?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry

[Fanfic] My Shadow -Part 3-

Tittle : My Shadow
Author : Nishiyama Hime
Genre : Mistery, Romance, Friendship
Rating : T
Cast : Yamada Ryosuke, Takaki Yuya, OC
[Part 3]
             
Siang itu kehebohan terjadi di kelas 2-D, kelas Takaki Yuya. Kehebohan itu bukan disebabkan oleh si troublemaker. Oke, mungkin memang ada hubungannya dengan Yuya. Tapi bukan laki-laki itu dalang utama kehebohan tersebut. Suasana di kelas menjadi ricuh, berbagai bisikan terdengar dimana-mana. Bahkan anak-anak kelas sebelah juga ikut keluar untuk melihat.
Di tengah-tengah kerumunan orang, gadis dengan rambut hitam panjang yang terlihat acak-acakan berdiri menunduk di depan kelas si troublemaker. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin, dia tidak suka dikelilingi banyak orang karena itu mengingatkannya pada orang-orang yang berkerumun mengelilinginya saat kejadian malam itu. Tapi Hime berusaha keras untuk bertahan.

“Ada apa, Nishiyama?” tanya Yuya dengan suara khas dan sikapnya yang cool pada Hime saat dia sudah berdiri tepat di depan gadis itu.
Hal itu membuat suara riuh rendah semakin terdengar dari murid-murid yang mengelilingi mereka. Semua mata memandang mereka dengan tatapan tak percaya. Aneh. Seorang Takaki Yuya yang tidak pernah mau tahu nama seseorang—bahkan nama teman sekelasnya sendiri—bisa tahu nama anak yang begitu pendiam, aneh dan menyeramkan seperti Nishiyama Hime. Kebanyakan dari murid-murid itu melayangkan pandangan kasihan pada Hime. Mereka mengira dia adalah korban baru dari kenakalan berandalan sekolah itu. Yuya berdecak pelan, tampaknya dia mulai terganggu tapi berusaha tidak peduli dengan semua kehebohan teman-temannya. Dia tidak peduli tentang apapun yang teman-temannya pikirkan tentangnya.

Ryosuke yang melayang-layang di dekat Hime lebih dulu menyadari kalau tubuh kekasihnya gemetaran dan wajahnya yang memucat. Dia segera ingat sesuatu.
“Yuya, Hime punya trauma dikelilingi banyak orang! Cepat bawa dia pergi dari sini sebelum dia pingsan lagi!” seru Ryosuke panik.

Dahi Yuya mengernyit mendengar kata Ryosuke. Dia memperhatikan gadis yang berdiri diam mematung di depannya. Tanpa pikir panjang Yuya langsung menyabet tangan kanan Hime.
“Ikut aku!” ujar Yuya langsung menarik Hime pergi melewati kerumunan orang yang kembali heboh.
“Lihat! Kasihan sekali anak itu!”
“Mau dibawa kemana dia? Jahat sekali Takaki itu!”
“Sst! Jangan sembarangan! Kalau omonganmu terdengar oleh Takaki, bisa-bisa kamu jadi target bully selanjutnya.”
Suara sekelompok murid yang berdiri di pinggir lorong bukannya tidak terdengar oleh Yuya. Yuya sengaja diam saja, dia sudah menduga teman-temannya akan menunjukkan reaksi seperti itu. Image-nya di sekolah ini memang buruk sejak dulu dan dia tidak ada niatan meladeni pendapat orang-orang tentangnya. Sekarang, ada hal yang lebih penting daripada itu. Hime sepertinya benar-benar dalam keadaan yang buruk. Tangan gadis yang ia genggam itu sangat lemah, gemetaran hebat, dan dipenuhi keringat dingin.

Mereka sampai di atap sekolah, “Apa yang kamu lakukan di kelasku!?” Yuya segera memarahi Hime.
Tepat setelah tangan Hime lepas dari tangan Yuya, Hime jatuh terduduk. Kakinya tidak kuat menopang berat tubuhnya. Dia melihat lurus ke depan dengan tatapan kosong. Napasnya memburu dan tubuhnya masih gemetar hebat.

