?

Log in

Previous Entry

[Fanfic] My Shadow -Part 3-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, OC
[Part 3]
                Siang itu kehebohan terjadi di kelas 2-D, kelas Takaki Yuya. Kehebohan itu bukan disebabkan oleh si troublemaker. Oke, mungkin memang ada hubungannya dengan Yuya. Tapi bukan laki-laki itu dalang utama kehebohan tersebut. Seluruh anak di kelas menjadi ricuh, berbagai bisikan terdengar dimana-mana. Bahkan anak-anak kelas sebelah juga ikut keluar untuk melihat.
                Ditengah-tengah kerumunan orang, gadis dengan rambut hitam panjang acak-acakan berdiri menunduk di depan kelas si troublemaker. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin, dia tidak suka dikelilingi banyak orang karena itu mengingatkannya pada orang-orang yang memakinya di masa lalu. Tapi Hime berusaha keras untuk bertahan karena dia ingin menemui Yuya.
                “Ada apa, Nishiyama?” tanya Yuya dengan suara khas dan sikapnya yang cool pada Hime saat dia sudah berdiri tepat di depan gadis itu. Hal itu membuat sebuah pekikan terkejut yang tertahan. Semua mata memandang mereka dengan tatapan tak percaya. Aneh, seorang Takaki Yuya yang tidak pernah mau tahu nama seseorang—bahkan nama teman sekelasnya sendiri—bisa tahu nama anak yang begitu aneh, tidak populer, dan menyeramkan seperti Nishiyama Hime. Yuya tampaknya tidak peduli dengan semua kehebohan teman-temannya.
                Ryosuke yang lebih dulu menyadari kalau tubuh kekasihnya gemetaran dengan wajah yang sudah memucat. Dia segera ingat sesuatu. “Yuya, Hime punya trauma dikelilingi banyak orang! Cepat bawa dia pergi dari sini sebelum dia pingsan!” kata Ryosuke panik sambil melayang-layang di belakang Yuya.
                Tanpa pikir panjang Yuya langsung menyabet tangan kanan Hime. “Ikut aku!” ujar Yuya langsung menarik Hime pergi.
Kerumunan kembali heboh. Yuya tidak terkejut dengan hal itu, dia sudah menduga teman-temannya akan menunjukkan reaksi seperti itu. Ada hal yang membuat Yuya lebih terkejut lagi. Tangan gadis yang ia genggam sangat lemah, gemetaran hebat, dan dipenuhi keringat dingin. Yuya akhirnya paham kenapa Ryosuke sepanik itu. Gadis itu benar-benar memaksakan diri.
                Tidak lama kemudian, sampailah mereka di atap sekolah yang sepi. “Apa yang kamu lakukan di kelasku?” Yuya melepas tangan Hime dan mulai mengomel.
                Tepat setelah tangan Hime lepas dari tangan Yuya, tubuhnya ambruk, jatuh terduduk. Dia melihat lurus kedepan dengan tatapan kosong. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya masih gemetar hebat.
                “Oi! Bertahanlah! Kau tidak apa-apa?” Yuya berjongkok di depan Hime, memegang kedua bahu gadis itu dan sedikit mengguncang-guncangnya. Hime tidak menjawab pertanyaan Yuya. Matanya berkaca-kaca.
                “Gawat! Dia masih tidak bisa mengontrol dirinya. Yuya, Hime akan histeris dan jatuh pingsan seperti kemarin,” Ryosuke kembali panik.
                “Hah?! Lalu apa yang harus kita lakukan?”
                “Lakukan apapun untuk menenangkannya!” teriak Ryosuke.
Ryosuke segera berkonsentrasi untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa menyentuh Hime. Tapi kegiatannya langsung terhenti saat Yuya dengan cepat menarik tubuh Hime dalam dekapannya. Yuya memeluk gadis itu dengan erat namun lembut. Dibelainya rambut acak-acakan Hime, “Hime, aku bersamamu. Kamu akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang melukaimu karena aku di sini, bersamamu,” dengan suara berat nan lembutnya, Yuya berusaha menenangkan Hime.
Napas Hime lama-kelamaan mulai teratur. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Tapi tiba-tiba tangisnya meledak. Hime menangis tersedu-sedu dan balas memeluk Yuya dengan erat. Laki-laki itu membiarkan Hime membasahi seragamnya dengan airmata sambil mengelus lembut punggung gadis itu.
