?

Log in

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] My Shadow -Part 2-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, OC

[Part 2]
                 Bel pulang berdering di seluruh penjuru ruangan. Dengan sigap Hime membereskan barang bawaannya dan segera beranjak dari kelas. Dia berjalan cepat melewati lorong sekolah sambil mendekap tas kertas berisi puluhan tangkai bunga tulip kertas. Yuya dan—tentu saja—Ryosuke, membuntutinya dari belakang.
                “Kenapa dia terlihat tergesa-gesa? Dia mau kemana?” tanya Yuya.
                “Ke makamku,” jawab Ryosuke singkat.
                Keduanya terus membuntuti Hime hingga mereka sampai di bawah sebuah bukit kecil. Jalan setapak terjal mereka lewati hingga mencapai puncaknya, sebuah kompleks pemakaman. Ryosuke menunjukkan letak makamnya pada Yuya. Mereka lalu melihat Hime dari kejauhan. Gadis itu sedang menata bunga-bunga kertasnya, lalu mengikatnya dengan sebuah pita putih. Setelah meletakkan seikat bunga tulip kertas dengan jumlah lebih bayak dari biasanya di atas makam Ryosuke itu, Hime mengatupkan kedua tangannya, berdoa. Beberapa menit kemudian, pundaknya berguncang menandakan dia sedang menangis.
                “Gomennasai... gomennasai... Ryosuke gomennasai...,” ucapnya berkali-kali sambil menangis.
                “Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia membuat bunga origami itu dan meletakkannya di makammu?” Yuya bingung.
                “Hari ini, hari kematianku. Itu origami tulip putih. Tulip putih melambangkan permintaan maaf,” jelas Ryosuke. Dia lalu terbang melayang mendekati Hime. Yuya mau tidak mau dipaksa berjalan mendekat, mengikuti Ryosuke.
                “Jangan menangis, Hime. Ini semua bukan salahmu,” Ryosuke berkali-kali meraih tubuh Hime hendak memeluknya. Tapi tangannya selalu menembus badan Hime. Dia tidak bisa lagi memeluk gadis yang ia sayangi itu.
                Yuya menghela napas panjang melihat adegan di depannya, “Oi! Airmatamu itu hanya membuat roh orang yang kau tangisi bersedih,” ujarnya dengan nada dingin.
                Hime terkesiap, dia terkejut melihat Yuya ternyata berdiri di sebelahnya. Hari ini sudah kedua kalinya hal ini terjadi padanya, “A... apa yang kamu lakukan disini?” tanya Hime dengan terbata-bata.
                “Namamu Nishiyama Hime, kan?” tanya Yuya
                Hime mengangguk, merasa dirinya terancam bahaya Hime pun segera mengambil tasnya dan melangkah pergi, “Maaf, aku harus pergi.”
                Yuya berjalan beberapa langkah mengikuti Hime, “Kamu sebaiknya menghentikan ini semua. Lupakan masa lalu dan mulailah hidup yang baru.”
                “Kamu tidak ada hubungannya denganku. Berhenti mencampuri urusanku,” Hime menjawab dengan nada biasa. Tapi karena auranya yang mengerikan bicaranya pun jadi terdengar tidak biasa. Hime kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Yuya.
                “Yamada Ryosuke,” Yuya menyebut sebuah nama dan berhasil membuat Hime menghentikan langkahnya. “Kekasihmu itu yang membuatku harus mencampuri urusanmu.”
                “Apa hubunganmu dengan Ryosuke?!” suaranya meninggi. Hime membalik badan, menatap Yuya tajam. Sinar matahari senja menyinari wajahnya langsung, membuat Yuya dapat melihat ekspresi gadis itu untuk pertama kalinya.
                “Tidak ada,” jawab yuya. “Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Yang aku tahu hanyalah dia ingin melindungimu.”
                “Kalau kamu tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu diam dan tidak mencampuri urusanku!” Hime kembali berjalan pergi.
                “Aaah... Kasihan sekali si Yamada itu. Aku bingung kenapa dia ingin melindungi gadis menyedihkan sepertimu?” ledek Yuya.
