua anak itu
“eehh.. tu..tunggu...” kata mirai pada mereka bertiga tapi mereka sudah pergi
“haah.. mereka benar-benar akrab ya..” kata kak daiki
“eh..eh.. i..iya..” kata mirai gugup
“oh iya, mirai-chan.. kamu bendahara OSIS kan? Kata hikaru, festival sekolah akan dilaksanakan 2 minggu lagi.. waah, pasti kau banyak tugas ya.. berjuanglah!” kata daiki sambil tersenyum dan membuat muka mirai tambah merah
“Um.. anoo... kak daiki.. ada sesuatu yang ingin kukatakan” kata mirai memberanikan diri
“eehh, ada apa? Apa itu mengenai sikap yabu,inoo,hikaru dan takaki yang semena-mena memberikan tugas pada kouhai nya? Hahaha.. mereka itu memang sadis.. kamu yang sabar ya.. punya senpai seperti mereka” kata daiki bercanda memecah suasana yang canggung itu
“eehhh.. bukan.. itu.. eehhmm.. anoo..” kata mirai makin gugup
“eh? Ada apa? Katakan saja..” kata daiki
“BERJUANGLAH KAK.. AKU AKAN MENDUKUNGMU!” kata mirai
“eehh... iya.. terimakasih.. aku akan berusaha! Mirai-chan juga ya!” kata daiki
“Un.. a.. aku pulang dulu ya kak” kata mirai masih gugup
“ah, tunggu dulu mirai-chan” kata daiki memegang tangan mirai
“bisa kah kau datang di pertandinganku?” kata daiki
“ahh.. i..iya.. bi..bisa..” kata mirai terbata-bata
“YATTAAAAA!!!!” teriak daiki sambil langsung memeluk mirai
“ka..kak.. daiki?” kata mirai kaget
“mirai-chan.. aku menyukaimu..” kata daiki pelan di telinga mirai
Mirai terkejut mendengar kata daiki dan langsung melepaskan diri dari pelukan daiki. Daiki diam menunggu respon dari mirai.
“anooo.. sebenarnya.. aku.. aku juga menyukai kak daiki..” kata mirai dengan muka merah padam
“arigatou gozaimasu, mirai-chan” kata daiki dan memeluk mirai lagi
“YAAATTTTTAAAAA!!!!” tiba-tiba terdengar suara mariya,yuto,dan ryosuke dari semak-semak
“eehhh... apa yang kalian lakukan di sana?!” tanya daiki terkejut dan langsung melepas pelukannya
“hehehe.. gomen ne” kata mariya
“hehehe.. akhirnya kau bisa melakukannya juga.. hehehe” kata ryosuke dan yuto
“dasar kalian ini....!!!” kata daiki mengejar mereka bertiga
                hari pertandingan pun tiba, mirai dan mariya datang untuk memberi semangat. Pertandingan pun di mulai.. para penonton menyemangati dengan antusias..
“mariya, sekarang giliranmu. Kau harus mengatakan perasaanmu pada ryosuke!” kata mirai membuat mariya terdiam
“eehhh.... tapi.. bisakah aku mengatakannya?” tanya mariya
“’kalau kau tidak cepat bisa keduluan perempuan lain loh’ begitu kan katamu padaku waktu itu?” kata mirai
Mariya mengambil nafas dalam dan menghembuskannya “baiklah! Sudah ku putuskan! Kalau mereka memenangkan pertandingan ini aku akan mengutarakan perasaanku!” kata mariya mantap
                pertandingan pun semakin seru. Mariya melihat dengan perasaan tak karuan. Karena kalau tim ryosuke memenangkan pertandingannya, dia akan menepati kata-katanya tadi. Akhirnya pertandingan pun usai dan tim ryosuke memenangkan pertandingan itu. Sekarang saatnya mariya menepati kata-katanya. Mariya dan mirai berjalan menemui ryosuke,yuto dan daiki.