            Ryosuke melongo melihat pemandangan di depannya. Baru pertama kali ini dia melihat Hime menangis seperti itu. Bukan tangis histeris dengan ekspresi ketakutan seperti yang dia tunjukkan saat traumanya kembali menyerang, namun tangisan seperti seorang anak hilang yang baru saja menemukan tempat tinggalnya. Tanpa sadar Ryosuke mengembangkan senyuman lebar. Ekspresi lega terlihat jelas di wajahnya. Sepertinya tidak lama lagi, dia bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.
                Setelah Hime tenang dan tangisannya berhenti, Yuya melepas pelukannya. Lalu menatap wajah Hime, memastikan kalau gadis itu bisa diajak bicara, “Kenapa tadi kamu ke kelasku?”
                “A... Aku mencarimu,” jawab Hime dengan suara parau.
                “Hah?!” Yuya terkejut. Gadis yang selama ini bersikeras menghindarinya, hari ini malah memaksakan diri hingga hampir pingsan demi mencarinya.
                Hime mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Sebuah origami tulip putih. Benda itu ia sodorkan pada Yuya, “Aku ingin memberi ini.”
                Yuya mengernyitkan dahi, “Kamu meminta maaf padaku?” Tangan kanannya menerima origami bunga yang merupakan tanda permintaan maaf itu.
                “Un,” Hime mengangguk, lalu dia lebih menundukkan wajahnya lagi hingga benar-benar tak bisa dilihat oleh Yuya. “Maaf karena tidak percaya padamu dan seenaknya berkata kasar padahal akulah yang tidak tahu apa-apa tentangmu.”
                Yuya diam dalam beberapa saat, mencerna perkataan Hime. Lalu sebuah senyuman tanpa sadar mengembang di wajahnya. “Aku maafkan,” ujar Yuya membuat Hime mendongakkan kepala untuk menatapnya.
“Tapi lain kali jangan memaksakan dirimu untuk melakukan hal yang tidak kamu sukai lagi. Kalau mau menemuiku, cukup datang saja ke tempat ini. Aku selalu ke sini,” ujarnya. Satu tangannya bergerak menepuk lembut puncak kepala Hime.
Hime mengangguk mengerti dan untuk pertama kalinya sebuah senyuman mengembang di wajah pucatnya. Walaupun senyuman itu terlihat lemah tapi tampak begitu tulus. Mata Yuya membelalak melihat gadis aneh di depannya itu bisa tersenyum begitu tulus. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
                Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Kedua orang itu seakan masih dalam dunia mereka sendiri. Akhirnya mau tidak mau Ryosuke yang bertindak. Ryosuke melayang ke samping Hime, “Eehm... sudah masuk. Kau harus cepat kembali ke kelas, Hime.” Ryosuke tetap saja bicara pada Hime walaupun dia tahu suaranya tidak akan sampai ke telinga gadis itu. Tapi Ryosuke juga tahu kalau Yuya yang mendengar dan melihatnya.
                Yuya segera tersadar dari lamunannya. Dia dengan kelabakan menjelaskan apa yang Ryosuke ucapkan pada Hime, “Yamada bilang kamu harus segera kembali ke kelas karena sudah saatnya masuk.”
“Anoo... Ryosuke,” panggil Hime sambil melihat sekelilingnya.
                “Dia di sebelah kananmu,” kata Yuya.
                Hime menoleh ke samping kanannya, dia lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Ryosuke, maafkan aku karena selalu menyusahkanmu dan membuatmu khawatir.”
                “Tidak, Hime. Kamu tidak menyusahkanku,” ujar Ryosuke. Tentu saja, ucapan Ryosuke diucapkan kembali oleh Yuya. Hime menundukkan kepalanya dalam diam.
                “Nishiyama, cepat kembali ke kelasmu!” perintah Yuya.
Nadanya sedikit memaksa, Yuya juga bingung kenapa dia bicara seperti itu. Rasa sesak di dadanya mendorongnya untuk segera menyuruh Hime pergi sebelum jantungnya benar-benar meledak. Yuya lalu merebahkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai alas.
                “Anoo, kamu tidak masuk kelas?” tanya Hime.