                Hime tidak menghiraukan Yuya lagi dan pergi meninggalkan kompleks pemakaman itu. Satu lagi pertemuan yang tidak menyenangkan berlalu.
                “Apa yang kau lakukan?!” bentak Ryosuke.
                “Tidak ada. Aku hanya bicara padanya,” Yuya menjawab enteng.
                “Kau seharusnya tidak mengatakan hal itu. Kau membuat Hime semakin sedih!” Ryosuke jadi sangat marah.
                “Jadi aku salah?” tanya Yuya. Pertanyaan itu berhasil membuat Ryosuke diam. Sebenarnya apa yang dikatakan Yuya benar. Hanya saja Ryosuke tidak setuju dengan caranya. “Aku hanya menyampaikan apa yang tidak bisa kau sampaikan padanya. Kalau hal itu salah, jadi apa yang harus aku lakukan?” Yuya memasukkan kedua tangannya di saku celana lalu melangkahkan kaki meninggalkan kompleks pemakaman itu. “Lagipula bagaimana aku bisa membantumu jika aku saja tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua.”
                Ryosuke masih diam. Yuya benar, dia belum tahu apa yang terjadi. “Baiklah, akan aku ceritakan semuanya.”

***

                Keesokan harinya, di sekolah. Dua orang anak laki-laki yang sedang membawa tumpukan tugas berjalan sempoyongan hendak menuruni tangga. Saat mereka baru sampai di bibir tangga, mereka terkejut karena Yuya tiba-tiba mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi ke tembok dan menghalangi jalan mereka.
                “Ma..maaf, kami mau lewat,” ujar salah satu anak yang memakai kacamata memberanikan diri. Mereka harus lewat tangga itu karena tangga itu yang paling dekat dengan kelas mereka.
                “Apa kalian tidak melihat aku sedang bersantai di sini? Lewat tangga Utara!” perintah Yuya.
                Barang bawaan mereka sangat berat jadi akan sangat melelahkan kalau mereka harus lewat tangga Utara. Satu anak lagi seperti hendak protes tapi tidak jadi karena tatapan membunuh yang diberikan Yuya.
                “Kalau kalian mau lewat tangga ini, aku akan membuat kalian babak belur lebih dulu,” gertak Yuya.
                Seperti yang diinginkan Yuya, kedua anak laki-laki itu pun ketakutan dan pergi menuju tangga Utara sesuai perintah.
                “Yuya! Lagi-lagi kau menghalangiku! Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mendapatkan teman,” sesosok anak laki-laki dengan baju seragam sekolah yang sama dengan yang dipakai Yuya itu tiba-tiba muncul dari bawah anak tangga.
                “Inoo, sudah kubilang ratusan kali. Sampai kau berani mencelakai murid sekolah ini. Aku tidak segan-segan melenyapkanmu,” Yuya sudah siap menghantamkan tinjunya ke arah Inoo, tapi Inoo segera melayang menjauh.
                “Aah... Padahal aku hanya ingin bersenang-senang sedikit di hari kematianku ini,” gerutu makhluk yang memiliki wajah lumayan seperti perempuan itu. Matanya lalu mengarah pada sesosok roh yang melayang di belakang Yuya, “Eh? Kamu menolong roh lagi? Heeem... anak yang baik,”
                “Urusai!” bentak Yuya. Tapi tak digubris oleh Inoo. Dia malah melayang mendekati Ryosuke.
                “Ah... Yamada Ryosuke desu,” Ryosuke memperkenalkan diri.
                “Inoo Kei desu. Kamu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan berandal ini. Nanti kamu bisa dilenyapkan olehnya,” Inoo lalu tertawa. Ryosuke hanya bisa ikut tertawa hampa.
                “Aku hanya melenyapkan roh menyebalkan sepertimu!” Yuya melemparkan tinju ke arah Inoo, tapi Inoo berhasil menghindar.
                “Aish, dasar manusia berhati dingin! Apa boleh buat. Aku akan bersenang-senang di tempat lain saja. Jaa ne!” makhluk itu melayang pergi, kabur.
