?

Log in

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 1-

Okeee Doumooo!!
Ini fanfic ber-chapterku yang saaaaaangaaaat panjang.
Semoga nggak bosen bacanya. Douzo! (^o^)9

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Part 1]
Story 1 part 1
Author’s POV
DRAP..DRAP..DRAP..
Seorang gadis menuruni anak tangga rumahnya dengan tergesa-gesa. Sementara itu, seorang laki-laki yang duduk di ruang makan sambil membaca buku sudah mengerutkan keningnya karena terganggu oleh keributan yang dibuat gadis itu.
“Ohayou, niichan~” sapa gadis itu sesampainya di ruang makan
“kenapa kau tak bisa menghilangkan kebiasaan burukmu tiap pagi?! Berisik tau!” ucap laki-laki itu ketus
“hehehe... maaf..maaf.. mana niini?” tanya gadis itu sambil melahap makanan yang sudah siap di depannya
“dia sudah berangkat, katanya ada urusan di kampusnya”
“oww...” gadis itu pun melanjutkan menyantap makanannya
“hey, Hime.. kenapa hanya Kou-nii saja yang selalu kau panggil ‘niini’ sedangkan kau selalu memanggilku ‘niichan’. apa kau lebih sayang Kou-nii daripada aku?” ucapan laki-laki itu berhasil membuat gadis yang bernama Hime itu hampir tersedak karena kaget
“hahahahaha... niichan..niichan... kau cemburu ya... hahaha..” Hime tak bisa menahan tawanya, dan orang yang merasa ditertawakan oleh Hime pun segera memasang wajah cemberutnya
“kalau aku memanggilmu ‘niini’ juga kan jadi bingung.. makanya, Kei-nii aku panggil ‘niichan’ sedangkan Kou-nii aku panggil ‘niini’ biar gak sama. Dan aku sayang kalian semua kok” jelas Hime pada kakaknya itu dan dia pun kembali tertawa
“uh! Dasar kau! sudah cepat selesaikan makanmu!” ucap Kei sambil memukul kepala Hime dengan buku tebalnya
“aaww.. ittaaii~” Hime hanya meringis sambil mengelus kepalanya
TING..TONG.. tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
“ah! Itu pasti Yama-chan!” Hime segera bangkit dari kursinya hendak membukakan pintu tapi Kei mencegahnya
“segera habiskan makananmu! Biar aku saja yang bukakan pintu” ucap Kei segera menuju pintu depan. Hime pun menuruti kata kakaknya, dia segera menghabiskan makanannya. Beberapa saat kemudian, Kei kembali dengan membawa orang yang memang setiap pagi selalu datang ke rumahnya untuk menjemput Hime.
“ohayou gozaimasu” orang itu memberi salam
“aah! Ohayou, Yama-chan” jawab Hime yang sedang meletakkan peralatan makannya di dapur
“ohayou, Hime!” ucap seorang laki-laki yang datang bersama Yama-chan. Melihat laki-laki itu, sontak Hime langsung mengarahkan telunjuknya, menunjuk ke arah orang itu dengan wajah kaget seperti melihat setan.
“Ryuu! Kenapa kau ada di sini?!” tanya Hime pada orang yang berdiri dibelakang pacarnya itu
“memang kenapa? Hari ini aku ingin berangkat bersama oniisanku. Huh! Dasar kau, nenek sihir!” ucap Ryuu sambil mengeluarkan lidahnya, meledek Hime.
“apa kau bilang?! Awas kau Ryuu!!” Hime segera mengejar Ryuu. sedangkan Kei segera mengambil tasnya dan bersiap untuk berangkat
“Yamada-kun, segera kau hentikan mereka berdua sebelum rumah ini hancur. Aku pergi dulu. Jaa~” ucap Kei sambil menepuk bahu Yamada.
“hai.. itterashai!” ucap Yamada tersenyum. setelah Kei pergi, Yamada segera melipat lengan baju seragamnya dan mengambil ancang-ancang untuk menghentikan acara kejar-kejaran itu. dan tak butuh waktu lama, kedua tangan Yamada sudah menjewer telinga Ryuu dan Hime. mereka berdua pun langsung menghentikan ulah mereka.
“sudah kuduga, kalian pasti akan bertengkar lagi kalau bertemu. Sekarang ayo kita berangkat! kita bisa terlambat nanti!” ucap Yamada
“baik~” jawab Hime dan Ryuu pasrah. Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah bersama.

Hime’s POV
Namaku Nishiyama Hime, anak bungsu dari tiga bersaudara. Aku tinggal bersama kedua kakakku karena orang tua kami sedang ada pekerjaan di luar negeri. Aku baru kelas 1 SMA sedang kedua kakak laki-lakiku sudah kuliah. Kota-nii sekolah di fakultas kedokteran, Universitas Tokyo. sedangkan kei-nii baru saja masuk di Universitas Meiji jurusan arsitektur. Yaahh.. mereka berdua jadi sibuk dengan urusan sekolahnya masing-masing. Untung saja orang di sebelahku ini selalu ada saat aku kesepian karena ditinggal kedua kakakku. Ya, dia Yamada Ryosuke pacar sekaligus senpai ku. Yama-chan kelas 3 di sekolah yang sama denganku. Dan adiknya Yamada Ryutaro, dia adalah teman sekelasku. Bisa dibilang aku dan Ryuu tak pernah akur kalau bertemu. Aku juga tak tau kenapa bisa begitu, tapi Ryuu itu memang menyebalkan sekali >.< aku selalu gemas setiap melihatnya.
Kami bertiga berjalan menuju sekolah, sesampainya di sekolah..
“yakk, kita berpisah disini. Cepat masuk kelas dan jangan bertengkar lagi!” perintah Yama-chan
“Baik, kapten!” aku dan Ryuu menjawab bersamaan sambil menempelkan tangan di dahi, memberi hormat pada Yama-chan. Yama-chan tersenyum melihat tingkah kami. aku dan Ryuu pun pergi ke kelas.
“Hime! aku akan menjemputmu di cafe seusai kegiatan klub nanti” ucap Yama-chan setengah berteriak
“ya~ sampai jumpa nanti, Yama-chan” ucapku sambil melambaikan tangan
“aahhh.. selalu saja! Aku jadi selalu pulang sendiri!” gerutu Ryuu
“sudah.. diam! Ayo cepat masuk!” kudorong Ryuu masuk kelas
“ohayou, Hime.. Ryuu..” sapa seorang perempuan berambut pendek saat melihat kami masuk kelas
“ohayou, yui-chan!” balasku
“ohayou..” balas Ryuu dan dia pun segera pergi ke tempat duduknya
“eh, Hime.. katanya hari ini akan ada tambahan menu di cafe, kan.. waahh, pasti nanti sibuk sekali, ya” ucap Yui sambil menghela napas
“iya, ya.. ah! Tapi ayo semangat! kita pasti bisa melakukannya!” ucapku menyemangati sahabatku. Dia Takahata Yui, sahabatku yang dari SMP. Dia juga bekerja sambilan di tempat yang sama denganku, di cafe kecil di depan taman kota. Saat sedang asyik ngobrol, sensei tiba-tiba masuk. Kami pun kembali ke tempat duduk masing-masing dan pelajaran pertama pun dimulai.
=========================================================

