?

Log in

[Fanfic] LITTLE LOVE

Tittle : Little Love
Author : Nishiyama Hime
Genre : Fluff
Rating : G
Cast : Hey!Say!JUMP, Johnny Kitagawa, OC

Little Love

[Fanfic] WISH

Entah kenapa jadi kangen si hamster, Ryuu. Ini fanfic yang aku buat sekitar 3 tahun yang lalu, waktu pertama kali Ryuu kena masalah. Sekarang liat akun Twitternya Ryuu jadi lega sekaligus sedih. Sedihnya karena beberapa anak jonis yang keluar dari JE itu langsung buat akun twitter, jadi kesimpulannya.... oke... Ryuu nggak akan balik ke JUMP lagi :(
Senengnya karena liat dia ternyata udah tambah ganteng di foto-foto yang dia post di akun twitternya. Sebagai fans yang nggak bisa berbuat apa-apa, cuma bisa doain semoga dia sukses di jalan yang di pilih. :D
I'll keep support you, Hamster!

WISH

[Fanfic] SKY WORLD -Part 7- FINAL

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 7- FINAL

[Fanfic] SKY WORLD -Part 6-

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 6-

[Fanfic] SKY WORLD -Part 5-

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 5-

[Fanfic] SKY WORLD -Part 4-

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 4-

[Fanfic] SKY WORLD -Part 3-

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 3-

[Fanfic] SKY WORLD -Part 2-

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 2-

[Fanfic] SKY WORLD -Part 1-

This is my old fanfiction. My very first fantasy fanfiction. Hope you like this :)

Tittle : Sky World
Author : Nishiyama Hime
Genre : Romance, Fantasy
Rating : PG-15
Cast : Hey!Say!JUMP's members, OC

-Part 1-
Tittle : Between Love and Duty
Author : Nishiyama Hime
Genre : romance
Rating : PG-15
Cast : Chinen Yuri x OC, and other HSJ member
[Part 2]
-Part 2-