                “Dia itu siapa?” tanya Ryosuke setelah Inoo pergi.
                Yuya menghela napas dan berjalan pelan menuju atap sekolah, “Dia dulu murid sekolah ini. Sepuluh tahun yang lalu dia meninggal karena jatuh dari tangga ini saat sedang membawa buku-buku tugas. Dia berusaha mencelakai murid sekolah ini agar dia punya teman.”
                Ryosuke mengikuti di belakangnya, “Heeem.. Jadi begitu. Kamu membentak dua anak tadi supaya mereka tidak celaka karena ulah Inoo? Kamu ternyata orang yang baik, ya.” Ryosuke menarik kesimpulan yang tepat.
                “Tidak juga,” Yuya menjawab singkat.
                “Awalnya aku ragu, kenapa kamu tiba-tiba mau menolongku. Tapi ternyata kamu memang orang baik,” Ryosuke tersenyum lebar. Dia merasa lega karena bertemu dengan Yuya.
                Yuya terus berjalan, membiarkan Ryosuke yang sedang heboh sendiri. Saat sampai di atap sekolah, dia langsung merebahkan tubuhnya dan membiarkan angin menerpa wajahnya dengan lembut.
                Jeda hening beberapa saat di antara mereka. Ryosuke sekarang ikut duduk melayang-layang di udara sambil menatap langit dan menikmati angin sepoi-sepoi, “Jadi kamu mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan gadis itu?” tanya Yuya memecah keheningan.
                “Iya,” Ryosuke masih tersenyum lebar. Senyuman lembut yang membuat Yuya terdiam, tak habis pikir dengan roh satu ini. Dia malah bersedia mati.
                “Bodoh!”
                “Apa kau bilang?!” senyuman Ryosuke langsung memudar.
                “Kamu bodoh mau mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan seorang gadis seperti itu,” jelas Yuya.
                Ryosuke geram dibuatnya. Tekukan di dahinya semakin dalam. Raut wajahnya mengeras. Percuma rasanya dia memuji Yuya tadi. Ingin rasanya dia menarik kembali omongannya.
                Yuya tertawa. Ryosuke menatapnya bingung, “Apa yang lucu?!”
                “Walaupun bodoh, tapi menurutku kamu keren juga. Baru pertama kali aku bertemu dengan roh sepertimu,” ujar Yuya.
                Ryosuke diam sejenak. Lalu senyuman di wajahnya kembali mengembang. “Ngomong-ngomong, aku masih penasaran. Kenapa kamu mau menolongku? Aku ingin mendengar alasannya langsung darimu.”
                Yuya menatap Ryosuke, lalu tersenyum. “Ceritanya agak panjang. Tidak apa-apa?” tanya Yuya yang langsung dijawab oleh anggukan antusias Ryosuke.
                Yuya memandang langit. Menerawang kenangannya di masa lalu, “Aku memiliki kekuatan ini sejak kecil, sejak aku lahir. Waktu aku kecil dulu, aku berkali-kali ingin menolong orang saat mereka akan diganggu oleh roh-roh jahat. Tapi saat aku memberitahu mereka, tentu saja, mereka tidak ada yang mempercayai perkataan seorang anak ingusan. Mereka pun masuk dalam jebakan roh-roh jahat itu dan terkena musibah. Orang-orang mulai menganggapku sebagai pembawa musibah dan mereka mengucilkanku.” Yuya merubah posisinya dari tidur menjadi duduk.
                “Awalnya aku membenci kekuatanku ini, tapi saat awal masuk SMP ada sebuah kejadian yang membuatku sadar,” Yamada memperhatikan cerita Yuya dengan seksama. Melihat ekspresi Yuya dia seperti ditarik ke dalam ingatan sedih milik pemuda jangkung itu.