Author’s POV
Pelajaran terakhir pun usai. Hime dan Yui segera berangkat ke cafe. Sesampainya di cafe..
“konnichiwa~ minna!” ucap mereka berdua memasuki cafe kecil itu
“Konnichiwa” ucap semua pegawai cafe itu hampir berbarengan. Apalagi Yuto dan Keito, dua pelayan laki-laki yang terkenal dikalangan pelanggan cafe tersebut. mereka berdua paling semangat menyambut kedua perempuan itu.
“Hime-chan, Yui-chan.. cepat kalian bersiap-siap.. kita sibuk sekali hari ini!” perintah seorang laki-laki yang merupakan pemilik cafe itu.
“baik, Takaki-san” jawab mereka. mereka segera pergi ke ruang ganti untuk bersiap-siap. Setelah itu mereka pun mulai bekerja sebagai pelayan di cafe seperti biasanya.
Cafe tempat mereka bekerja adalah cafe kecil yang menjual cake, kue dan juga berbagai minuman. Pemilik cafe itu adalah kakak beradik keluarga Takaki. Takaki Yuya menjadi manager cafe itu, sedang adiknya, Takaki Yuri ikut membantu kakaknya mengurus cafe. Karena tempatnya yang nyaman dan para pelayan yang keren-keren, cafe itu jadi tak pernah sepi pengunjung.
“haaahh... akhirnya, bisa sedikit santai” ucap Hime sambil menyandarkan badan di kursi di ruang ganti
“ya.. tapi kita masih belum tutup” ujar Yui yang datang membawa 2 gelas orange juice
“haaahh, benar.. baiklah.. ayo kita berjuang lagi!” ucap Hime bersemangat sembari meneguk orange juice yang dibawakan Yui. Setelah habis, Hime pun kembali bekerja. Saat akan melayani pelanggan, pandangannya tertuju melihat sosok orang yang sangat dikenalnya. Dia pun menghampiri orang itu.
“niini, sedang apa di sini?” sapa Hime pada orang yang duduk di bangku dekat jendela itu
“oh, Hime.. hari ini tugas kuliahku sudah selesai jadi aku mengajak Yuu kemari” ucap orang yang tak lain adalah Nishiyama Kota, kakak Hime.
“waahh.. dengan Yuu-nee, ya.. mana dia?” tanya Hime dengan antusias mengetahui kakaknya datang dengan pacarnya. Hime memang dekat dengan pacar kakaknya itu.
“dia sedang ke toilet”
“ah.. itu dia” ucap Kota melihat Yuu sudah kembali
“hey... hisashiburi, hime-chan~ !” sapa Yuu
“hisashiburi.. neechan~!” balas Hime
“hey..hey.. kapan kalian akan bertunangan?” tanya Hime mulai menggoda sepasang kekasih itu
“Sssttt.. sudah.sudah.. cepat kembali bekerja sana!” ucap Yuu sambil mendorong Hime agar kembali bekerja. Hime pun tersenyum dan kembali bekerja.
“dasar anak itu..” gumam Kota datar sembari melihat daftar menu. Yuu tersenyum melihat sikap pacarnya itu
Pintu cafe terbuka dan masuklah seorang pelanggan lagi, lebih tepatnya kakak Hime lagi, Nishiyama Kei. Dia langsung disambut oleh Hime.
“niichan juga.. selamat datang!” ucap Hime tersenyum
“apa maksudmu dengan ‘juga’?” tanya Kei heran
“itu.. niini juga ada, Itu di sana” jawab Hime sambil menunjuk ke tempat duduk kakak pertamanya
“oohh.. dia bersama Yuu” ucap Kei datar, Kei pun segera menghampiri tempat kakaknya
“ternyata kau disini, Yuu. Ini tugasmu tertinggal di kelas tadi” ucap Kei sambil memberikan gulungan kertas pada Yuu
“arigatou, Kei. Untunglah~” ucap Yuu tersenyum, tapi hanya dibalas dengan senyum simpul Kei
“Kei, kenapa kau disini?” tanya Kota
“aku hanya ingin melihat Hime, dan akan mengembalikan tugas Yuu ke rumahnya. Tapi ternyata ketemu disini.. ehm.. ya sudah, aku pulang dulu” jawab Kei. Dia pun segera pergi.

Kei’s POV
Haaah.. kenapa selalu seperti ini. hatiku selalu sakit melihat mereka berdua bersama. aku menyukai Yuu, tapi dia kan pacar kakakku. Aku seharusnya tak boleh menyukainya lagi. kalau saja aku tak mengenalnya sebagai teman se-fakultasku. Pasti aku tak akan memiliki rasa suka seperti ini padanya. Haah.. apa yang harus kulakukan?