“Oi! Nishiyama, kamu tidak apa-apa?” Yuya berjongkok di depan Hime, memegang kedua bahu gadis itu dan sedikit mengguncang-guncangnya. Hime tidak menjawab pertanyaan Yuya.
Matanya berkaca-kaca. “Kenapa orang-orang mengelilingiku? Kenapa mereka melihatku seperti itu?” ujar Hime lirih hampir tidak terdengar.

“Gawat! Dia masih tidak bisa mengontrol dirinya, kalau dibiarkan Hime akan histeris dan jatuh pingsan seperti kemarin,” Ryosuke kembali panik.
“Hah?! Lalu apa yang harus kita lakukan?”

“Lakukan apapun untuk menenangkannya!”
Yuya terus mengguncang tubuh Hime, berusaha menyadarkan gadis itu. Dia menempelkan kedua tangan besarnya di wajah Hime, membuat Hime menatap lurus padanya. “Nishiyama, kamu dengar aku? Bertahanlah, Nishiyama!”
Hime mulai menangis. Airmatanya yang tidak bisa terbendung lagi mulai mengalir di kedua pipinya, membasahi tangan Yuya juga. Ryosuke segera berkonsentrasi untuk mengumpulkan kekuatannya agar bisa menyentuh Hime. Tapi usahanya langsung terhenti saat Yuya dengan cepat menarik tubuh Hime dalam dekapannya. Yuya memeluk gadis itu dengan erat. Dibelainya rambut kusut Hime.
“Nishiyama, tenanglah! Aku bersamamu,” Yuya mengucapkan kalimat itu dengan suara selembut mungkin.
Napas Hime lama-kelamaan mulai teratur. Tubuhnya tidak lagi gemetar. Tapi beberapa detik kemudian tangisannya tiba-tiba meledak. Hime menangis tersedu-sedu dan membalas pelukan Yuya dengan erat. “Kenapa orang-orang hanya mengelilingiku? Kenapa mereka diam saja? Ryosuke sekarat, tapi kenapa mereka diam saja!?” teriak Hime.
Yuya menoleh ke arah Ryosuke. Dia berusaha membaca raut wajah Ryosuke. Roh laki-laki itu hanya menunduk dengan ekspresi yang susah dijelaskan.
“Karena saat itu mereka sudah tidak bisa menolong kekasihmu,” jawab Yuya menerka-nerka jawaban yang tepat. Dia masih terus membelai lembut kepala gadis itu.
“Tidak! Kalau saja mereka segera menolong Ryosuke, dia pasti selamat! Kalau saja aku tidak ceroboh, Ryosuke pasti masih hidup sekarang!” ujar Hime putus asa. Airmatanya masih terus mengalir di pipinya.
Yuya melepaskan pelukannya, dia menatap tajam pada Hime. “Hei, dengar! Kamu tahu kenapa aku bisa melihat roh Yamada? Kamu tahu kenapa roh kekasihmu itu masih tersesat di dunia ini?”
Hime diam, tidak menjawab.
“Itu karena orang yang dia sayangi belum merelakan kepergiannya,” jelas Yuya. “Karena perasaan orang yang disayanginya masih mengikatnya di dunia ini, roh orang yang sudah meninggal itu tidak bisa tenang dan pergi ke alam sana. Terikat di dunia yang sudah bukan dunianya itu lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri,”
Hime masih bungkam. Tangisannya mulai berhenti. Dia mulai merenungkan ucapan Yuya. Ryosuke hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan Yuya. Dia tidak bisa protes karena semua yang Yuya katakan, sekali lagi, benar.
“Maaf....,” hanya kata itu yang bisa terpikir oleh Hime.
“Itu bukan sepenuhnya salahmu,” Yuya kembali membelai kepala Hime.
Yuya mendiamkan Hime untuk beberapa saat. Setelah Hime benar-benar tenang, Yuya baru melepas cengkeramnya di bahu Hime. Yuya menatap wajah Hime, memastikan kalau gadis itu sudah bisa diajak bicara.
“Kenapa tadi kamu ke kelasku?” tanyanya.

“A-aku mencarimu,” Hime menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Hah?” Yuya tidak paham dengan apa yang dia dengar. Gadis yang selama ini bersikeras menghindarinya, hari ini malah memaksakan diri hingga hampir pingsan demi mencarinya.

