?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

[Fanfic] My Shadow -Part 2-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, other HSJ members, Nishiyama Hime (OC)

[Part 2]
          Bel pulang berdering di seluruh penjuru ruangan. Dengan sigap Hime membereskan barang bawaannya dan segera beranjak dari kelas. Dia berjalan cepat melewati lorong sekolah sambil mendekap tas kertas berisi puluhan tangkai bunga tulip kertas. Yuya dan—tentu saja—Ryosuke, membuntutinya dari belakang.
                “Kenapa dia terlihat tergesa-gesa? Dia mau kemana?” tanya Yuya.
                “Ke makamku,” jawab Ryosuke singkat.
                Keduanya terus membuntuti Hime. Dia pergi naik kereta api menuju kota sebelah. Sesampainya di stasiun Hime lalu berjalan cepat ke suatu tempat, Yuya terus mengikuti Hime hingga mereka sampai di bawah sebuah bukit kecil. Jalan setapak terjal mereka lewati untuk mencapai puncaknya, sebuah kompleks pemakaman. Ryosuke menunjukkan letak makamnya pada Yuya. Mereka lalu melihat Hime dari kejauhan. Gadis itu sedang menata bunga-bunga kertasnya, lalu mengikatnya dengan sebuah pita putih. Setelah meletakkan seikat bunga tulip kertas dengan jumlah lebih bayak dari biasanya di atas makam Ryosuke, Hime mengatupkan kedua tangannya, dia berdoa. Beberapa menit kemudian, pundaknya berguncang menandakan dia sedang menangis.
                “Maaf..., Maaf..., Ryosuke maafkan aku...,” ucapnya berkali-kali sambil menangis. Tangannya mencengkeram erat rumput liar yang tumbuh di bawah batu nisan Ryosuke. Hime meluapkan semua perasaannya. Airmatanya terus mengalir tanpa henti dan suara tangisannya semakin keras dan sangat memilukan.
                “Sebenarnya apa yang dia lakukan? Kenapa dia membuat bunga origami itu dan meletakkannya di makammu?” tanya Yuya bingung.
                “Hari ini, hari kematianku. Itu origami tulip putih. Tulip putih melambangkan permintaan maaf. Dia selalu merasa kematianku adalah kesalahannya. Maka dari itu setiap tahun dia melakukan hal itu,” jelas Ryosuke. Dia lalu terbang melayang mendekati Hime. Yuya mau tidak mau dipaksa berjalan mendekat, mengikuti Ryosuke karena bayangannya yang mengikat roh Ryosuke.
                “Jangan menangis, Hime! Ini semua bukan salahmu,” ujar Ryosuke ikut bersedih. Ryosuke berkali-kali meraih tubuh Hime hendak memeluknya. Tapi tangannya selalu menembus badan Hime. Dia tidak bisa memeluk gadis yang ia sayangi itu lagi.
                Yuya menghela napas panjang melihat adegan di depannya, “Oi! Kenapa kamu menangis di sini? Airmatamu itu hanya membuat roh orang yang kamu tangisi bersedih. Daripada menangis di sini mending kamu pulang dan jangan kembali lagi ke sini kalau hanya untuk menangis!” ujarnya dingin. Dia tidak tahan melihat pemandangan menyedihkan itu.
                Hime terkesiap, dia terkejut melihat Yuya ternyata berdiri di sebelahnya. Hari ini sudah kedua kalinya hal ini terjadi padanya. Sudah dua kali dia bertemu dengan berandalan sekolah itu. “A... apa yang kamu lakukan disini?” tanya Hime dengan terbata-bata karena terkejut.
                “Namamu Nishiyama Hime, kan?” tanya Yuya
                Hime merasa dirinya dalam bahaya Hime pun segera mengambil tasnya dan tanpa basa-basi melangkah pergi.
                Yuya berjalan beberapa langkah mengikuti Hime, “Kamu sebaiknya menghentikan ini semua. Hal yang kamu lakukan ini sia-sia saja. Tidak ada gunanya. Daripada setiap hari melipat origami bunga dan ke makam orang hanya untuk menangis, kamu harusnya menghabiskan waktumu untuk hal yang lebih berguna.” Roh Ryosuke yang melayang di sebelah Yuya melotot terkejut mendengar yang Yuya ucapkan.
                Hime merasa tersinggung dengan perkataan Yuya. Apa dia bilang? Tidak berguna? Sia-sia? Darah Hime mulai mendidih, “Kamu tidak ada hubungannya denganku. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku. Jadi, berhenti mencampuri urusanku,” jawab Hime tanpa membalik badannya menghadap Yuya. Dia berusaha menahan amarah. Hime kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Yuya.
