?

Log in

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] RABU RABU CAFE -Story 3-

Tittle : Rabu Rabu Cafe
Author : Nishiyama Hime
Genre : Family, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OCs

[Part 1]
Story 3 Part 1
Yaaah.. seperti biasa, kegiatan rutin setiap pagi di rumah keluarga Nishiyama pun berlangsung gaduh karena ulah seorang gadis. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Hime.
“nichaann~~ tau buku biologiku tidak? Niichan~ bukuku tak ada dimana-mana, nih. Niichan~! tolong bantu aku mencarinya. Aku bisa terlambat nanti. Niichaaan~~ !!” teriak Hime dari kamarnya. Kei pun segera pergi menghampiri adiknya itu.
PLOOKK!! “berisik! Dasar kau ini! bukumu kau tinggalkan di meja makan nih!” ucap Kei sambil memukulkan buku besar itu ke kepala Hime yang sedang sibuk menggeledah seisi kamarnya.
“hehehe.. arigatou, niichan” ucap Hime cengengesan.
TING..TONG.. bel rumah mereka berbunyi. dan Hime pun segera mengambil tasnya dan turun untuk membukakan pintu. Ya, benar dugaannya Yamada sudah datang menjemputnya. Hime pun segera pamit pada kakaknya dan berangkat bersama Yamada. Mereka berbincang-bincang sepanjang jalan.
“Yo! Hime! Yama-chan!” sapa seorang laki-laki jangkung dari belakang mereka. Hime dan Yamada pun segera menoleh ke arah orang itu.
“Yuto-kun.. Yui-chan”
“ohayou, Hime.. Yamada-kun” sapa Yui yang berjalan di samping Yuto.
“ohayou ^^” balas Hime dan Yamada
“pagi-pagi kalian sudah mesra, ya” goda Yuto pada Yamada
“urusai!” ucap Yamada memukul lengan orang yang lebih tinggi darinya itu.
“sudah-sudah.. ayo berangakat! Sudah hampir bel masuk loh!” ajak Yui. Sedangkan Yamada dan Yuto masih sibuk bergurau sendiri. Yamada dan Yuto memang akrab sekali.
“un! Ayo Yama-chaaann!!” Hime segera menyeret Yamada. Mereka berempat pun berangkat bersama. Sesampainya di sekolah, mereka pergi ke kelasnya masing-masing. Hime pergi bersama Yui yang memang 1 kelas, sedang Yamada dan Yuto pergi ke kelas mereka yang kebetulan bersebelahan. Yuto berada di kelas yang sama dengan Keito yaitu 3-A, sedang Yamada kelas 3-B. Meskipun beda kelas tapi Yuto, Keito dan Yamada selalu akrab jika bersama.
Beberapa saat kemudian, bel tanda pelajaran pertama pun berbunyi. semua murid segera duduk di bangku  mereka masing-masing dan mengikuti pelajaran.
=========================================================
Pelajaran demi pelajaran pun selesai. Dan akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Yui, Yuto, Keito dan Hime segera pergi ke cafe seperti biasa. Sedangkan Yamada mengikuti kegiatan club memanahnya dan akan menemui Hime di cafe seusai kegiatan clubnya.
~~Di cafe~~
“konnichiwa~” ucap mereka berempat memasuki cafe
“konnichiwa~ cepat bersiap, tamu kita sudah menunggu!” perintah Yuya
“baik, Yuya-san!” ucap mereka serentak. Dan mereka pun pergi berganti baju dan setelah itu bekerja sebagai pelayan cafe seperti biasa. Hari ini cafe di penuhi dengan pelanggan wanita. Baik sekelompok ibu-ibu, anak sekolah, kelompok gadis remaj. mereka sengaja datang untuk menikmati hidangan cafe atau sekedar mencuri-curi pandang pada pelayan-pelayan laki-laki di cafe itu.
“Mau pesan apa, nona?” ucap Yui pada seorang pelanggan. Yui segera menyiapkan catatannya untuk menulis pesanan orang itu.
“ehm, aku ingin dilayani oleh Nakajima-kun saja!” jawab gadis yang lumayan manis itu
“maaf, tapi Yuto-kun sedang sibuk” jelas Yui
“eh? Kau siapanya Nakajima-kun? Kenapa kau berani memanggil dia dengan nama kecilnya?! Dasar gadis tak sopan!” gadis itu mulai meninggikan suaranya. Yui pun mulai naik darah mendengarnya tapi dia berusaha sabar karena yang dihadapinya adalah pelanggan cafe. Alhasil hanya senyum tipis yang keluar dari bibir Yui.