-30 November 2012, pukul 22.00-

                “Kepung seluruh rumah! Jangan sampai ada celah!” seorang polisi menginstruksikan para kru-nya. Semua kru bergegas mengelilingi rumah itu sesuai perintah.
                Kepala polisi Chinen Kouta keluar dari mobilnya, “Semua siap?” tanya Kepala polisi itu.
                “Hai.. Ini Kouta-san.” polisi itu memberikan pengeras suara pada atasannya.
                Kouta menarik napas sejenak lalu berkata dengan suara lantang dan tegas, “Yuya, kau sudah kami kepung! Kamu tidak bisa lari lagi!” gertaknya.
                Suasana di rumah itu menegang. Takaki Yuya memegang kedua lengan anak gadisnya. Dipandangnya anak gadisnya itu dengan seksama. Lalu tiba-tiba dipeluknya Kaori. Itu adalah pelukan pertama dari ayahnya yang pernah Kaori rasakan. Kaori juga memeluk ayahnya erat tidak ingin terjadi hal buruk pada Sang Ayah.
Beberapa saat kemudian, mereka melepas pelukannya, “Lakukan apa yang sudah Ayah perintahkan sebelumnya. Demi klan, demi keluarga, dan demi Ibu. Ayah bergantung padamu, Kaori.”
“Un, wakarimashita. Ittekimasu!” Kaori pamit. Setelah beberapa saat paman dan ayahnya saling berpandangan dan memberi sebuah kode dengan anggukan, Kaori ditemani pamannya pergi menunaikan tugas.
Kaori dan pamannya keluar lewat jalan rahasia yang berada di ruang bawah tanah rumah itu. Rumah khas Jepang itu memang didesign agar dapat melarikan diri dengan mudah jika terjadi hal-hal seperti sekarang ini. Tapi ternyata, sebuah gudang kecil yang jauh dari rumah dan menjadi jalan keluar dari lorong bawah tanah juga dijaga oleh polisi. Para polisi itu ternyata sudah menyelidiki semua bagian rumahnya dengan cermat.
“Papa, Doushiyo?” Kaori yang belum pernah mengalami hal ini sebelumnya pun kebingungan.
Tapi orang yang ditanya malah tersenyum lebar. “Daijoubu dayo. Papa akan memperlihatkan keahlian Papa.” Setelah itu, Hikaru pun keluar dari tempatnya bersembunyi dan dengan gerakan yang cepat dan tanpa suara dia menghajar polisi itu satu persatu dengan sangat sadis. Tidak sampai lima menit, para polisi itu sudah terbaring tak sadarkan diri.
Kaori hanya melongo melihat Papanya dari jauh. “Lihat!” Hikaru tersenyum sombong, “Kau juga harus mempelajarinya, ayo!” ajaknya kemudian. Kaori mengangguk. Mereka berdua berlari menuju mobil yang terparkir lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
Setelah keduanya masuk mobil, Hikaru segera melajukan mobil itu menuju tempat yang sudah ditetapkan, Taman dekat stasiun, tempat dimana Kaori dan Yuri sering bertemu. Sesampainya di taman, dengan perasaan antara tegang dan sedih yang bercampur aduk. Kaori pun menelepon Yuri.
“Moshi-moshi, Kaori?” suara Yuri terdengar dari seberang. Kaori tidak langsung menjawab, perasaannya terlalu tidak biasa. Rindu mulai menyerangnya. Sudah satu minggu dia sama sekali tidak mendengar suara apalagi bertemu dengan kekasihnya itu. Karena itu dia sempat terkejut saat Yuri cepat sekali mengangkat telepon darinya.
“Kaori, daijoubu desuka? Kaori… Moshi-moshi??” Suara Yuri mulai terdengar panik.
Kaori melihat ke arah pamannya dan dijawab dengan anggukan mantap. “Moshi-moshi, Yuri-kun.” Ujar Kaori akhirnya.
“Ah, Yokatta.. kamu baik-baik saja.” Ujar Yuri lega. Rasa bersalah perlahan menggerogoti pikirannya. Kaori berusaha mati-matian menghilangkan semua rasa tidak enak itu.
“Ehm.. Yuri-kun apa kita bisa bertemu sekarang?” tanya Kaori.
“Un! Tentu saja! Aku ingin sekali bertemu denganmu. Kamu dimana sekarang?”
“Aku di taman dekat stasiun.”
“Baiklah aku akan segera kesana.” Yuri segera menutup teleponnya. Kaori langsung menundukkan kepalanya beberapa saat setelah telepon itu ditutup.
“Memang menyakitkan tapi ini adalah jalan yang terbaik. Masa depanmu masih panjang, kamu harus terus melanjutkan hidupmu walaupun bukan di tempat ini. Ne, Kaori?” Sang Paman berusaha memotivasi keponakan yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.