                “Yamada Ryosuke,” Yuya menyebut sebuah nama dan berhasil membuat Hime menghentikan langkahnya lagi. “Kekasihmu itu yang membuatku harus mencampuri urusanmu.”
                “Apa hubunganmu dengan Ryosuke?!” suaranya meninggi. Hime membalik badan, menatap Yuya tajam. Dia sudah tidak tahan lagi. Yuya boleh mengganggunya, tapi dia tidak akan membiarkan kalau laki-laki itu membawa-bawa nama Ryosuke. Sinar matahari senja menyinari wajah Hime, angin sekilas berhembus dan menyibakkan rambutnya, membuat Yuya dapat melihat ekspresi gadis itu untuk pertama kalinya.
                “Tidak ada,” jawab Yuya santai. “Aku tidak tahu apa-apa tentang dia. Yang aku tahu hanyalah dia ingin melindungimu walaupun dia sudah tidak berada di dunia ini lagi dan dia sedih melihatmu terus menangis di depan makamnya setiap hari kematiannya. Makanya aku bilang, kamu tidak usah datang ke makamnya lagi kalau hanya untuk menangis karena itu hanya membuang-buang waktu. Tangisanmu tidak bisa menghidupkan kekasihmu lagi. Yang ada malah tangisanmu membuatnya sedih.”
 “Oi! Apa yang kamu lakukan?! Kata-katamu keterlaluan!” protes Ryosuke. Tapi Yuya malah menampakkan wajah acuh menjawab protes Ryosuke. Yuya masih berdiri angkuh di depan Hime dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana hitamnya.
                “Sekali lagi aku peringatkan. Kalau kamu tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu diam dan tidak mencampuri urusanku! Aku tidak tahu apa urusanmu datang kemari dan untuk apa kamu berkata begitu padaku, tapi satu yang aku tahu kamu memang orang menyebalkan yang pantas dihindari.” Hime balik badan dan kembali berjalan.
                “Aaah..., Kasihan sekali si Yamada itu. Aku bingung kenapa dia menyukai gadis menyedihkan sepertimu?” ledek Yuya.
                Tangan Hime mencengkeram tali tas dengan erat, menahan emosinya. Hime menghiraukan Yuya dan pergi meninggalkan kompleks pemakaman itu. Satu lagi pertemuan yang tidak menyenangkan antara Hime dan Yuya. Ryosuke merasa ragu apakah Yuya benar-benar orang yang bisa menolongnya.
                “Apa maksud ucapanmu itu?!” bentak Ryosuke.
                “Tidak ada. Aku hanya bicara padanya sesuai kenyataan yang kulihat,” Yuya menjawab enteng.
                “Kamu seharusnya tidak mengatakan hal itu. Kamu membuat Hime semakin sedih!” Ryosuke jadi sangat marah.
                “Jadi yang tadi aku katakan salah?” tanya Yuya. Pertanyaan itu berhasil membuat Ryosuke diam. Sebenarnya apa yang dikatakan Yuya benar, hanya saja Ryosuke tidak setuju dengan cara Yuya mengatakannya. “Aku hanya menyampaikan apa yang tidak bisa kamu sampaikan padanya. Kalau hal itu salah, jadi apa yang harus aku lakukan?” Yuya melangkahkan kaki meninggalkan kompleks pemakaman itu. “Lagipula bagaimana aku bisa membantumu jika aku belum tahu apa yang terjadi pada kalian berdua.”
                Ryosuke masih diam. Yuya benar, dia belum tahu apa yang terjadi. Ryosuke tidak sempat menceritakan detail tragedi yang menimpanya karena tadi buru-buru mengejar Hime. “Baiklah, akan aku ceritakan semuanya.”

***

                Keesokan harinya, di sekolah. Dua orang anak laki-laki yang sedang membawa tumpukan tugas berjalan sempoyongan hendak menuruni tangga. Saat mereka baru sampai di bibir tangga, mereka terkejut karena Yuya tiba-tiba mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi ke tembok dan menghalangi jalan mereka.
                “Ma..maaf, kami mau lewat,” ujar salah satu anak yang memakai kacamata memberanikan diri. Mereka harus lewat tangga itu karena tangga itu yang paling dekat dengan kelas mereka.
                “Apa kalian tidak melihat aku sedang bersantai di sini? Lewat tangga Utara sana!” perintah Yuya.
                Barang bawaan mereka sangat berat jadi akan sangat melelahkan kalau mereka harus lewat tangga Utara. Satu anak lagi seperti hendak protes tapi tidak jadi karena tatapan membunuh yang diberikan Yuya.