“ada apa ini?” Yuto yang mendengar keributan itu segera datang.
“ah! Nakajima-kun.. tolong layani aku ya! Aku tidak mau dilayani gadis tak sopan ini!” ucap gadis itu manja sambil menggandeng tangan Yuto. Melihat itu, Yui pun mengerutkan keningnya. Yuto yang sadar gelagat Yui langsung berusaha melepas tangannya dari gadis itu.
“a.a.. i.iya.. mau pesan apa nona?” tanya Yuto segera menyiapkan catatannya. Yui pun kembali ke dapur meninggalkan mereka dengan wajah yang jelas sekali menampakkan kalau dia terbakar cemburu. Yui pun segera menghempaskan tubuhnya di kursi di dapur.
“hey..hey.. ada apa?” tanya Keito pada Yui yang sedang melipat kedua tangannya sambil cemberut.
“tuh! Lihat saja sendiri!” jawab Yui sambil melihat Yuto. Keito pun ikut melihat ke arah pandangan Yui.
“ooww, jadi kau cemburu, ya?” tanya Keito.
“tidak! Aku hanya sebal pada gadis itu! dia sudah mengejekku! Aku tidak sopan katanya, karena aku memanggil Yuto dengan nama kecilnya. Memangnya aku salah?!” jelas Yui geram
“hahaha.. dia fans Yuto ternyata. Sudahlah, tak usah diambil hati. dia tidak tau kalau kau ini pacarnya Yuto, kan?” Keito berusaha menenangkan Yui.
“haah.. baiklah..” amarah Yui pun mulai reda.
“Keito, ada pelanggan yang ingin dilayani olehmu, tuh!” Hime tiba-tiba datang dengan muka lesu.
“ah! Baiklah! Aku pergi dulu ya, Yui. Jangan marah-marah lagi!” Keito pun segera menemui pelanggannya.
“Haaaaahh~~ nganggur deh!” ucap Hime sambil meneguk segelas es jeruk.
“iya, para pelayan cewek jadi nganggur begini. Semua pelanggan ingin dilayani oleh pelayan cowok, sih. Terutama Yuto dan Keito. Dasar!” gerutu Yui.
“hey, kalian! Daripada nganggur begitu, bisakah membantuku menyiapkan pesanan?” perintah Yuri.
“ya~ baiklah~” ucap Yui dan Hime pasrah. Mereka akhirnya membantu Yuri di dapur. Satu persatu pelanggan mereka pun pulang dengan perasaan senang. Dan waktunya cafe untuk tutup. Para pelayan membersihkan cafe.
“Yui, kau masih marah, ya?” Yuto menghampiri Yui yang sedang mengelap meja.
“tidak!” jawab Yui singkat
“haaah~?? Masa iya, sih? masa kamu marah hanya gara-gara pelanggan itu ingin dilayani olehku?” ucap Yuto duduk di kursi dekat meja yang dilap Yui.
“Tidak! Sudah kubilang kan?! aku tidak marah! Walau gadis itu menggandeng tanganmu! Aku tidak marah!” Yui mulai meninggikan suaranya.
“ah~ okey..okey! akan ku beritahu 1 hal yang pasti. Aku tak akan berpaling dari darimu, apapun yang terjadi!” ucap Yuto mantap sambil beranjak dari duduknya dan merangkul bahu Yui. Wajah Yui pun mulai berubah merah, segera dia singkirkan tangan Yuto dari bahunya dan pergi ke halaman belakang membantu Yuri. Yuto pun tersenyum melihat Yui lalu mengikutinya.
“hey!hey! jangan begitu! aku jadi sedih kalau kau menjauhiku seperti ini” rengek Yuto. Yui pun tetap tak menghiraukan Yuto.
“ah! Yuto! Bisakah kau kesini sebentar!” pinta Yuri melihat Yuto di belakang Yui.
“ada apa Yuri-chan?” Yuto segera menghampiri Yuri.
“ini lihat! Kasihan sekali dia..” ucap Yuri menunjukkan burung merpati yang tergeletak dengan luka di sayapnya.
“eh! Gawat! Kita harus cepat menutup lukanya!”
“Aku akan mengambil perban” Yui pun segera berlari mencari perban. Beberapa saat kemudian, Yui datang sambil membawa kotak obat. Dia segera memberikan kotak obat itu pada Yuto.