Author’s POV
“Daiki! lihat..lihat! Itu dia, anak keren dari fakultas teknik arsitektur yang kumaksud!” ucap seorang perempuan yang duduk dibangku taman bersama teman laki-lakinya yang sedang asyik melahap takoyaki. Perempuan itu dengan antusias menunjuk orang yang dimaksudnya.
“apaaa?? Itu kan Kei” ucap anak laki-laki yang dipanggil Daiki itu setelah melihat orang yang dimaksud temannya sedang berjalan melewati taman tempat mereka duduk.
“eehh.. kau mengenalnya?”
“tentu saja.. kakakku adalah teman dekat kakak Kei. Kami sering main ke rumahnya dulu, sebelum kakakku kuliah di luar negeri” jelas Daiki santai sambil meneruskan makan takoyakinya
“eeehh... kenapa kau tak bilang dari dulu. Kenalkan aku padanya,ya!”
“kenapa kau tak tanya dari dulu? Hey, Nana.. sudahlah menyerah saja! Kei itu tak akan menyukai cewek brutal sepertimu”
“Daiki, BAKA! Kita kan tak boleh menyerah sebelum mencoba!” pukulan Nana pun mendarat di kepala Daiki, membuat Daiki tersedak.
“apa yang kau lakukan!” ucap Daiki sambil menepuk-nepuk dadanya
“makanya.. kenalkan aku padanya, ya” pinta Nana lagi
“haaahh.. baik..baik.. tapi kau harus mentraktirku makan!”
“yatta~~ baiklah! Kalau begitu besok kita menemuinya, ya!” ucap Nana girang sambil menggoncang-goncang tubuh Daiki
“iya..iya..” ucap Daiki pasrah menerima perlakuan temannya itu

*To Be Continued*


[Part 2]
Story 1 part 2
Author’s POV
Keesokan harinya di rumah keluarga Nishiyama, seperti biasa Hime turun dari kamarnya diiringi suara berisik yang sangat mengganggu seisi rumah.
“ohayou.. niichan.. niini” ucapnya pada kedua kakaknya yang duduk di ruang makan
“ohayou hime-chan” sapa seorang perempuan dari dapur yang ternyata adalah Yuu.
“waaahh.. ada neechan.. ohayou gozaimasu~!” balasnya Hime tersenyum. dia pun segera duduk di kursinya. Mereka pun menyantap sarapan mereka.
“niini.. cepatlah kalian bertunangan dan menikah!” ucap hime tiba-tiba dan membuat kedua kakak laki-lakinya hampir memuncratkan makanan mereka karena tersedak.
“dasar anak ini! sudah kubilang, kami tak akan bertunangan apalagi menikah sebelum Yuu lulus kuliah!” ucap Kota memelototi adik perempuannya.
“eehh.. benarkah neechan?” Hime pun mengalihkan pertanyaan pada perempuan di sebelahnya. Orang yang ditanya pun hanya tersenyum dan menganguk menjawab pertanyaan Hime.
“eeehhh.. nandayo~~!!” ucap Hime kecewa
“sudah cepat, selesaikan makanmu, Yamada-kun keburu datang ,loh!” Kei yang sedari tadi diam akhirnya bicara
“ehm, baiklah kalau begitu.. Kei, Yuu.. cepat! akan kuantar kalian” ucap Kota sambil melihat jam di tangannya
“ah, tak usah Kou.. kami bisa berangkat sendiri. Kau kan masih sibuk di kampusmu, jadi berangkatlah dulu” ucap Yuu
“ya sudah kalau begitu, aku berangkat dulu ya.. jaa~” Kota pun pergi dan datanglah Yamada seperti biasanya. Tapi, kali ini dia tak bersama adiknya.
“aku pergi dulu, ya.. neechan.. niichan..” ucap Hime segera mengambil tasnya dan berangkat bersama Yamada.