                “Apa?! Kalau kalian tetap mau lewat tangga ini akan kubuat kalian tidak bisa mengikuti kelas selanjutnya karena harus terbaring lemah di ruang kesehatan.” gertak Yuya. Dia menekan jari-jari tangannya hingga mengeluarkan bunyi.
                Kedua anak itu mundur perlahan. Lalu seperti yang diinginkan Yuya, kedua anak laki-laki itu ketakutan dan pergi menuju tangga Utara sesuai perintah.
                “Yuya! Lagi-lagi kamu menghalangiku! Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mendapatkan teman! Sejak ada kamu di sekolah ini, aku tidak pernah bisa bersenang-senang!” Sesosok anak laki-laki dengan baju seragam sekolah yang sama dengan yang dipakai Yuya itu tiba-tiba muncul dari bawah anak tangga.
                “Inoo, sudah kubilang ratusan kali! Sampai kamu berani mencelakai murid sekolah ini. Aku tidak segan-segan melenyapkanmu,” Yuya sudah siap menghantamkan tinjunya ke arah Inoo, tapi Inoo segera melayang menjauh.
                “Aah... Padahal aku hanya ingin bersenang-senang sedikit di hari kematianku ini,” gerutu makhluk itu. Dia melayang-layang sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala. Matanya lalu mengarah pada sesosok roh yang melayang di belakang Yuya, “Eh? Kamu menolong roh lagi? Heeem..., anak yang baik,”
                “Diam kau!” bentak Yuya. Tapi tak digubris oleh Inoo. Dia malah melayang mendekati Ryosuke.
                “Namaku Yamada Ryosuke,” Ryosuke reflek memperkenalkan diri.
                “Aku Inoo Kei. Kamu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan berandal ini. Kamu bisa-bisa dilenyapkan olehnya. Anak ini bisa melenyapkan roh dengan sekali melayangkan tinjunya” Inoo lalu tertawa. Ryosuke hanya bisa ikut tertawa hampa.
                “Aku hanya melenyapkan roh menyebalkan sepertimu!” Yuya melemparkan tinju ke arah Inoo, tapi Inoo berhasil menghindar.
                “Aish, dasar manusia berhati dingin! Apa boleh buat. Aku akan bersenang-senang di tempat lain saja. Byebye!” makhluk bernama Inoo Kei itu melayang pergi. Lebih tepatnya kabur.
                “Dia itu siapa?” tanya Ryosuke setelah Inoo pergi.
                Yuya menghela napas dan berjalan santai menuju atap sekolah, “Dia dulu murid sekolah ini. Sepuluh tahun yang lalu dia meninggal karena jatuh tergelincir dari tangga itu saat sedang membawa buku-buku tugas. Dia berusaha mencelakai murid sekolah ini setiap hari kematiannya agar dia punya teman.”
                Ryosuke yang mengikuti di belakangnya mulai paham, “Heeem.. Jadi begitu. Kamu membentak dua anak tadi supaya mereka tidak celaka karena ulah Inoo? Kamu ternyata orang yang baik, ya!” Ryosuke menarik kesimpulan yang tepat.
                Yuya tidak menjawab.
                “Awalnya aku ragu padamu. Tapi ternyata kamu memang orang baik,” Ryosuke tersenyum lebar. Dia merasa lega karena bertemu dengan Yuya.
                Yuya terus berjalan, membiarkan Ryosuke yang sedang heboh memujinya. Saat sampai di atap sekolah, dia langsung merebahkan badannya dan membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya dengan lembut.
                Jeda hening beberapa saat di antara mereka. Ryosuke sekarang ikut duduk melayang-layang di udara sambil menatap langit dan menikmati angin sepoi-sepoi.
“Jadi kamu mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan gadis itu?” tanya Yuya memecah keheningan.
                “Iya,” Ryosuke masih tersenyum lebar. Senyuman lembut yang membuat Yuya terdiam, tak habis pikir dengan roh satu ini. Dia malah bersedia mati demi gadis aneh dan menyedihkan itu.
                “Bodoh!”
                “Apa kamu bilang?!” senyuman Ryosuke langsung memudar berganti dengan kerutan di antara kedua alisnya.
                “Kamu bodoh mau mengorbankan nyawamu demi menyelamatkan gadis seperti itu,” jelas Yuya.
                Ryosuke geram dibuatnya. Tekukan di dahinya semakin dalam. Raut wajahnya mengeras. Percuma rasanya dia memuji Yuya tadi. Ingin rasanya dia menarik kembali semua omongannya.
                Yuya tertawa. Ryosuke menatapnya bingung, “Apa yang lucu?!”
                “Walaupun bodoh, tapi menurutku kamu keren juga. Baru pertama kali ini aku bertemu roh sepertimu,” ujar Yuya.