“Terima kasih” Yuto pun segera mengobati luka burung merpati itu. dan tak lama kemudian, luka merpati itu sudah terbungkus oleh perban.
“yak, selesai.. tapi burung ini belum bisa dilepas di luar, alam luar terlalu berbahaya bagi merpati yang sedang terluka” jelas Yuto
“jadi, bagaimana sebaiknya?” tanya Yui
“bagaimana kalau kita pelihara di sini saja??” ucap Yuri bersemangat.
“tapi, apa tidak apa-apa kita memelihara merpati ini di cafe untuk sementara waktu?” Yuto memastikan ucapan Yuri.
“un! Tentu saja! Aku akan meminta ijin pada oniichan!” ucap Yuri, dia pun segera menggendong merpati itu ditangannya dan berlari menemui kakaknya.
“hati-hati Yuri-chan! Kau bisa melukai sayapnya!” Yuto memperingatkan.
“iya~baik~” ucap Yuri sambil tetap pergi meninggalkan Yuto dan Yui.
Sementara itu, Yuya sedang mengelap gelas-gelas di dapur.
“Chikagoro genki nai jan Over . Nayami darake de.. tsukare ten dayo OVER” Yuya menyanyikan lagu kesukaannya sambil menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba, Yuri datang sambil berlari.
“ONIICHAAANN~~!!” panggil Yuri pada Yuya yang sedang sibuk sendiri.
“ada apa, Yuri? Ore de ii nara kiku kedo OVER. Itsumo no basho ni shichiji de OVER” Yuya menoleh ke Yuri sebentar dan kembali mengelap gelas-gelasnya sambil terus bernyanyi.
“apa aku boleh memelihara ini di cafe? Dia sedang terluka, kasihan” ucap yuri dengan wajah memelas, memohon pada kakaknya.
“hem? Memelihara apa?” tanya Yuya masih tak menoleh pada Yuri.
“ini” Yuri menujukkan merpati ditangannya pada Yuya. Yuya menghentikan pekerjaannya dan melihat apa yang dibawa adiknya. Sontak matanya terbelalak melihat merpati ditangan adiknya.
“HUAAHH!! Jauhkan merpati itu dari ku!” teriak Yuya sambil berlari menjauhi Yuri.
“eehh?? Oniichan.. kenapa begitu.. jadi boleh tidak aku memeliharanya disini? Boleh,ya.. boleh ya, kak..” pinta Yuri lagi
“tidak! Benar-benar tidak bisa! Tidak boleh!” tegas Yuya dengan wajah yang masih panik.
“lalu merpati ini bagaimana? Dia terluka.. masa oniichan tega kalau merpati ini diserang hewan lain diluar sana?” rengek Yuri pada kakaknya. Yuya pun terdiam mendengar ucapan Yuri.
“oniichan! Ayolah~!”
“baiklah! Tapi, jangan pernah dekatkan merpati itu padaku! dan lepas dia setelah dia sembuh!” Yuya pun akhirnya luluh.
“yeey! Terimakasih, oniichaaann~~” Yuri pun mendekati Yuya hendak memeluknya. Tapi Yuya langsung lari menghindari adiknya. atau lebih tepatnya, lari menghindari burung merpati yang dibawa adiknya.
Merpati itu pun untuk sementara waktu di rawat oleh Yuto, Yuri dan Yui di cafe. Setiap hari, mereka merawat merpati itu, pelayan lainnya juga ikut merawatnya. Dan beberapa hari pun berlalu, luka merpati itu sudah mulai sembuh.
“wah, lihat.. lukanya sudah mengering. Sebentar lagi, dia pasti sembuh!” ucap Yui bersemangat.
“iya, agak sepi juga, ya.. kalau dia sudah dilepas” ucap Yuto sambil membelai bulu merpati itu.
“iya.. juga sih” Yui ikut membelainya.
“haaahh.. sebentar lagi kau sembuh dan bebas, Yui” ucap Yuto sambil tersenyum melihat merpati itu.
“Nani?” tanya Yui yang merasa namanya disebut.
“bukan, kau.. tapi burung ini.. aku pikir, bagaimana kalau kita namai dia sebelum dia di lepas. Jadi, sekarang namanya adalah Yui” jelas Yuto
“eehh?? Kenapa ‘Yui’? Itu kan namaku!” protes Yui
“karena nama itu cocok dengan burung merpati secantik ini” ucap Yuto dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“hahaha, baiklah.. jadi sekarang, namamu Yui! Ganbatte, Yui!” ucap Yui tersenyum pada merpati itu.