Hime mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya. Sebuah origami tulip putih. Benda itu ia sodorkan pada Yuya, “Aku ingin memberikan ini.”

Yuya mengernyitkan dahi, tangan kanannya menerima origami bunga yang merupakan tanda permintaan maaf itu, “Kamu ingin meminta maaf padaku?”
Hime mengangguk, “Maaf karena tidak percaya padamu dan seenaknya berkata kasar padamu padahal akulah yang tidak tahu apa-apa tentangmu dan terima kasih karena sudah mengantarku pulang. Maaf aku telah merepotkanmu.”

Yuya diam dalam beberapa saat, mencerna perkataan Hime. “Bodoh! Kamu pergi ke kelasku sampai hampir pingsan hanya untuk melakukan ini?” Yuya tertawa, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. “Kamu membuat kehebohan sampai seperti itu hanya untuk mengatakan ini padaku?”
Hime mengernyitkan dahi menatap Yuya. Dia mulai menyesali rencananya untuk minta maaf pada berandalan itu. Hime berusaha sabar menghadapi Yuya. Dia sudah mulai terbiasa dengan perkataan Yuya yang seenaknya sendiri.
“Lain kali jangan memaksakan dirimu untuk melakukan hal yang tidak kamu sukai lagi. Jangan membuat orang lain repot karena harus membopongmu yang tiba-tiba pingsan karena traumamu kembali. Kalau mau menemuiku, cukup datang saja ke tempat ini. Tunggu aku di sini. Aku selalu ke sini,” ujarnya setelah berhasil mengatasi tawanya. Yuya memperhatikan origami tulip ditangannya, “Aku memaafkanmu.”
Hime mengangguk mengerti dan untuk pertama kalinya sebuah senyuman mengembang di wajah pucatnya. Walaupun senyuman itu terlihat lemah tapi tampak begitu tulus. Mata Yuya membelalak melihat gadis aneh di depannya itu bisa tersenyum begitu tulus.
Hime menoleh mencari Ryosuke. Yuya segera paham yang Hime lakukan. “Dia disini,” Yuya menunjuk sisi kosong di sebelah kirinya.
“Ryosuke, maafkan aku karena selalu menyusahkanmu. Aku selalu membuatmu khawatir. Bahkan setelah kamu....,” Hime menggantungkan kalimatnya berusaha menemukan kata yang tepat. “Pergi dari dunia ini,” ucap Hime akhirnya.
Roh Ryosuke menggeleng, “Tidak, Hime. Kamu tidak pernah menyusahkanku. Aku melakukan semua ini karena aku ingin melindungimu agar kamu bisa hidup bahagia. Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini benar-benar bukan salahmu,” jelas Ryosuke. Tentu saja, ucapan Ryosuke diucapkan kembali oleh Yuya.
Hime kembali menundukkan kepalanya dalam diam. Dia meremas rok seragamnya. Mereka bertiga sama-sama diam. Sampai bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat telah usai dan pelajaran selanjutnya akan dimulai.

“Nishiyama, cepat kembali ke kelasmu!” perintah Yuya.
Hime mengangguk, dengan ragu dia berdiri dan mulai berjalan pelan menuju pintu. Tapi baru beberapa langkah, dia membalik badan dan kembali ke tempat sebelumnya.
“Anoo, Takaki-kun!” panggil Hime.
Yuya terkejut, baru pertama kali ini gadis itu memanggil namanya.
“A-ada apa?” tanya Yuya yang entah kenapa terdengar gugup.

Hime menghembuskan napas panjang sebelum bicara, “Aku ingin bahagia demi Ryosuke. Tolong bantu aku!” teriaknya sambil membungkukkan badannya 90 derajat.
Untuk beberapa detik Yuya hanya diam tidak percaya. Dia bahkan harus mengedipkan matanya beberapa kali agar tersadar dari rasa terkejutnya.
“Hmm, baiklah,” Yuya menyetujui permintaan Hime.