                “Waktu itu, aku melihat ada roh jahat penunggu lampu lalu lintas yang ingin mencelakai seorang anak kecil. Saat itu aku mati-matian mengacuhkannya dan akhirnya roh jahat itu berhasil. Anak laki-laki itu, tertabrak mobil dan meninggal di tempat. Melihat kejadian itu aku merasa bersalah tapi aku tidak bisa menolongnya lagi. Aku sangat ketakutan. Saat itu yang terpikir olehku hanya ingin segera pergi dari tempat itu. Aku langsung berlari pulang ke rumah. Sepanjang malam aku tidak tidur karena terus memikirkan kejadian itu. Besoknya aku kembali ke tempat kejadian dan menemukan roh anak itu menangis di bawah lampu lalu lintas. Aku menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi padanya, seolah tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Anak itu bilang dia tersesat, dia tidak tahu jalan pulang ke rumahnya. Ternyata saat kejadian itu, dia terpisah dengan ibunya. Dia berusaha mencari ibunya tapi tidak ketemu dan malah meninggal karena kecelakaan. Karena aku ingin menebus kesalahanku, aku berkata akan mengantarnya pulang. Tiba-tiba saja roh anak itu tertarik oleh bayanganku dan tidak bisa lepas. Seperti kamu sekarang ini,” Yuya menatap bayangannya yang tersambung dengan kaki Ryosuke.
                “Setelah berkeliling hampir ke seluruh penjuru kota. Aku berhasil mengantarnya pulang ke rumah. Anak itu terlihat sangat senang. Dia tersenyum dan berterima kasih padaku, lalu dalam sekejap dia menghilang. Sejak saat itu, aku mulai menerima kekuatan ini. Aku yakin, pasti ada alasannya kenapa aku terlahir dengan kekuatan seperti ini. Mulai kejadian itu, entah bagaimana, hampir setiap hari roh-roh penasaran mulai datang menemuiku dan meminta bantuan. Mereka langsung terikat oleh bayanganku, jadi mau tidak mau aku harus menolong mereka agar mereka tidak membuntutiku lagi. Memang melelahkan, tapi terkadang itu jadi sangat seru.” Yuya tertawa diakhir ceritanya.
                Yuya menatap Ryosuke. Pemuda itu sudah berkaca-kaca mau menangis, “Terima kasih, Yuya. Terima kasih banyak. Kamu memang benar-benar orang yang baik, maaf aku pernah meragukan kebaikanmu,” Ryosuke terharu mendengar cerita Yuya.
Yuya tertawa keras melihat Ryosuke, “Jangan menangis! Tampangmu bodoh kalau menangis! Menjijikkan, tahu!” Keduanya lalu tertawa bersama.
                Tiba-tiba pintu atap sekolah terbuka menghentikan tawa Yuya dan Ryosuke. Mereka berdua langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Gadis berambut panjang dengan poni yang menutup sebagian wajahnya berdiri di ambang pintu. Ya... Hime. Dia memeluk tas kertas berisi kertas origaminya dan membawa sebuah kotak makan yang dibungkus kain merah motif garis-garis. Dia langsung duduk di dekat pintu. Sepertinya lagi-lagi Hime tidak menyadari kalau ada Yuya di sana.
                “Dia tidak menyadari kalau ada aku di sini atau bagaimana?” Yuya berbisik pada Ryosuke.
                “Lagi-lagi dia melamun. Ah, padahal dulu Hime adalah gadis yang sangat ceria. Sekarang dia berubah menjadi seperti ini. Ini semua salahku,” keluh Ryosuke.
                “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Itu memuakkan,” cerca Yuya. “Kamu ingin melindungi gadis itu, tapi karena kamu sudah meninggal jadi menyentuhnya saja tidak bisa,” bukan sebuah pertanyaan. Lebih tepatnya sebuah kesimpulan yang dapat ditarik oleh Yuya setelah mendengar semua cerita Ryosuke.
                Ryosuke mengangguk, “Karena aku tidak bisa melindunginya dengan tanganku sendiri, aku ingin mencari orang yang bisa melindunginya. Karena itu, sejak hari kematianku aku selalu mengikutinya. Tapi semakin hari, keadaan jadi semakin buruk. Tidak ada hal baik yang terjadi pada Hime. Aku jadi merasa bersalah.”