Setelah itu, mereka pun kembali ke pekerjaan mereka.

*To Be Continued*


[Part 2]
Story 3 part 2
Hari ini juga lumayan banyak pangunjung wanita yang datang, dan lagi-lagi membuat Hime dan Yui menganggur.
“haaahh.. nggangur lagi deh~!” keluh Yui yang dijawab dengan anggukan mantap Hime.
“Hime, ada kakakmu tuh” tiba-tiba Keito datang dengan piring-piring kotor di tangannya. Hime dengan malas segera pergi menemui kakaknya. Yui pun melihat ke arah kakak Hime.
“Keito! itu kan Kak Kei. sama siapa dia? Pacarnya?” jiwa penyelidik Yui mulai kambuh.
“mana aku tau” jawaban singkat itu keluar dari mulut Keito tanpa melihat pada orang yang bertanya dan fokus membersihkan piring-piring kotor itu.
“haaaahh.. enak sekali kalau bisa makan berdua seperti itu, ya. Cih! Yuto sih! sibuk dengan para pelanggan itu” gerutu Yui sambil memanyunkan bibirnya. Keito pun menghentikan pekerjaannya, wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian, sepertinya dia telah mendapatkan sebuah wangsit.
“eehm, bagaimana kalau kau membuatkan bento? Jadi kalian bisa makan berdua. lagi pula bento buatan sendiri itu pasti lebih enak, loh!” usul Keito penuh semangat.
“ah! Itu ide yang bagus!” ucap Yui dengan semangat pula.
“aaahhh~ Tapi.. aku tak pandai memasak” semangatnya itu langsung pudar setelah ingat kalau dia tidak bisa memasak.
“daijoubu! Serahkan saja padaku! akan ku ajari kau membuat bento yang enak!” Keito menepuk bahu Yui sambil tersenyum meyakinkannya.
“un! Baiklah! Tolong ajari aku Keito-sensei!” ucap Yui sambil membungkukkan badannya.
“okey.. berani bayar berapa?” goda Keito yang langsung disusul dengan pukulan Yui. Setelah itu, mereka pun tertawa bersama.
~~Sementara itu~~
Hime menemui kakak keduanya yang ternyata datang dengan seorang gadis. Senyum evil pun segera menghiasi wajahnya.
“Niichan! tumben niichan tidak sendiri ke sini?” tanya Hime dengan senyum jailnya.
“hehehe.. ah! Hime kenalkan, dia Murakami Sakura. Sakura ini Hime” ucap Kei memperkenalkan mereka berdua.
“Murakami Sakura desu” ucap Sakura sopan sambil sedikit membungkuk ditempat duduknya.
“Nishiyama Hime desu. Waaah, Murakami-san memang cantik sekaliii~! SU-TE-KI! hehehe” ucap Hime sambil senyum-senyum gaje.
“arigatou gozaimasu~” kata Sakura tersenyum.
“ohohoho.. douitashimashite~ jadi mau pesan apa?” Hime mulai mencatat pesanan kakaknya dan Sakura. Setelah itu, dia pun pergi ke dapur. Dan beberapa saat kemudian dia kembali membawa pesanan mereka.
“selamat menikmati~” ucap Hime seraya membungkukkan badannya.
“arigatou, Hime” ucap Kei
“ah! Niichan! sini sebentar!” Hime menarik lengan kakaknya dan membawa Kei sedikit menjauh dari Sakura.
“ganbatte niichan! dia gadis yang baik! cantik lagi! kapan-kapan jangan lupa ajak dia ke rumah! Kenalkan pada niini juga pada ayah dan ibu, ya!” bisik Hime dengan semangat.
“dasar kau ini! itu terlalu cepat, baka! Sudah kembali bekerja sana!” ucap Kei sambil mengacak-acak rambut Hime. Hime pun pergi cengengesan sambil membenahi rambutnya. Kei dan Sakura pun kembali menikmati pesanan mereka.
=========================================================
Sudah saatnya cafe tutup. Setelah bersih-bersih, para pegawai pun satu persatu pulang. Seperti biasa, Hime juga sudah pulang dengan Yamada.
“Yui, ayo kita pulang!” ajak Yuto
“ah! Maaf Yuto, kau pulang duluan saja! Masih ada yang harus kukerjakan di sini” jawab Yui
“eh? Baiklah kalau begitu. segeralah pulang kalau sudah selesai! Jangan sampai kemalaman! Hati-hati di jalan!” jiwa penasihat Yuto pun kambuh dan setelah memberi beberapa wejangan pada Yui, akhirnya dia pun pamit pulang duluan.