“Un.. Aku adalah satu-satunya penerus keluarga Takaki. Aku harus kuat.” Ujar Kaori dengan diselingi sedikit isak tangis.
“Un! Daijoubu datte!” Pamannya tersenyum lembut. Kaori mengangguk tanda mengerti.
“Ah, dia datang. Cepat hapus airmatamu dan temui dia.” Ujar pamannya saat melihat Yuri berlari menuju taman.
Kaori menutup matanya sejenak dan menarik napas dalam-dalam, lalu beberapa detik kemudian dia membuka mata dengan yakin.
“Hai.. Aku pergi” ujarnya.
“Ganbatte!” Pamannya menyemangatinya. Kaori hendak keluar dari mobil tapi belum sempat dia turun pamannya memanggil lagi.
“Kaori..” Kaori segera membalikkan badan melihat pamannya lagi. “Kamu kuijinkan meluapkan semua perasaanmu sekarang. Jadi jangan sia-siakan kesempatan terakhirmu.” Ujar pamannya.
“Un.. wakarimashita.” Kaori pun kembali melangkahkan kakinya. Dengan matel coklat selututnya dia berjalan menemui kekasihnya dengan yakin.
                “Yuri-kun..” panggilnya dengan senyuman manis seperti biasa yang mengembang di wajahnya.
                Tak perlu menunggu lama lagi, Yuri seketika itu langsung memeluk gadisnya dengan erat. “Hontou ni shinpai dayo! Aku sangat ingin bertemu tapi tidak bisa!” Ucapan Yuri berhasil membuat airmata di pelupuk mata Kaori tak terbendung lagi.
                “Watashi mo.. Aitakatta, Yuri-kun.” Kaori membenamkan kepalanya di bahu Yuri. Meluapkan semua rindunya.
Lama mereka berpelukan, mereka saling meluapkan rasa rindunya. Beberapa saat kemudian, Kaori perlahan melepas pelukannya lalu menatap Yuri lembut. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday dear Yuri-kun. Happy birthday to you.” Dengan senyuman lebar Kaori menyanyikannya. “Gomenne, aku terlambat menyanyikannya.” Ujar Kaori. Dan sekali lagi Yuri memeluknya erat.
                “Arigatou, Kaori. Hontou ni arigatou.”
               “Douita..” Kaori tersenyum lalu dia sedikit mendorong tubuh Yuri dan mengambil sesuatu dari saku mantelnya. “Ne, aku punya sesuatu untukmu. Jaa jaan!” Kaori mengeluarkan sebuah gantungan ponsel dengan inisial “K” dan “Y”
                “Untukku?”
                “Un.. kore! K untuk ‘Kaori’ dan Y untuk ‘Yuri’” jelasnya sambil menunjuk gantungan itu. Senyuman lebar tak pernah hilang dari wajahnya. Tapi walaupun begitu, hati Kaori sangat tersiksa.
                “Hua! arigatou. Aku akan menyimpannya baik-baik.” Ujar Yuri girang.
                Kaori hanya menatap wajah kekasihnya yang sedang tersenyum. Diperhatikan setiap lekukan di wajah Yuri karena ini akan menjadi momen terakhirnya melihat Sang Kekasih.
                “Kaori, doushita no?” tanya Yuri bingung.
                Kaori menggeleng, “Uun.. ada satu hadiah lagi untukmu.”
                “eh? Hon…” belum sempat Yuri menyelesaikan ucapannya Kaori langsung mencium bibirnya.
                Mereka berciuman cukup lama, tangan kaori melingkar di leher Yuri dan tangan Yuri memeluk tubuh Kaori. Tapi bukannya senang, perasaan Kaori lama-kelamaan semakin sesak, dia berusaha mati-matian membendung airmatanya. “Aishiteru. Sayonara, Yuri-kun.” Ujar Kaori di sela-sela ciuman mereka. Dan sedetik kemudian…
                JLEB!
Kaori menusuk perut Yuri dengan sebilah pisau yang sedari tadi di simpan di balik mantel. Seketika itu Yuri membelalakkan mata sedangkan airmata Kaori langsung turun membasahi pipinya. Ciuman mereka pun perlahan terlepas. Yuri tumbang, kaos kuningnya telah berwarna merah oleh darahnya.
“Ka..ori.. nan..de..?” dengan sisa-sisa napasnya Yuri, berusaha tetap sadar.
Kaori melihat Yuri yang terkapar dengan tatapan dingin. Dengan sisa-sisa airmata yang belum mengering di pipinya, dia berkata, “Gomenne, Yuri-kun. Aku harus melakukan ini demi keluarga dan juga demi membalaskan dendam Ibuku. Hontou ni gomenne. Sayonara, Yuri-kun.” Setelah itu, Kaori meninggalkan Yuri yang terbaring tak berdaya. Kaori masuk ke dalam mobil lalu mobil itu pun melaju cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan seseorang yang sudah tak sadarkan diri dengan bersimbah darah.