                “Jika dia berpenampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang mau mendekatinya. Pertama, kita harus membuatnya mau mengubah penampilannya menjadi gadis biasa seperti dulu,” jelas Yuya yang langsung disetujui oleh Ryosuke.
                Yuya berdiri menghampiri Hime, lalu tanpa pemberitahuan lebih dulu dia langsung menghempaskan tubuhnya, duduk di sebelah Hime. Otomatis Hime langsung melonjak kaget karena ulah Yuya.
                “Yo! Hari ini cerah, ya?” ujar Yuya basa-basi. Yuya yang biasanya dingin pada orang lain, sekarang sedang mati-matian mengembangkan senyuman lebar. Berharap dengan begitu Hime mau mendengarkannya. Tapi respon yang diterimanya berbeda, Hime tidak menggubrisnya dan malah membereskan barang bawaannya. Saat Hime berdiri, Yuya segera menarik pergelangan tangan Hime, menghentikan langkah gadis itu. “Maaf, atas kejadian kemarin. Aku tiba-tiba bicara seperti itu padamu,” suara Yuya yang besar membuat kalimat itu terdengar tegas namun lembut.
                Hime menghentakkan tangannya agar lepas dari genggaman Yuya. Setelah itu dengan cepat dia berlari pergi.
                Yuya hanya bisa melongo melihat gadis itu pergi, “Ada apa dengan anak itu?!” umpat Yuya. Dia menghentakkan kakinya kesal. “Setidaknya katakan sesuatu. Aku sudah susah payah bersikap baik dan mengajaknya ngobrol tapi dia malah tidak menghiraukan aku. Gadis itu seratus kali lebih menyebalkan dari yang aku kira.”
                Ryosuke yang melayang-layang di sebelahnya, tertawa terbahak-bahak. Yuya dibuat semakin geram. “Jangan tertawa!!” bentaknya.
                “Aku tidak mengira kamu bisa membuat ekspresi seperti itu. Kamu terlihat seperti orang bodoh! Hime benar-benar hebat,” ejek Ryosuke masih dengan tawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan.
                “Berisik! Aku berbuat seperti itu untuk membantumu!” Yuya terus menggerutu. “Ini semua gara-gara kekasihmu itu tidak mau mendengarkanku sama sekali.”
                “Hai... hai, tenanglah, kita coba lagi sepulang sekolah nanti,” ujar Ryosuke.

***

                Jam menunjukkan pukul empat sore. Langit sudah mulai memerah. Hime meletakkan tulip kertas terakhirnya di dalam tas kertas. Setelah itu dia beranjak pergi. Dia tidak sabar menanti esok hari. Besok adalah hari Sabtu, dia seharian akan berada di makam Ryosuke seperti yang dia lakukan setiap minggunya. Itu adalah salah satu kebiasaan Hime. Hime akan melipat tulip-tulip kertas di depan makam kekasihnya itu sambil bercerita tentang kegiatannya selama seminggu, walaupun memang kegiatannya sepanjang minggu hanyalah melipat origami sendirian. Dia juga akan bercerita tentang banyak hal, tentang gurunya, teman-teman sekelasnya yang dia perhatikan setiap harinya, dan lain-lain. Hime merasa lebih tenang bila berada di makam Ryosuke dan menceritakan segala hal. Serasa beban dan masalah yang selama ini dia alami, perlahan menghilang.
                “Nishiyama Hime!” panggilan dari seseorang itu membuyarkan lamunan indah Hime. Dia menoleh ke sumber suara dan raut wajahnya pun langsung berubah muram.
                Yuya berjalan mendekat dan berhenti di jarak sekitar lima langkah dari Hime. “Sampai kapan kamu mau begini terus?” tanya Yuya tanpa basa-basi.
                Hime terlihat tidak paham dengan apa yang dibicarakan laki-laki itu. Hime lalu membalik badannya dan berjalan pergi. Yuya mengikutinya dari belakang.