“Terima kasih,” gadis itu tersenyum simpul.
Kali ini Yuya tidak bisa melihatnya dengan jelas karena Hime masih menunduk. Hime lalu beranjak pergi dari tempat itu, kembali ke kelasnya.
Setelah Hime sudah pergi, Yuya kembali angkat bicara. “Aku tidak menyangka dia bisa tersenyum seperti itu,” ujar Yuya. Matanya masih terus melihat pintu yang sudah tertutup.

Ryosuke melipat kedua kakinya sambil melayang-layang di sebelah kiri Yuya. Senyuman bangga terpampang jelas di wajahnya. Seperti mengatakan, “Dia memang gadisku!”

“Oh iya,” Yuya mengubah arah pandangannya dari pintu itu ke Ryosuke setelah mengingat sesuatu. “Maaf aku tadi reflek memeluk kekasihmu,” laki-laki yang terlihat garang itu lalu menggaruk belakang kepalanya. Sebuah semburat merah menghiasi pipinya. Bahkan telinganya juga berubah merah. Dia malu mengingat apa yang sudah ia lakukan.
Ryosuke seketika tertawa terbahak-bahak. Pihak yang ditertawakan pun melempar tatapan tajam pada roh itu.
“Wajahmu lucu sekali! Baru kali ini aku melihat berandalan sepertimu merasa malu sampai seperti ini,” ledek Ryosuke.

“Apa kau bilang?!“
“Terima kasih,” Ryosuke memotong protes Yuya. Dia menghentikan tawanya, dan menggantinya dengan senyuman lembut. “Terima kasih sudah menenangkan Hime untukku,” lanjutnya.

Otot wajah Yuya yang awalnya ditekuk perlahan melemas, berganti dengan sebuah senyuman.
***
Hime berjalan cepat ke kelasnya. Sesampainya di depan kelas ternyata Okada-sensei sudah berada di kelas. Pintu kelasnya sudah tertutup rapat. Hime dengan takut-takut mengintip dari dari jendela, teman-teman sekelasnya tampak sedang memperhatikan dengan serius Okada-sensei yang sedang menggambar sistem pencernaan sederhana di papan tulis. Dia terlambat. Kalau masuk kelas sekarang dia pasti menjadi pusat perhatian. Hime tidak suka itu. Apalagi setelah kejadian tadi, pasti teman-temannya masih meributkan dirinya dan Yuya. Hime hendak melangkahkan kakinya meninggalkan kelas seperti yang biasa dia lakukan jika terlambat. Dia akan pergi ke atap sekolah dan baru kembali ke kelas setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi—mungkin, Yuya juga masih ada di sana. Tapi ucapan Ryosuke yang dia dengar dari Yuya tadi menghentikannya. Benar, kalau dia membolos lagi, Ryosuke pasti tidak akan senang. Hime menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Lalu dengan gerak perlahan dia menggeser pintu kelas itu.

Pintu terbuka setengah, sudah cukup untuk dilewati tubuh kurus Hime. Dan benar saja, seluruh kelas langsung saja menatap ke arahnya. Ada yang kembali berbisik-bisik, ada yang menunjukkan ekspresi terganggu, dan ada juga yang hanya sekilas melirik lalu kembali menulis di buku tulisnya.
Tangan Hime mulai gemetar, dia menggenggam tangannya sendiri dengan erat. Ingin rasanya dia berlari pergi saja dari tempat itu.
“Nishiyama, tenanglah! Aku bersamamu.”
Kata-kata Yuya kembali menggema di kepalanya. Entah bagaimana itu membuat hatinya tenang. Degup jantungnya perlahan melambat. Hime merasa bisa mengendalikan dirinya.
Okada-sensei yang melihatnya masih berdiri diam segera memerintahkan untuk duduk. Untung Okada-sensei bukan guru yang jahat. Hime sedikit lega karena tidak dimarahi dan dihukum keluar kelas karena keterlambatannya. Hime langsung berjalan cepat ke kursinya, kepalanya menunduk dalam-dalam berusaha tidak melihat mata teman-temannya yang masih menatapnya tajam.

“Fiuuh...,” Hime menghembuskan napas panjang setelah menghempaskan tubuhnya di kursi. Dia berhasil maju satu langkah.
***
“Ne, Yuya apa rencanamu sekarang?” tanya Ryosuke yang melayang-layang di samping Yuya yang sedang berjalan santai di lorong sekolah menuju rak sepatu. Satu tangannya menenteng tas sekolahnya di pundak.