Kei’s POV
Semua sudah berangkat, sekarang tinggal aku dan Yuu di rumah ini.
“Yuu, apa tugasmu sudah selesai?” tanyaku memecah keheningan diantara kami
“sudah, dong.. hehe” jawabnya sambil tersenyum. suasana pun kembali hening.
“hey.. ayo berangkat!” ajak Yuu sambil menarik tanganku. Kami pun berangkat. karena jarak rumahku dengan Universitas Meiji cukup jauh, kami berangkat dengan naik bus. Kebetulan bus yang kami naiki sudah tak begitu padat penumpang. Kami pun duduk bersebelahan.
“ehm, Yuu.. apa kau benar-benar mencintai Kou-nii?” kuberanikan menanyakan pertanyaan itu padanya
“Un! Tentu saja! Walaupun kadang sikapnya begitu dingin padaku. aku sangat mencintainya” jawabnya mantap. Hatiku bertambah sakit mendengarnya. Aku sedikit menyesal menanyakan hal itu.
“lalu, bagaimana dengan Kei? Apa kau sudah menemukan pujaan hatimu?” tanyanya sambil tersenyum menatapku
“ehm.. sudah.. ”
“tapi sepertinya bertepuk sebelah tangan” tambahku sambil membalas senyumannya
“eeeeh.. berjuanglah! Kau harus berjuang mendapatkan cintamu itu, ya!” ucapnya menyemangatiku. Yuu tak tau kalau sebenarnya orang yang aku maksud adalah dirinya. Tapi benar katanya, aku tak akan menyerah. Walau pun dia pacar kakakku aku akan terus mencoba mengambil hatinya. Kuanggukan kepalaku menyetujui perkataannya. Sesampainya di kampus, kami segera pergi ke kelas.
=========================================================
Author’s POV
Sementara itu, Nana dan Daiki berjalan menuju kelas mereka di fakultas hukum sambil mengobrol.
“hey, Daiki.. benar, ya. Nanti kau akan mengenalkanku pada Kei?” tanya Nana memastikan
“iya..iya.. nanti kukenalkan, dasar cerewet!” Daiki mencupit pipi Nana. Nana pun tersenyum sambil mengelus pipinya.
Mereka pun masuk ke kelas. Seusai pelajaran, Nana dan Daiki segera menemui Kei.
“Kei-kun~! Hisashiburi!” sapa Daiki pada Kei yang sedang duduk sambil membaca buku. Nana berjalan mengikuti Daiki.
“hisashiburi, Dai-chan!” balas Kei sambil menutup bukunya
“apa kabar? Apa hikaru-kun sudah pulang?” tambah Kei sambil menggeser duduknya mempersilahkan Daiki dan Nana duduk.
“ah, aku baik-baik saja. Kakak belum pulang. oh iya, perkenalkan dia Kuroki Nana, temanku” Daiki mulai memperkenalkan Nana pada teman lamanya itu.
“hai.. Kuroki Nana desu” ucap Nana sambil memajukan tangan kanannya.
“Nishiyama Kei desu. Senang berkenalan denganmu” ucap Kei menjabat tangan Nana. Nana tersenyum, Daiki pun sedikit menyenggolnya, memberi kode bahwa Nana harus menepati janjinya untuk mentraktir makan. Nana pun hanya membalas dengan senyuman.
“Kei! Mau pulang bareng?” tiba-tiba Yuu datang
“ah.. iya.. Dai-chan, Kuroki-san.. aku pergi dulu, ya.. sampai jumpa!” Kei melambaikan tangannya dan pergi menghampiri Yuu
“hey, Daiki.. apa kau kenal perempuan itu?” tanya Nana penasaran
“ehm.. dia teman Kei kan? dia di fakultas yang sama dengan Kei” jawab Daiki polos
“bukan itu maksudku, BAKA! Apa kau tahu hubungan mereka?” pukulan Nana mendarat di kepala Daiki.
“aaw! Aku tidak tahu!.. mungkin mereka hanya berteman biasa.. sudah ayo kita makan, kau harus menepati janjimu!” Daiki menarik tangan Nana
“eehh.. makan dimana?”
“di cafe milik kenalan kakakku saja. Aku ingin makan kue disana.”
Mereka pun pergi ke cafe yang dimaksud Daiki.
=========================================================
Sementara itu di cafe, seperti biasa tak pernah sepi pengunjung, apalagi pengunjung perempuan dan pasangan kekasih. Sang menager sedang duduk beristirahat di ruangannya. Tiba-tiba datanglah adik laki-lakinya, Yuri. Yuri pun langsung duduk di pangkuan Yuya. Walau Yuri sudah berumur 17 tahun, Yuri tetap manja pada kakaknya. Yuya yang memang sedang lelah, membiarkan adiknya itu duduk dipangkuannya.
“oniichan.. ganbatte! Masih ada banyak pelanggan” ucap Yuri mencoba memberi semangat pada kakaknya. Yuya hanya mengaguk sambil tersenyum.
“akan kubuatkan onigiri agar oniichan semangat lagi, ya!” ucap Yuri menepuk bahu Yuya. Yuri pun segera pergi membuatkan onigiri, tapi tak lama kemudian dia kembali lagi.
“oniichan, ada orang mencarimu. Dia temanmu katanya” ucap Yuri. Yuya pun segera beranjak dari kursinya dan menemui tamunya.
“yo! Yuya!” sapa orang itu
“Hikaru! Bukannya kau kuliah di luar negeri?” tanya Yuya heran melihat temannya yang seharusnya di Amerika, sekarang sudah berdiri dihadapannya.
“hehehe.. aku libur 1 bulan makanya aku pulang” jawab Hikaru
“wah, Hikaru-kun.. kamu sudah pulang, ya” ucap Hime tiba-tiba menghampiri kedua lelaki itu.
“Hime? kau mengenalnya juga?” tanya Yuya
“Un”
“hahaha.. Dia adik temanku” jelas Hikaru. Yuya mengangguk paham.
“mau pesan apa?” Hime menyodorkan daftar menunya.
“aku pesan teh saja” Hikaru memutuskan pesanannya.
“baiklah” Hime pun segera pergi menyiapkan pesanan Hikaru. Yuya dan Hikaru mengobrol lagi. tiba-tiba pintu cafe terbuka, masuklah seorang lelaki yang kelaparan dan seorang perempuan yang berjalan di belakangnya. Tanpa basa-basi 2 orang itu segera duduk di meja sebelah Yuya dan Hikaru. Hikaru yang melihat kedua orang itu langsung manghampiri sang lelaki dan memukul kepalanya.
“Ittaii~~ kenapa kau memukulku?!” Daiki segera memegang kepalanya dan menoleh ke arah orang yang memukulnya. Dia tertegun sejenak melihat orang di hadapannya itu.
“ANIKI??!!” teriak Daiki begitu sadar kalau orang dihadapannya itu adalah kakaknya sendiri. Teriakan Daiki membuat seluruh pengunjung cafe mengalihkan pandangan mereka ke asal keributan itu. Nana yang tak tahu apa-apa hanya bisa melongo melihat kejadian itu.
“ah.. sumimasen minna-san” Daiki membungkukkan badan, meminta maaf menyadari kesalahannya. Semua orang pun kembali ke kegiatan masing-masing.
“kenapa kakak di sini?!” tanya Daiki pada kakaknya
“aku libur 1 bulan jadi aku pulang” jawab Hikaru santai
“kenapa tak bilang dulu?!” ucap Daiki kesal. Hikaru menggaruk kepalanya dan tersenyum polos pada adiknya.
“ehm, siapa dia? Ah! Pacarmu, ya!” Hikaru nyerocos sendiri
“bukan.bukan! namaku Kuroki Nana, kami di fakultas yang sama” sanggah Nana
“oohh.. begitu.. aku Yaotome Hikaru.. kakak Daiki” ucap Hikaru.
Setelah berkenalan Hikaru,Yuya,Daiki dan Nana mengobrol sambil memakan kue yang mereka pesan. Setelah itu Hikaru, Daiki, dan Nana pun pulang bersama.

