?

Log in

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 2-

Yeeey.. This the second story.
Story yang ini cuma punya 1 part (author lagi malas).
Happy reading (^o^)/

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Story 2]
Story 2
Author’s POV
1 minggu pun berlalu setelah kejadian itu. Hari ini, Hikaru ingin berkunjung ke rumah sahabatnya, Kota, sebelum dia kembali ke Amerika. Kebetulan hari itu hari minggu dan Nana juga berkunjung ke rumahnya. Jadi dia sekalian mengajak Daiki dan Nana juga. Mereka pun pergi ke rumah keluarga Nishiyama.
TING..TONG..
Hikaru menekan bel pintu rumah yang lumayan luas itu. “ya, sebentar” dari dalam terdengar suara laki-laki dan tak lama kemudian laki-laki itu membukakan pintu rumahnya.
“konnichiwa, Kei-kun” sapa Hikaru, Daiki dan Nana
“waahh.. kalian, ada Nana juga, ya.. ayo masuk!” laki-laki itu mempersilakan tamunya untuk masuk.
“silakan duduk, akan kupanggilkan Kou-nii” ucap Kei. Dia pun pergi memanggil kakaknya. Beberapa saat kemudian Kei kembali bersama Kota.
“hisashiburi, Kou-chan” ucap Hikaru menyapa sahabatnya itu.
“hisashiburi.. Ku dengar kau sudah lama pulang, tapi kenapa kau baru muncul sekarang?” tanya Kota, dan yang ditanya hanya cengar-cengir memamerkan gigi gingsulnya.
“eh, siapa dia?” tanya Kota melihat seorang gadis bersama mereka.
“oh, kenalkan, kak. Dia Kuroki Nana” jelas Kei. Nana pun tersenyum memberi salam.
“dia pacarnya Daiki!” tambah Hikaru jail dan langsung disusul pukulan Daiki di lengannya.
“waahh, Daiki-kun ternyata sudah punya pacar semanis ini, ya” Kota pun jadi ikut menggoda Daiki. Daiki dan Nana pun hanya bisa tersenyum pasrah. Tiba-tiba..
BRUKK..BRAKK.. DRAP..DRAP..DRAP.. seorang gadis berpiyama dengan rambut acak-acakkan dan mata setengah melek, berlari panik menuruni tangga sambil membawa guling. Semua orang di ruang tamu itu pun langsung menoleh ke sumber keributan.
“Niini~ tolong antarkan aku. Aku sudah terlambat masuk sekolah, nih!” ucap gadis itu panik. tiba-tiba sebuah sandal rumah melayang ke kepalanya.
“ittaaaii~!” rintih gadis itu sambil memegangi kepalanya.
“HIME! kau mengigau lagi ya?! Sekarang kan hari minggu!” ucap Kei memarahi adiknya.
“eh?” Hime pun segera tersadar, mengucek-ucek matanya dan diam sejenak berpikir.
“jam berapa sekarang?” tanyanya setelah diam cukup lama.
“jam 9” jawab Kota datar
“ow.. ya sudah.. HOAAMM~ aku masih ngantuk” ucap Hime, dia pun menguap sambil pergi ke kamarnya lagi.
“jangan tidur lagi Hime! ini sudah siang!” Kei pun mengomelinya
“iya.iya.. beri aku waktu sebentaaarr saja” ucap Hime. Dia pun tetap kembali ke kamarnya tak menghiraukan Kei.
 “dasar anak itu!” gerutu Kei
“hihihi.. Hime-chan, lucu sekali, ya!” ucap Nana melihat tingkah Hime
“anak itu tidak berubah, ya..” ucap Daiki dan Hikaru bersamaan. Mereka berlima pun saling pertatapan dan kemudian tertawa bersama.