“Hmm, entahlah,” jawab Yuya asal.
Yuya menghentikan langkah saat tiba di barisan rak sepatu paling ujung, tepat di samping rak tempat dia meletakkan sepatunya.
“Apa yang kamu lakukan di sana, Arioka?” tanyanya karena merasa terganggu. Sore itu, untung saja tempat itu sedang sepi, semua siswa sudah pulang. Hanya ada dia sendiri dan dua makhluk astral.

“Oh! Yuyan, lama tidak bertemu, ya!” sapa roh yang dia panggil Arioka itu dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Roh itu sedang makan sekotak bento dengan lahapnya di atas rak sepatu Yuya.
“Ya,” gumam Yuya singkat menanggapi Arioka.

“Kamu membantu roh lagi?” tanya Arioka saat melihat Ryosuke.
Ryosuke baru sadar kalau dia belum memperkenalkan diri, “Ah, aku Yamada Ryosuke,” Ryosuke melayang mendekati roh dengan headphone besar yang melingkar di lehernya itu.

“Aku Arioka Daiki. Aku roh penunggu sekolah ini. Dulu aku murid sekolah ini dan aku meninggal karena kecelakaan waktu pulang dari lomba aransemen lagu,” Arioka menutup kotak bentonya dan menyalami Ryosuke. “Aku suka berkeliling, jadi aku selalu tahu setiap sudut di sekolah ini, kamu bisa mencariku jika mau berjalan-jalan. Aku siap menjadi tour guide,” tambahnya dengan cengiran lebar.
Yuya tidak begitu memperhatikan percakapan kedua roh itu. Dia sedari tadi tenggelam dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa dia membantu Hime? Bagaimana dia bisa membantu gadis yang baru saja dia kenal itu untuk bahagia? Masalah ini ternyata lebih rumit dari yang Yuya bayangkan.

“Ck, menyusahkan saja!” desis Yuya kesal.
“Eh?” Arioka dan Ryosuke berbarengan menoleh pada Yuya.

“Tidak, bukan apa-apa,” elak Yuya.
Arioka diam sambil memperhatikan sesuatu pada diri Yuya, “Yuyan, rambutmu sudah terlalu panjang. Tidak dirapikan?” tanyanya. “Aku tahu kamu memang membuat image berandal tapi menurutku rambutmu sudah tidak rapi. Kamu butuh potong rambut.”

Yuya membelalakkan mata, sesuatu tiba-tiba mencuat di otaknya. Yuya mendapatkan sebuah ide bagus.
“Arioka!” panggil Yuya menghentikan ocehan roh yang banyak omong itu tentang model rambut. “Kamu tahu gadis bernama Nishiyama Hime? Apa dia sudah pulang?”

“Nishiyama Hime? Gadis yang beberapa kali aku lihat bersamamu itu? Gadis aneh yang...,”
“Iya!” potong Yuya. “Apa dia sudah pulang?” Yuya sekali lagi bertanya dan menatap Arioka lebih tajam. Dia butuh pertanyaannya dijawab dengan cepat, tidak bertele-tele.

Arioka bergidik ngeri ditatap seperti itu. Dia segera menghentikan ceramahnya sebelum Yuya mengamuk. Bisa-bisa dia dilenyapkan oleh Yuya nanti, “Dia masih di kelasnya melipat origami.”
“Terima kasih! Kamu memang sangat berguna disaat seperti ini!” ujar Yuya sambil melesat pergi dan tentu saja menyeret Ryosuke juga.
Sesampainya di depan kelas yang dia tuju, Yuya melihat gadis yang dicarinya. Seperti kata Arioka, Hime sedang memasukkan origami yang telah dia buat ke dalam tas kertas.
Yuya langsung membuka pintu kelas. “Nishiyama!” suaranya menggema di kelas itu.
Gadis yang namanya dipanggil terkejut melihat Yuya berjalan tergesa ke arahnya. Belum sempat merespon apapun, tangan kanan Yuya langsung menarik tangan kanan Hime hingga dia berdiri dari duduknya.