Hikaru’s POV
Kami pulang bersama dan berpisah di persimpangan dekat rumah kami. Aku dan Daiki pun pulang sambil mengobrol.
“hey.. Nana itu manis juga ya.. apa kau tak suka anak seperti itu?” tanyaku, tapi Daiki hanya diam tak menjawab.
“ehm.. sebenarnya, aku menyukainya.. tapi dia sudah menyukai Kei-kun. Tadi dia memintaku mengenalkannya pada Kei-kun” ucapnya mencoba menjelaskan. Daiki lalu menundukkan kepalanya.
“eehh.. Kei-kun?? Wah.. susah juga, ya. Tapi jangan menyerah Daiki!” kutepuk bahunya, mencoba menyemangatinya. Dia hanya mengangguk lemah.
Wah, ternyata rumit juga, ya. Padahal, kupikir masih ada kesempatan buatku. Yaah.. mau bagaimana lagi, aku harus mendukung adikku ini. kami pun sampai di rumah, dan kedatanganku di sambut gembira oleh kedua orang tuaku.

Kei’s POV
Seharian tadi, aku bersama Yuu tapi kenapa aku tak menyatakan perasaanku saja. Kututup bukuku dan membuka tirai jendela kamarku melihat langit malam yang berbintang.
TOK..TOK..TOK..
tiba-tiba pintu kamarku ada yang mengetuk “Kei.. apa kau sudah tidur?” ternyata Kou-nii. Aku segera membuka pintu kamarku.
“ada apa, kak?” tanyaku
“bisa bicara sebentar?” aku pun mempersilahkan Kou-nii masuk.
“Kei, sebenarnya apa kau setuju dengan hubunganku dan Yuu?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Kou-nii tanpa basa-basi. Aku langsung terdiam, aku tak tahu harus menjawab apa.
“tak usah kau sembunyikan lagi. aku tahu, kau menyukai Yuu, kan?” aku 2 kali lebih terkejut mendengar ucapan kakakku itu. aku hanya bisa menunduk, aku tak tahu harus berkata apa. tapi sebenarnya, aku ingin sekali jujur pada Kou-nii.
“ya.. aku menyukainya” kuberanikan menjawab pertanyaannya
“Aku akan merebut hatinya. aku tak akan menyerah, meski lawanku adalah kakakku sendiri!” tambahku mantap, aku memberanikan diri menatap wajah Kou-nii. Kou-nii hanya tersenyum melihatku.
“kalau begitu, kita rival sekarang” ucapnya sambil menepuk bahuku dan berjalan keluar dari kamarku.
Tak kusangka Kou-nii bicara seperti itu. aku langsung terduduk lemas di kursi belajarku setelah Kou-nii pergi. tapi aku benar-benar lega karena sudah bisa jujur pada perasaanku sendiri. Baiklah.. Sudah kuputuskan! besok akan kunyatakan perasaanku pada Yuu.

*To Be Continued*


[Part 3]
Story 1 part 3
Kei’s POV
Sinar matahari menembus jendela kamarku, kulihat jam di kamar sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku segera melompat dari tempat tidurku begitu menyadari aku telat bangun. haaah.. tadi malam aku tak bisa tidur karena memikirkan Kou-nii dan Yuu. Setelah bersiap-siap aku pun segera turun. Ku lihat Kou-nii sudah ada di ruang makan. Walau sejak tadi malam dia menyatakan kalau kami rival, tapi kucoba bersikap seperti biasa di depannya.
“ohayou.. oniisama, mana Hime?” tanyaku pada Kou-nii menyadari gadis yang biasa membuat gaduh tak ada di tempat.
“dia sudah berangkat dengan Yamada-kun” jawab Kou-nii dingin. Untung aku sudah terbiasa dengan sikap kakakku itu. aku segera duduk dan menyantap makananku. Suasana di ruang makan itu jadi hening, aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Akhirnya aku pun memutuskan untuk diam saja dan menghabiskan sarapanku. Tiba-tiba handphone Kou-nii berbunyi, dia pun segera mengangkat telepon itu. sepertinya itu telepon dari Yuu.
“maaf hari ini aku sibuk, Yuu. Aku harus segera berangkat” ucap Kou-nii langsung tanpa basa-basi. Kou-nii menutup teleponnya dan mengambil tasnya.
“aku berangkat dulu. Jaa” ucap Kou-nii sambil berjalan pergi.
“oniisama..” panggilku ragu-ragu. Kou-nii pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihatku.
“ehm.. apa kita benar-benar rival?” kuberanikan diri bertanya untuk memastikan. Tapi Kou-nii hanya menjawab dengan anggukan dan dia pun segera pergi.
Aaahhh... kenapa aku jadi ragu begini. Kan sudah kuputuskan untuk menyatakan perasaanku pada Yuu. Lebih baik aku segera menemuinya sekarang. Aku pun berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, kulihat Yuu sedang duduk diam di kelas. Dia terlihat murung, pasti karena Kou-nii tadi.
“hey, Yuu.. kau kenapa?” tanyaku
“hari ini adalah hari jadianku dengan Kou. aku ingin memberinya kejutan, tapi katanya dia sedang sibuk. Bahkan tadi dia mematikan teleponku sebelum aku bilang ingin mengajaknya kencan. Dia benar-benar lupa hari ini” ucapnya lesu. Aku tertegun mendengar ucapannya. Berarti hari ini genap 1 tahun hubungan mereka.
“Kei, kenapa kau melamun?” tanyanya membuyarkan lamunanku
“ah..tidak..tidak apa-apa” jawabku gugup
“hey, Kei.. apa nanti kau mau menemaniku mencari kado untuk Kou? kalau benar dia tidak bisa datang, aku yang akan datang menemuinya!” ucap Yuu mantap.
“ehm.. baiklah.. tak masalah..” aku pun tersenyum simpul.
“aahh.. terima kasih Kei!” ucapnya tersenyum girang.
Kenapa aku jadi mengiyakannya? seharusnya aku segera menyatakan perasaanku, tapi aku malah mau menemaninya mencari kado untuk Kou-nii. Apa yang harus kulakukan sekarang?