                “Aku masih mau di sini. Lagi pula aku tidak suka belajar, daripada aku bosan di kelas, lebih baik aku di sini,” ujarnya santai. Benar-benar berandalan.
                Hime dengan ragu berdiri dan mulai berjalan pelan menuju pintu. Tapi belum sempat dia membuka pintu itu, dia langsung berjalan cepat kembali ke tempat Yuya. “Anoo, Takaki-kun,” panggil Hime.
Yuya terkejut saat menoleh ke gadis yang sudah duduk manis menghadap ke arahnya itu. Baru pertama kali ini gadis itu memanggil namanya. Yuya bangkit dari posisi berbaringnya. “Ada apa?” tanya Yuya yang entah kenapa terdengar gugup.
                Hime menghembuskan napas panjang sebelum bicara, “Aku ingin berubah. Tolong bantu aku!” teriaknya sambil membungkukkan badannya dengan posisi duduk.
                Untuk beberapa detik Yuya hanya diam dan menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya. Lalu tiba-tiba seulas senyuman berkembang di wajahnya, “Baiklah.”
                Setelah Yuya menyetujui permintaannya, gadis itu tersenyum simpul. Kali ini Yuya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena Hime tersenyum sambil tetap menunduk. Hime lalu segera beranjak pergi dari tempat itu dan meninggalkan Yuya yang masih terheran-heran. Hari itu tak henti-hentinya Yuya dibuat terkejut oleh Hime.
                “Aku tidak menyangka dia bisa tersenyum seperti itu,” ujar Yuya dengan mata yang masih terus melihat pintu yang sudah tertutup.
                Ryosuke melipat kedua kakinya sambil melayang-layang di sebelah kiri Yuya. Senyuman bangga terpampang jelas di wajahnya.
                “Oh iya...” Yuya mengubah arah pandangannya dari pintu itu ke Ryosuke setelah mengingat sesuatu. “Maaf aku tadi memanggil kekasihmu langsung dengan nama kecilnya,” laki-laki yang terlihat garang itu lalu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebuah semburat merah entah sejak kapan sudah menghiasi pipinya. Dia merasa malu mengingat apa yang sudah ia lakukan.
                 Tawa Ryosuke meledak seketika. Pihak yang ditertawakan pun sudah melempar tatapan tajam pada roh aneh itu.               “Wajahmu lucu sekali!” ledek Ryosuke.
                “Apa...“
                “Terima kasih,” Ryosuke memotong kalimat protes Yuya, tiba-tiba menghentikan tawanya, dan menggantinya dengan senyuman.
                “Hah?” Yuya heran. Ryosuke memang sama anehnya dengan Hime. Yuya sedikit bergidik ngeri membayangkan seberapa serasinya mereka berdua.
                “Terima kasih sudah menenangkan Hime,” lanjutnya.
                Otot wajah Yuya yang awalnya ditekuk perlahan mengendur, berganti dengan sebuah senyum simpul, “Un.”
Dua laki-laki berbeda alam itu berbaring sambil melihat langit biru yang cerah dan menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus.

***

                “Harus berubah. Harus berubah,” Hime berjalan cepat ke kelasnya sambil terus menggumamkan kalimat itu.
                Sesampainya di depan kelas ternyata Okada-sensei sudah masuk. Pintu kelasnya sudah tertutup rapat. Hime dengan takut-takut mengintip dari dari jendela, teman-teman sekelasnya tampak sedang memperhatikan dengan serius Okada-sensei yang sedang menggambar sistem pencernaan di papan tulis. Hime terlambat. Baru saja Hime akan melangkahkan kakinya meninggalkan kelas seperti yang biasa dia lakukan jika terlambat masuk. Dia akan pergi ke atap sekolah dan baru kembali ke kelas setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi—toh, Yuya juga ada di sana.
                “Harus berubah....”
                Tapi sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di kepalanya menghentikan gerak kakinya. Benar, dia tidak mau melarikan diri lagi. Hime menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu dengan gerak perlahan tapi pasti dia menggeser pintu kelasnya.