“Ikut aku!” ujarnya singkat.
Tanpa banyak bicara lagi, Yuya langsung menarik Hime keluar kelas. Untung Hime masih sempat membawa semua barangnya. Kali ini Hime tidak melawan, dia mengikuti Yuya walaupun gadis itu tidak tahu kemana si berandalan akan membawanya.

Yuya dan Hime sampai di depan sebuah bangunan kecil bercat putih dengan design Eropa. Di atas pintu bangunan itu ada sebuah plakat hitam dengan gambar sisir dan gunting diujungnya, sekaligus tercantum sebuah tulisan “Lumière” berwarna kuning, kontras dengan warna plakatnya. Lonceng yang terpasang di atas pintu berbunyi saat Yuya dengan cepat membuka pintu itu. Seketika itu seorang laki-laki tinggi dengan berbagai peralatan untuk menata rambut yang tertata rapi dalam tas kecil yang terikat apik di pinggangnya keluar menyambut pelanggannya.
“Yo, Yuya!” sapanya. Laki-laki itu agak bingung melihat Yuya yang masih terengah-engah dan berusaha mengatur napasnya. Tangan Yuya masih menggandeng tangan seorang gadis yang sama-sama berusaha mengatur napasnya.

“Hikaru-kun, tolong potong rambutnya!” kata Yuya ditengah napasnya yang belum stabil.
“Hah?” pekik Hime, Hikaru serta Ryosuke berbarengan. Semua terkejut dengan permintaan Yuya yang tiba-tiba. Hime tidak bisa menerka apa yang sebenarnya ingin Yuya lakukan. Ryosuke melayang di sampingnya dengan wajah serius melihat Yuya.

Yuya menatap lurus pada Hime, “Kalau kamu mau bahagia, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengubah penampilanmu. Tidak akan ada orang yang mau berteman dengan gadis berpenampilan mengerikan sepertimu. Ubah penampilanmu dan mulailah mencari teman!”
Hime lalu menunduk memperhatikan ujung rambutnya yang bercabang, hingga batang-batang rambutnya yang memang sangat tidak rapi karena jarang dia rawat. Gadis itu akhirnya mengangguk, menuruti Yuya.

Hikaru tersenyum penuh arti, “Serahkan semua pada Yaotome Hikaru-sama! Tidak hanya memotong rambutmu, aku akan membuatmu terlihat lebih cantik.”
Hikaru lalu mempersilahkan Hime duduk di sebuah kursi hitam yang menghadap ke sebuah kaca lebar dengan beberapa lampu di ujung-ujung atasnya.

Hikaru menoleh melihat Yuya yang masih berdiri di tempatnya, “Yuya, keluar!” perintah Hikaru.
“Hah? Kenapa?” protes Yuya.

“Sudaaah! Turuti saja ucapanku. Pergilah ke taman depan atau kemanapun, yang penting jangan sampai kamu masuk ke tempat ini sebelum aku memanggilmu,” Hikaru mendorong Yuya keluar dari salonnya.
“Jangan macam-macam, ya!” ancam Yuya.
“Kamu seperti tidak mengenalku saja! Aku selalu memperlakukan pelangganku dengan sebaik mungkin, tahu! Sudah sana pergi!” setelah aksi dorong-mendorong, Yuya pun keluar dari salon itu.

Setelah berhasil mengusir Yuya, Hikaru kembali ke pelanggannya. “Santai saja, aku tidak akan berbuat macam-macam,” ujarnya menepuk kedua bahu Hime yang tampak sangat tegang.
“Sekarang pejamkan matamu sampai kusuruh membukanya,” perintah Hikaru.
Entah apa yang orang itu rencanakan, tapi Hime menurut saja.

***

“Hei, lama sekali. Apa Hime benar-benar akan baik-baik saja?” tanya Ryosuke khawatir.
Yuya dengan santainya memakan takoyaki yang barusan dia beli. Taman sore itu mulai sepi karena pengunjungnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Daun-daun pohon yang menjadi sandaran Yuya beberapa kali bergoyang karena terkena hembusan angin sore. Yuya sangat menikmati suasana sore di tempat itu.

