?

Log in

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] My Shadow -Part 1-

Hallo minna. Setelah sekian lama, malam ini aku tiba-tiba dapet ide gila.
Saa.. Happy reading!

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, OC (sementara itu dulu. Nanti juga ketahuan ada sapa aja xD)

[Part 1]
-Part 1-

                Cerita ini berawal dari kejadian tragis dua tahun yang lalu. Tepat di hari kelulusannya, Hime kehilangan orang yang sangat dia sayangi.
                Malam itu setelah pesta perpisahan sekolah menengah pertamanya, Hime dan Ryosuke pulang bersama. Malam bahagia itu tidak didukung oleh cuaca. Hujan turun dengan derasnya. Tapi hujan deras tetap tidak menganggu sepasang kekasih itu. Di bawah sebuah payung berukuran sedang, Hime dan Ryosuke bergandengan tangan. Monumen jam yang berada di tengah taman kota itu menunjukkan pukul delapan malam saat mereka melewatinya. Tiba-tiba Hime mendengar sebuah suara dibalik semak, dibawah monumen jam. Dia langsung mengajak Ryosuke melihat ada apa dibalik semak itu.
                  Hime menemukan sebuah kardus dengan seekor kucing kecil berwarna hitam yang terus mengeong. Tubuh kucing itu menggigil kedinginan. Hime lalu melepas jaketnya dan menyelimutkan pada si kucing. Ryosuke menawarkan untuk merawatnya. Hime pun langsung mengangguk dengan sangat antusias. Dia tidak bisa membawa kucing malang itu pulang karena orang tuanya melarangnya memelihara hewan. Jika kucing itu bersama Ryosuke, pemuda itu pasti akan menjaga kucing itu dengan baik karena Ryosuke memang penyuka hewan. Hime juga bisa mengunjungi kucing itu kapanpun dia mau.
                Hime menggendongnya, berusaha membuat tubuh kucing itu hangat. Sampai di sebuah zebracross Ryosuke menekan tombol yang berada di bawah lampu lalu lintas. Mereka harus menunggu sekitar dua puluh detik untuk menyeberang jalan. Kedua orang itu mengobrolkan hal-hal lucu yang terjadi di masa-masa sekolah menengah mereka. Tawa mereka meledak saat mengingat tentang teman sekelasnya, Nakajima-kun, yang gagal membolos pelajaran matematika dan akhirnya dihukum membersihkan seluruh kamar mandi di sekolah.
                Tawa mereka seketika berhenti ketika kucing kecil itu melompat dari gendongan Hime saat ada mobil yang baru saja lewat membunyikan klakson dengan kerasnya. Tanpa pikir panjang Hime segera melompat ke jalan untuk menangkap kucing itu. Dia bahkan tidak tahu kalau ada sebuah truk yang melaju kencang ke arahnya. Hime menutup matanya, mendekap erat kucing kecil yang ada digendongannya. Detik kemudian, dia mendengar sebuah suara lembut berbisik di telinganya. Detik selanjutnya, dia melihat senyuman manis dari seorang yang ia sayangi. Lalu puluhan detik berikutnya berlalu begitu saja. Ribuan tetes air terus jatuh dari langit menghujani jalanan itu. Hime membuka matanya, terkejut melihat dirinya berada di pinggir jalan dan masih baik-baik saja. Kucing kecil itu juga baik-baik saja dan masih berada dipelukannya.
                Aliran kecil air berwarna merah mengalir pelan di sebelahnya. Matanya terbelalak. Suaranya tercekat. Udara serasa tidak bisa keluar maupun masuk dengan baik melalui saluran pernapasannya. Kelenjar air matanya bekerja aktif memproduksi air yang sedetik kemudian meluap tanpa bisa dibendung. Diiringi tangisan histeris Hime, di tengah guyuran hujan malam itu. Yamada Ryosuke, telah tiada.

***

                Dua tahun telah berlalu sejak hari itu. Kini gadis bernama Nishiyama Hime sudah berada di kelas dua SMA. Gadis itu duduk di bangku paling pojok belakang dekat jendela. Rambut panjang sepunggung yang terlihat seperti tidak pernah terkena belaian benda bernama sisir itu dibiarkan tergerai. Poninya sudah terlalu panjang hingga menutupi setengah wajah sebelah kanan.
Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tentu saja tidak ada orang yang berada di sekolah sepagi itu kecuali dirinya. Tangan Hime bergerak melipat kertas lipat kecil. Dalam sekejap selembar kertas putih persegi itu sudah menjadi origami berbentuk kuncup bunga tulip. Bunga tulip pertama hari ini. Origami itu lalu dia letakkan di pojok mejanya. Hime kemudian mengambil kertas lipat putih lagi dan membuat bentuk yang sama. Dia terus membuat tulip putih itu dan menjajarnya di meja hingga seluruh meja kecil itu penuh dengan origami tulip putih. Setelah tidak ada tempat lagi untuk meletakkan origaminya, dengan cepat Hime mengambil tas kertas kecil dari dalam tasnya. Hime memasukkan satu persatu origami itu ke dalam tas kertas. Setelah semua masuk, dia kembali membuat origami yang sama dan meletakkannya di meja seperti sebelumnya. Kegiatan itu dia lakukan sepanjang hari dan setiap hari. Sejak kejadian itu.
                Dengan penampilan yang sangat mengerikan dan kebiasaan anehnya itu tentu saja tidak ada orang yang mau berteman dengannya. Mendekat saja enggan apalagi berteman. Karena itu Hime selalu sendirian. Hari itu Hime menghabiskan waktu istirahat siangnya untuk menyendiri di atap sekolah. Setelah memakan bekalnya, dia kembali melipat kertas lipat untuk membuat tulip putih. Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hime lebih banyak membuat origami. Setelah kertas putih yang dibawanya habis, dia lalu mengambil kertas berwarna hijau. Hime lalu menggunting kertas hijau itu. Potongan kertas itu sedemikian rupa ia bentuk menjadi tangkai untuk origami tulipnya.
                Hime tidak menyadari kegiatannya dari tadi diperhatikan oleh seorang pemuda yang ternyata sudah lebih awal menghuni atap sekolah. Hime tidak melihat ada orang lain selain dirinya karena terlalu fokus dengan origami-origaminya.