“un, baiklah! Hati-hati!” ucap Yui tersenyum. Yuto pun pergi, tampak dari raut wajah Yui perasaan was-was setelah Yuto keluar dari cafe. Sesekali dia memastikan apa Yuto benar-benar sudah pulang. Setelah Yui yakin Yuto sudah pulang, dia pun memulai les masaknya. Hari itu mereka belajar sampai malam, karena ternyata Yui benar-benar buta dalam hal memasak makanya Keito harus mengajarinya dari awal. Sejak hari itu, les memasak Keito-sensei pun dimulai.
~~dan keesokan harinya di cafe~~

Yui’s POV
Keadaan cafe hari ini juga seperti kemarin, hingga Hime mulai memikirkan suatu hal yang sangat aneh dan tak berhenti meratapi nasip. Aku pun hanya bisa tertawa mendengar celotehnya.
“Yui, mana Yuto? Para pelanggan mencarinya tuh!” tanya Hime dengan wajah seperti tak punya semangat hidup. “Haaahhh~~ kenapa sih selalu Yuto dan Keito. Aku kan juga pelayan disini. Emang ada bedanya, sih? susahnya jadi pelayan tak populer seperti ini T_T sesekali aku juga ingin populer seperti mereka” gerutu Hime.
“hahaha.. Di sana masih ada pelanggan tuh!” ucapku sambil menunjuk ke arah lelaki yang memang selalu datang setiap sore untuk menikmati kopi.
“EH?? Ogah ah! Kalau orang itu, biar pelayan lain saja! aku tak mau mencatat pesanan om-om berwajah mesum begitu. Hi!” ucap Hime memegangi kedua lengannya sambil bergidik ngeri. Aku jadi geli sendiri melihatnya.
“sudah! Sana cepat cari Yuto!” Hime mendorongku pergi. aku pun akhirnya pergi memanggil Yuto yang pasti ada di halaman belakang, merawat Yui-chan.
“Sudah kuduga kau disini. Para pelanggan mencarimu loh!”
“ah, Yui! lihat ini.. lukanya sudah sembuh!” ucapnya bersemangat, aku pun mendekatinya.
“waahh.. iya sudah sembuh. Yokatta na Yui-chan
“haaahh.. akhirnya saatnya berpisah, ya” Yuto tersenyum tipis sambil tetap membelai bulu Yui . aku hanya mengangguk kecil. Yaa.. tapi sepi juga kalau tak ada Yui-chan.
“baiklah.. ayo kita lepas dia bersama!” ujar Yuto tersenyum.
“Un!” jawabku semangat. kami pun membawa Yui-chan ditangan kami.
“okey.. 1..2..” Yuto mulai memberi aba-aba
“3!” kami melepaskan Yui, burung merpati itu pun terbang bebas ke angkasa.
“Yuto, kenapa kau tak pelihara saja Yui-chan?” tanyaku pada Yuto yang masih melihat Yui-chan terbang menjauh sambil tersenyum.
“kalau aku memeliharanya, kebebasannya akan terenggut. Aku tidak mau merenggut kebebasan Yui” jawabnya sambil menoleh padaku dan tersenyum.
“tapi, apa kau tidak apa-apa kalau berpisah seperti ini?”
“tidak apa-apa. mau bagaimana lagi.. kita harus melepaskan Yui dan membiarkannya terbang bebas agar dia bahagia, kan?” Yuto kembali menatap langit sambil tersenyum.
“hehehe.. iya juga ya” aku pun ikut menatap langit biru itu sambil tersenyum.
“lagi pula.. aku juga sudah punya Yui yang lebih manis” ucap Yuto jail sambil mengedipkan sebelah matanya. Melihatnya, aku jadi berdebar-debar. Pipiku terasa panas, mungkin sekarang wajahku sudah merah sekali.
“hahaha.. mukamu!” Yuto tertawa sambil menunjuk mukaku dan segera berlari menghindar “ayo..ayo~! terbanglah Yui! kejar aku! Ayo kejar~” godanya. Geram juga aku melihatnya, aku pun mengejarnya. Senang sekali rasanya bisa melakukan hal-hal bodoh seperti ini. Asal bisa bersama Yuto, aku tak keberatan sekalipun jadi merpati.