~~~di kamar hime~~~
“huh, apa sih yang mereka tertawa kan?! Dasar! Hooaammm.. ngantuk.. tidur lagi aahh..” hime kembali ke tempat tidurnya yang hangat dan nyaman, dan dia pun tertidur lagi. tapi, tak lama kemudian, handphonenya berbunyi. segera disibaknya selimut yang menutupi wajahnya, meraba sisi tempat tidurnya mencari handphone dan segera mengangkat teleponnya.
“moshi-moshi..” ucap Hime malas sambil kembali menyelimuti badannya.
“moshi-moshi.. seperti biasa, sekarang pasti kau masih berbaring di ranjangmu, iya kan?” orang diseberang telepon itu pun mulai mengomel.
“hehehe..” Hime pun hanya bisa pasrah mendengar omelan pacarnya.
“jangan hanya ‘hehehe’ cepat bangun! hari ini cuacanya cerah sekali loh! Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”
“tapi, aku masih ngantuk, Yama-chan. Biarkan aku tidur sedikiiitt~ lagi” pinta Hime
“dasar tukang tidur! Baiklah, kalau begitu aku yang akan ke rumahmu! Aku ke sana jam setengah 10, jadi cepatlah bangun!” perintah Yamada
“baiklaaahh~~” jawab Hime pasrah. Hime pun menutup teleponnya.
“haahhh.. masih jam setengah 10 nanti kan.. gomen, yama-chan. Tapi aku akan tidur sedikit lagi” Hime pun kembali tidur di bawah selimutnya. Tapi tak lama kemudian..
“HAH??!! Setengah 10?? Sekarang jam...” Hime segera sadar dan bangkit dari tidurnya lalu melihat jam.
“huaaahh!! Jam 9.15, 15 menit lagi! yabai.yabai.yabai!” ucapnya panik. Dia pun segera pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap.
~~~15 menit kemudian~~~
TING..TONG.. bel rumah berbunyi.. Kei pun beranjak dari tempat duduknya, hendak membukakan pintu.
“niichan! biar aku saja, itu pasti Yama-chan” cegah Hime. Hime pun segera membukakan pintu.
“konnichiwa~” ucap 2 orang menyapa Hime
“Yuu-nee, Yama-chan?? Kok kalian bisa barengan?” tanya Hime heran
“tadi aku bertemu Yamada-kun saat akan ke sini, karena tujuan kami sama, jadi kami kesini bareng deh. Oh iya, tadi aku sempat belanja, ayo kita buat makan siang bersama!” kata Yuu
“waahh, baiklah.. ayo, silakan masuk. Eh, tunggu. Yama-chan kau tak bersama Ryuu kan?” selidik Hime sambil melihat ke belakang Yamada.
“tidak. Aku tidak mau pusing karena melihat kalian bertengakar” jawab Yamada. Hime pun hanya cengengesan mendengarnya.
“ada tamu?” tanya yamada
“iya, ada temannya niini dan niichan” jawab Hime. Hime, Yuu, dan Yamada pun menuju ruang tamu dan menyapa kelima orang itu.
“konnichiwa~” sapa Yuu dan Yamada
“ah! Yuu, sudah lama tak bertemu” Hikaru menyambutnya
“ada Hikaru-kun dan Daiki-kun rupanya.. iya, lama tak bertemu ya, Hikaru-kun” jawab Yuu sambil tersenyum. Kota pun mempersilakan mereka duduk.
“bagaimana kuliahmu Hikaru-kun?” tanya Yuu
“yaa.. masa liburanku sudah hampir habis, jadi aku akan kembali ke Amerika besok” jawab Hikaru
“oow.. naruhodo. eh, kamu anak fakultas hukum kan?” tanya Yuu pada Nana