Author’s POV
Sepulang kuliah, Kei dan Yuu pergi berbelanja mencari kado untuk Kota. Mereka berjalan ke sebuah mall, tanpa menyadari ada 2 manusia mengikuti mereka dari belakang.
“hey..hey.. Nana.. apa kita harus melakukan sampai sejauh ini? dari tadi kita sudah membuntuti mereka. aku jadi merasa tak jauh beda dengan stalker” gerutu Daiki
“Sssttt.. sudah kau diam saja! Aku ingin tahu.. sebenarnya apa hubungan gadis itu dengan Kei” ucap Nana sambil terus mengawasi Kei dan Yuu. Mereka pun terus mengikuti Kei dan Yuu. Sampailah mereka di sebuah toko pakaian.
“mau apa mereka di toko pakaian itu?” tanya Nana penuh selidik
“ya.. beli pakaian lahh..” jawab Daiki santai
“aku juga tahu.. BAKA!” pukulan Nana pun mendarat telak di kepala Daiki.
“ittaaaaiii~!! Bisa nggak sih.. kamu tak memukulku?!” gerutu Daiki kesal sambil memegangi kepalanya
“Ssssttt... diam! Nanti kita ketahuan, kalau kau berisik terus! Hey.. Daiki.. bisa tidak kau mendekati mereka dan menguping pembicaraan mereka? kalau kau berhasil, akan kutraktir okonomiyaki!” hasutan Nana langsung disanggupi Daiki yang memang tukang makan itu.
“baiklah! Tapi benar, ya.. kau akan mentraktirku okonomiyaki yang enak!”
“iya..iya.. sudah cepat sana.. awas, jangan sampai ketahuan!” perintah Nana. Daiki pun pergi menyelinap masuk toko dan bersembunyi di balik baju-baju berusaha agar tidak ketahuan.
“Kei, menurutmu kemeja ini bagus tidak?” tanya Yuu. Daiki pun siap memasang telinga untuk mendengar obrolan mereka.
“ehm.. bagus..” jawab Kei singkat
“waahh.. ini juga bagus.. jadi bingung yang mana yang cocok untuk Kou” Yuu kebingungan memilih kemeja untuk pacarnya itu.
“kemeja disini memang bagus-bagus.. Kou-nii juga cocok memakai kemeja apa saja”
“ya, sudah.. aku beli yang ini saja.. waahh.. aku tak sabar bertemu Kou” ucap Yuu memutuskan pilihannya. Mereka pun pergi ke kasir untuk membayar.
“ooww.. ternyata gadis itu pacar Kou-kun” gumam Daiki pelan. Dia pun segera pergi melaporkan hasil penyelidikannya.
“bagaimana?” tanya Nana tak sabar
“ternyata gadis itu pacar Kou-kun, kakaknya Kei.. aku juga baru ingat, kakakku pernah bercerita kalau Kou-kun sudah punya pacar yang seumuran dengan Kei. Mereka tadi membeli kemeja untuk Kou-kun” jelas daiki. Mendengar penjelasan Daiki, Nana pun menghela napas lega.
“Yokaatttaa~~ aku pikir dia pacar Kei. Arigatou, Daiki” ucap Nana tersenyum
“iya.. tapi ingat janjimu mentraktirku!” Daiki mengingatkan Nana
“iya..iyaa.. tapi nanti dulu.. aku ingin tahu seperti apa Kou-kun itu” ujar Nana
“eeehhh.. kau masih mau mengikuti mereka? dasar kau stalker sejati!”
“sudah diam! Mau okonomiyaki, tidak?”
“iya..iya...” Daiki pun menurut. Mereka pun lanjut mengikuti Kei dan Yuu.
=========================================================
Sementara itu di cafe, semua pelayan sedang sibuk. Tapi seorang pelayan hanya duduk sambil senyum-senyum sendiri.
“hey, Yui! Sedang apa kau? tak membantu malah senyum-senyum sendiri!” tegur Hime yang melihat sahabatnya itu tak bekerja padahal semuanya sedang sibuk melayani pelanggan.
“hehehe.. ada aja!” jawab Yui masih senyum-senyum sendiri. Hime yang melihat sikap sahabatnya itu langsung bisa menebak apa yang terjadi pada Yui.
“aahhh.. aku tahu... Yuto menyatakan perasaanya padamu, ya??” tanya Hime pada Yui yang memang menyukai Yuto, salah satu pelayan terpopuler di cafe tempatnya bekerja. Yui langsung berdiri dari kursinya dan membungkam mulut Hime.
“Ssssttt... jangan keras-keras!” ucap Yui panik. Hime melepas tangan Yui dari mulutnya.
“wah..wah.. jadi benar, ya.. kalau begitu selamat, ya.. Yui-chan~ jadi kapan Yuto mengatakannya?” goda Hime sambil menepuk-nepuk bahu Yui.
“ehmm... barusan” jawab Yui singkat dia langsung memalingkan mukanya dari Hime.
“eeehhh... benarkah? Pantas saja Yuto dari tadi menghilang dan baru saja kembali dengan wajah sangat senang. Ternyata..” ucap Hime menggeleng-gelengkan kepala.
“Yui~ bisakah kau pergi ke supermarket? Persediaan lemon kita hampir habis” perintah Yuri tiba-tiba
“ah! Baik~~!” jawab Yui bersemangat. Dia pun segera pergi ke supermarket. Hime hanya tersenyum melihat tingkah Yui.

Yui’s POV
Tak kusangka Yuto akan menyatakan perasaannya duluan padaku, aku senang sekali. aku pergi membeli lemon di supermarket, dan segera kembali setelah mendapatkan lemon yang cukup banyak untuk persediaan di cafe. Aku berjalan dengan susah payah membawa 2 kantong besar lemon.
“eh, Yui.. baru belanja,ya.. boleh kubantu membawanya?” ujar Kak Kota yang tiba-tiba sudah berada di sebelahku dan mengambil 1 kantong lemon dari tanganku.
“ah.. kak Kota, terima kasih.. maaf merepotkan” ucapku merasa tak enak pada kak Kota.
“tidak apa-apa.. kebetulan aku juga mau membeli bunga di dekat sini”
“eeehhh.. untuk pacar kakak ya?” godaku
“iya, hari ini hari jadian kami. bisakah kau membantuku memilih bunga?”
“waaahh... serahkan saja padaku!” ujarku bersemangat. Aku memang lumayan dekat dengan kakak sahabatku ini. Dulu aku juga sempat menyukainya, tapi ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan karena kak Kota sudah mempunyai pacar. Tapi sekarang aku juga sudah punya Yuto yang pasti akan selalu berada di sampingku. kami pun mampir ke toko bunga itu. kami memilih bunga yang bagus. Penjual bunga itu merangkai bunga-bunga yang kami pilih menjadi sebuah karangan bunga.