“Yuya, apa tidak sebaiknya kita segera kembali?” Ryosuke kembali mendesaknya.
Yuya menghembuskan napasnya, merasa terusik dengan berbagai kekhawatiran Ryosuke yang berlebihan. Dia lalu menatap Ryosuke tajam, “Aku tidak tahu apa yang direncanakan Hikaru-kun, tapi aku percaya kekasihmu itu tidak akan celaka di tangannya. Tenanglah!” Satu bola takoyaki kembali masuk ke mulutnya.

Sekarang ganti Ryosuke yang menghembuskan napasnya, lelah juga dia dari tadi tidak digubris oleh Yuya. Dia berusaha diam dan tenang seperti ucapan Yuya. Angin sore itu membelai lembut rambut kedua makhluk berbeda dunia itu. Udara sedikit demi sedikit berubah menjadi dingin seiiring tenggelamnya sang pemberi kehangatan di ufuk Barat.
Sebuah getaran kecil di saku seragamnya membuat Yuya dengan cepat memasukkan tangan kanannya untuk mengambil benda itu.
“Apa?” tanyanya langsung setelah menerima telepon yang ternyata dari Hikaru.
“Oke,” kata Yuya lagi. Percakapan telepon itu berakhir dengan begitu singkat.
Yuya lalu berdiri, mengantongi handphonenya lagi, tanpa bicara apapun dia berjalan kembali ke salon Hikaru. Ryosuke yang langsung paham dengan situasi itu, mengikutinya dengan rasa senang bercampur penasaran. Yuya pun berjalan cepat seiiring cepat detak jantungnya.
Langkah Yuya berhenti di depan salon saat melihat Hikaru berdiri di depan pintu sambil tersenyum lebar.

“Bagaimana?” tanya Yuya.
Hikaru tidak mengucapkan apapun, dia hanya tersenyum lalu tangan kanannya menekan knop pintu salonnya, mempersilakan Yuya masuk. Saat pintu itu terbuka, Yuya bisa melihat seorang gadis berambut lurus sebahu duduk di tengah ruangan menghadap ke arahnya. Hime mengangkat wajahnya saat pintu salon itu terbuka. Poninya yang melengkung ke kanan sedikit bergerak karena sentakan kepalanya. Melihat Yuya yang melongo di ambang pintu, Hime langsung menundukkan kepalanya lagi. Malu rasanya ditatap seperti itu.

Yuya berdiri terpukau di ambang pintu. Mulutnya sedikit terbuka, kagum melihat hasil kerja Hikaru. Gadis mengerikan itu sekarang berubah menjadi lebih cantik. Bahkan mungkin bisa dikatakan sangat cantik. Rambut panjang yang awalnya sangat tidak rapi sekarang sudah dipotong lebih pendek. Poninya yang dulu menutupi setengah wajahnya kini sudah dipotong tepat sealis, membuat kedua mata yang ujungnya meruncing ke atas seperti mata kucing itu terlihat jelas. Make up tipis nan sederhana itu sudah cukup membuat wajahnya yang semula pucat jadi terlihat lebih segar. Lipstick pink mewarnai bibirnya. Ditambah rona merah di pipi gadis itu. Bukan dari make up, melainkan muncul dengan sendirinya. Pasti dia malu, pikir Yuya.
“Hime,” panggil Ryosuke yang sama terkejutnya dengan Yuya. “Sudah lama aku tidak melihat dia secantik ini.”

“Aku tidak menyangka dia bisa secantik ini,” timpal Yuya pelan tanpa dia sadari, tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran semua makhluk di ruangan itu. Hime semakin menundukkan kepalanya dan menutup mukanya dengan kedua tangan. Hikaru tersenyum bangga.
Hikaru mendekati Hime dan menurunkan kedua tangan gadis itu. Laki-laki itu tersenyum lembut, “Percaya dirilah! Kamu tidak harus menutupi mukamu karena tidak ada yang jelek dari mukamu. Kamu sangat cantik, sama sekali tidak jelek.”

“Te-terima kasih,” ucap Hime sedikit membungkukkan badan.
Hikaru mengangguk dengan senyuman lebar tetap mengembang di wajahnya. Dia belum pernah merasa sangat puas dan sesenang ini. Mungkin ini perasaan yang dirasakan seorang seniman setelah menciptakan sebuah mahakarya.