“iya, kenalkan. Kuroki Nana desu” ucap Nana sambil memajukan tangannya
“Nakata Yuu desu” jawab Yuu menjabat tangan Nana.
“ehm, Yuu-nee. Bagaimana kalau kita menyiapkan makan siang sekarang?” kata Hime
“un! Baiklah.. Kuroki-san mau ikut memasak?” ajak Yuu
“ehm, baiklah” Hime, Yuu dan Nana pun pergi ke dapur untuk memasak. Sementara itu, kelima lelaki itu meneruskan perbincangan mereka. beberapa saat kemudian, makanan siap. Mereka semua pun makan siang bersama. setelah makan siang, mereka bersantai di halaman belakang. Mereka bercanda bersama, seperti tak pernah terjadi apa-apa. ya, setelah hari itu, Kei sudah benar-benar merelakan Yuu bersama Kota. Kei, Daiki dan Nana juga jadi berteman baik. Mereka berbincang-bincang sambil menikmati segelas lemon tea.
“ooww.. jadi Kuroki-san dan Daiki-kun berpacaran?” tanya Yuu setelah Kota memberitahunya.
“iya.. hehehe.. panggil aku Nana saja, ya” jawab Nana
“ah, baiklah Nana-chan, kau bisa memanggilku Yuu”
“eeh, ngomong-ngomong.. kapan kalian akan tunangan? Kalian sudah lama pacaran kan?” tanya Daiki tiba-tiba yang dibarengi dengan anggukan kepala Hikaru tanda setuju.
“kami akan tunangan kalau Yuu sudah lulus kuliah” jawab Kota tegas. Yuu pun tersenyum mendukung jawaban Kota.
“eehhh.. kenapa begitu Kou-chan? Itu kan masih lama sekali.. padahal aku ingin segera melihat anakmu” gerutu Hikaru yang langsung kena jitak Kota.
“jangan sembarangan!” gerutu Kota geram. Keenam orang lainnya hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabat itu.
“oh, iya.. bagaimana denganmu Kei-kun? Apa ada wanita beruntung yang di kagumi laki-laki jenius sepertimu?” tanya Hikaru. Tiba-tiba Nana, Daiki, Kota, dan Yuu diam dan saling berpandangan satu sama lain.
“eehmm.. iya, sebenarnya.. aku sedang mendekati seseorang” jawab Kei sambil tersenyum dan menggaruk bagian belakang kepalanya.
“EEEHHH???” serentak semua orang kaget dengan jawaban Kei.
“siapa.siapa? siapa dia, niichan?” tanya Hime penasaran
“ehm.. namanya Murakami Sakura, dia kuliah di Universitas Keio, Fakultas ekonomi. Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja menabraknya saat dia berjalan di taman” Kei pun menceritakan awal pertemuannya dengan perempuan itu dan ketujuh orang lainnya mendengarkan dengan seksama.
“yah, jadi begitu ceritanya” Kei mengakhiri ceritanya.
“wuaaahh.. kapan-kapan ajak main ke rumah ya, niichan!” ucap Hime antusias
“wah.wah.. aku jadi penasaran dengan perempuan itu, Kei. Ganbatte ne!” ucap Kota sambil merangkul bahu adiknya. Sang adik pun tersenyum melihat kakaknya.
Mereka berbincang-bincang sampai sore. Dan akhirnya Hikaru, Daiki, Nana dan Yamada pun pamit pulang. setelah itu, Hikaru, Daiki dan Nana pulang bersama. Sampai lah mereka di persimpangan, dan mereka pun berpisah, pulang ke rumah masing-masing.