Yuu’s POV
Setelah mendapat kado untuk Kou, aku dan Kei pergi membeli kue kesukaan Kou di cafe. Setelah itu, kami berdua pergi ke kampus Kou. saat berjalan melewati sebuah toko bunga, aku melihat orang yang sangat kukenal. Orang yang tadi pagi bilang kalau dia sibuk, sekarang dia malah bersama seorang gadis yang kutahu adalah pelayan di cafe yan baru kudatangi. Mereka terlihat sangat dekat. Kuhampiri kedua orang itu, mataku sudah mulai berkaca-kaca. Kenapa Kou berbohong? dia bilang sedang sibuk, tapi dia malah pergi dengan gadis lain.

Kota’s POV
Karangan bunga itu sudah jadi. Bunga-bunga itu tertata indah sekali. aku tak sabar memberikan karangan bunga yang cantik ini pada Yuu. Aku merasa bersalah padanya, tadi pagi aku menutup teleponnya sebelum dia bilang apa-apa. Ya, apa boleh buat, karena aku ingin segera menyelesaikan semua tugas-tugasku dan merayakan hari ini bersamanya. Kami pun keluar dari toko, Yui membawakan karangan bunga itu sedangkan aku membawakan lemon-lemon yang dibeli Yui.
“Kou..” panggil seseorang dari belakang. Aku pun langsung menoleh ke arah orang itu. dan benar, Yuu sudah berdiri dengan mata berkaca-kaca menatapku. Aku kaget melihatnya ingin menangis, pasti dia berpikir kalau aku menyukai Yui.
“Yuu.. aku..” kucoba menjelaskan padanya, tapi dia langsung berlari pergi meninggalkanku. Tiba-tiba pukulan Kei mendarat di pipiku, membuatku jatuh tersungkur.
“Kenapa kau malah membuatnya menangis di hari jadian kalian?!” bentak Kei, aku tak bisa berkata apapun. Aku hanya bisa menatap Kei sambil memegangi pipiku.

Author’s POV
Kei yang sudah geram melihat kakaknya pun langung berlari mengejar Yuu tanpa menghiraukan Kota. Sedangkan Nana yang dari tadi bersembunyi, segera berlari mengikuti Kei. Daiki pun menyusul Nana. Kei mengejar Yuu sampai di sebuah sungai. Dan Daiki langsung menarik Nana untuk bersembunyi.
“Yuu..” panggil Kei
“tinggalkan aku sendiri, Kei! Aku terlalu berharap pada Kou, padahal dia tak lagi mencintaiku!” teriak Yuu sambil terus menangis. Tiba-tiba Kei memeluknya dari belakang.
“jangan menangis! Masih ada aku disini! Jangan menangis!” ucap Kei memeluk Yuu erat. Yuu kaget karena Kei tiba-tiba memeluknya.
“tak akan kulepaskan, sampai kau berhenti menangis! Aku mencintaimu, Yuu” Kei pun akhirnya menyatakan perasaannya. Yuu tertegun mendengar ucapan Kei. Dia segera melepas pelukan Kei.
“Kei, tapi aku kan...”
“aku tahu.. kau pacar kakakku, kan? tapi, aku tak bisa menghilangkan rasa sukaku padamu, Yuu. Orang yang kusukai hanya kau” jelas Kei
“tapi Kei..” Mendengar ucapan Yuu, Kei langsung memegang bahu Yuu dan menatap wajahnya.
“Yuu.. apa kau ingin terus-terusan sakit hati? Kou-nii selalu menyakiti hatimu, kan? apa kau tetap ingin bersamanya?” tanya Kei
“hentikan, Kei..” ucap Yuu sambil melepas tangan Kei dari bahunya dan pergi. tapi Kei segera menggenggam tangan Yuu. Mencegah Yuu agar tak pergi.
“lepaskan, Kei! aku tak bisa bersamamu!” Yuu berusaha melepaskan tangannya. Tapi Kei tetap tak melepasnya.
“kenapa, Yuu? Kou-nii kan sudah menyakitimu seperti ini. tapi kenapa kau tetap ingin bersamanya?” Kei tetap bertanya.
“lepaskan dia, Kei!” ucap Kota tiba-tiba datang dan melepas genggaman tangan Kei. Melihat Kota, Yuu pun langsung beranjak pergi, tapi Kota menarik Yuu ke pelukannya.
“lepaskan Kou! kau sudah punya pelayan itu kan! mau apa lagi Kou denganku?!” Yuu mendorong Kota dan pergi
“aku mau tetap bersamamu!” teriak Kota. Yuu pun menghentikan langkahnya.
“kenapa aku harus menuruti perkataan pembohong sepertimu?!” Yuu membalikkan badannya dan menatap tajam Kota.
“maaf, aku mengacuhkanmu tadi pagi. Itu karena aku ingin menyelesaikan semua tugasku agar bisa bertemu denganmu di hari jadi kita ini” jelas Kota. Yuu terdiam mendengar ucapan Kota.
“dan Yui, aku tak mungkin mencintainya karena dia sudah punya pacar. Dia hanya membantuku memilih bunga untukmu” tambah Kota. Yuu pun masih diam tak merespon.
“maaf selama ini aku selalu bersikap dingin padamu, sebenarnya aku sangat mencintaimu. karena itu jangan pergi, tetaplah disisiku. aku bisa gila kalau kau meninggalkanku” Kota mendekati Yuu
“Kota, BAKA! Baka.baka.baka! kenapa kau tak bilang Kou?! aku hampir mati karena melihatmu bersama gadis lain! aku tak bisa berhenti mencintaimu, Kou! BAKA!” Yuu memukuli Kota lalu memeluknya. Kota pun tersenyum dan membalas pelukan Yuu.
“kau menang, kak” ucap Kei yang daritadi diam melihat semua itu. Kota dan Yuu melepas pelukan mereka dan menoleh ke arah Kei.
“sekarang, aku sadar. Aku hanya ingin melihat Yuu tersenyum bahagia. Tapi, sepertinya dia hanya bisa bahagia bersamamu” tambah Kei
“maafkan aku, Kei” ucap Yuu
“tidak apa-apa.. mulai sekarang jangan menangis lagi! tersenyumlah, Yuu! Aku mendukung kalian sebagai adik” ucap Kei tersenyum sambil menepuk bahu Yuu dan Kota.
“Arigatou, Kei” ucap Yuu dan Kota hampir bersamaan. Kei pun tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua.
=========================================================
“Daiki, kasian sekali Kei. Akan kucoba menghiburnya” ucap Nana yang sedari tadi melihat dari tempat sembunyinya.
“jangan dulu! Biarkan Kei sendiri dulu sekarang!” cegah Daiki. Nana pun menuruti perkataan Daiki. akhirnya Daiki dan Nana pun pulang.
“Daiki, sudah kuputuskan! Aku akan menyatakan perasaanku padanya!” ucap Nana mantap. Daiki tertegun mendengar keputusan Nana.
“Kau harus membantuku, ya! Aku akan mentraktirmu makan, tenang saja~” tambah Nana. Daiki hanya diam menghentikan langkahnya. Nana pun ikut menghentikan langkahnya melihat sikap temannya itu.
“ada apa Daiki?” tanya Nana heran
“Nana.. sebenarnya aku.. menyukaimu!” Ucap Daiki sambil menatap Nana tajam.
“hahaha.. kau bercanda, ya? Memang kau harus menyukaiku karena aku sering mentraktirmu makan” ucap Nana sambil tertawa.
“aku tidak sedang bercanda, Nana! aku menyukaimu dari dulu! Aku tak mau kau berpacaran dengan Kei!” jelas Daiki. Tawa Nana pun berhenti mendengar ucapan Daiki. Nana diam tak bisa berkata apa-apa.
“Daiki.. aku...”
“pokoknya, aku menyukaimu, Nana! kenapa kau tak pernah bisa mengerti perasaanku?” Daiki pun pergi meninggalkan Nana yang masih berdiri diam.