“Yuto! Tolong aku.. fansmu benar-benar merepotkan! Mereka tak mau kalau tidak dilayani olehmu” Keito tiba-tiba datang, kami pun menghentikan kejar-kejaran kami.
“ah~ iya.iya.. baik~” Yuto pun segera masuk cafe. Haaah~ rasanya aku ingin sekali mencegahnya agar tak pergi melayani para pelanggan menyebalkan itu. tapi apa boleh buat, yang ku bisa hanya menghela napas.
“waratte.waratte! sebentar lagi kau pasti bisa pergi bersama sambil makan bento berdua! ganbatte ne!” ucap Keito.
“un! Aku harus bisa buat bento yang enak!” ucapku bersemangat. Ya! Aku harus bisa menbuat bento untuknya. Aku akan berjuang!


Author’s POV
Setelah cafe tutup, Yui dan Keito pun mulai memasak. Sudah 2 hari ini tanpa sepengetahuan Yuto, mereka belajar memasak berdua di dapur cafe seusai bekerja. Untung saja Yuya mengijinkan mereka memakai dapurnya dengan syarat harus selalu membersihkan dan mau pergi membeli bahan-bahan persediaan yang hampir habis.
=========================================================
Keesokan harinya, aktivitas cafe pun berjalan seperti biasa. Tapi hari itu ada sesuatu yang terjadi pada seorang pelayan terpopuler di cafe. Yuto menutup pintu ruangan Yuya dengan wajah menunduk lesu, dan terdiam di depan pintu itu beberapa saat sambil tetap menundukkan kepalanya. Tak biasanya seorang Yuto berwajah seperti itu. Melihat Yuto, Yui pun jadi khawatir.
“ada apa Yuto? Kau baik-baik saja?” tanya Yui
“ah! Iya, aku baik-baik saja” jawabnya tersenyum. tapi, Yui yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Yui.. maaf aku harus pulang duluan hari ini” ujar Yuto sembari mengambil tasnya.
“ah, iya.. tak masalah.. hati-hati, Yuto!” ucap Yui. Yuto pun mengangguk dan pergi.
“kenapa dia?” tanya Hime heran melihat Yuto seperti itu.
“tidak tahu, dia tak memberitahuku” jawab Yui dengan nada khawatir. Mereka pun lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
Tiba-tiba pintu cafe terbuka dan masuklah dua orang yang sudah tak asing lagi dengan wajah yang sama-sama cemberut. Dua orang itu, segera duduk di kursi di meja yang berbeda dan saling membelakangi. Yui dan Hime pun menghampiri dua orang itu dengan hati-hati.
“anoo.. sumimasen.. tapi cafe sudah mau tutup” ucap Yui sedikit takut. Tapi keduanya tetap cemberut tak merespon.
“Daiki-kun~ Nana-san~ !! sebenarnya.. kalian ini kenapa? Kok cemberut begitu?” tanya Hime
“dia! Dia tak mau menemaniku nonton film Armageddon!” ucap Daiki sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Nana.
“film itu kan sudah lama! Bosan tau! Mending liat Harry Potter!” balas Nana membela diri.
“tapi kan kau sudah janji mau menemaniku nonton film!”
“iya! Tapi ga film itu! bosan.bosan! mending liat Harry Potter!”
 “Armageddon! aku sudah punya. Jadi kita liat Armageddon!” Daiki tetap tak mau mengalah.
“Harry Potter! Aku belum liat itu!” Nana juga tetap pada pendiriannya
“Armageddon!”
“Harry Potter!” Mereka berhenti sambil saling menatap tajam dan akhirnya kembali duduk saling membelakangi sambil cemberut. Sedang Hime dan Yui bengong sendiri melihat pertengkaran ga jelas sepasang kekasih itu.
“kalian bertengkar hanya karena hal sepele seperti itu?” tanya Hime dengan wajah heran tingkat Dewa.
“itu bukan masalah sepele!” bentak Daiki dan Nana berbarengan. Mereka saling menatap tajam lagi  dan kembali ke posisi semula.
“haaahh.. berilah pencerahan pada mereka berdua~” ucap Yui sambil menggeleng-gelengkan kepala dan pergi meneruskan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian Yamada pun datang untuk menjemput Hime.
“Konnichiwa! eh? Ada Daiki-kun dan Nana-san? bukannya cafe sudah tutup?” tanya Yamada heran dengan adanya dua makhluk itu. Hime segera menarik Yamada menjauh dan menjelaskan masalah itu. Yamada mengangguk paham, dia pun menghampiri Daiki dan Nana.