                Ryosuke melongo, lalu senyuman di wajahnya kembali mengembang. “Ngomong-ngomong, aku masih penasaran. Kenapa kamu mau menolongku? Kenapa kamu menolong roh-roh sepertiku? Aku ingin mendengar alasannya langsung darimu.”
                Yuya menatap Ryosuke, lalu tersenyum tipis. “Ceritanya agak panjang,” kata Yuya yang langsung dijawab oleh anggukan antusias Ryosuke.
                Yuya memandang langit. Menerawang kenangannya di masa lalu, “Aku memiliki kekuatan ini sejak kecil, sejak aku lahir. Waktu aku kecil dulu, aku berkali-kali ingin menolong orang saat mereka akan diganggu oleh roh-roh jahat. Tapi saat aku memberitahu mereka, semua orang tidak ada yang mempercayai perkataan seorang anak ingusan sepertiku. Lalu mereka pun masuk dalam jebakan roh-roh jahat itu dan terkena musibah. Orang-orang mulai salah paham dan menganggap akulah yang membuat mereka terkena musibah itu. Mereka mulai mengucilkanku.” Yuya merubah posisinya dari tidur menjadi duduk.
                “Awalnya aku membenci kekuatan ini, tapi saat awal masuk SMP ada sebuah kejadian yang membuatku sadar,” Yamada memperhatikan cerita Yuya dengan seksama. Melihat perubahan ekspresi Yuya dia seperti ditarik ke dalam ingatan sedih milik pemuda jangkung itu.
                “Waktu itu, aku melihat ada roh jahat penunggu lampu lalu lintas yang ingin mencelakai seorang anak kecil. Saat itu aku mati-matian mengacuhkannya dan akhirnya roh jahat itu berhasil. Anak laki-laki itu, tertabrak mobil dan meninggal di tempat. Melihat kejadian itu aku merasa bersalah tapi aku tidak bisa menolongnya. Aku sangat ketakutan. Saat itu yang terpikir olehku hanya aku harus segera pergi dari tempat itu. Aku langsung berlari pulang ke rumah. Sepanjang malam aku tidak tidur karena terus memikirkan kejadian itu. Esok harinya aku kembali ke tempat kejadian dan menemukan roh anak itu menangis di bawah lampu lalu lintas. Aku menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi padanya, seolah tidak tahu apa yang terjadi kemarin. Anak itu bilang dia tersesat, dia tidak tahu jalan pulang ke rumahnya. Ternyata saat kejadian itu, dia terpisah dengan ibunya. Dia berusaha mencari ibunya tapi tidak ketemu dan malah meninggal karena kecelakaan. Aku semakin merasa bersalah dan sedih mendengar cerita anak itu. Karena aku ingin menebus kesalahanku karena tidak melindunginya, aku berjanji akan mengantarnya pulang. Tiba-tiba saja roh anak itu terikat oleh bayanganku dan tidak bisa lepas. Seperti kamu sekarang ini,” Yuya menatap bayangannya yang tersambung dengan kaki Ryosuke.
                “Setelah berkeliling hampir ke seluruh penjuru kota. Aku berhasil mengantarnya pulang ke rumah. Aku menemui ibunya dan mencoba menjelaskan semuaya. Untungnya ibu anak itu menerima penjelasanku, walaupun penuh dengan isak tangis tapi akhirnya ibu itu bisa mengikhlaskan kepergian anaknya. Anak itu terlihat sangat senang. Dia tersenyum dan berterima kasih padaku, lalu dalam sekejap dia menghilang. Sejak saat itu, aku mulai menerima kekuatan ini dan menolong roh-roh yang terikat dengan bayanganku. Lama kelamaan aku sepertinya mulai terkenal di dunia hantu. Setelah kejadian itu entah bagaimana, hampir setiap hari roh-roh penasaran mulai datang menemuiku dan meminta bantuan. Mereka langsung terikat oleh bayanganku tanpa bisa aku kontrol, jadi mau tidak mau aku harus menolong mereka agar mereka tidak membuntutiku lagi. Kadang masalah mereka bisa kutangani dengan cepat, tapi kadang juga rumit. Memang melelahkan karena mereka juga bisa jadi sangat menyebalkan. Tapi karena kekuatan ini aku jadi punya petualangan kecil yang seru.” Yuya tertawa diakhir ceritanya.
                Yuya menatap Ryosuke. Pemuda itu sudah berkaca-kaca mau menangis, “Terima kasih, Yuya. Terima kasih banyak. Kamu memang benar-benar orang yang baik, maaf aku pernah meragukan kebaikanmu,” Ryosuke terharu mendengar cerita Yuya.


Yuya tertawa keras melihat Ryosuke, “Jangan menangis! Tampangmu semakin bodoh kalau menangis! Menjijikkan, tahu!” Keduanya lalu tertawa bersama.