                “Kalau kamu tidak merubah penampilanmu dan menghilangkan kebiasaan anehmu. Kamu selamanya akan dijauhi. Kamu selamanya akan sendirian!” Yuya terus bicara. Tapi Hime semakin mempercepat langkahnya. Yuya tak mau kalah. Dia juga mempercepat langkahnya. “Sampai kapan kamu mau melarikan diri, Pengecut?!” teriak Yuya.
                Hime pun menghentikan langkahnya. Mereka sampai di lapangan sekolah. Tidak ada orang lain di lapangan itu kecuali mereka berdua—dan tentu saja Ryosuke—karena semua murid sudah pulang. “Selamanya akan sendirian, selamanya akan dijauhi,” Hime mengulangi kata-kata Yuya. “Memangnya apa urusannya denganmu? Kamu tidak berhak menuturiku seperti itu. Lihat dirimu! Kamu juga sama, kan? Tidak ada yang mau berteman dengan berandalan sepertimu. Semua orang takut padamu. Tidak ada yang mau dekat dengan orang sepertimu. Dasar orang tidak punya hati!” Gadis itu menatap Yuya dengan tatapan tajam penuh amarah.
                Yuya malah menunjukkan seringainya, “Terserah kamu mau memakiku dengan sebutan apa. Yang penting, aku bukan pengecut yang selalu melarikan diri dari kenyataan sepertimu! Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, jadi diamlah dan dengarkan perkataanku.”
                Hime semakin marah dibuatnya, “Untuk apa aku mendengarkan orang sepertimu. Kamu juga sama sekali tidak tahu menahu tentangku. Jadi jangan ganggu kehidupanku lagi!” Hime kembali melangkahkan kakinya.
                “Aku tahu,” kata Yuya. Hime tidak menghentikan langkahnya. “Aku tahu semua tentang masa lalumu.”
                Hime menghentikan langkah, “Uso!” katanya tanpa membalik badan.
“Nishiyama Hime. Kamu memiliki kekasih bernama Yamada Ryosuke. Kalian adalah teman sejak kecil dan kalian mulai berpacaran sejak kelas satu SMP,” tanpa ba-bi-bu Yuya memulai ceritanya. Dia melangkah mendekati Hime. Sedangkan Hime masih tetap bergeming.
                “Kamu dulu gadis yang selalu ceria dan sangat positif, tidak seperti sekarang. Tapi kejadian malam itu mengubahmu. Yamada meninggal akibat tertabrak truk demi menyelamatkanmu. Orang tua Yamada menyalahkanmu atas kematian anaknya. Mereka menganggapmu telah membunuh anaknya. Lama kelamaan kamu mulai dikucilkan oleh tetangga dan orang di sekitarmu karena dianggap sudah gila. Bahkan orang tuamu juga menjadi tidak peduli denganmu. Kamu akhirnya keluar dari rumah dan hidup sendiri. Lalu kamu menjadi pengecut seperti sekarang,” Yuya mengakhiri ceritanya.
                Kedua tangan Hime menggengam tali tasnya dengan sangat erat. Tangan-tangan kurusnya gemetaran. Tidak hanya tangan, hampir seluruh tubuhnya gemetaran. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Dia dipaksa mengingat lagi kenangan buruk yang sangat ingin dia lupakan. “Selain berandalan, kamu juga penguntit, ya?” suaranya bergetar. Tapi Hime masih berusaha bicara ketus pada Yuya.
                “Untuk apa aku menguntit gadis menyedihkan sepertimu,” ledek Yuya. “Kekasihmu yang memberitahu semuanya padaku.”
                “Uso!” teriak Hime. “Tidak mungkin Ryosuke yang menceritakannya padamu. Karena dia...”
                “Sudah meninggal,” sambung Yuya. “Memang benar dia sudah meninggal dan tidak mungkin orang yang sudah meninggal menceritakan hal itu padaku. Tapi bagaimana kalau aku tahu semua itu dari roh Yamada.”
                Hime membelalak, “Tidak mungkin.”
                “Bagimu memang tidak mungkin, tapi bagiku mungkin. Karena aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain,” jelas Yuya.