Nana’s POV
Aku kaget mendengar Daiki menyatakan perasaannya padaku. aku tak tahu harus bagaimana. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku menyukai Kei tapi Daiki menyukaiku. aku pun berjalan pulang. aku sangat bingung dengan kejadian yang baru aku alami. Aku masuk kamarku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Lama aku berpikir dan akhirnya, aku pun sudah mengambil pilihan. Ya.. pilihanku sudah tepat!
=========================================================
Keesokan harinya, aku putuskan untuk menemui Kei sendirian.
“Kei-kun, bisa bicara sebentar?” tanyaku pada Kei yang sedang membaca buku seperti biasa. Dia pun menuruti permintaanku. Aku mengajaknya pergi ke belakang gedung fakultas hukum yang cukup sepi.
“ada apa, Nana? kenapa kau mengajakku kemari?” tanyanya
“ano.. Kei.. sebenarnya.. aku..” kucoba mengatakannya tapi dadaku berdebar-debar, aku sangat gugup. kulihat wajah Kei penuh tanda tanya melihat tingkahku. Ku pejamkan mataku mempersiapkan diri.
“aku pernah menyukaimu Kei.. tapi, sekarang aku sudah tahu perasaan sukaku sebenarnya untuk siapa.” aku mengambil jeda di sela-sela perkataanku.
“jadi aku mengajakmu ke sini karena ingin mengatakan perasaanku padamu saja, agar hatiku merasa lega. Maaf kalau aku sudah mengganggu kegiatanmu” ucapku sambil membungkukkan badan pada Kei. Aku pun segera pergi meninggalkan Kei yang masih bengong melihatku.
“Nana!!” panggil Kei, aku pun menoleh padanya.
“berjuanglah,ya!” Kei berteriak sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala dan aku pun berlari pergi.
Ingin segera bertemu, aku ingin segera bertemu Daiki. selama ini Daiki selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dia selalu mendukungku dan memberiku semangat. dia selalu melindungiku. Aku sadar, aku suka pada Kei karena dia memang keren. Tapi sekarang aku tahu, sebenarnya aku menyukai Daiki. Ya! Aku sangat menyukai Daiki!
“DAIKI!!!” teriakku melihat dia sedang duduk di kelas sambil melihat ke luar. Dia pun berdiri, kaget melihatku. Kuhampiri dia, dan aku pun langsung memeluknya.
“eehh.. ada apa Nana?” tanyanya heran
“aku menyukaimu! Aku benar-benar menyukai Daiki!” ucapku memeluknya erat. Daiki terdiam.
“aku sadar. Sebenarnya, orang yang aku suka itu hanyalah Daiki”
“Nana.. aku.. aku juga menyukaimu!” Daiki pun balas memelukku.
“tetaplah di sisiku Daiki” pintaku
“walau tak kau suruh, aku akan selalu berada di sisimu, Nana” jawabnya. aku pun melepas pelukanku dan tersenyum padanya.
“OKEEYYY!! Ayo kita rayakan hari ini dengan makan-makan!” ucapku semangat.
“baiklaaahhh~~ !!! ayo kita makan ramen~~ !!” ucapnya tak kalah bersemangat.
“eehh.. chotto! siapa yang bayar?” tanyanya
“Kau!” jawabku singkat sambil menunjuk ke arahnya
“yaaaahhh... baiklah~~ kali ini aku yang bayar! Ayo kita makan sepuasnya~~ !!”
Kami pun pergi ke kedai ramen bersama.

~STORY 1 END~