                Tiba-tiba pintu atap sekolah terbuka menghentikan tawa Yuya dan Ryosuke. Mereka berdua langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang. Gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya itu berdiri di ambang pintu. Ya..., gadis itu Hime. Dia memeluk tas kertas berisi kertas origaminya dan membawa sebuah kotak makan yang dibungkus kain merah motif garis-garis. Dia langsung duduk di dekat pintu. Sepertinya Hime tidak menyadari kalau ada Yuya di sana.
                “Dia tidak menyadari kalau ada aku di sini atau bagaimana?” Yuya berbisik pada Ryosuke.
                “Sepertinya begitu. Lagi-lagi dia melamun. Ah, padahal dulu Hime adalah gadis yang sangat ceria. Sekarang dia berubah menjadi seperti ini. Ini semua salahku,” keluh Ryosuke.
                “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Itu memuakkan,” cerca Yuya. “Kamu ingin melindungi gadis itu, tapi karena kamu sudah meninggal jadi menyentuhnya saja tidak bisa,” bukan sebuah pertanyaan. Lebih tepatnya sebuah kesimpulan yang dapat ditarik oleh Yuya setelah mendengar semua cerita Ryosuke.
                Ryosuke mengangguk, “Karena aku tidak bisa melindunginya dengan tanganku sendiri, aku ingin mencari orang yang bisa melindunginya. Karena itu, sejak hari kematianku aku selalu mengikutinya. Tapi semakin hari, keadaan jadi semakin buruk. Tidak ada hal baik yang terjadi pada Hime. Aku jadi semakin merasa bersalah. Aku ingin Hime menjalani hidup bahagia seperti gadis biasa.”
               Yuya tanpa berkata apa-apa berdiri menghampiri Hime, lalu tanpa pemberitahuan lebih dulu dia langsung menghempaskan tubuhnya, duduk di sebelah Hime. Otomatis Hime langsung melonjak kaget karena ulah Yuya.
                “Yo! Hari ini cerah, ya?” ujar Yuya basa-basi. Yuya yang biasanya dingin pada orang lain, sekarang sedang mati-matian mengembangkan senyuman lebar. Berharap dengan begitu Hime mau mendengarkannya. Tapi respon yang diterimanya berbeda, Hime tidak menggubrisnya dan malah membereskan barang bawaannya. Saat Hime berdiri, Yuya segera menarik pergelangan tangan Hime, menghentikan langkah gadis itu. “Maaf, atas kejadian kemarin. Aku tiba-tiba bicara seperti itu padamu,” suara Yuya yang besar membuat kalimat itu terdengar tegas namun lembut.
                Hime menghentakkan tangannya agar lepas dari genggaman Yuya. Setelah itu dengan cepat dia berlari pergi.
                Yuya hanya bisa melongo melihat gadis itu pergi, “Ada apa dengan anak itu?!” umpat Yuya. Dia menghentakkan kakinya kesal. “Setidaknya katakan sesuatu! Aku sudah susah payah bersikap baik dan mengajaknya ngobrol tapi dia malah menghiraukan aku. Gadis itu seratus kali lebih menyebalkan dari yang aku kira.”
                Ryosuke yang melayang-layang di sebelahnya, tertawa terbahak-bahak. Yuya dibuat semakin geram. “Jangan tertawa!!” bentaknya.
                “Aku tidak mengira kamu bisa membuat ekspresi seperti itu. Sekarang kamu yang terlihat seperti orang bodoh! Tapi tadi itu Hime benar-benar hebat,” ejek Ryosuke masih dengan tawa terpingkal-pingkal sambil bertepuk tangan.
                “Berisik! Aku berbuat seperti itu untuk membantumu tahu!” Yuya terus menggerutu. “Ini semua gara-gara kekasihmu itu tidak mau mendengarkanku sama sekali.”
                “Ya...ya..., tenanglah, kita coba lagi sepulang sekolah nanti,” ujar Ryosuke.

***

                Jam menunjukkan pukul empat sore. Langit sudah mulai merah. Hime meletakkan tulip kertas terakhirnya di dalam tas kertas. Setelah itu dia beranjak pergi. Dia tidak sabar menanti esok hari. Besok adalah hari Sabtu, rencananya dia seharian akan berada di makam Ryosuke seperti yang dia lakukan setiap minggunya. Itu adalah salah satu kebiasaan Hime. Hime akan melipat tulip-tulip kertas di depan makam kekasihnya itu sambil bercerita tentang kegiatannya selama seminggu, walaupun memang kegiatannya sepanjang minggu hanyalah melipat origami sendirian, sih. Dia juga akan bercerita tentang banyak hal lain, seperti tentang gurunya, teman-teman sekelasnya yang dia perhatikan setiap harinya, dan lain-lain. Hime merasa lebih tenang bila berada di makam Ryosuke. Serasa beban dan masalah yang selama ini dia alami, perlahan menghilang saat bercerita di depan makam kekasihnya itu.