                Pintu itu terbuka setengah, sudah cukup untuk dilewati tubuh kurus Hime. Tanpa aba-aba seluruh kelas langsung menatap ke arahnya. Ada yang menunjukkan ekspresi terganggu, ada yang penasaran siapa yang barusan datang, dan ada juga yang hanya sekilas meliriknya lalu dengan jengah kembali menulis di buku tulisnya. Ini bagian yang paling tidak disukai Hime. Diperhatikan oleh banyak orang. Tangannya mulai gemetar, diremas kuat tangannya sendiri. Ingin rasanya dia berlari pergi saja dari tempat itu. Tapi di sisi lain ada sesuatu yang menahannya. Dia tidak mau menjadi pengecut terus.
                “Nishiyama-san, cepat duduk!” perintah Okada-sensei. Untung Okada-sensei bukan guru killer. Jadi Hime bisa sedikit lega karena tidak dimarahi dan dihukum keluar kelas. Tanpa menjawab, Hime langsung duduk di tempat duduknya. Kepalanya menunduk dalam-dalam, berusaha tidak melihat mata teman-teman sekelasnya yang menatap tajam ke arahnya.
                “Fyuuh...,” Hime menghembuskan napas lega setelah menghempaskan tubuhnya di kursi. Yosh, dia berhasil maju satu langkah.

***

                “Ne, Yuya apa rencanamu sekarang?” tanya Ryosuke yang melayang-layang di samping Yuya yang sedang berjalan santai.
                “Heeem.... entahlah,” jawab Yuya asal. Satu tangannya menenteng tas sekolahnya di pundak. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya hingga dia merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
                Yuya menghentikan langkahnya saat tiba di barisan rak sepatu paling kanan, di samping rak tempat dia meletakkan sepatunya. “Apa yang kau lakukan di sana, Arioka?” tanyanya dengan nada terganggu. Sore itu, untung tempat itu sedang sepi, hanya ada dia sendiri dan dua makhluk astral saja.
                “Oh! Yuyan, ohisashiburi!” sapa roh itu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Roh itu sedang makan sekotak bento dengan lahapnya di atas rak sepatu Yuya.
                “Un,” gumam Yuya menanggapi roh yang dipanggilnya Arioka itu.
                “Kamu membantu roh lagi?” tanya Arioka saat melihat Ryosuke.
                “Ah, Yamada Ryosuke desu,” Ryosuke melayang mendekati Arioka.
                “Arioka Daiki desu. Aku roh penunggu ruang musik. Dulu aku murid sekolah ini dan aku meninggal karena kecelakaan waktu pulang dari kontes aransemen lagu,” ujar Arioka. “Aku suka berkeliling sekolah, jadi aku selalu tahu kejadian di sekolah ini, kamu bisa mencariku jika mau berjalan-jalan keliling sekolah. Aku siap menjadi guide,” tambahnya dengan penuh senyuman.
                Yuya tidak begitu memperhatikan percakapan kedua roh itu. Dia sedari tadi masih tenggelam dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa jantungnya berdebar saat memikirkan gadis aneh, Nishiyama Hime itu? Sejak kapan perasaan aneh itu menghinggapinya? Dia jadi tidak bisa fokus memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk membantu gadis itu.
                “Padahal dia sudah mau berubah...,” desis Yuya kesal.
                “Eh?” Arioka dan Ryosuke berbarengan menoleh pada Yuya.
                “Tidak, bukan apa-apa,”
                Arioka diam sambil memperhatikan sesuatu pada diri Yuya, “Yuyan, rambutmu sudah terlalu panjang. Tidak dirapikan?” tanyanya. “Aku tahu kamu memang membuat image berandal tapi menurutku rambutmu sudah tidak rapi.”
                Yuya membelalakkan mata, sesuatu tiba-tiba mencuat di otaknya. Sesuatu yang hampir saja dia lupakan. “Arioka!” panggil Yuya menghentikan omelan Arioka tentang model rambut. Roh itu memang banyak omong. “Kamu tahu gadis bernama Nishiyama Hime? Apa dia sudah pulang?”
                “Nishiyama Hime? Gadis yang beberapa kali aku lihat bersamamu itu? Gadis aneh dengan rambut......”
                “Iya!” potong Yuya. “Apa dia sudah pulang?” Yuya sekali lagi bertanya dan menatap Arioka lebih tajam.