                “Bohong!”
                “Aku tidak bohong,” jawab Yuya dengan tenang.
                “Aku tidak percaya pada bualanmu,”
                “Ini bukan bualan. Aku bisa membuktikan kalau aku tidak berbohong,” Yuya mendekati Hime dan dengan cepat mencengkeram kedua lengan gadis itu. “Yamada baru saja memberitahukan sesuatu. Katanya hanya kau dan dia saja yang mengetahui hal ini,” Yuya menyeringai puas. “Pesan terakhir Yamada sebelum dia meninggal,” Yuya membuat keringat dingin Hime semakin banyak.
                Hime berusaha melepaskan diri tapi dia tidak bisa menandingi Yuya. Hime menelan ludah saat Yuya mendekatkan wajahnya ke samping wajah Hime, tepat di dekat telinga Hime.
                “Daisuki,” ucap Yuya. Yuya membisikkan kata itu di telinga Hime persis seperti yang dilakukukan Ryosuke saat menyelamatkannya dari terjangan truk.
                Suara Yuya langsung masuk dan ditangkap oleh gendang telinga Hime. Suara itu seperti bergema di kepalanya dan menggugah kembali kenangan masa lalu. Dia kembali teringat kejadian saat Ryosuke membisikkan kata itu ke telinganya. Dia teringat kembali bagaimana senyuman terakhir Ryosuke yang dilihatnya, bagaimana dia selamat dari terjangan truk itu, aliran darah Ryosuke yang larut dalam air hujan, sampai tubuh Ryosuke yang terkapar tak bernyawa bersimbah darah di hadapannya. Hime seperti ditarik kembali ke masa lalu dan kembali melihat kejadian malam itu.
                “Ya... Yada! Yadaaa!! Ryosuke... Ryosuke... Yadaaa! Gomennasai... Ryosuke gomennasai!” teriakan histeris keluar dari mulut Hime. Lututnya lemas, dia pun jatuh terduduk. Hime Menutup telinganya. Airmatanya deras mengalir. Tubuhnya gemetar hebat. Dia berkali-kali mengucapkan maaf dan memanggil-manggil nama kekasihnya.
                Yuya terkejut. Dia tidak menyangka keadaannya jadi seperti ini. Yuya berusaha menenangkan Hime yang histeris. Tiba-tiba tubuh Hime tumbang, dia pingsan. Untung Yuya segera mengangkapnya.
                “Hoi! Nishiyama! Kamu baik-baik saja? Nishiyama!” teriak Yuya.
                “Yuya, cepat bawa dia ke apartemennya. Akan aku tunjukkan jalannya,” ujar Ryosuke panik.
                Tanpa pikir panjang, Yuya segera menggendong Hime dan berlari secepat yang dia bisa mengikuti Ryosuke.

***

                Sinar bulan masuk dari celah-celah tirai putih di ruangan itu. Sinar itu menyinari wajah Hime yang sedang memejamkan matanya. Lama kelamaan gadis itu pun terbangun. Hime melihat sekelilingnya, melihat ruangan gelap gulita hanya disinari bulan itu. Dia menghela napas lega, ternyata dia berada di apartemennya sendiri. Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Dia masih merasa sedikit pusing.
                “Kau sudah sadar?” sebuah suara berat membuatnya melonjak terkejut. Yuya menekan tombol lampu di sebelahnya dan seketika seluruh ruangan itu menjadi terang. Ruangan kecil dengan ratusan bahkan ribuan origami tulip putih yang berserakan dimana-mana.
                “A... apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Hime ketakutan. Dia baru ingat, orang itu yang membuatnya pingsan tadi.
                “Begitukah caramu berterima kasih pada orang yang telah mengantarmu pulang? Kamu memang tidak begitu berat, tapi menggendongmu yang pingsan dari sekolah sampai tempat ini cukup melelahkan,” Yuya memutar-mutar lengan kanannya.