                “Nishiyama!” panggilan dari seseorang itu membuyarkan lamunan indah Hime. Dia menoleh ke sumber suara dan raut wajahnya pun langsung berubah muram.
                Yuya berjalan mendekat dan berhenti di depan Hime. “Sampai kapan kamu mau begini terus?” tanya Yuya tanpa basa-basi.
                Hime terlihat tidak paham dengan apa yang dibicarakan laki-laki itu. Tapi Hime berusaha tidak memikirkan maksud Yuya. Dia lalu membalik badannya dan berjalan pergi. Yuya mengikutinya.
                “Hei! Kamu dengar aku tidak?! Kalau kamu tidak menghentikan kebiasaan anehmu ini. Kamu selamanya akan dijauhi. Kamu selamanya akan sendirian!” Yuya terus bicara. Tapi Hime semakin mempercepat langkahnya. Yuya tak mau kalah. Dia juga mempercepat langkahnya. “Sampai kapan kamu mau melarikan diri, Pengecut?!” teriak Yuya.
                Hime pun menghentikan langkahnya. Mereka sampai di lapangan sekolah. Tidak ada orang lain di tempat itu kecuali mereka berdua—dan tentu saja Ryosuke—karena semua murid sudah pulang. “Selamanya akan sendirian, selamanya akan dijauhi,” Hime mengulangi kata-kata Yuya. “Memangnya apa urusannya denganmu? Kamu tidak berhak menuturiku seperti itu. Lihat dirimu! Kamu juga sama, kan? Tidak ada yang mau berteman dengan berandalan sepertimu. Semua orang takut padamu. Tidak ada yang mau dekat dengan orang kasar sepertimu!” Gadis itu menatap Yuya dengan tatapan tajam penuh amarah.
                Yuya malah menunjukkan seringai liciknya, “Terserah kamu mau memakiku dengan sebutan apa. Yang penting, aku bukan pengecut yang selalu melarikan diri dari kenyataan sepertimu! Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, jadi diamlah dan dengarkan perkataanku.”
                Hime semakin marah dibuatnya, “Untuk apa aku mendengarkanmu? Kamu juga sama sekali tidak tahu tentangku. Jadi jangan ganggu kehidupanku lagi!” Hime kembali melangkahkan kakinya.
                “Aku tahu,” kata Yuya santai. Hime tidak menghentikan langkahnya. “Aku tahu semua tentang masa lalumu!” ulangnya.
                Hime menghentikan langkah, “Bohong!” katanya tanpa membalik badan.
“Nishiyama Hime. Kamu memiliki kekasih bernama Yamada Ryosuke. Kalian adalah teman sejak kecil dan kalian mulai berpacaran sejak kelas satu SMP,” tanpa ba-bi-bu Yuya memulai ceritanya. Dia melangkah mendekati Hime. Sedangkan Hime masih tetap berdiri diam di tempat yang sama.
                “Kamu dulu gadis yang selalu ceria dan punya aura positif, tidak seperti sekarang. Kejadian malam itu mengubahmu. Yamada meninggal akibat tertabrak truk demi menyelamatkanmu. Orang tua Yamada menyalahkanmu atas kematian anaknya. Mereka menganggapmu telah membunuh anaknya. Lama kelamaan kamu mulai dikucilkan oleh orang di sekitarmu karena dianggap sudah gila. Bahkan orang tuamu juga berubah. Mereka jadi sering membentakmu. Mereka juga menyalahkanmu atas kematian Yamada. Kamu akhirnya keluar dari rumah dan hidup sendiri. Lalu kamu menjadi pengecut seperti sekarang,” Yuya mengakhiri ceritanya.
                Kedua tangan Hime menggengam tali tasnya dengan sangat erat. Tangan-tangan kurusnya gemetaran. Tidak hanya tangan, hampir seluruh tubuhnya gemetaran. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Dia dipaksa mengingat lagi kenangan buruk yang sangat ingin dia lupakan itu. “Selain berandalan, kamu juga penguntit, ya?” suaranya bergetar. Tapi Hime masih berusaha bicara ketus pada Yuya.
                “Untuk apa aku menguntit gadis menyedihkan sepertimu. Tidak ada gunanya buatku!” ledek Yuya. “Kekasihmu yang memberitahu semuanya padaku.”