                Arioka bergidik ngeri ditatap seperti itu. Dia segera menghentikan ceramahnya sebelum Yuya mengamuk. Bisa-bisa dia dilenyapkan oleh Yuya nanti, “Dia masih di kelasnya.”
                “Sankyu! Kamu informan terbaik!” ujar Yuya sambil melesat pergi dan tentu saja menyeret Ryosuke juga.
Sesampainya di depan sebuah kelas yang dia tuju, Yuya melihat gadis yang dicarinya. Arioka memang sangat berguna di saat seperti ini. Yuya langsung membuka pintu kelas itu.
              “Nishiyama!” panggilnya pada gadis yang sedang membereskan origami tulip di pojok ruangan.
              Gadis yang dia panggil terkejut melihat Yuya berjalan tergesa ke arahnya. Belum sempat merespon apapun, tangan kanan Yuya langsung menarik tangan kanan Hime hingga gadis itu berdiri dari duduknya.
              “Ikut aku!” ujarnya singkat.
              Tanpa banyak bicara lagi, Yuya langsung menarik Hime keluar kelas. Untung Hime sempat membawa semua barangnya. Kali ini Hime tidak melawan, dia mengikuti Yuya walaupun gadis itu tidak tahu kemana si berandalan akan membawanya.
               Yuya dan Hime sampai di depan sebuah toko kecil bercat putih dengan design Eropa. Di atas pintu toko itu ada sebuah plakat kayu dengan gambar sisir dan gunting, sekaligus tercantum sebuah tulisan “Yaotome’s” yang berwarna kontras dengan warna plakatnya. Lonceng yang juga terpasang di atas pintu berbunyi saat Yuya membukanya. Seketika itu seorang laki-laki tinggi dengan berbagai peralatannya yang tertata rapi dalam tas kecil yang terikat apik di pinggangnya keluar dari dalam toko atau yang biasa disebut salon itu.
              “Yo, Yuya!” sapanya. Laki-laki itu agak bingung melihat Yuya yang masih mengatur napasnya dan tangannya masih menggandeng tangan seorang gadis.
              “Hikaru-kun, tolong potong rambutnya,” Yuya sedikit mendorong bahu Hime.
              “Hah?” pekik dua orang itu berbarengan sambil menatap Yuya. Laki-laki bernama Hikaru itu maupun Hime sama-sama terkejut dengan permintaan Yuya.
              Yuya menatap lurus pada Hime, “Kalau kamu mau berubah, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengubah penampilanmu. Tidak akan ada orang yang mau berteman dengan gadis berpenampilan mengerikan.” Yuya meyakinkan Hime sebelum gadis itu mengeluarkan pernyataan protesnya.
              Hime lalu menunduk memperhatikan ujung rambutnya yang bercabang, hingga batang-batang rambutnya yang memang sangat tidak rapi. Gadis itu akhirnya mengangguk, menuruti Yuya.
              Hikaru tersenyum penuh arti, “Serahkan semua pada Yaotome Hikaru-sama. Tidak hanya memotong rambutmu, aku akan membuatmu terlihat lebih cantik.”
               Hikaru lalu mempersilahkan Hime duduk di sebuah kursi hitam yang menghadap ke sebuah kaca lebar dengan beberapa lampu di ujung-ujung atasnya.
              “Yuya, keluar!” perintah Hikaru.
              “Hah? Kenapa?”
              “Sudaaah! Turuti saja ucapanku. Pergilah ke taman atau kemanapun, yang penting jangan sampai kau masuk ke tempat ini sebelum aku memanggilmu,” Hikaru mendorong Yuya agar keluar dari salonnya.
              Sesudah mengusir Yuya, Hikaru kembali ke pelanggannya. “Santai saja, aku tidak akan berbuat jahat,” ujarnya menepuk kedua bahu Hime yang tampak sangat tegang. “Sekarang pejamkan matamu sampai kusuruh membukanya,” perintah Hikaru. Entah apa yang orang itu rencanakan, Hime pun menurut saja.

***

              “Ne, lama sekali. Apa Hime benar-benar baik-baik saja?” tanya Ryosuke khawatir.
              Yuya dengan santainya masih memakan takoyaki yang dia beli. Taman sore itu terlihat ramai orang yang berlalu-lalang untuk pulang ke rumah masing-masing. Daun-daun pohon yang menjadi sandaran Yuya beberapa kali bergoyang karena terkena hembusan angin sore. Yuya sangat menikmati sore di tempat itu.