                “Oi! Kamu sedang apa?” tanya pemuda itu yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Hime.

                Hime terkejut melihat pemuda dengan penampilan berandal itu. Dia tahu siapa pemuda itu dan sangat berbahaya kalau berada di dekatnya. Takaki Yuya, pemuda paling ditakuti seluruh warga sekolah. Dia adalah anak pemberi donasi terbesar sekolah itu. Dia terkenal sangat kejam dan siapapun yang terlibat dengannya akan tertimpa ketidakberuntungan.
Hime segera membereskan kertas-kertasnya dan hendak meninggalkan tempat itu.

                “Hei! Kamu meninggalkan ini,” pemuda itu menepuk pundak Hime, menghentikan langkah gadis itu.
Hime membalik badannya dan mengambil kotak bekalnya yang disodorkan oleh Yuya. Lalu Hime pun berlari pergi.

                “Apa yang kamu inginkan dariku?” tanya Yuya. Setelah Hime pergi berarti tidak ada orang selain Yuya di atap sekolah itu. Menurut orang biasa memang seperti itu, tapi menurut Yuya berbeda. Ada makhluk lain selain dirinya di atap sekolah itu.

                Yuya berdecak kesal sambil membalik badannya menatap makhluk itu, “Apa maumu?”

                “Eh? Kamu bisa melihatku?” tanya sesosok pemuda yang memakai gakuran hitam. Dia terlihat seperti anak laki-laki biasa. Tapi sebenarnya dia bukan penghuni dunia ini, atau lebih tepatnya sudah bukan penghuni dunia ini.

                Yuya mengangguk singkat, “Kenapa kamu terus membuntuti gadis itu? Kamu berniat jahat pada gadis itu?”

                “Tidak.. Tentu saja tidak!” pemuda itu langsung menyangkal. “Aku tidak mungkin berniat buruk pada Hime. Aku hanya ingin melindunginya.”

                “Hah? Bagaimana kau bisa melindunginya kalau kau saja tidak bisa menyentuhnya. Dunia kalian berbeda. Cepat kembali ke duniamu!” tegas Yuya. Yuya lalu berjalan meninggalkan atap sekolah dan kembali ke kelasnya.

                “Aku mau kembali ke kelas. Jangan mengikutiku! Cepatlah pergi dari dunia ini. Ini bukan tempatmu lagi!” ujar Yuya tetap dengan nada malasnya.

                “Aku tidak bermaksud mengikutimu. Tapi aku tidak bisa lepas dari bayanganmu,” ujar makhluk itu.

                “Hah?! Jangan bercanda!” bentak Yuya.

                “Aku tidak bercanda. Lihat ini,” makhluk itu lalu mencoba terbang menjauh tapi bayangan Yuya kembali menariknya. Bayangan itu seperti rantai yang tidak bisa dilepas.

                “Uso!!” teriak Yuya tidak terima. “Argh kenapa jadi begini?!”

                Makhluk itu sedikit mundur menjauh, dia tidak mengira akan terikat dengan orang menakutkan seperti Yuya. “A..Aku juga tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini,” ujarnya lalu diiringi dengan tawa hampa. “Em... Sepertinya mulai sekarang kita akan selalu bersama. Namamu Takaki Yuya, kan? Perkenalkan aku Yamada Ryosuke.”

                Yuya yang tadinya berjongkok, menunduk meratapi hal yang terjadi padanya, tiba-tiba berdiri menatap roh Ryosuke lurus-lurus, “Kau harus menuntaskan hal yang membuatmu terikat di dunia ini agar kamu bisa lepas dariku dan kembali ke duniamu.” Yuya menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Sebenarnya aku paling membenci hal ini. Tapi apa boleh buat karena kau tidak bisa lepas dariku. Aku akan membantumu.”

                Ryosuke yang awalnya memampang wajah penuh tanya segera mengembangkan senyumannya, “Benarkah? Terima kasih banyak, Yuya!”

                “Jangan salah paham! Aku hanya ingin kau cepat pergi dari dunia ini dan tidak mengangguku lagi,” ujar Yuya dingin. Yuya, diikuti roh Ryosuke, berjalan meninggalkan atap sekolah itu.

Dan cerita mereka baru saja dimulai.

***TO BE CONTINUED***