                “Bohong!” teriak Hime lagi. “Tidak mungkin Ryosuke yang menceritakannya padamu. Karena dia...,” Hime berhenti. Sesuatu dalam dirinya masih belum bisa menerima kalau Ryosuke telah tiada.
                “Sudah meninggal,” sambung Yuya. “Memang benar dia sudah meninggal dan tidak mungkin orang yang sudah meninggal menceritakan hal itu padaku. Tapi bagaimana kalau aku tahu semua itu dari roh Yamada.”
Yuya melirik ke arah roh Ryosuke yang melayang di sebelahnya.
                Hime membelalak. “Tidak mungkin,” ujarnya lirih.
                “Bagimu memang tidak mungkin, tapi bagiku mungkin. Karena aku bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh orang lain,” jelas Yuya.
                “Bohong! Bohong! Bohong!” teriak Hime dia memejamkan matanya rapat.
                “Aku tidak bohong,” jawab Yuya dengan tenang.
                “Aku tidak percaya pada bualanmu!”
                “Ini bukan bualan. Aku bisa membuktikan kalau aku tidak berbohong,” Yuya mendekati Hime dan dengan cepat mencengkeram kedua lengan gadis itu. “Yamada baru saja memberitahukan sesuatu. Katanya hanya kamu dan dia saja yang tahu hal ini,” Yuya menyeringai puas. “Pesan terakhir Yamada sebelum dia meninggal,” Yuya membuat keringat dingin Hime semakin banyak.
                Hime berusaha melepaskan diri tapi dia tidak bisa menandingi Yuya. Hime menahan napas saat Yuya mendekatkan wajahnya di samping wajah Hime, di telinga Hime.
                “Daisuki,” ucap Yuya. Yuya membisikkan kata itu tepat di telinga Hime persis seperti yang dilakukukan Ryosuke saat menyelamatkannya dari terjangan truk.
                Suara Yuya langsung masuk dan ditangkap oleh gendang telinga Hime. Suara itu bergema di kepalanya dan menggugah kembali kenangan buruknya. Dia kembali teringat kejadian saat Ryosuke membisikkan kata itu ke telinganya. Dia teringat kembali bagaimana senyuman terakhir Ryosuke yang dilihatnya, bagaimana dia selamat dari terjangan truk itu, aliran darah Ryosuke yang larut dalam air hujan, sampai tubuh Ryosuke yang terkapar tak bernyawa bersimbah darah di hadapannya. Hime seperti ditarik kembali ke masa lalu dan kembali melihat kejadian malam itu.
                “Ti..., tidak! Tidaaak!! Ryosuke..., Ryosuke..., Tidak! Maaf..., Ryosuke maafkan aku!” teriakan histeris keluar dari mulut Hime. Lututnya lemas, dia pun jatuh berlutut. Hime Menutup telinganya. Airmatanya deras mengalir. Tubuhnya gemetar hebat. Dia berkali-kali mengucapkan maaf dan memanggil-manggil nama kekasihnya.
                Yuya terkejut. Dia tidak menyangka respon Hime akan jadi seperti ini. Yuya berusaha menenangkan Hime yang histeris. Tapi tiba-tiba tubuh Hime tumbang, dia pingsan. Untung Yuya segera mengangkapnya.
                “Hoi! Nishiyama! Kamu baik-baik saja? Nishiyama!” panggil Yuya.
                “Yuya, cepat bawa dia ke apartemennya. Akan aku tunjukkan jalannya,” ujar Ryosuke panik.
                Tanpa pikir panjang, Yuya segera menggendong Hime dan berlari secepat yang dia bisa mengikuti Ryosuke.

***

                Sinar bulan masuk dari celah-celah tirai putih di ruangan itu. Sinar itu menyinari wajah Hime yang masih memejamkan matanya, belum sadar dari pingsannya. Lama kelamaan gadis itu pun terbangun. Hime melihat sekelilingnya, melihat ruangan gelap gulita hanya diterangi bulan itu. Dia menghela napas lega, saat dia sadar dia ternyata berada di apartemennya sendiri.
                “Kamu sudah sadar?” sebuah suara berat membuatnya melonjak terkejut. Yuya menekan tombol lampu di sebelahnya dan seketika seluruh ruangan itu menjadi terang. Ruangan kecil dengan ratusan bahkan ribuan origami tulip putih yang berserakan dimana-mana.
                “A..., apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Hime ketakutan. Dia baru ingat, orang itu yang membuatnya pingsan tadi.
                “Begitukah caramu berterima kasih pada orang yang telah mengantarmu pulang? Kamu memang tidak begitu berat, tapi menggendongmu yang pingsan dari sekolah sampai tempat ini cukup melelahkan,” Yuya memutar-mutar lengan kanannya seolah masih merasa pegal.