                “Yuya, apa tidak sebaiknya kita segera kembali?” desak Ryosuke.
                Yuya menghembuskan napasnya sejenak—merasa terganggu dengan berbagai kekhawatiran Ryosuke yang berlebihan. Dia lalu menatap Ryosuke tajam, “Aku tidak tahu apa yang direncanakan Hikaru-kun, tapi aku percaya kekasihmu itu tidak akan celaka di tangannya. Tenanglah,” ujarnya. Satu bola takoyaki yang terakhir, masuk ke mulutnya.
                Sekarang ganti Ryosuke yang menghembuskan napasnya, lelah. Dia berusaha diam dan tenang seperti ucapan Yuya. Angin sore itu membelai lembut rambut kedua makhluk berbeda dunia itu. Udara sedikit demi sedikit berubah menjadi dingin seiiring tenggelamnya sang pemberi kehangatan di ufuk Barat.
                Sebuah getaran kecil di saku seragamnya, membuat Yuya dengan cepat memasukkan tangan kanannya untuk mengambil benda itu. “Moshi-moshi,” ucapnya setelah menerima telepon yang ternyata dari Hikaru. “Oke,” kata Yuya lagi. Percakapan telepon itu berakhir dengan begitu singkat. Yuya lalu berdiri, mengantongi handphonenya lagi, tanpa bicara apapun dia berjalan kembali ke salon Hikaru. Ryosuke yang langsung paham dengan situasi itu, mengikutinya dengan rasa senang bercampur penasaran. Yuya pun berjalan cepat seiiring cepat detak jantungnya. Dia ingin segera sampai.
                Langkah Yuya berhenti di depan salon Hikaru. Laki-laki pemilik salon itu berdiri di depan salonnya, menyambut Yuya.
                “Bagaimana?” tanya Yuya masih dengan napas terengah-engah karena akhirnya dia sedikit berlari untuk menuju ke salon itu.
                Hikaru tak mengucapkan apapun, dia hanya tersenyum dan tangan kanannya lalu menekan knop pintu salonnya, mempersilakan Yuya masuk. Saat pintu itu terbuka, perlahan Yuya bisa melihat seorang gadis berambut lurus sebahu duduk di tengah ruangan itu menghadap ke arahnya. Hime mengangkat wajahnya saat pintu salon itu terbuka. Poninya yang melengkung ke kanan sedikit bergerak karena sentakan kepalanya yang tiba-tiba. Melihat Yuya yang melongo di ambang pintu, Hime langsung menundukkan kepalanya lagi. Malu rasanya ditatap seperti itu.
                Yuya masih bergeming di ambang pintu. Mulutnya sedikit terbuka menandakan dia sangat terkejut. Gadis mengerikan yang tadi dibawanya sekarang telah berubah menjadi lebih baik. Bahkan mungkin bisa dikatakan melampaui kata lebih baik. Rambut panjang yang awalnya sangat tidak rapi sekarang sudah dipotong lebih pendek. Poninya yang dulu menutupi setengah wajahnya kini sudah dipotong tepat sealis, membuat kedua mata yang ujungnya meruncing ke atas seperti mata kucing itu terlihat jelas. Make up tipis nan sederhana itu sudah cukup membuat wajahnya yang semula pucat jadi terlihat lebih segar. Lipstick pink mewarnai bibirnya. Ditambah rona merah di pipi gadis itu. Bukan dari make up, melainkan muncul dengan sendirinya. Pasti gadis itu malu, pikir Yuya.
                “Hime,” gumam Ryosuke yang sama terkejutnya dengan Yuya. “Sudah lama aku tidak melihat dia secantik ini.”
                “Un, aku tidak menyangka dia bisa secantik ini,” ujar Yuya pelan tanpa sadar tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran semua eksistensi di ruangan itu. Hime semakin menundukkan kepalanya dan menutup mukanya dengan kedua tangan. Hikaru tersenyum bangga. Ryosuke tersenyum penuh arti melihat Yuya.
                Hikaru mendekati Hime dan menurunkan kedua tangan gadis itu. “Percaya dirilah sedikit. Kamu tidak harus menutupi mukamu karena tidak ada yang jelek dari mukamu. Kamu sangat cantik, sama sekali tidak jelek, kok,” laki-laki itu tersenyum lembut.