                Hime terkejut, dia tidak percaya orang ini menggendongnya dari sekolah sampai apartemen ini padahal jaraknya cukup jauh. Butuh tiga puluh menit dengan berjalan kaki. “Bagaimana kamu tahu apartemenku?” tanyanya pelan.
                Yuya menghela napas jengah, lalu berjongkok di depan Hime. “Kekasihmu yang memberitahu tempat ini. Yamada. Aku diberitahu Yamada Ryosuke. Kamu masih belum percaya kalau aku bisa melihat dia?” Yuya berdecak kesal.
                “Ryosuke...” Hime mendekap kedua lututnya erat.
                Roh Ryosuke melayang-layang di depan gadis itu, “Hime, aku ada di sini.”
                “Dia baru saja mengatakan dia ada di sini,” Yuya mengucapkan kembali perkataan Ryosuke.
                “Apakah itu benar?” tanya Hime dan dijawab anggukan mantap oleh Yuya. Sejenak Hime berpikir, bisakah dia mempercayai Yuya? “Ryosuke ada dimana?” Hime mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
                “Dia berada tepat di depanmu,” jawab Yuya sambil melihat ke arah Ryosuke.
                “Hime, aku ada di sini. Di depanmu,” Ryosuke berusaha mengelus pipi Hime tapi tidak bisa.
                “Yamada, kumpulkan kekuatanmu. Kamu akan bisa menggapainya,” ujar Yuya pada udara kosong di depan Hime. Hime yang tidak bisa melihat apa yang dilihat Yuya hanya bisa diam dengan mata yang bergulir kesana kemari mencari keberadaan sosok kekasihnya.
                Ryosuke mencoba melakukan apa yang diperintahkan Yuya. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuhnya perlahan diselimuti cahaya putih. Ryosuke menoleh pada Yuya, Yuya memberinya sebuah anggukan. Roh pemuda itu lalu mendekati tumpukan origami tulip yang berada di samping Hime. Dengan yakin dia menyentuh salah satu origami itu. Tidak butuh waktu yang lama, origami itu sudah berada di tangannya. Hime terperangah melihat sebuah origami tulipnya melayang-layang di udara. Ryosuke menggerakkan tulip kertas itu dan menempelkannya ke pipi Hime.
Hime merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan yang sangat dia rindukan. Kedua tangan Hime bergerak menggenggam origami itu. Airmatanya mulai mengalir, “Gomennasai, Ryosuke. Karena aku... Semua ini karena aku. Semua ini salahku.”
                “Tidak, ini semua bukan salahmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Kalau kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, aku akan sangat bersedih. Tolong mulailah hidupmu lagi dan berbahagialah,” ujar Ryosuke. Kalimat-kalimat itu kembali diucapkan Yuya agar bisa tersampaikan pada Hime.
                “Dia mengatakan itu,” imbuh Yuya. Hime masih menangis sambil menggenggam origami di pipinya. Tapi di pengelihatan Yuya, Hime menggenggam tangan Ryosuke dengan erat. Seakan tidak mau melepaskannya lagi.
Beberapa saat kemudian kekuatan Ryosuke mulai melemah, dia mulai tidak bisa merasakan origami itu maupun genggaman tangan Hime. Saat kekuatannya benar-benar habis, Ryosuke kembali tidak bisa menyentuh Hime. Gadis itu juga sama, dia merasakan sentuhan lembut di pipinya mulai menghilang. Tangisannya semakin keras.
                Yuya mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan untuk pergi dari sini. Ryosuke pun menurut. Yuya telah banyak membantunya hari ini. Sebenarnya dia masih ingin bersama Hime, tapi karena dia terikat dengan bayangan Yuya, dia tidak bisa tinggal. Yuya berdiri dan melangkahkan kaki pergi. Sesaat sebelum keluar dari apartemen Hime, Yuya menoleh melihat Hime, memastikan gadis itu akan baik-baik saja. Setelah itu dia dan Ryosuke pun berjalan pulang.
                “Yuya, terima kasih,” ujar Ryosuke.
                “Un...,” Yuya mengangguk dan tersenyum.

***TO BE CONTINUED***