“ehm, bagaimana kalau begini.. kalian cari saja film yang kalian berdua sama-sama sukai dan menontonnya bersama. Jadi kalian tak perlu bertengkar seperti ini” ujar Yamada tersenyum meyakinkan. Daiki dan Nana pun masih diam berpikir.
“ehm, baiklah~” ujar Daiki pasrah. Yamada mengalihkan pandangan pada Nana, menunggu jawabannya.
“baiklah! tapi Daiki harus membelikanku takoyaki yang paling enak!” ujar Nana sambil membalikkan badannya melihat Daiki dengan wajah memohon.
“apa??! kenapa aku harus membelikanmu takoyaki?!” Daiki meninggikan suaranya lagi.
“pokoknya harus! Kau harus membelikanku takoyaki!” Nana pun tak mau kalah. Hime dan Yamada langsung menghela napas bersamaan.
“dasar kalian ini~~ !! Nana-san, sudah jangan mulai pertengkaran lagi! Daiki-kun, Apa salahnya sih membeli takoyaki saja!” Yamada pun mulai geram melihat pertengkaran kedua makhluk itu. Daiki dan Nana pun jadi terdiam.
“haaahh~ iya..iya.. akan aku belikan takoyaki!” beberapa saat kemudian Daiki pun mulai mengalah.
“benar ya?” tanya Nana memastikan. Daiki menghela napas lalu mengangguk mantap.
“Yey! Hehehe.. arigatou!” ucap Nana bersemangat sambil memeluk Daiki.
“iya.. iya~ sekarang, ayo kita pergi ke toko kaset!” ajak Daiki. Akhirnya mereka pun pergi bersama dengan gembira. Yamada dan Hime juga lega melihat pasangan baka itu akur lagi.
Akhirnya, pekerjaan Hime selesai dan dia pun pulang bersama Yamada seperti biasa. Dan seperti biasanya juga Yui dan Keito belajar memasak setelah semua pegawai pulang. Setelah beberapa hari berguru pada Keito-sensei, masakan Yui pun semakin bisa dirasakan kelezatannya. Dia pun mencoba membuat bento yang lezat. Dia menata semua makanan dalam tempat makan dengan hati-hati. Setelah berusaha keras, akhirnya Yui pun berhasil membuat bento itu.
“YAATTAA~~ berhasil!!” serunya girang sambil melompat-lompat kecil
“omedetou~~ kau berhasil!” ucap Keito ikut senang sambil bertepuk tangan.
“Arigatou gozaimasu Keito~ !!” Yui pun membungkukkan badannya pada Keito
“hehehe.. douita.. besok semangat ya!”
“un! Aku akan berusaha!” ucap Yui semangat dan mereka pun tertawa.

Yuto’s POV
Aku berjalan menyusuri jalan yang biasa ku lalui saat pergi bekerja. Cafe itu.. apakah tak apa-apa kalau seperti ini? Aku terus berjalan dan sampailah aku di depan cafe tempatku selama ini bekerja bersama teman-teman lain dan juga bersama Yui. Kulihat lampu cafe masih menyala. Aneh sekali, ini kan sudah malam, kenapa cafe masih buka? Rasa penasaran pun mendorongku untuk berjalan mendekat, kubuka pintu cafe itu. Dari dalam dapur terdengar suara Yui, sedang apa Yui malam-malam begini di cafe? Aku pun segera menengok ke dapur. Kulihat Yui dan Keito sedang bercanda berdua di dapur, mereka terlihat senang sekali. Melihat itu, darahku pun mulai naik. Api cemburu mulai membakarku. Segera ku tinggalkan cafe itu sebelum tangan ini melukai orang yang ku anggap sahabatku sendiri. Aku tak habis pikir, jadi selama ini, itu yang dia lakukan setelah pulang kerja. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh.

Author’s POV
Yui yang menyadari suara pintu tertutup pun segera melihat siapa yang datang. tapi dia tak mendapati seorang pun masuk cafe. Dari luar terlihat bayangan lelaki jangkung sedang berjalan meninggalkan cafe. Yui pun segera keluar cafe mengejar orang itu.
“Yuto~!” panggil Yui. Orang yang dipanggil pun menghentikan langkahnya.
“kau sedang apa malam-malam begini? ayo masuk cafe! disini dingin sekali” ucap Yui seraya berjalan mendekati Yuto.