                “A... arigatou gozaimasu,” ujar Hime sedikit membungkukkan badan.
                Hikaru mengangguk dengan senyuman tetap mengembang di wajahnya. Dia tidak pernah merasa sangat puas dan sesenang ini. Mungkin ini perasaan yang dialami seorang seniman setelah membuat sebuah mahakarya.
                “Ano..., jadi berapa semua biayanya?” Hime mengalihkan topik agar orang-orang itu tidak terus-terusan menatapnya.
                Hikaru menepuk pundak Hime pelan, “Tidak usah. Kamu adalah pelanggan spesial jadi tidak perlu bayar.”
                “Eh? Hontou?” tanya Hime kaget. Hikaru mengangguk mantap.
                “Arigatou gozaimasu!” ujar Hime lantang sambil membungkuk cepat. Hikaru tertawa melihatnya. Satu tangannya menepuk lembut kepala Hime.
                “Sankyu, Hikaru-kun,” ujar Yuya.
                “Un,” jawab Hikaru. “Sudah semakin malam, sebaiknya kalian segera pulang,” ujarnya setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
                Yuya dan Hime pun pamit pulang. Ryosuke juga membungkukkan badannya untuk pamit dan berterima kasih walaupun Hikaru sudah pasti tidak bisa melihatnya.
                “Kamu punya teman orang yang baik, ya?” ujar Ryosuke setelah keluar dari salon Hikaru.
                “Un,”
                “Eh?” Hime yang berjalan di sebelahnya menoleh karena mengira Yuya sedang bicara padanya.
                “Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya menanggapi omongan Yamada. Oh iya, sekarang dia berada di sebelah kananmu, diantara kita,” jelas Yuya. Entah mengapa hal itu seperti sudah menjadi kebiasaannya memberitahukan keberadaan Ryosuke pada gadis itu.
                Hime pun menoleh ke sebelah kanannya. Lalu dia tersenyum sangat lebar. Dia terlihat sangat senang. Senyumannya kali ini terlihat lebih hidup dan ceria. Tidak seperti biasanya yang terlihat lemah dengan wajahnya yang pucat. Yuya melihat senyuman itu melalui ujung matanya. Baru pertama kali ini dia melihat senyuman Hime dengan sangat jelas seperti itu. Jantungnya kembali berdebar kencang padahal dia tahu kalau senyuman itu bukan untuknya. Yuya mengutuk dirinya sendiri. Dia berusaha menenangkan diri dengan melihat lurus ke depan.
                “Boleh aku bertanya? Apa yang dilakukan Ryosuke sekarang?” pertanyaan Hime membuyarkan lamunan Yuya.
                “Eh?” Yuya gelagapan. Dia lalu menoleh cepat pada Ryosuke yang melayang di sebelah kirinya. “Dia hanya melayang-layang sambil terus menatapmu,” jawab Yuya.
                “Ah... Souka,” Hime kembali menunduk dengan malu. “Ano, aku benar-benar berterima kasih padamu, Takaki-kun. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua bantuanmu ini,” ujar Hime tulus.
                Yuya diam sejenak. Dia menghentikan langkahnya. Hime akhirnya juga ikut menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Yuya dengan bingung. “Berkenalan,” kata Yuya singkat.
                “Eh?” Hime semakin tidak paham.
                “Kita belum berkenalan dengan benar sejak pertama kali bertemu,” jelasnya.
                “Oh, sou desune,”
                “Takaki Yuya desu. Kelas 2-D. Senang berkenalan denganmu,” ujar Yuya mengawali.
                Dengan senyum simpul Hime pun memperkenalkan dirinya, “ Nishiyama Hime desu. Kelas 2-B. Senang berkenalan denganmu juga, Takaki-kun.” Senyum simpul itu lalu berubah menjadi lebih lebar, persis seperti yang dia berikan pada Ryosuke tadi.
                Yuya diam, lalu sebuah senyuman juga mengembang di wajahnya. Kali ini senyuman gadis itu hanya untuk dirinya, kan? Jadi tidak masalah kalau dia merasa sangat senang, kan?

***TO BE CONTINUED***