***

Lalu di kediaman keluarga Takaki, suasana tegang masih menyelimuti. Bentrok antara para anggota klan Takaki dan pihak polisi pun tak terelakkan. Satu persatu anggota dari kedua pihak tumbang. Di saat semua kru-nya hampir kalah, Chinen Kouta masuk ke dalam rumah sendirian. Dia sampai di ruang tengah rumah itu, dan mendapati Takaki Yuya sedang duduk santai sambil meminum tehnya.
“Yuya, kau tidak bisa lari lagi sekarang!” ujar Kouta dingin.
Tapi Yuya malah tersenyum dan berkata, “Hisashiburi, Kouta. Bagaimana kalau kau melepas lelahmu dan duduk bersamaku minum teh hangat ini?”
“Sudah! Jangan main-main! Aku akan segera menangkapmu!” Kouta mulai naik pitam. Dia mengambil pistolnya dan mengarahkan ke Yuya.
“Haah.. keras kepalamu tidak berubah sama sekali.” Yuya mendengus. “Dan karena itu juga kau jadi membahayakan anakmu sendiri.” Yuya menatap Kouta tajam. Kouta diam.
“Yuri akan baik-baik saja. ” Ucapnya yakin. Beberapa hari sebelum penyergapan ini, Kouta menerima surat ancama dari Yuya yang berisi, jika dia tetap melakukan penyergapan, anaknya tidak akan selamat. Dan setelah itu, Kouta pun memutuskan semakin memperkuat penjagaan dan mengurung Yuri di kamarnya. Cukup kejam memang, tapi yang ingin Kouta lakukan hanya melindungi anak tersayangnya.
“Benarkah? Kau terlalu yakin pada dirimu sendiri, Kouta.” Yuya menunjukkan senyum iblisnya.
Beberapa saat kemudian, ponsel Kouta berdering, tapi dia tidak segera mengangkatnya. “Kenapa tak kau angkat? Mungkin itu dari anakmu.” Ujar Yuya. Kouta menatap tajam Yuya. Dengan tak melepaskan tatapannya dari Sang Target, Kouta merogoh saku jasnya dan mengangkat teleponnya.
“Moshi-moshi..” ujarnya.
“Kouta-san, Yuri-kun...” Seketika itu mata Kouta membelalak.
“Ada apa dengan Yuri?” tanyanya panik, dan Yuya malah tersenyum sambil meminum tehnya.
“Yuri-kun berhasil kabur dari rumah lalu kami menemukannya di taman dekat stasiun dengan keadaan tak sadarkan diri karena perutnya ditusuk pisau oleh seseorang. Sekarang dia sedang ditangani dokter. Keadaanya sangat kritis, dia kehabisan banyak darah.” Jelas suara di seberang.
Kouta segera menutup teleponnya. Amarahnya memuncak, dia sudah siap menembakkan pelurunya ke Yuya. “Kau apakan anakku?!”
Yuya meletakkan cangkirnya. “Sudah kubilang, kan? Kalau kau tetap bersikeras menangkapku, anakmu tidak akan selamat. Dan juga, itu adalah balasan karena kau telah mengambil orang yang sangat berharga bagiku sepuluh tahun silam. Bagaimana, impas, kan, sekarang?”
“Kurang ajar!” Kouta menarik peletuknya dan seketika  itu Yuya melempar sebuah bom asap. Dalam sekejap, asap tebal memenuhi seluruh ruangan. Ternyata asap itu tidak bertahan lama, beberapa saat kemudian, asap tebal itu pun menghilang. Dan bersama menghilangnya asap itu, Takaki Yuya pun menghilang, meninggalkan Chinen Kouta yang terkapar bersimbah darah dan tak bernyawa di lantai. Itulah akhir dari rangkaian cerita pengejaran Chinen Kouta terhadap Takaki Yuya.

***

-Sepuluh tahun kemudian-
                “Sebuah perampokan bank kembali terjadi. Sekarang polisi sedang mengejar pelakunya yang diduga adalah Takaki Kaori, penjahat nomor satu di Jepang.” Suara seorang reporter berita di TV. TV itu dibiarkan menyala sedangkan si pemilik ruangan sibuk dengan pikirannya sendiri sambil melihat ke luar jendela.
“Pak Kepala, kami gagal. Takaki Kaori berhasil melarikan diri lagi.” ujar seorang polisi pada atasannya.
                Sang Pimpinan malah menunjukkan senyuman lembut, “Daijoubu dayo! Lain kali kita pasti bisa menangkapnya.” Ujarnya dengan yakin. “Segera selesaikan tugas kalian di tempat kejadian lalu pulang dan beristirahat.” Perintahnya.
                “Hai.. Wakarimashita..” polisi itu pun undur diri.
                Kepala Polisi itu membuka lacinya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. “Dalam sepuluh tahun ini. Kau sudah menjadi orang yang hebat, Kaori. Aku jadi semakin ingin bertemu denganmu.” Ujar laki-laki itu sambil memandangi gantungan ponsel berinisial “K” dan “Y” itu.
                “Suatu saat nanti aku pasti akan bertemu lagi denganmu, Kaori. Kita lihat saja sampai kapan kau bisa menghindari orang yang dulu pernah sangat kau cintai ini.” Ujarnya sambil menyeringai licik.
                Seorang pegawai masuk ke ruangannya. “Yuri-san, anda sudah ditunggu untuk rapat.”
                “Hai.. aku akan segera kesana.” Ujar orang itu. Lalu dia pun segera meletakkan barang berharganya itu di lacinya kembali dan bergegas menuju ruang rapat.

Some day, by chance, wouldn't it be okay to meet again under this same vast sky? It'd be okay, without hesitating. Even if there's no love there, there will be smiles. And the hands of the clock will quietly begin moving again.

***THE END***