“lebih baik begini saja..”
“eh?” Yui heran dengan ucapan Yuto
“seperti ini saja sudah cukup. Setelah ini kau bisa bebas” Yuto membalikkan badannya dan menatap tajam Yui.
“eh? Apa maksudmu?” Yui masih tak mengerti maksud ucapan Yuto.
“kita akhiri saja sampai disini” jawabnya singkat. Yui terkejut dengan apa yang barusan diucapkan Yuto. Raut wajahnya terlihat sangat syok mendengar pernyataan Yuto, matanya pun mulai berkaca-kaca.
“kalau terus bersamaku, kebebasanmu akan hilang. Aku akan membebaskanmu agar kau bisa bahagia. ‘aku harus melepaskan Yui dan membiarkannya terbang bebas agar dia bahagia’ walau bukan denganku. Jadi sekarang, terbanglah mencari kebahagiaanmu” tambah Yuto. Mendengarnya, airmata Yui pun mulai menggenang dan akhirnya tak bisa dibendung lagi.
“AKU BUKAN BURUNG!!” bentak Yui. dia pun berlari pulang sambil menangis. Keito yang melihat kejadian itu, menghampiri Yuto membawa sebuah kotak makan.
“selama berhari-hari, dia berusaha keras belajar membuat ini untukmu. Dia ingin makan berdua denganmu” jelas Keito seraya memberikan kotak bento itu pada Yuto dan dia pun pergi. Yuto membuka kotak bento di tangannya itu.
=========================================================
~~keesokan harinya~~
Setelah kejadian itu, Yui semalaman mengurung diri di kamar. Ibu Yui jadi khawatir dengan keadaan putrinya itu.
“Yui.. kau baik-baik saja? Buka pintunya, nak! ada surat untukmu” ucap ibu Yui di depan pintu kamar anaknya. Beberapa saat kemudian, Yui pun membukakan pintu kamarnya. Dia pun keluar kamar menemui ibunya dan mengambil suratnya.
“arigatou okaasan” ucap Yui, dia pun kembali masuk kamar, tapi langkahnya terhenti karena ibunya menahan pergelangan tangannya.
“Yui, kau tak apa-apa? matamu bengkak. Kamu kenapa?” tanya ibunya khawatir melihat Yui.
“aku baik-baik saja” jawabnya singkat sambil melepas genggaman tangan ibunya dengan halus kemudian Yui pun segara menutup pintu kamarnya kembali.

Yui’s POV
Kubuka surat itu.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                Terima kasih untuk bentonya. Maaf  aku selalu menyusahkanmu. Aku akan selalu menyukai Yui. Sayonara.
                                                                                                                                             Nakajima Yuto

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Air mataku pun seketika itu tumpah, aku tak kuasa menahan tangis setelah membaca surat itu. Aku ingin bertemu. Ya! Aku harus bertemu dengan Yuto sekarang. aku tak ingin kehilangan dia! aku segera ganti baju dan bergegas pergi ke rumah Yuto. Aku berusaha berlari secepat mungkin dan sampailah aku di depan sebuah rumah yang cukup besar. Kulangkahkan kakiku menuju rumah itu.
“ano sumimasen, kamu mencari Nakajima-san?” tiba-tiba dari belakang seorang bibi bertanya padaku. sepertinya bibi ini tetangga Yuto.
“iya, saya mencari Nakajima-kun” jawabku
“wah, sayang sekali. keluarga Nakajima baru saja pergi. mereka pindah ke London” jelas bibi itu. Mendengar penjelasannya, mataku langsung terbelalak kaget. Aku tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar “bohong” hanya kata itu yang bisa kuucapkan. Ku balikkan badanku dan pergi. Pikiranku kosong, aku tak tahu harus bagaimana lagi.
“hey, apa kau tidak apa-apa?” tanya bibi itu khawatir. Ku hentikan langkahku dan membalikkan badan seraya membungkukkan badanku lalu tersenyum tipis pada bibi itu. Setelah itu, aku pun berjalan pergi lagi. aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Yang aku tahu sekarang hanyalah, kesempatanku telah terlewat, aku sudah terlambat. Orang yang sangat berharga bagiku telah pergi meninggalkanku. Di jalan sepi ini, akupun menangis sejadi-jadinya menyesali semua kebodohan yang kulakukan. Aku terlambat menjelaskan padanya. Aku terlambat mengatakan padanya bahwa aku juga sangat mencintainya.

~STORY 3 END~