Hikaru’s POV
Kami pun berpisah di persimpangan. Okey! Akan kukatakan sekarang..
“ehm, jaa minna.. mata ashita!” pamit Nana
“un! Hati-hati, ya” jawab Daiki sambil tersenyum. haaahh.. aku tahu dia pacar adikku tapi aku ingin mengatakan yang sebenarnya sebelum aku kembali ke Amerika besok. Nana pun berjalan pergi.
“matte! Nana, matte!” ucapku, Nana pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
“ada apa Hikaru-kun?” tanyanya dengan wajah heran.
“anoo.. sebenarnya, aku.. menyukaimu” jawabku. Seketika itu, Daiki dan Nana pun langsung memasang ekspresi tak percaya. Ya.. aku tahu kalau akan jadi begini.
“nandayo Aniki?!” Daiki pun mulai marah
“maaf Daiki. aku menyukai pacarmu. Tapi aku tak bermaksud merebutnya darimu. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya, sebelum aku kembali ke Amerika”  kucoba menjelaskan pada Daiki.
“Hikaru-kun, maaf” ucap Nana
“tidak apa-apa,Nana. aku mengatakan itu tak bermaksud memintamu agar menjadi pacarku. Aku hanya mengungkapkan perasaanku, jadi tak usah dipikirkan. Aku mendukung kalian berdua, kok” Daiki dan Nana masih terdiam.
Kutarik tangan mereka berdua agar mendekat “hehehe, jadi Daiki. jaga Nana baik-baik ya! Kalau sampai terjadi apa-apa pada Nana, aku tak akan mengampunimu. Kalian pasangan serasi!” mereka berdua pun bertatapan lalu tersenyum.
“arigatou, aniki”
“arigatou, Hikaru-kun” mereka pun tersenyum memandangku. Melihat mereka seperti itu, aku pun jadi gemas. “hihihi.. kalian lucu sekali!” Kuacak-acak rambut mereka berdua. mereka pun hanya menggerutu dan merapikan rambut mereka. setelah itu, Nana pamit lagi dan dia segera pulang. aku dan Daiki juga pulang ke rumah. haaahh.. aku lega sekali telah mengatakannya. Ya, mulai sekarang tugasku adalah mendukung mereka.
=========================================================
Keesokan harinya, di bandara..
“aniki.. kapan kau akan pulang lagi?” tanya Daiki dengan wajah memelas.
“ya~ kalau aku ada waktu, ya..”
“lain kali kalau kau pulang, beri tahu ibu atau ayah dulu ya. Jangan seperti kemarin!” ibu pun menasihatiku
“ya, ibu.. eh, Nana mana? Kenapa dia belum datang?” tanyaku
“iya.. dia kemana, ya..” Daiki balik bertanya padaku. hah, dasar anak ini ditanya malah bertanya ==’.
“haah.. ya sudahlah, titipkan salam ku padanya ya.. ayah, ibu.. aku berangkat” aku pun berpamitan pada kedua orang tuaku.
“Daiki! ingat kata-kataku! Kau harus melindunginya apapun yang terjadi! Jangan pernah tinggalkan dia, mengerti?” aku mulai memberikan nasihat pada Daiki.
“aku akan melakukannya walau tak kau suruh!” gerutunya. Aku pun tersenyum padanya.
“baiklah.. ittekimasu!”
“itterashai~” jawab mereka serentak. Aku pun melangkahkan kaki, berjalan meninggalkan mereka. haaahh.. sayang sekali Nana tidak datang, padahal aku ingin melihatnya sebelum pergi.
“Hikaru-kun~ !!” seseorang memanggilku dari belakang. Aku pun membalikkan badanku dan CHUU! tiba-tiba Nana mencium pipiku. Aku terkejut.
“hehehe.. ciuman dari calon adik ipar! ^.< terimakasih telah menyukaiku, Hikaru-kun” ucap Nana sambil tersenyum.
“dasar kau ini. aku kira kau tidak datang!” karena gemas, kujewer pipinya. Dia hanya merintih kesakitan dan berusaha melepas tanganku. Hahaha.. lucu sekali! ku tengok ke arah belakang Nana, terlihat Daiki sedang memasang tampang menyeramkan. Wajahnya seperti mengatakan “kubunuh kau, aniki~!” aku jadi ngeri sendiri melihatnya. Alhasil aku pun hanya cengengesan melihat Daiki. sepertinya, aku harus segera pergi, sebelum ‘sapi’ itu mengamuk.
“Nana, aku harus segera berangkat. jaga dirimu baik-baik, jangan bertengkar dengan Daiki!” ucapku
“un! Baik! ^^ hati-hati, Hikaru-kun”
“ah! Iya satu lagi.. kau boleh memanggilku niichan ^^. Kalau ada apa-apa, kau bisa menghubungiku”
“baiklah.. hati-hati niichan~ !!” ucapnya bersemangat. Aku pun segera masuk pesawat, dan tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas. Haahh, aku akan kembali dengan kesibukanku. Yah, semoga saja mereka berdua tidak bertengkar gara-gara tadi.

Author’s POV
“Nanaaa~~ !! apa yang kau lakukan?” ujar Daiki geram
“hehehe.. Itu kan ciuman sebagai calon adik, kau tak perlu cemburu seperti itu” jawab Nana sambil tersenyum.
“bagaimana aku tak cemburu. Kau tak pernah menciumku seperti itu!” gerutu Daiki
“hehehe.. maaf..” Nana pun mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Daiki. tapi Daiki menghindarinya. CHU! Daiki balik mencium kening Nana dan memeluknya.
“hehehe..” Daiki dan Nana saling berpandangan dan tertawa bersama.
Setelah itu, mereka pun pulang bersama-sama.

~STORY 2 END~