“Jadi berapa semua biayanya?” Hime mengalihkan topik agar orang-orang itu tidak terus-terusan menatapnya.
Hikaru menepuk pundak Hime pelan, “Tidak usah. Kamu adalah pelanggan spesialku hari ini jadi tidak perlu bayar.”

“Eh? Benarkah?”
Hikaru mengangguk mantap.

“Terima kasih banyak!” ujar Hime sekali lagi sambil membungkuk cepat. Hikaru tertawa melihatnya. Tangan kanannya menepuk lembut kepala Hime.
“Terima kasih, Hikaru-kun,” ujar Yuya.

“Kamu bisa mengandalkanku kapan saja,” jawab Hikaru. “Sudah semakin malam, sebaiknya kalian segera pulang,” Hikaru melihat jam di dinding salonnya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Yuya dan Hime pun pamit pulang. Ryosuke membungkukkan badannya untuk berterima kasih walaupun Hikaru tidak bisa melihatnya.

“Kamu punya teman yang baik, ya?” ujar Ryosuke setelah keluar dari salon Hikaru.
“Ya begitulah,”

“Eh?” Hime yang berjalan di sebelahnya menoleh karena mengira Yuya sedang bicara padanya.
“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya menanggapi omongan Yamada. Oh iya, sekarang dia berada di sebelah kananmu, diantara kita,” jelas Yuya. Hal itu seperti menjadi kebiasaan barunya untuk memberitahukan keberadaan Ryosuke pada gadis itu.

Hime pun menoleh ke sebelah kanannya. Lalu dia tersenyum sangat lebar. Dia terlihat sangat senang. Senyumannya kali ini terlihat lebih hidup dan ceria. Tidak seperti biasanya yang terlihat lemah dengan wajahnya yang pucat. Baru pertama kali ini Yuya melihat Hime tersenyum begitu lebarnya. Ujung bibir Yuya hampir ikut terangkat untuk membentuk senyuman juga tapi dia paham kalau senyuman Hime bukan untuknya jadi dia berusaha menenangkan diri dengan melihat lurus ke depan.
“Boleh aku bertanya? Apa yang dilakukan Ryosuke sekarang?” pertanyaan Hime membuyarkan lamunan Yuya.

“Ya?” Yuya gelagapan. Dia lalu menoleh cepat pada Ryosuke yang melayang di sebelah kirinya.

“Dia hanya melayang-layang sambil terus menatapmu,” jawab Yuya sedikit kikuk.
“Oh, begitu ya,” Hime kembali menunduk dengan malu. “Aku benar-benar berterima kasih padamu, Takaki-kun. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membalas semua yang kamu lakukan ini,” ujar Hime sepenuh hati.

Yuya menghentikan langkahnya. Hime juga ikut menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Yuya dengan bingung.
“Berkenalan,” kata Yuya singkat.
“Eh?” Hime semakin bingung.

“Kita belum pernah berkenalan dengan benar sejak pertama kali bertemu,” jelasnya.
“Benar juga,” Hime mengingat-ingat pertemuan pertama mereka yang tidak mengenakkan.

“Aku Takaki Yuya. Kelas 2-D. Senang berkenalan denganmu,” ujar Yuya mengawali. Dia mengulurkan tangan kanannya.
Dengan senyum simpul di wajahnya Hime pun memperkenalkan dirinya, “Namaku Nishiyama Hime. Kelas 2-B. Senang berkenalan denganmu juga, Takaki-kun.” Hime menjabat tangan Yuya. Senyum simpul itu lalu berubah menjadi lebih lebar, persis seperti yang dia berikan pada Ryosuke tadi.

Yuya tertegun, sebuah senyuman kemudian mengembang di wajahnya juga. Kali ini senyuman gadis itu hanya untuk dirinya, kan? Jadi tidak masalah, kan, kalau dia merasa sangat senang?
Hime dan Yuya masih tersenyum dan saling berjabat tangan. Ryosuke yang melayang di samping mereka juga ikut tersenyum bahagia. Sepertinya sebentar lagi dia bisa pergi meninggalkan dunia ini dengan tenang.

***TO BE CONTINUED***