“selamat ya... kalian memenangkan pertandingannya” kata mirai
“terimakasih... telah mendukung kami” kata daiki,yuto dan ryosuke
“hey!mariya.. kau kenapa? Kau tidak sehat ya?” tanya yuto pada sepupunya yang dari tadi diam saja
“eehh tidak.. aku tidak apa-apa.. ehm, ryo-kun.. bisa kita bicara sebentar?” kata mariya
“ehm, baiklah” kata ryosuke
                Mereka berdua berjalan menuju  belakang stadion
“ehhmm.. sebenarnya ada apa mariya?” tanya ryosuke
“anooo... ryo-kun... a.. aku.. sebenarnya... menyukaimu” kata mariya memberanikan diri
                Suasana pun menjadi hening.
“mariya.. gomen.. aku tidak bisa menjawab perasaanmu sekarang” kata ryosuke
                Sebelum mariya menjawab terdengar panggilan agar semua anggota tim berkumpul karena piala akan diberikan. Merekapun akhirnya kembali ke stadion. Piala diberikan, dan semuanya bergembira atas kemenangan tim sekolahnya. Seusai acara itu, mereka pun pulang bersama.
“hey,ryo! Kau kenapa? Kok daritadi kau hanya diam saja? Bicaralah sedikit.. kita kan sudah menang..” kata yuto dengan semangat merangkul bahu ryosuke
“ehh...aku tidak apa-apa.. iya..iya.. kita menang..” kata ryosuke sambil tersenyum pada sahabatnya itu
“anooo.. kita berpisah disini ya.. sampai jumpa besok!” kata mariya
“loh, kamu mau kemana mariya?” tanya mirai
“ehm, aku disuruh ibuku membeli sesuatu.. jaaa..” kata mariya sambil berjalan meninggalkan teman-temannya
                Mariya terus berjalan tak tentu arah tujuan, hatinya begitu hancur mendengar kata ryosuke tadi. Tiba-tiba air matanya sudah membasahi pipinya. Dia menangis, dia menangisi kebodohannya. Seandainya dia tidak menyukai ryosuke, dia tidak akan merasa sesakit ini.
                Keesokan harinya, seperti tidak seperti biasanya. Mariya tidak berangkat bersama yuto dan ryosuke. Dia berangkat lebih awal untuk menghindar dari mereka berdua. Dia tidak bisa bertemu dengan ryosuke, dia takut ryosuke membencinya gara-gara kejadian kemarin. Mariya terus, menghindari mereka. Sampai akhirnya, festival sekolah pun tiba. Semua sudah mempersiapkan segalanya. Mariya masih menghindar dari ryosuke dan yuto.
“mariya, sebenarnya kenapa sih? Seminggu ini dia benar-benar aneh!” tanya yuto pada ryosuke tapi ryosuke tidak menjawab
“hoy, ryo! Kenapa kau jadi ikut-ikutan aneh sih..” kata yuto lagi
“aahh, maaf aku sedang memikirkan sesuatu” jawab ryosuke
“eeeehhhh? Sudah..sudah.. jangan terlalu serius begitu.. ini kan festival sekolah.. ayo kita bersenang-senang!” kata yuto berjalan sambil menarik tangan ryosuke ke penjual takoyaki
                Yuto dan ryosuke menikmati festival sekolah berdua tanpa mariya. Akhirnya festival pun usai, para siswa bergotong royong membereskan semuanya. Sampai akhir acara mariya,yuto dan ryosuke menjadi seperti orang yang tidak saling kenal, mereka tidak menyapa sedikit pun. Mariya menjadi merasa bersalah, dia memutuskan untuk meminta maaf pada ryosuke. Dan keesokan harinya, mariya memberanikan diri untuk berangkat bersama yuto dan ryosuke.
“Ohayou, mi... loh dimana ryo-kun?” tanya mariya yang heran karena yuto tidak bersama ryosuke
“dia pindah” jawab yuto dengan muka sedih
“haahh?? Apa maksudmu?” tanya mariya tidak percaya
“dia pindah ke Inggris bersama keluarganya. Katanya ayahnya dipindahtugaskan ke Inggris. Maka dari itu mereka pindah dan ryosuke juga akan bersekolah di sana karena disuruh oleh ayahnya.” Kata yuto menjelaskan
“apa??? Tidak mungkin.. kenapa dia tidak berpamitan dulu pada kita pada teman-temannya?” tanya mariya sambil menangis.