                Hime terkejut, dia tidak percaya orang ini menggendongnya dari sekolah sampai apartemen ini padahal jaraknya cukup jauh. Butuh tiga puluh menit dengan berjalan kaki. “Bagaimana kamu tahu apartemenku?” tanyanya pelan.
                Yuya menghela napas jengah, lalu berjongkok di depan Hime. “Aku beritahu lagi ya. Kekasihmu yang memberitahu tempat ini. Yamada. Aku diberitahu Yamada Ryosuke. Kamu masih belum percaya kalau aku bisa melihat dia?!” Yuya berdecak kesal.
                “Ryosuke?” Hime mendekap kedua lututnya erat.
                Roh Ryosuke melayang-layang di depan gadis itu, “Hime, aku ada di sini.”
                “Dia baru saja mengatakan dia ada di sini,” Yuya mengucapkan kembali perkataan Ryosuke.
                “Apakah itu benar?” tanya Hime dan dijawab anggukan mantap oleh Yuya. Sejenak Hime berpikir, bisakah dia mempercayai Yuya? “Ryosuke ada dimana?” tanya Hime lagi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
                “Dia tepat di depanmu,” jawab Yuya sambil melihat ke arah Ryosuke.
                “Hime, aku ada di sini. Di depanmu,” Ryosuke berusaha mengelus pipi Hime tapi tidak bisa.
                “Yamada, kumpulkan kekuatanmu. Kamu akan bisa menggapainya,” ujar Yuya pada udara kosong di depan Hime. Hime yang tidak bisa melihat apa yang dilihat Yuya hanya bisa diam dengan mata yang bergulir kesana kemari mencari keberadaan kekasihnya.
                Ryosuke mencoba melakukan apa yang diperintahkan Yuya. Beberapa saat kemudian, seluruh tubuhnya perlahan diselimuti cahaya putih. Ryosuke menoleh pada Yuya, Yuya memberinya sebuah anggukan. Roh pemuda itu lalu mendekati tumpukan origami tulip yang berada di samping tempat tidur Hime. Dengan yakin dia menyentuh salah satu origami itu. Tidak butuh waktu yang lama, origami itu sudah berada di tangannya. Hime terperangah melihat origami tulipnya melayang-layang di udara. Ryosuke menggerakkan tulip kertas itu dan menempelkannya ke pipi Hime.
Hime merasakan sebuah sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan yang sangat dia rindukan. Kedua tangan Hime bergerak menggenggam origami itu seolah menggenggam tangan Ryosuke. Airmatanya mulai mengalir, “Maafkan aku, Ryosuke. Karena aku..., Semua ini karena aku. Semua ini salahku.”
                “Tidak, ini semua bukan salahmu. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi. Kalau kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, aku akan sangat bersedih. Tolong mulailah hidupmu dan berbahagialah, Hime!” ujar Ryosuke. Kalimat-kalimat itu kembali diucapkan Yuya agar bisa tersampaikan pada Hime.
                “Dia mengatakan itu,” imbuh Yuya.
Hime masih menangis sambil menggenggam origami di pipinya. Tapi di pengelihatan Yuya, Hime menggenggam tangan Ryosuke dengan erat. Seakan tidak mau melepaskannya lagi.
Beberapa saat kemudian kekuatan Ryosuke mulai melemah, dia mulai tidak bisa merasakan origami itu maupun genggaman tangan Hime. Saat kekuatannya benar-benar habis, Ryosuke kembali tidak bisa menyentuh Hime. Gadis itu juga sama, dia merasakan sentuhan lembut di pipinya mulai menghilang. Tangisannya semakin keras seiring melemahnya kekuatan Ryosuke.
“Dia tidak pergi. Kekuatannya untuk menyentuhmu sudah habis,” jelas Yuya. Hime tetap menangis keras sambil menggenggam origami tulip itu di dadanya.
                Yuya menoleh melihat Ryosuke. Dia mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan untuk pergi dari sini. Ryosuke pun menurut. Yuya telah banyak membantunya hari ini. Sebenarnya dia masih ingin bersama Hime, tapi karena dia terikat dengan bayangan Yuya, dia tidak bisa tinggal. Yuya berdiri dan melangkahkan kaki pergi. Sesaat sebelum keluar dari apartemen Hime, Yuya menoleh lagi untuk melihat Hime, memastikan gadis itu akan baik-baik saja. Setelah itu dia dan Ryosuke pun berjalan pulang.
                “Yuya, terima kasih,” ujar Ryosuke.
                “Un...,” jawab Yuya sambil mengangguk dan tersenyum.
Bel pulang berdering di seluruh penjuru ruangan. Dengan sigap Hime membereskan barang.

***TO BE CONTINUED***