Yuto memberikan surat yang ia dapat dari tetangga ryosuke pada mariya “itu dari dia” tambah yuto
Mariya membaca surat itu, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Dia benar-benar merasa bersalah, ia merasa ryosuke membencinya dan sekarang dia tidak bisa meminta maaf pada ryosuke. Dia tidak mau memberitau yuto tentang perasaannya pada ryosuke. Dia takut, yuto juga akan membencinya. Dia begitu takut jika itu terjadi.
Beberapa tahun pun berlalu. Mariya dan yuto sudah lulus perguruan tinggi. Mereka menjadi sibuk dengan urusan masing-masing dan jadi jarang sekali bertemu. Mariya sangat merindukan kedua sahabatnya yang selalu bersamanya dulu. Dia rindu saat-saat dimana mereka bersenang-senang bersama. Suatu hari, mariya berjalan-jalan mengelilingi tempat-tempat dimana mereka bertiga selalu bersama dulu. Mulai dari jalan yang selalu dilewatinya saat berangkat sekolah dan semua tempat yang pernah dikunjunginya bersama kedua sahabatnya itu. Dia berharap dengan begitu rasa rindunya akan sedikit terobati. Akhirnya dia sampai di stadion dimana dia mengutarakan perasaannya pada ryosuke dulu. Rasa bersalah kembali muncul, dia mulai menangis lagi di stadion sepi itu. Tapi tiba-tiba, dari belakang ada seseorang yang menutup mata mariya dengan kedua tangannya. Mariya terkejut dan berusaha melepaskan tangan orang yang menutupi matanya itu.
“jangan menangis..” kata orang itu
Mariya terkejut mendengar suara orang itu, dia meraba tangan yang yang menutupi matanya “ryosuke-kun?” tanyanya ragu
Orang itu melepaskan tangannya. Mariya pun segera berbalik untuk melihat wajah orang itu. Betapa terkejutnya mariya saat melihat wajah orang yang sudah tidak asing baginya “ya.. ini aku” kata ryosuke sambil mengembangkan senyum manisnya yang tak berubah. Mariya langsung memeluk ryosuke.
“maaf..maafkan aku..” tanyanya sambil menangis.
 “kenapa kau tidak bilang dari dulu tentang perasaanmu itu?” tanya yuto yang tiba-tiba datang
“maaf, aku tidak bisa.. aku takut, kau akan membenciku.” Kata mariya
“dasar bodoh, apa yang kau pikirkan?! Aku tidak akan membencimu gara-gara hal seperti itu” kata yuto sambil menghapus air mata yang membasahi pipi mariya.
“mariya.. maaf telah membuatmu menunggu begitu lama.. sebenarnya aku juga menyukaimu” kata ryosuke
Mariya memeluk ryosuke lagi.
“yaaahhhh..... baiklah! Sekarang kita semua sudah berkumpul seperti dulu.. hey ryo! Sebagai hukuman karena kau tidak pamit pada kami saat kau pindah, kau harus meneraktir kami makan okonomiyaki!” kata yuto bersemangat
“dasar bodoh! Kenapa yang kau pikirkan hanya makanan saja?!” kata mariya memukul yuto
“hahahaha... baiklah!! Ayo kita makan okonomiyaki sepuasnya!!” kata ryosuke sambil merangkul sahabat dan pacarnya itu.
                Mereka pun berjalan ke kedai okonomiyaki dengan gembira. Mereka pun menjadi sahabat selamanya.. ups, ralat.. ryosuke dan mariya hidup bahagia dan bersahabat dengan yuto selamanya.

~~~~~THE END~~~~

Oke, masih dalam masa kangen Ryuu. Ini drabble pertamaku yang aku buat sekitar 2 tahun yang lalu. Selamat membaca! ^_^

Tittle : Don't Wanna Say "Good Bye"
Author : Nishiyama Hime
Genre : General
Cast : Morimoto Ryutaro x OC


Don't Wanna Say "Good Bye"